Wednesday, March 14, 2012

Islam dan Ekologi: Green Islam in Indonesia

Islam dan Ekologi: Green Islam in Indonesia

Green Islam in Indonesia

Beberapa waktu yang lalu teman saya Professor Anna M Gade, Guru Besar di University of Wisconsin at Madison, USA, membuat rekaman kegiatan terkait aktifitas di beberapa pesantren lingkungan (ekopesantren) baik di Jawa Barat maupun Jawa Tengah.

"Islamic Ecology and Global Cooperation" (Indonesian and English) from Green Islam in Indonesia on Vimeo.

Menurutnya, beliau merekam 32 seri "Islam Hijau di Indonesia" yang membawa aroma positif kegiatan Islam dan lingkungan yang berasal dari tokoh-tokoh pesantren di tingkat akar rumput. Perbincangan saat video ini diluncukan juga sangat menarik ditayangkan oleh National Public Radio (NPR) di Wisconsin, USA.

Selanjutnya >>>>

Sunday, November 06, 2011

St. Francesco Assisi yang Ekologis

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, saya menulis essai mengutip keteladanan St Franciscus Assisi (1182-1226) yang sangat perduli pada makhluk selain manusia termasuk burung, rubah, tupai dan binatang yang turun kehadapannya untuk mendengarkan khutbah dan petuahnya. Saya juga mempelajari dokumen Assisi Declaration, yang diumumkan 25 tahun yang lalu oleh HRH Prince Philips bersama tokoh tokoh agama besar dunia: Budha, Baha'i, Hindu, Kristen, Islam, Jainism, Sikhism dan Yahudi berkumpul dan mendeklarasikan kearifan ekologis--- menurut keyakinan masing-masing--- yang sekarang menjadi satu satunya dokumen penting aliansi konservasi dan agama.

Basilica St Franseco Assisi

Tahun ini, saya bersyukur di undang ketempat ini: Assisi Italia. Ternyata merupakan salah satu warisan dunia yang diakui oleh UNESCO. Tempat ini memang ajaib, kalau tidak bisa dikatakan tempat yang mengagumkan, berada di puncak gunung berbatu granit dibangun oleh sebuah komunitas agama (communion) Katholik yang taat. Saya bisa membayangkan betapa tekun dan gigihnya tempat ini dibangun. Tempat sepanjang lebih kurang 5 kilometer merupakan komunitas yang tidak terpisah dengan gereja (basilika) dan menjadi satu dengan alam.

Pohon zaytun dan anggur tumbuh subur. Bangunan disusun dari batu pualam yang bisa bertahan ribuan tahun.

Lagi-lagi saya satu-satunya orang Indonesia dan menjadi makhluk eksotis ditengah warga Italia dan berbagai bangsa dunia yang lain. Tentu saya tidak bisa kesini tanpa undangan dari Alliance of Religion and Conservation (ARC).

Kegiatan yang diadakan merupakan peluncuran jaringan kota-kota tempat ziarah (green pilgrimage network) termasuk didalamnya diluncurkan juga pembuatan Green Hajj booklet yang ditujukan untuk para jamaah haji agar haji mereka selain mambur juga dapat berkontribusi menjaga kelestarian lingkungan. Saya berkontribusi dalam pembuatan buku Green Hajj ini dan juga akan menterjemahkannya kedalam bahasa Indonesia.

Event ini diikuti oleh sekitar 150 delegasi dari berbagai sekte dan agama agama di dunia yang mempunyai kegiatan terkait dengan lingkungan hidup dan aksi tindak untuk mencegah perubahan iklim. Eco Sikh, misalnya memberikan bibit pohon kepada setiap pengunjung Golden Temple di India, untuk kemudian pohon tersebut dibawa kerumah dan ditanam di rumah masing-masing. Candi mereka juga beralih pada energi yang terbarukan, menghemat air dan aksi ramah lingkungan lainnya.

