Friday, December 26, 2008

Ekologi dan Kerugian Ekonomi

21 Desember 2008, Bogor. Saya menghadiri acara Index, kegiatan yang dilakukan oleh Badan eksekutif mahasiswa Institute Pertanian Bogor. Acara ini diadakan di Bogor Botanical Square. Saya baru tahu kalau diatas kompleks mall yang cukup megah ini terdapat lantai bagian atas yang cukup luas sebagai tempat pameran dan ruang konvensi yang cukup besar berstandar international. Saya kagum juga dengan mahasiswa yang sanggup menyelenggarakan acara sebesar event ini, dimulai kompetisi fotografi tentang ekologi, pameran yang melibatkan banyak sekali mitra dan stakeholders CSR Perusahaan, instansi pemerintah, LSM dan kalangan professional pengusaha ekowisata.

Menurut panitia, mereka mengeluarkan lebih dari 2000 tiket peserta yang akan mengikuti acara ini. Walaupun tiket tidak dipungut biaya, tetapi mereka hanya memperbolehkan masuk mereka yang telah mempunyai tiket. Menurut Dekan Fak Ekologi Manusia, Profesor Hardiansyah, ini adalah kegiatan pertama kali yang dilakukan oleh Fakultas Ekologi Manusia setelah berdirinya fakultas itu empat tahun silam. Peminat fakultas ini sekarang sudah masuk dalam rangking 10 besar di IPB yang diukur dari minat mahasiswa yang masuk di fakultas ini.
Saya kira ini adalah wajar mengingat fakultas ekologi mengajarkan hal-hal yang multidimensi dalam memfasilitasi keperluan masyarakat untuk dapat mengelalo lingkunganya lebih baik. Dan ternyata banyak sekali hal yang belum dipahami oleh khalayak ramai tentang ekologi dan bagaimana sikap hidup manusia yang dapat menjadi ramah lingkungan dan ekologis.

Saya diminta untuk menjadi moderator untuk sebelumnya memandu Angelina Sondakh (yang kemudian digantikan oleh Ridwan Effendy dari OREI) dan Galih Aji Prasongko dari Green Peace (26th).

Bersamaan dengan topik itu saya membacakan headline Media Indonesia (21/12) yang mengutip laporan bank dunia tentang kerugian yang diderita masyarakat Indonesia akibat buruknya sanitasi yang mencapai 56 triliun rupiah. Kerugian ekonomi ini antara lain dipicu oleh 89 juta kasus diare pertahun dan 23 ribu orang mati akibat diare tersebut. Saya ilustrasikan: bisa dibayangkan jika IPB mempunyai mahasiswa 20ribu orang semuanya mati, akibat diare? Ini akibat sanitasi dan higienitas lingkungan yang buruk. Laporan WSP-EAP tersebut menyimpulkan dampak kerugian lingkungan yang buruk mengakibatkan kerugian material berupa biaya kesahatan Rp29.512 miliar, biaya air 13.348 miliar, lingkungan 847 miliar, pariwisata 1.465 miliar dan kesejahteraan lain 10.770 miliar yang totalnya sejumlah 55.952 miliar.

Kalau sebuah laporan dibuat oleh Bank Dunia, anda boleh menebak, ujung-ujungnya bisa saran untuk memperbaiki sanitasi infrastruktur yang mendorong pada ‘loan’ yang harus ditanggung utangnya hingga anak dan cucu, karena Bank pasti ingin pemerintah pinjam lagi untuk memperbaiki sanitasi dan infrastruktur yang lebih baik. Maka sebaiknya peliharalah lingkungan kita sendiri. Dirikan wc sendiri, jangan cemari lingkungan yang mengakibatkan bau busuk karena anda membuang sampah sembarang tempat, sebab jika yang demikian kita lakukan, sama saja pada akhirnya ongkos lingkungan harus lebih mahal kita bayar. Air minum saja sekarang kita harus beli dan terkadang lebih mahal dari satu liter bensin harganya! Anda pilih mana? Kehausan atau tidak minum air bersih?

Masalah lingkunga semakin kompleks saja dan memerlukan perhatian semua orang untuk bersikap. Maka penyadaran melalui pekan ekologi yang diadakan oleh IPB ini sungguh positif dan penting diadakan.
Tabik!

