Sunday, November 08, 2009

Musim Gugur di Calke Abbey


Setelah presentasi di London, saya diboyong teman teman ke Burton Upon

tRENTiga jam perjalanan dari London. Tinggal di kompleks perumahan yang sangat asri dengan lahan yang cukup luas. Dibelakang rumah ada cemetery atau kompleks perkuburan, yang masih jarang penghuninya. Ditumbuhi pepohonan besar, dan menurut Ayyub King, merupakan salah satu kompleks yang dimiliki oleh real estate.

Calke Abbey Park (www.nationaltrust.org.uk/calke), jaraknya hanya 20 menit drive dari rumah kami. Kawasan ini merupakan National Nature Reserve, luasnya hanya 600 acre. Di Indonesia mungkin padanannya bisa berupa Taman Hutan Raya yang fungsinya tidak hanya sebagai paru paru kota, tetapi terbuka untuk umum setiap hari. Bedanya, ada kawasan ini benar benar penuh manfaat. Ada peternakan biri biri yang memang sengaja dibawa oleh pemilik awal kawasan ini sejak abad 18. Bulunya diolah dengan tangan, merupakan produksi khas, ada kandang rusa merah dan fallow deer.

Taman dan kawasan ini tadinya merupakan milik para aristokrat (orang ningrat) inggris yang berkuasa dan berjaya di zaman kolonial. Mereka adalah tuan tanah (landlord), raja raja kecil di negara bagian, dan para gubernur kolonial yang membawa kemakmuran dan kekayaan dari tanah jajahan mereka. Ketika zaman berubah, keturunannya tidak lagi dapat merawat kawasan yang besar ini lalu diserahkan pada lembaga yang namanya ’National Trust’ semacam lembaga khusus yang diberikan kepercayaan oleh mereka yang mempunyai untuk kemudian digunakan oleh kepentingan publik.
”Zaman berubah, semua orang akan dipergilirkan, kini kami bisa menikmati kawasan ini yang tadinya orang dilarang masuk” kata Saba Khalid, istri Fazlun Khalid mengenang.

Ketempat ini, anda bisa mengajak teman, sekedar berjalan jalan melihat dan menikmati pergantian musim. Musim gugur merupakan salah satu musim favorit, ketika suhu berkisar antara 11-13. Sejuk udara, mendukung anda untuk berjalan jauh tanpa mendapat keringat.

Autum atau musim gugur, merupakan musim peralihan yang indah, dimana daun daunan rontok berguguran. Lapangan terhampar luas dengan parkir yang memadai, dilengkapi juga dengan tempat bermain anak anak. Tua muda menikmati musim kesini untuk menghabiskan akhir minggu. Makan di restoran dengen menu khas buatan tangan (hand made), yang disediakan di kompleks tersebut. Tentu saja kalau tidak tahan dingin ruangan ini akan menghangatkan sambil menikmati menu makan siang atau minum teh hangat di sore hari (yang merupakan tradisi Inggris).

Kami berjalan menuju aliran sungai yang ternyata menjadi reservoar kota, menuruni bantaran kali dan berjalan dipinggiran sungai. Disini memang telah tersedia jalan jalan setapak, yang menyediakan kesempatan kemanapun anda bisa mengekplorasi kawasan. Melihat rumah para ningrat (mansion house), termasuk gereja keluarga, tempat merumput biri biri yang tersebar dimana mana. ”Itu pohon oak, yang umurnya bisa ratusan tahun,” kata Fazlun menjelaskan. Sayapun manggut manggunt dan buru buru saya ambil kamera untuk memontret. Pohon ini tidak telalu besar tetapi rindang, dengan percabangan mekar seperti beringin.

Menjelang musim gugur hingga musim dingin, taman yang ada rumah ningrat itu sementara tidak dibuka karena dalam pemulihan dan perawatan.

Kami berbelok kekiri menyebrang bendungan kecil reservoar air yang mengalir ke arah selatan kawasan. Disini dijumpai danau, dan air mengalir ke kawasan lembah yang kemudian mengaliri Stauntin Harold Reservoir. Disitu ada rusa yang dipagar dan kelihatannya tidak terlalu jinak dengan manusia, karena mereka berupaya menjauhi para pengunjung.

Disini tempat yang memand dibiarkan alami, dimana studi ilmiah dapat dilakukan. Juga anda terkadang menemui bebarapa jenis hidupan liar sepanjang tahun. Saya melihat burung crane dan itik liar yang cukup jinak, karena pengunjung tampak bisa memberi makanan pada hewan itu dan mereka berebut makan.

Kami pulang menuju rumah setelah kelelahan berjalan beberapa kilometer, lalu menikmati ’english tea’ yang hangat disore hari.

Tabik!

Charity Dinner yang Meriah

Tidak terbayangkan sebelumnya betapa antusiasnya ternyata warga Muslim di London dengan Charity Dinner yang diadakan oleh IFEES Jumat (6/11) lalu. Walaupun kami datang terlambat karena berputar putar belum mengetahui tempat. Ditambah hujan gerimis mengguyur kota London, sehabit maghrib dengan cuaca dan suhu yang sejuk di musim gugur: peserta perlahan berdatangan sehingga sekitar 90 kursi yang disediakan panitia penuh terisi. Sebagian malah ada yang berdiri. Yang hadir saya lihat 50:50 antara wanita dan pria dari berbagai bangsa yang sangat beragam di London, ada pula non muslim yang tertarik.