FOTO: Lihat foto-foto acara prosesi pembukaan serta green pilgrimage network

Di negara maju seperti Denmark, gereja mempunyai target mereduksi emisi mereka menjadi 20 persen. Selain menghemat uang umat juga menjaga pelestarian lingkungan. Sama halnya dengan inisiatif tentang Green Masjid yang berupaya menghemat pemakaian energi dan air. Sedangkan Candi Shinto di Jepang, mendaur ulang pemakaian bahan kayu untuk mencegah pembalakan dan penebangan hutan alam. "Pada umumnya Kuil Shinto sudah sangat hijau, sehingga kami tidak perlu lagi menamakannya Green Shinto Srhine," kata Katsu Iwayashi dari Jinja Honco, Jepang. Kesadaran bangsa Jepang terhadap kehidupan beragama semakin meningkat setelah ada bencana tsunami. Dan saya baru tahu agama Shinto mempunyai 8 juta tuhan. "Banyak sekali..." kata teman saya Omar Faruk, pendiri Eco Muslim, sambil bercanda.

Pokoknya, acara ini sangat bersejarah dan sangat mengesankan.

Lihat juga:

Sunday, September 04, 2011

S.O.S Sungai Sekonyer Tanjung Puting!

Sungai Sekonyer dulu...(hanya bisa di lihat saat masuk Kawasan TNTP (atas) dan sekarang (bawah)

Hampir 20 tahun tidak ke Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), sekarang dapat kesempatan untuk memasuki kawasan ini. Bagiku kunjungan kali ini tidak terlalu menyenangkan, sebab tercium aroma yang lain dan dan terlihat perubahan lingkungan yang luar biasa. Bagiku dramatis, karena ketika kelotok berjalan sekitar dua jam dari Pelabuhan Kumai, lalu masuk ke Sungai Sekonyer, tidak lagi dijumpai air yang bersih seperti dahulu: merah kehitaman, seperti air teh karena air ini bercampur serasah dan humus. Kini, karena pencemaran yang dilakukan masyarakat akibat pertambangan emas dan pasir silikon rakyat di sebelah kiri, Sungai Sekonyer sepanjang empat jam perjalanann, berair keruh dan coklat seperti kopi susu! Tak ada yang bisa membedakan kalau hanya berkunjung dalam 10 tahun terakhir, 20 tahun lalu, air disini dahulu sangat bersih bahkan menjadi tempat kapal kapal masuk untuk mendapatkan air minum sebelum berangkat ke Jawa. Buaya berjemur kerap dijumpai di pinggir sungai dan mendadak sontak bercebur takala perahu kami lewat.

Sangat nyata rusaknya di pencemaran sungai, dan saya yakin belum pernah di lakukan pengecekan berapa kekeruhan air dan kontaminasi kimiawi di S. Sekonyer yang begitu asri tadinya. Keyakinan saya mengatakan, sungai ini sudah melampaui baku mutu dan melanggar Undang Undang Lingkungan Hidup No 32/2009. Memang tak terlihat kontaminasi pada vegetasi secara fisik. Tapi saya khawatir ikan dan flora fauna air di sekonyer sudah pasti tidak dapat hidup di air keruh seperti ini. Aku melihat pohon pinggiran sungai ini kusam dan masai. Kejam nian! Sepanjang jalan di sungai biasanya, dulu ada saja orang memancing ikan. Sekarang tidak ada seorang pun!

Sungai ini dihuni berbagai spesies ikan air tawar seperti: gabus dan toman dan dan buaya gavial atau buaya muara, saya tidak yakin ada ikan yang mampu bertahan dan memijah. Begitu pula arwana yang musim pada saat banjir dan hujan besar itu masih ada di sungai ini. Dalam sebulan terakhir ini saja, Hanafi, seorang guide yang rutin masuk ke TNTP menemukan setidaknya ada tiga buaya yang mati terkapar. Dia juga menemukan orangutan yang hanyut mati di sungai seekor induk dan bayi. Dia juga menemuka babi yang mati, "Saya penasaran, mencoba membuktikan apakah babi itu mati karena berkelahi? Tapi tidak ada luka" tambah dia. Hanafi menghitung kasar dia menyaksikan sembilan ekor buaya tertelentang hanyut di sungai setidaknya dlama empat tahun terakhir. Parahnya, ketika kami masuk sungai ini Kamis (1/9), saya menyaksikan ada rusa mati bengkak di pinggiran sungai...Astgfirullah parah sekali. Penelitian biodiverisity sungai perlu dilakukan apakah ikan masih bisa mentolerir kekeruhan yang kasat mata yang ironis ini.