Monday, December 15, 2008

Burung Garuda yang Hampir Punah


Species garuda pancasila alias elang jawa (Spizaetus bartelsi), merupakan burung elang atau burung garuda yang paling indah. Disamping corak bulunya yang coklat terang, matanya yang tajam dan bulat. Paruhnya yang menukik runcing kebawah berwarna hitam dah berdasar khaki. Keunikan lain burung ini adalah mempunyai makhota bulu atau jambul diatas kepalanya. Jambul garuda ini sangat terlihat jelas ketika dia duduk atau berhenti.

Burung ini sesungguhnya mitos yang riel yang dilukiskan sebagai burung garuda pancasila lambang negara Republik Indonesia. Dia sekarang juga menjadi lambang partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), dan selalu mengingatkan pada setiap ujung tongkat komando TNI yang mengambil simbol kepala burung berjambul ini sebagai simbol kekuatan.

Sayang sekali, spesies ini kini terancam kepunahan karena bertelur hanya satu atau paling banyak dua biji dalam beberapa tahun. Penyebab utama lagi spesies ini adalah memang perburuan dan penyusutan habitat.

Elang berjambul ini kemarin saya saksikan (14/12) di ujung catwalk Bodogol bersama rombongan US Ambassador. Syukurlah masih ada tempat terbaik seperti Taman Nasional Gunung Gede sebagai tempat terakhir mereka. Salam untuk burung garudaku!
(foto elang diambil dari website Gunung Halimun)

Monday, December 08, 2008

Mentari: Menjelaskan Satwa untuk Anak TeKa



Apa beda harimau dan singa? kadang-kadang masyarakat awam yang sudah dewasa pun tidak dapat membedakan karena tidak pernah mengenal dan tidak tahu bedanya. Di teks bacaan anak-anak SD, saya menemukan buku teks yang salah, singa dan polar bear hidup di Indonesia. Padahal mereka bukanlah spesies Indonesia.

Sewaktu kecil kita suka bingung bro... membedakan. Saya pernah mendapatkan laporan bahwa di Jawa masih ada harimau, eh tahunya itu macan tutul. Harimau jawa sudah lama tidak hadir dan punah...ada lagi saya mati-matian diyakinkan mereka bertemu anak macan tutul, tapi ternyata itu anak musang 'civet' yang bulunya memang berbelang-belang waktu kecil.



Beberapa hari yang lalu saya mendapat laporan dari Mentari Paramitha, Miss Indonesia (Water) tentang upayanya memberi pemahaman perbedaan satwa-satwa itu, sambil membawa majalah TROPIKA. Tropika adalah majalah alam dan konservasi tempat saya bekerja sebagai Pemimpin Redaksi. Syukurlah kalau majalah itu bermanfaat, ternyata masih banyak anak-anak yang belum tahu perbedaannya satwa, lihat tulisan Mentari ini:

"Dear Pak Rudi,

Sewaktu kunjungan ke TK sepupu saya, yaitu TK Al Azhar Pusat, Jakarta, saya membawa majalah2 Tropika. Di sana saya bercerita tentang satwa-satwa yang terancam punah dan gambar2 menarik yang terdapat di sampul majalah Tropika sangat membantu saya menerangkan seperti apa rupa hewan2 tersebut. Dengan bahasa yang sangat simpel mereka pun jadi mengerti, bedanya harimau dengan singa, orang utan, badak (banyak yang belum paham semua itu)...mungkin hanya dengar tapi masih asing untuk mereka. Mereka jg tak sabar untuk membolak-balik halaman yang ada, untuk melihat gambar2 interaktif di dalamnya."

Terima kasih mentari, memang majalah TROPIKA terlalu berat untuk anak tk, tapi tidak apa-apa disana ada foto-foto yang colourfull yang membantu.



Anak-anak kita perlu bantuan sejak dini untuk mengenal warisan alam mereka yang kaya.

Thursday, December 04, 2008

Lagu Favoritku Alleycat

Mau tahu lagu favorit saya sewaktu kecil dan menjadi "Laskar Pelangi" di Borneo? coba dengar ini:



Aneh juga, saya waktu itu tidak pernah mendengar radio RRI melaikan Malaysia Kucing yang ditayangkan dari Sabah dan Sarawak, juga dari Brunai Darussalam.

tabik
fm

Imam Masjid Al Jazair Belajar Lingkungan

Bismilahirrahmanirrahim,
Ayyuhal ihwah..., al mukharram al asatizd wa imam li masajid min Al Jazair..,ahlan wa sahlan bi kudumikum... Assalamualaikum warahmatullahi wabarkatuh.