Menuju Toynbee Hall ditengah kota London, saya diantar mobil kedutaan RI, bersama Pak Herry Sudrajat Kepala Penerangan KBRI, yang mewakili Dubes HE Yuri Thamrin yang berhalangan hadir.

Sebagai salah satu pembicara, saya menyiapkan presentasi dengan serius. Mengecek bahasa Inggris dengan baik, sampai larut malam dengan bentual Waraqah Andrew William, saya minginap dirumahnya semalam. Karena ini merupakan presentasi adopsi pohon pertama yang saya lakukan di luar negeri. Disamping itu ada juga pembicara lain yaitu Syeikh Hakim Murad, Guru besar teologi dari Islamic Studies di Universitas Cambrigde yang secara sangat baik menerangkan aspek pohon dalam Islam. Ternyata Islam sangat kaya dengan kata yang menyentuh tentang pohon. Salah satunya diceritakan ketika ketika seorang biksu meramalkan, nasib seorang anak yang duduk dibawah pohon padahal usianya baru 12 tahun, ”Tidak ada yang duduk dibawah pohon itu, kecuali dia adalah seorang nabi,” lalu beberapa tahun kemudian perkataan itu terbukti, dialah Nabi Muhammad saw. Dan tentu saja kita mengerti persoalan skandal pohon di sorga yang didekati Adam dan menurunkannya ke bumi.
Sangat menyentuh ketika beliau mengulang ayat, bahwa tujuh lapis langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya adalah bertasbih kepada Allah, termasuk pohon pohon dan semua ciptaanNYA.

Lalu Ayman Ahwal, presentasi tentang proyek sungai (up river stream) yang dia kerjakan di Aceh termasuk juga dalam penanaman pohon.

Sehabis presentasi banyak brother dan sister yang datang menemui saya, bertukar kartu nama, dan baru saya sadar bahwa mereka adalah dari berbagai bangsa. Termasuk dua putri manis manis dari Saudi Arabia, yang memperkenalkan diri dan sangat tertarik dengan presentasi dan menjanjikan kontak untuk hubungan lanjut dalam kerjasama arsitektur hijau, karena saya ceritakan tentang M7YAP tentang Green Hajj dan Muslim Green Cities yang sebentar lagi kita gagas sebagai inisiatif baru kontribusi muslim dalam memulai hidup selaras dengan lingkungan.

Suhu dingin 13 derajat diluar Toynbee Hall, ternyata belum mampu membekukan persahabatan, kehangatan dan antusiasme peserta sesama muslim. Sambil menikmati masakan Indonesia: satu persatu saya tanya, dari manakah mereka? Lebanon, Saudi Arabia, Sri Langka, Bangladesh, Nigeria, Libia, Australia, Jepang, Brunai….London. Keperdulian lingkungan ternyata mempersatukan kami.

Subhanallah...

Windsor Celebration

Bersama Prof Dr Talip Alp, Rector Fatih University Istanbul.
Planet bumi dihuni oleh 80 persen manusia yang percaya pada adanya Tuhan. Dan krisis lingkungan termasuk perubahan iklim dan dampak dari peradaban manusia yang mengancam membuat orang kembali merenungi akan makna kehidupan dan melihat kembali ajaran agama. Di kompleks Kastil Windsor (Windsor Castle), 2-4 November berkumpul tokoh agama dan lingkungan di seluruh dunia. Saya melihat beberapa tokoh kunci agama agama-agama, baik dari akademisi hingga praktisi, dari pejabat walikota hingga masyarakat grass root. Para pemuka agama yang hadir antara lain dari 9 agama: Bahai’s, Buddhis, Kristiani, Tao, Hindu, Yahudi, Muslim, Sinto dan Sikh. Ada pemuka agama Tao seperti Master Xing Zhi Ren, Frather Michael Holman, Jesuit, Archbishop Mokiwa Valentine, President of all Africa Conference of Churches. Bishop Walter S Thomas Snr, New Palmist Baptist Church, Baltimore. Kusum Vyas, Hindu Activist, Rt Revenern Richard Chartres, Bishop of London, Syeikh Ali Gomma, Mufti Agung Mesir, Tahiri Naylor, Baha’I, Rabbi Zalman Shachter-Sholomi.


Ini merupakan follow up dari kegiatan yang dilakukan di masing masing komunitas agama untuk berkomitmen menaggulangi fenomena perubahan iklim dengan membuat rencana-rancana jangka menengah (5-10 tahun) yang difasilitasi oleh UNDP dan ARC.
Bertempat di Harte Garter, beberapa kegiatan dan pertemuan mulai dilakukan. Dari mumulai dari berbagi pendapat tentang , mengapa agama agama peduli (Why we do care? Inspirational Stories from the faiths about protecting the environmet), yang membagi cerita para tokoh agama tentang lingkungan dan keprihatinan mereka.