Memang Sungai Sekonyer tidak dilindungi semuanya, tapi jelas ekosistem korban dari dampak atas kawasan yag tidak dilindungi. Aliran sungi sekonyer kiri --yang tidak dilindungi--mencemari sungai utama sepanjang puluhan kilometer. Ironinya, penambangan masih berlanjut, sementara wisatawan pun animonya tidak turun. (lihat peta tahun 2007 di Google di laman ini)

Di Kumai sekarang terdapat hampir 50 kelotok wisata yang mengantar wisatawan rutin melihat orangutan. Meningkat 10 x lipat dibanding tahun 80an yang bisa dihitung dengan jari Pariwisata cukup antusias tapi potensi wisata ini tak bisa menjanjikan bila alam tntp parah seperti ini.

Lokasi Pertambangan di Sebelah Kiri Sekonyer River:


View Larger Map

Alamnya rusak, yang tersisa memang hanya kawasan yang mendapatkan perlindungan (dikonservasi). Ketika kelotok berbelok kekanan yang menuju 8km anak sungai sekonyer kanan tujuan camp leakey, beberapa kilometer air masih bersih. Alam masih bersahabat disini, pepohonanpun masih terlihat segar dan tidak merana seperti di alur sungai sebelumnya. Sungai bersih ini mustahil ada tanpa kawasan konservasi yg terjaga dengan baik. Sekali lagi realitas perubahan lingkungan mematri pepatah orang bijak: semua telah berubah, kecuali perubahan itu sendiri. Salam!

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, August 26, 2011

Mengapa Rakyat Membakar Lahan?



Hot Spot, asap membumbung dan kebakaran hutan, kembali meraja lela. Rabu (23/8) saya ke Palangkaraya, Ibukota Kalimantan Tengah. Musim kemarau disini, dedaunan kering, dan rumput menjadi coklat karena kurang air. Dan, ada yang menjadi ciri rutin kawasan ini setiap musim panas yang belum pernah dapat terselesaikan: kebakaran lahan dan hutan.


Pelabuhan Kumai penuh asap (29/8) (bawah) dan Bandara Tjilik Riwut (24/8), petugas bandara menggunakan masker. Bencana tahunan yang tidak pernah selesai?



Sepertinya, kebakaran dan asap setiap pagi pada musim panas di Kalimantan dan Sumatra adalah hal yang lumrah. Berpuluh tahun, bahkan mungkin beratus tahun, orang disini bertani dengan cara berladang dan membakar lahan untuk membuka kawasa pertanian baru. Tapi kejadian ini semakin tidak enak dan merugikan manakala tidak terkendali dan bahkan menjadi bencana. 20 hingga 25 %, CO2 yang menyebabkan perubahan iklim berasal dari kebakaran hutan. Sebab itu, kebakaran hutan, tentu patut disesalkan bahkan seharusnya dieliminasi.

Sejak kecil hingga masa remaja di Kalimantan, membuatku familiar dengan kabut asap. Suasana menyengat bau asap api yang membakar rumput dan tumbuhan hijau, tercium menusuk, tapi rasanya 20 tahun lalu tidak ekstrim seperti hari ini. Memang terlihat berkabut kalau pagi, dan gelap bila sore. Namun, asap tidak membuat sampai mata pedas. Mungkin karena hari ini kami berada di ruang kantor Gubernur yang ber AC, ruang itu dipenuhi asap dan memerihkan mata. Tapi tidak diluar sana.

Mengapa kebakaran terjadi hampir setiap tahun?
Ada input yang mengagetkan ketika saya tanya pada salah seorang tokoh masyakat dayak, bahwa mereka membakar merupakan ekpresi kekesalan atas tidak dihormatinya kepemilikan adat dan hak hak mereka. Tanggungjawab kolektif yg tadinya mereka rasakan dan menjadi pupus setelah menyaksikan bahwa secara semaunya pemerintah memberikan izin pada pengusaha yag kemudian malah meampk lahan mereka. Masyarakat setempat tidak diberikan kesempatan untuk terlibat. 'Kedua, ada masalah kultural yang tidak pernah hilang karena menganggap membakar lahan merupakan bagin praktis pertanian yg wajar dilakukan dan musim kemarau adalah berkah yang harus disyukuri serta dimanfaatkan untuk membuka ladang. Modernisasi pertanian gagal mengikis praktik ini karena tidak ada satupun benda mekanik yg menjadi alat rakyat kedialu chainshaw kayu.Intensifikasi pertanian dalam 30 tahun berjalan hanya otopia untuk Kalimantan.

Penduduk kalaupun tidak seratus persen, yang tinggal di pinggiran hutan adalah mereka yang miskin dan menggantungkan hidup pada kekayaan alam yang bahkan hanya mengambilnya: menggali emas, menebang kayu, menjual pasir silikon yang dilakukan tanpa memikirkan keberlanjutan. Akibatnya alam memjadi semakin cepat rusak dan tercemar. Sementara pembangunan perkebunan seperti sawit dan pulp yang dibangun dengan modal besar, tidak sama sekali menyelesaikan dan dapat membantu keterpurukan ekonomi mereka.



Friday, August 19, 2011

Kiyai yang Berubah dan Membawa Perubahan

Sekitar akhir bulan Juli lalu, Saya berjumpa dengan KH Husein Muhammad. Setelah lama kami tidak berjumpa, ternyata beliau berada di tempat yang sama dalam suatu kegiatan lembaga yang dibinanya. Saya mendapat cerita yang sangat menarik, bahwa beliau telah menanam beribu pohon jati dan tanaman keras lain di pesantrennya. Beliau dengan cerah menceritakan, bahwa trigger itu karena adanya beberapa kali pertemuan tentang Islam dan Lingkungan dan langkah-langkah positif yang bisa dilakukan di lapangan. "Saya menanam jati, 5000. Sepuluh tahun lagi bisa kaya raya!" kata Pak Kiyai Husen tersenyum lebar. Betul kalau punya lahan, tanamlah pohon, anda menjadi kaya, harga jati, diperkirakan 3-4 juta permeter kubik.

Kalau anda punya, 5000 meter kubik! artinya dalam sepuluh tahun anda bisa menabung 15 sd 20 miliar!Perhitungan Wajar, hasil pengamatan pertumbuhan pohon jati emas dan jati lokal diperoleh hasil bahwa pada usia 7-8 tahun volume jati emas sebagai jati unggulan mencapai 0.88 m3/pohon.

Menanam pohon bukan mimpi, tidak terasa dan pohon memberikan berkah kepada semua makhluk baik oksigen, stok karbon maupun kelebihan lain dari sebuah pohon. Masyarakat kita sudah terbiasa manja, menebang tanpa menanam, padahal menebang pun tidak mudah, karena menebang di hutan alam otomatis menghadapi keganasan alam yang tidak menyenangkan. Ada makhluk hidup lain yang terancam, kawasan tangkapan air yang hilang dan abrasi menyebabkan tanah longsong.

Tuan Guru Hasanai Juaini, paling kiri bersama rekan rekan para kiyai mengunjungi Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol.


TG Hasanain Juaini, membuktikan lagi betapa berkahnya menanam pohon, beliau menyediakan bibit-bibit untuk masyarakat sekitar berserta santrinya untuk menghijaukan bukit gundul di NTB. Belum sampai sepuluh tahun saya kita, Kiyai ini bertubi-tubi mendapatkan penghargaan atas upayanya itu. Penghargaan Maarif Award tahun 2008 dan kemudian memperoleh penghargaan Ramon Magsasay 2011.