Mokiwa, misalnya mengemukakan selama 10 bulan, hingga sekarang anak yang baru lahir belum kenal adanya hujan. Kekeringan melanda beberapa kawasan di Tanzania sehingga ternak penduduk banyak mati. Sementara di kawasan Mozambiuque di saat yang sama terjadi banjir besar.

Mastern Xing Zhi Ren, mengemukakan tentang pentingnya kheidupan yang harmonis dengan alam dan lingkungan. Sedangkan Dekila Chugyalpa, dari WWF mempresentasikan kerjanya bersama para bikso di Himalaya dalam bergiat melestarikan lingkungan, menanam pohon dan seterusnya.

Mufti Agung Mesir Syekh Ali Jomaa, mengemukanan—yang diterjemahkan dalambahasa Arab—pesan Al Qur an supaya manusia tidak berbuat kerusakan dimuka bumi setelah Allah memperbaikinya. ”Polusi dan pemanasan global memegang peran bahkan lebih mengancam dibandingkan perang dan menyelamatkan lingkungan merupakan upaya positif agar umat manusia dapat bersatu untuk menghadapinya.

Dipandu Jumoke Fasola
Saya berkesempatan untuk tampil pada hari kedua atas semua aktifitas terkait inisiatif agama dan lingkungan di Indonesia. Ternyata kalau dirunut dan dituturkan tidak cukup juga waktu lima belas menit. Menariknya, presentasi dilakukan dengan sistem wawancara ala celebrity, ditanya langsung diatas stage lalu menceritakan tentang apa mengapa dan bagaimana pekerjaan lingkungan dilakukan di Indonesia. Pemandu wawancaranya adalah Jumoke Fasola, broadcaster BBC London dan juga penyanyi Jazz.

Puncak acara adalah ketika jam 11, semua dialog selesai dan peserta dengan pakaian tradisional masing masing agama, menyebrang dari Hotel Harte &Garter menuju Winsdsor Casstle. Saya sebagai satu satunya ’manusia langka dari Indonesia’ karena Dr Hidayat Nurwahid dan Duta Besar RI tidak bisa hadir, berupaya mewakili wajah Indonesia dengan pakai batik dan peci, walaupun suhu diluar 12 derajat dan berangin ditambah gerimis tentu pakai batik.....hehe tambah dingin aja. Arak arakan di pandu oleh panji panji masing masing agama, alam lomba MTQ di kampung saya..menuju Istana Windsor yang usianya sudah lebih dari 900 tahun. Aroma kerajaan sangat teras ketika memasuki Istana dan balroom Chamber of Watherloo, tempat acara. Segala ornamen klasik, dari perisai yang dingantung didinding hingga memenuhi langit langit, sampai tombak pedang, senapan locok, dan baju perang masih ada terpampang. Sayang tidak boleh memontret ditempat ini. Sedangkan fotographer resmi disediakan.

Acara puncak dihadiri oleh Mr Ban Ki Moon, dan Pangeran Philip yang memberikan sertifikat kepada seluruh pemuka agama untuk upaya mereka membuat perubahan dan perbedaan dalam menghadapi perubahan iklim dengan membuat rencana aksi jangka panjang. Setelah itu perjamuan makan siang dilakukan dengan menu vegetarian yang nikmat.

Wassalam,

Foto-foto resmi Windsor ada di: www.windsor2009.org
Foto-foto kegiatan di Windor dari Facebook

Berita Terkait: The Guardian

Friday, October 23, 2009

350 Berani di UIN Jakarta


Saya melakukan poresentasi pertama kali setelah ikut Training --The Climate Project (TCP) di Mexico kemarin --adalah di Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Jakarta (Jum’at 23 Oktober 2009). Presentasi TCP merupakan sarana penyadaran tentang terjadinya perubahan iklim yang harus diketahui oleh semua orang, tak terkecuali mahasiswa sampai masyarakat awam. Sekitar 200 mahasiswa mengikuti dengan tekun presentasi ini. Terima kasih!

Pemahaman harus dilakukan karena menyangkut persoalan masa depan peradaban manusia yang terancam eksistensinya. Penebalan dinding atmosfer terus berjalan dan terekskalasi. Konsentrasi CO2 di atmonsfer telah mencapai 386 ppmv, sedangkan titik aman ambang batas konsentrasi adalah 350ppm. lihat: www.350.org

Maka tema untuk presentasi ini adalah 350ppm. Kampanye ini dilakukan secara global dan hari ini (24 october 2009) adalah Hari PBB untuk Climate Action, ada berbagai rangkaian acara yang digelar di seluruh dunia.

Presenter dan relawan TCP Indonesia menggelar presentasi di 40 Universitas di tanah air. Saya kebagian di UIN. Senang sekali berbagi pengetahuan bersama mahasiswa, mereka bisa memahami perubahan iklim dan diharapkan dapat merubah perilaku dan kearifan terhadap lingkungan, dari mulai diri sendiri hingga pada tataran mereka sebagai mahasiswa di perguruan tinggi, lalu cita cita dan karir mereka di lingkungan.

Doa saya semoga presentasi ini bermanfaat untuk teman teman ini!
Jangan lupa, kalau mau gabung jadi supporter The Climate Project Indonesia cari di Facebook dan juga twitter.


Wassalam,

BERITA TERKAIT


Sunday, October 18, 2009

Melepas Echi dan Septa

Echi dan Septa adalah dua owa jawa yang beruntung. Setelah lama disekap oleh manusia dan tak tahu nasib induknya, Jumat lalu (16/10), mereka dilepaskan ke alam. Ditengah hutan Patiwel yang berdampingan dengan hutan lebat Gunung Gede Pangrango.

Begitulah nasib owa yang populasinya tinggal 4000 di seluruh P Jawa. Jumlah ini tidaklah banyak jika dibanding hanya dengan satu kelurahan di sebuah desa di Jawa. Semakin terdesak mereka, karena ketiadaan tempat tinggal. Saya sampai bingung, manusia telah berada disegala pelosok dari laut hingga gunung yang tinggi.

Seringkali saya heran membayangkan kalau berjalan ke pelosok pelosok nun jauh di pedalaman, kok bisa manusia sampai kesana. Sama halnya kesan heran saya ketika mengunjungi desa Muslim di Papua, beberapa waktu yang lalu.

Ke Bodogol ini bersama Team Miss Earth 2009, setelah memfasilitasi mereka sehari sebelumnya di kantor CII dengan berbagai uraian kompleks seputar lingkungan yang diberikan oleh teman teman di CI.

Berita tentang Pelepasan OWA JAWA:

Thursday, October 08, 2009

Forum Agama Agama dan Perubahan Iklim

Kemarin menghadiri 'Forum Agama Agama dan Perubahan Iklim' di Aula Lt IV Kampus Universitas Sanatha Dharma, Jogjakarta. Beberapa orang yang hadir antara lain Dr Sony Keraf, mantan anggota DPR dan menteri Lingkungan Hidup RI, Pendeta Robert Borrong, Romo Andang, Uskup Agung Semarang, Rektor UIN Sunan Kalijaga, St Sularto Kompas dan beberapa tokoh penting di Jogjakarta dll.

Ini adalah diskusi kalangan terbatas tentang apa yang bisa dilakukan oleh Agama Agama untuk perubahan iklim sekaligus diharapkan bisa dibuahkan sebuah aksi baik dalam tingkatan teologis maupun praksis dalam memberikan response terhadap perubahan iklim.

Selain berbagi pengalaman best praktis tentang banyak hal yang telah dilakukan untuk lingkungan atas landasan iman baik di kalangan kristiani maupun muslim, pertemuan ini menjadi sebuah langkah awal dialog agama-agama dalam membawa pada pencerahan pengikutnya tentang kenyataan bahwa iklim global yang berubah juga merupakan tantangan bersama manusia, tidak terkecuali semua agama.


Dari kiri kekanan, Fachruddin Mangunjaya, St Sularto, Romo Gardjito dan Romo Andang.


Tidak dari Nol
Sepakat tidak mulai dari nol, menggabungkan yang sudah pernah dilakukan, berbagi pengalaman dan aksi yang bisa saling dipelajari antar agama. Romo Andang, misalnya berfokus pada pengelolaan sampah Jakarta yang sangat akut. Langkah kontrit baik kecil maupun besar terus dilakukan, di kalangan gereja maupun di sekolah sekolah Katolik, suatu yang patut dicontoh oleh agama lain untuk menggunakan jaringan keimanan ini.



Saya kira tidak kalah penting adalah eco- pesantren pun demikian. Perlu di sharing dalam forum seperti ini. Banyak kegiatan dan hal yang unik dilakukan untuk perubahan iklim yang dilandasi oleh iman belum didata dengan baik sehingga kelak ini bisa menjadi suatu sinergi bahwa kita telah berbuat. Namun....perbuatan itu adalah masih kurang, terbukti kerusakan lingkungan bertambah parah!

Wallahu a'lam.

LINK TERKAIT AGAMA DAN PERUBAHAN IKLIM:

Saturday, October 03, 2009

The Climate Project Latin America di Mexico

Mucos Gracias! Terima Kasih, saya bisa ada di Mexico, baca mehiko. Sebuah negara kota dengan sisa peradaban tua: Bangsa Maya—Olmecs, Teoticuacan dan Aztecs--yang pernah saya kutip dalam sebuah essay tentang bangsa yang Collapse –mengutip Jared Diamond, karena dilanda krisis lingkungan.

Selama empat malam dan lima hari saya berada di bawah nenaungan gedung gedung menjulang tinggi gaya Spayol di tengah Centro Historico, downtownnya Mexico City yang dipadati oleh 25 juta penduduk. Saya disini untuk pertemuan The Climate Project (TCP). Alhamdulillah, terima kasih atas undangan dan kepercayaan para senior –terutama untuk Dr Amanda Katili-- dari Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) yang baik hati untuk kesempatan dilatih sebagai relawan presenter tentang perubahan iklim langsung oleh Honorabel Al Gore, bekas Wapres Amerika Serikat, pemenang nobel perdamaian.