Persis sebuah cerita, ketika seorang sultan yang menyamar ke sebuah kampung. Sejenak sultan berhenti memperhatikan seorang kakek sedang menanam tanaman keras di kebun nya:

Sultan: "Kakek, boleh saya tanya. Untuk apa, kakek menanam pohon ini, bukankan usia kakek tak akan sampai menemui ketika pohon ini berbuah dan menghasilkan?"

Kakek:"Saya tidak pernah berpikir seperti itu. Menanam saja. Kalau berpikir demikian, niscara kita tidak bisa menikmati buah-buahan yang orang tua dulu juga menanam tanpa menunggu harus memakan!"

Sultan: "Masya Allah, betapa mulia kakek ini. Pengawal! coba ambilkan dinar, berikan hadiah untuk kakeh yang mulia ini."

Kakek: "Al Hamdulillah. Belum lagi pohon ini berbuah. Saya sudah bisa menikmati keberkahannya."

Dua orang diatas yang saya amati merupakan kiyai yang tidak hanya menkaji juga menerapkan apa yang pernah dikajinya. Keduanya adalah peserta Penggagas Fiqh Al Biah tahun 2003.

Alhamdulillahirabbil Alamin...

Link Terkait:

Qoluqium Fiqh Al Biah 2007

Konferensi Islam dan Perubahan Iklim 2010


Friday, August 05, 2011

Green Talk Islam dan Konservasi Lingkungan

"Ilmu dan alam adalah dari akar kata yang sama, oleh sebab itu ilmu memerlukan alam untuk diaplikasikan dan alam memerlukan ilmu untuk dijaga." kata Ustadz Ahmad Yani. Beliau memberikan penekanan bahwa menjaga lingkungan hari ini merupakan tujuan tertinggi dari Syariat Islam.


Sore ini, menjelang buka puasa, jam 4.30, Saya dan Ustadz Ahmad Yani, (Dari Daarul Ulum Lido) mendapat kesempatan untuk memaparkan kegiatan dalam acara Talk Show di Green Radio 89,2FM, tentang Harim Zone Pilot project yang didirikan oleh PM Daarul Ulum Lido. Rupaya selain memang mendapatkan sambutan positif, banyak pihak yang ternyata ingin belajar dari kegiatan lingkungan yang berakar dari tradisi Islami ini. Kami diundang untuk berbincang tengan Harim Zone dan lingkungan dan kegiatan lainnya seputar lingkungan dan pesantren terutama dengan kegiatan kami bersama Conservation International Indonesia, Yayasan Owa Jawa dan Rufford Small Grant yang memberikan dukungan pada program ini.


Lihat : Peta dan Gagasan Awal Harim Zone



Harim zone merupakan ajaran Islam yang mempraktekkan perawatan bantaran sungai, pedestrian dan kawasan hijau (green belt) untuk kepentingan publik. Kawasan ini dapat dimanfaatkan sebagai kawasan serapan air dan zona pemanfaatan yang berkelanjutan.



Dengarkan Rekaman Wawancara (Listen to the Interview)
© Couresy of Green Radio 89,2 FM)

Menurut Green Radio, keberadaan Pesantren semakin dinilai penting dalam upaya menjaga kelestarian alam dan merawat ekosistem. Apalagi banyak Pesantren yang letaknya tidak jauh dari kawasan-kawasan konservasi. Sekitar 926 pesantren dengan jumlah murid 108 ribu orang berada di Jalur Bogor, Cianjur dan Sukabumi yang diketahui merupakan kawasan konservasi. Sedangkan pada radius 10 km di sekitar Gunung Gede Halimun dan Salak, jumlah pesantren yang mendekati anak-anak sungai mencapai 29 pondok pesantren.



Berita Terkait:


http://yourlisten.com/channel/content/100255/Talkshow Agama dan Lingkungan
0 comments