Grup kuning TCP Amerika Latin berfoto bersama
TCP dibuat untuk menyakinkan komunitas masing masing tentang perubahan iklim. Ini merupakan pertemuan kesekian kalinya di seluruh dunia. Pertemuan kali ini diadalah untuk Amerika Latin dan sekitarnya. Sudah ada 3000 presenter yang dilatih ‘First Hand’ oleh Al Gore atas komitmennya untuk meyakinkan public tentang perlunya perubahan dalam menyikapi terhadap perubahan iklim.


Dari Indonesia, sebenarnya sudah ada 50 kader yang telah mengikuti pelatihan serupa ini. Mereka telah mengikuti pelatihan di Australia bulan Juli lalu dalam Asia Pasific Summit TCP. Adapun saya, adalah susulan yang disisipkan dalam acara TCP untuk Amerika latin. Untuk menjadi presenter ini juga diseleksi sangat ketat. Mereka adalah hasil penjaringan dari ribuan pendaftar. Kegiatan ini adalah voluntary dalam upaya fighting the climate change. Oleh sebab itu, maaf, materi presentasi tidak bisa disebarluaskan begitu saja, karena merupakan copyright, dan eklusif para presenter harus dilatih langsung oleh Al Gore dan mendapat sertifikat beliau. Pelatihan di Amerika Latin diikuti oleh perwakilan dari 20 negara, dari Indonesia hadir dua orang saya dan Dr Amanda Katili Niode (Mentor TCP). Disamping Al Gore, untuk memahami konteks regional, presentari dilakukan oleh para ilmuwan kelas dunia seperti Dr. Exequiel Ezcurra Real de Azua on “Climate Change Affectations on Biodiversity in Mexico and the Region , Dr. Carlos Mena, Executive Director of Mario Molina Center, Scientific Advances on the “Fight against Climate Change in Mexico and the Region“ . Mario Molina adalah a Mexican born American chemist, one of the most prominent precursors to the discovering of the Antartic Ozone Hole that earned him a Nobel Prize. Molina adalah seorang yang dipilih oleh U.S. President Barack Obama untuk membentuk transisi dalam mengatasi persoalan lingkungan di AS. Setelah itu barulah kita mendengarkan Presentasi Al Gore yang sangat memukau, tidak ada satu pesertapun bergerak. Gedung Banamex penuh dan tepuk tangan ‘standing opation’ lama…

Deklarasi dan foto bersama dengan panitia dari Pro-Natura Mexico


Kawan. Maka saya sekarang bisa menawarkan diri (voluntary) kalau ingin melihat presentasi Al Gore bisa mengundang gratis (tidak dipungut bayaran), hanya kalau jauh tolong ganti ongkos bensin (hehe), atau naik pesawat tolong ganti tiket saya. Program ini pada dasarnya adalah awareness, diminta pada fellow presenter untuk melakukan presentasi sebanyak2nya. Sepuluh kali sebelum Copenhagen (kalau bisa). Kewajiban saya adalah terutama menjelaskan—mempresentasikan tentang perubahan iklim-- pada komunitas Muslim, pesantren, madrasah, masjid, lembaga pengajian bahkan bisa juga majlis ta’lim ibu ibu yang ingin mengundang.

FOTO FOTO MEXICO
  • Hubungi saya melalui e-mail: fmangunjaya@yahoo.com . Insya Allah saya atau fellow yang lain bisa mengatur waktu presentasi.

Salam Hangat!

Thursday, September 17, 2009

Safari Ramadhan Kaimana, Ditantang Ombak Besar


KAIMANA, PAPUA--Kegiatan safari ramadhan dilakukan berkat kerjasama antara Majelis Muslim Papua (MMP) dan Conservation International International (10-14 September 2009), tujuannya adalah untuk mendekatkan diri pada masyarakat, terutama di perkampungan Muslim di Kaimana. “Safari’ diambil dari istilah safar, yaitu perjalanan, kata ini ada dalam bahasa al Qur’an (arab), aw alaa safarin…dan kalau kamu dalam perjalanan.

Ini sebenarnya merupakan cara lain dari menyambung silaturahim sesama muslim. Karena bulan ramadhan diajurkan berbuat kebaikan termasuk melakukan silaturahim.

Beberapa distrik yang kami kunjungi merupakan distrik berpengaruh di Kaimana. Misalnya pada hari pertama kami mengunjungi Kampung Kambala, Distrik Buruwai bersama Mohammad Lakotani, SH Ketua Umum MMP Kaimana yang juga Camat Buruwai dan Dian Wasaraka staff CI Kaimana Program.

Kami tinggal di tempat pak camat orang Papua memanggilnya Kepala Distrik, beliau adalah camat ke lima di Buruai dan putra asli daerah tersebut. Naik speed boat dari Kaimana ke Distrik Kambala memakan waktu sekitar tiga jam, menyebrang teluk dengan ombak yang lumayan besar dan ganas. Desa Kambala merupakan salah satu dari tiga desa di Distrik Buruai mempuynai sekitar 900 kk merupakan distrik baru. Kampung muslim yang harmonis. Semua orang kenal dan saling sapa menyapa satu dengan yang lain.

Pantai desa ini sangat panjang pasirnya, sehingga ketika kami berlabuh, sedangkan air surut, kami harus berjalan kaki sekitar dua ratus meter menuju muara.
Ceramah dihadiri oleh camat dan kapolsek sambil menyerakan jam kegan kenangna dari CI Indonesia.


Bersama anak anak Kaimana di Kampung Seram

Naik speed boot dengan kakuatan 230 tenaga kuda, kampung Kabala yang ditempuh 7 jam hanya dapar dicapai dua jam dari Kaimana. Rupanya gelombang cukup besar sehingga membuat nyali menjadi ciut ketika dihempas ombak. Ayunan ombak menghempas-hempas speed boat warna merah yang melaju di tengah laut yang tak bertepi.


Selamatkan Kapolsek
Hari kedua Jum’at, Kaimana Arguni atas (Arguni Tua), Ibukota Kec Arguni, bertemu masyarakat. Sebuah kampung yang luar biasa jauh dari keramaian, Bufwer namanya, hampir saja kami tidak batal ketempat ini karena siang sebagaimana rencana akan berangkat setelah Jumat, tetapi speed boat ternyata digunakan dulu untuk mencari ‘Kapolsek’ yang hilang memancing…Angin dan gelombang sangat besar kemarin, membuat speedboat warna merah dengan mesin ganda itu terkadang terhuyung huyun dihempas gelombang.

Pak distrik mendadak mendapat telpon memohon pertolongan untuk mencari pen roda speed boat kapolsek yang patah. Kami di drop duluan ke Kaimana, dan aku sempat shalat Jumat disebuah masjid jami tidak jauh dari pantai. Setelah mandi dan bersiap kami kembali menuju pelabuhan untuk berangkat ke Arguni Atas. Ternyata keberangkatan ditunda sampai jam empat, setelah pencarian kapolsek yang untungnya ketemu setelah beberapa jam hanyut.

“Angin timur ini memang cukup besar dan kadang gelombang tidak pasti,” kata Om Ibrahim yang mencoba meramal tentang kondisi cuaca. Kami bercengkrama bersama masyarakat sambil menunggu kedarangan speed boat, termasuk aku berkenalan dengan Thaha al Hamid salah satu tokoh yang disegani di Papua.

Rombongan ke Arguni menjelang sore, tanpa Pak Kepala Distrik Buruwai tapi katanya di Bafwer, desa yang kami akan singgahi sudah ada Pak Jaffar Worfete, sekretaris Majelis Muslim Papua (MMP), KUA, Wakadis Buruai Arsyad Lakotani ? Kami mulus berangkat. Menikmati pemandangan, menyebrang teluk dan menikmati kesegaran udara laut yang tidak ada duanya. Masuk ke Teluk Arguni, saya diceritakan tentang Gunung Genova, yang penuh misteri tempat para raja memperoleh kesaktian. Mereka –konon—memperoleh keris dan kesaktian dari tempat ini adalah: Soekarno Presiden RI pertama, Raja Ternate, Raja Namatota, Raja Buton, dan Raja Maluku. Ada juga legenda Gunung Nabi yang sangat misterius, konon, puing bekas pahatan kapal Nabi Nuh ada di atas gunung ini. Mendaki atau mengunjungi kawasan ini bisa menyebabkan kematian.

Bufwer merupakan adalah salah satu desa kecil dari tiga desa dengan jumlah hanya ratusan kepala keluarga. Disini komunitas muslim tumbuh harmonis dengan toleransi yang tinggi dengan agama Kristiani. Mereka saling tolong menolong bahkan untuk berburu, mereka meminjam anjing dari umat nasrani tetangganya. Pak Abdullah bercerita kepada saya, setiap ada acara di kampung Bufwer, mereka menjamu dan menghormati tamu dan seringkali untuk menyiapkan perjamuan mereka harus mencari daging rusa atau kasowari. (catatan: Kasowari adalah binatang yang dilindungi. Masyarakat tidak banyak tahu tentang ini rupanya!)

FOTO-FOTO Perjalanan di KAIMANA

Kalau yang pinjam anjing mereka adalah untuk menjamu seorang muslim, maka anjing-anjing ini tidak mau menggigit mangsanya. “Saya juga heran, setiap orang muslim yang pinjam anjing orang nasrani, lalu anjing itu berburu. Mereka cukup hanya mengepung mangsa tersebut, menyalak dan menunggu kita,” tutur Abdullah. Seolah anjing tahu bahwa Muslim diharamkan untuk memakan buruan yang digigit anjing dan kemudian mati. Berlainan kalau tuannya yang melepas untuk keperluannya. Mereka akan langsung menggigit mangsa tersebut.

Di kampung Bufwer, kami disambut dengan rebana dan gendering terbang oleh anak anak dan pemuda desa. Saya tidak menyangka mereka menghormati sedemikian ramah. Mereka mengalu-alukan kami, menggiring kami ditengah hujan gerimis ke sebuah tenda yang tampaknya dipersiapkan dengan janur dan umbul umbul.

Gagal ke Namatota
Sayang sekali rencana kunjungan ke Namatota gagal total, karena kami terhambat dengan kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Nakhoda speed boat tampaknya tidak mau mengambil resiko setelah melihat angin rebut dan gelombang besar minggu siang. Saya pun tinggal di mess dan memanfaatkan waktu dengan sebaiknya membuat laporan ini. Tabik!

Wednesday, September 02, 2009

Green Lifestyle Kelestarian Lingkungan Bagian dari Iman

Ditengah Pulau Sipora nan jauh, di tengah mulai Bulan Puasa, saya mendapat SMS untuk menjadi narasumber di Metro TV dalam acara Green Lifestyle yang difasilitasi KLH, bertema "Kelestarian Lingkungan Bagian dari Iman" bersama Dr Henry Bastaman, Deputy Menteri Lingkungan Hidup.

Ini adalah talkshow pertama kali di sebuah TV swasta yang saya anggap merupakan kehormatan yang diberikan karena konsentrasi aktifitas saya pada Islam dan Lingkungan yang saya tekuni akhir akhir ini. Sejak awal saya berkeyakinan, topik agama dan lingkungan akan menjadi avant garde dalam pembicaraan solusi lingkungan hidup kedepan. Persoalan lingkungan kita adalah persoalan bagaimana bisa mengubah perilaku yang business as usual menjagi yang lebih ektrim dan pro lingkungan. Agama adalah faktor yang bisa mendorong ke arah itu tanpa banyak menghabiskan energi karena ruh internal yang dimilikinya.



88% persen penduduk dunia ini percaya akan agama. Artinya lebih dari tiga perempat penduduk bumi ini bisa diyakinkan atas ajakan kebaikan memelihara bumi, dampaknya luar biasa. Muslim di bumi jumlahnya 1.6 milyar, mengajak umat Islam untuk sadar lingkungan dengan menggali kembali khazanah kearifan yang kita miliki, ini menjadi satu satunya mobilisasi luar biasa dalam menyikapi persoalan lingkungan.

Sebab itulah keyakinan agama menjadi penting. Pembukaan dialog saya buka dengan: "Siapa kampainer pertama dalam bertanggungjawab melestarikan kehidupan di bumi," jawabnya 'Agama agama dunia' tidak terkecuali agama manapun.

Agama mempunyai modal 5 R, a. Re reference, yaitu modal berupa rujukan akan keyakinan yang diperoleh dari kitab-kitab suci—text-- yang dimiliki oleh pemeluk agama-agama; kedua,
b. respect, atau saling menghormati yang menjadi dasar untuk menghargai semua makhluk hidup; ketiga,
c. restrain, yaitu kemampuan untuk mengontrol sesuatu supaya penggunaan sesuatu agar tidak mubazir; dan keempat,
d. redistribution, kemampuan untuk membagikan kebahagiaan atau harta dalam bentuk amal, misalnya di dalam Islam dikenal dengan infak dan shadaqah; dan
e. kelima responsibility, sikap bertanggungjawab dalam merawat kondisi lingkungan dan alam.


Muslim mempunyai pegangan sakral dengan teks Al Qur'an yang rahmatan lil alamin, juga muslim mempunyai alat yang sangat banyak dalam mengajarkan manusia untuk bertindak rakus dan terlalu digdaya di bumi.

Jauh sebelum al Gore mengkampanyekan perubahan iklim dan perubahan gaya hidup 14 abad silam Rasullullah saw menyuruh kita supaya mensyukuri karunia Allah, tidak membuang sumberdaya dengan sia sia (mubazir), bahkan ketika berwudhu pun kita disuruh berhemat air. Dalam sebuah hadis diriwayatkan sahabat Nabi Saad, telah ditegur karena wudhunya telalu banyak menghabiskan air.
”Ya inikan untuk wudhu,” ya Rasullullah”
”Tidak boleh memboroskan air. Bahkan jika kamu berada di air mengalir sekalipun.”
Jadi kita disuruh untuk berhemat.

Persoalan manusia modern sekarang adalah tidak berhemat! Boros sumberdaya. Tidak bisa merubah perilaku yang kemudian berdampak pada ketidak seimbangan di bumi padahal Allah mengatakan innallaha la yuhibbul musrifinnn...allah tidak suka orang yang boros dan membuang-buang sumber daya.

wallahu a'lam

Mencari Paman Joja, Ketemu ‘Teletong’

Sehari sebelum ribut (26 Agustus 2009) tentang penjualan pulau dan cottage di Kepulauan Mentawai, saya pergi ke Pulau Sipora (salah satu pulau besar di Mentawai). Saya sebenarnya berada ditempat ini selama empat hari untuk menyaksikan dari dekat pulau yang sangat unik ini. Saya mengadakan perjalanan jurnalistik, untuk mewawancara Bupati Edison Selalubaja, yang agak sulit ditemui karena sibuknya dan agak orangnya sedikit eksklusif.

Kegembiraan anak Bermanua di depan sekolah mereka yang bersahaja

Semula hampir saja saya batal menuju pulau ini. Karena melihat kondisi gempa yang bertubi tubi di Padang dan Kepulauan Mentawai antara tanggal 21-24. Tapi karena penasaran dan sudah menjadi ‘azam’ saya berangkan juga. Dr Ardinis Arbain, dosen Universitas Andalas memberikan doanya pada saya. “Faija azamta fatawakkal Allaah,” ujarnya. Menuju Pulau Sipora, anda harus ikut pesawat kecil dengan penumpan 14 orang dan mendarat di Pulau Rokot. Sebuah pesawat agak tua dan masih layak terbang dengan pilot dan co-pilot langsung bisa disaksikan ‘menyetir pesawat’ tanpa pembatas. Saya lihat beberapa bule membawa peralatan selancar menghabiskan dua tempat duduk untuk menggotong barang berupa papan sepanjang lebih kurang dua meter itu. Satu satunya penerbangan adalah pesawat ini. Tidak ada alternative, namanya SMAC Sabang Merauke Air …, teman saya Bonie berseloroh bukan itu singkatannya: “Siap Mati Atau Cacat”. Hehe.

Hati saya tadinya ciut, tapi setelah tiba di Bandara Rokot, dengan aman. Barulah saya lega. Deri Rokot kita, belum selesai tujuan. Harus naik Boat sekitar setengah jam menuju Tua Pejat (artinya tempat persinggahan) yang menjadi ibukota Kepulauan Mentawai. Ada empat pulau besar di Mentawai: Siberut, Sipora Pagai Selatan dan Utara. Empat pulau ini merupakan pulau terluar di demarkasi Republik Indonesia dengan gelombang dan galur sebersar bukit dan gunung menerpa pantainya. Sebab itulah tempat ini menjadi tujuan surfer terbaik di dunia.

Bersama penduduk sedang membuat perahu dari pohon meranti.

Pulau Sipora merupakan salah satu pulau dengan keunikan satwa endemic yang terancam punah. Pulau kecil ini tidak lebih luas dari DKI Jakarta. Masih syarat dengan tumbuhan alami dan belum berkembang. Kini menjadi ibukota dengan kesibukan pokok pembangunan jalan dan infrastruktur. Karena di pulau dengan tanah pasir yang labil, jalan dibuat beton, tapi menurut penduduk belum kunjung selesai dan pembangunannya sangat lama. Jelas saja, kendala utamanya semua alat dan barang didatangkan dari Kota Padang, dari mulai batu, pasir hingga semen.

Siteut

Di pulau ini ada satwa sangat khusus pulau kecil ini, tidak ada di pulau manapun di dunia, termasuk di sebelah pulau yang lainnya di Kepulauan Mentawai dia adalah: bilao atau siamang kerdil dan tupai sipora. Karena itu pulau ini masuk arsir merah sebagai yang ditandai oleh AZE (alliance of zero extinction) sebagai bentuk ‘warning’ kepada dunia untuk keperdulian khusus kawasan ini memiliki satwa paling kritis dan terancam keberadaannya.

Saya ingin membuktikan sendiri ketempat ini. Saya pergi ke Desa Berkat (Pecahan Desa Bermanua), sekitar 40 menit dengan perahu tempel dari Tua Pejat. Sebuah desa yang baru dibangun. Penduduknya merupakan eksodus dari Desa Bermanua (artinya tidak berlangit, bahasa Mentawai), sebab dilanda bencana gempa dan tsunami tahun 2007.

Tidak ada listrik disini, ada milik penduduk berupa genset. Tapi ketika saya disana tidak dinyalakan karena penduduk tidak bisa membeli solar. Masyarakatnya masih miskin. Sehari saya datang kesini, saya ikut dijamu dirumah masyarakat, kami makan talas, dan sedikit nasi, dan hanya sekali itu makan. Sehari semalam saya makan cemilan dan indomie yang saya bawa.

Ada sekitar 40 kepala keluarga yang tinggal dikampung ini. Mereka memulai hidup dari nol karena hanya papan rumah sebagian dan nyawa mereka yang bisa diselamatkan dari tsunami yang kejam. “Tidak ada yang tersisa, baju pun hanya yang kami pakai saja,” karena kami semua lari ke bukit, kata Eliakim Sawabalad (45 tahun) getir mengingat. Ditempat beliau inilah saya tinggal. Rumahnya berukuran empat kali enam meter. Terlalu sempit untuk menampung tamu.

Ketemu Teletong Paman Joja
Menjelang sore, kami ke hutan di belakang kebun petani di bagian belakang kompleks perkampungan Berkat. Niatnya mencar Joja, Siteut dan Simakobu atau monyet kerdil Mentawai yang hampir punah itu. Tapi kami berjalan hampir empat jam di belantara. Hanya bertemu suara mereka, dan kotorannya. Kebetulan hujan gerimis, jadi agak sulit mendengarkan suara satwa karena gemercik hujan yang mendera daun. “Musim panas kemarin, mereka banyak mendekat kebun kami. Karena air di hutan tidak ada, juga makanan tidak banyak.” Kata seorang penduduk, menceritakan monyet monyet itu cenderung ke kampung dan minum di sungai dekat perkampungan yang airnya masih tersedia banyak.
“Paman Joja, dimanakah kamu,” kata ku bergumam sambil menenteng kamera. Kami pulang dengan tangan kosong kecuali potret ‘teletong’ atau kotoran alias peces. Hehe lumayan! Ini menunjukkan mereka masih benar benar ada!