Hari ini saya memberikan presentasi dan berbagi pengalaman dengan para Imam Masjid Al Jazair bertempat di Hotel Niko, Jakarta. Mereka berjumlah 12 orang, beberapa diantaranya adalah imam masjid senior di Al Jazair yang difasilitasi oleh GTZ. Saya diminta untuk membagikan pengalaman tentang kerjasama dengan para ulama Indonesia dalam soal lingkungan. Sebagian dari peserta diskusi adalah para imam muda dan ada juga yang setingkat syaykh (kiyai). Mereka baru saja difasilitasi untuk studi banding ke Aceh dalam hal penerapan Islam dan Lingkungan.

Berbagi pengalaman merupakan suatu yang sangat penting, dan mereka berterima kasih atas diskusi ini. Bersama para imam yang amat bermohmat ini saya titipkan laporan Fiqh al Biah yang diproduksi oleh INFORM dan Conservation International.

Salah satu yang saya sampaikan adalah bahwa masalah lingkungan adalah persoalan hari ini, dan ulama tentunya dapat memberikan kontribusi tentang pentingnya perawatan terhadap alam dan lingkungan melalui ajaran Islam yang dipandang mempunyai jawaban lengkap atas persoalan manusia, dulu, kini dan akan datang.

Presentasi dilakukan dalam bahasa Arab, sayang bahasa Arab saya masih tidak lancar alias Suaya..syuaiya.., jadi saya perlu penterjemah. Penterjemahnya adalah Muhammad Al Talal dari Aceh dengan bahasa Arab yang fasih.

Terima kasih atas kesempatan berharga diberikan pada saya untuk berjumpa imam masjid dari Al Jazair. Jazakallahu bil al-khair, Ila liqo.'

Wassalamualaikum warachmatullahi wabaraqatuh.

Pembukaan pertemuan dengan lantunan Ayat Suci Al Qur'an

Bagian Penggalan Presentasi untuk Imam Masjid Al Jazair, terima kasih pada Pak Tengku Azuar Rizal dari GTZ.

Saturday, November 22, 2008

Senja di Kaimana

Sebagai anak negeri saya merasa sangat beruntung dengan profesi sebagai aktifis konservasi. Sudah lama saya berfikir, ini adalah sebuah pekerjaan yang mulia dan baik, karena bisa menyumbangkan tenaga dan upaya untuk melestarikan alam Indonesia. Disamping itu, tentu saja bisa melihat pelosok negara dengan diongkosi oleh tempat bekerja, tentunya untuk sesuatu yang produktif. Malam tadi (22/11) saya berangkat ke Kaimana, sebuah kabupaten baru berdiri tahun 2002. Segalanya masih baru disini, jalan-jalan baru dibangun, kantor kabupaten yang baru dibangun, serta infrastruktur yang belum sempurna. Sepanjang perjalanan transit singgah di Ambon jam enam pagi setelah terbang jam satu tengah malam. Perbedaan waktu dua jam dengan Indonesia Barat.


Hutan Lindung Sasrawa Sasanau, Kaimana


Bekerja di konservasi, kata Tom Friedman Penulis buku Hot Flat and Crowded, ibarat menjadi 'Nabi Nuh' tapi dari bentuk aktifitasnya karena ingin menyelamatkan makhluk Tuhan, bukan saja manusia tetapi alam dan spesies yang ada didalamnya. Sedangkan Taman Nasional atau Kawasan Konservasi, adalah ibarat sebuah "Kapal Nuh" yang memuat satwa flora dan fauna yang harus diselamatkan ditengah gelombang badai nafsu konsumerisme manusia sehingga dikhawatirkan spesies tersebut menjadi terancam punah tanpa tersisa lagi untuk diwariskan kepada anak cuku dan generasi yang akan datang.

Profesi konservasionis di lembaga-lembaga konservasi memang tugasnya memberikan informasi, data data ilmiah, strategi dan pembelaan terhadap alam dan warisan alam agar tidak rusak dan punah. Tentunya tidak semua tempat menjadi sangat penting untuk dilindungi, karena hanya beberapa tempat tertentu saja di muka bumi ini ternyata yang mempunyai titik penting.

Hutan tropis memang penting, tetapi mustahil semuanya diproteksi karena harus berhadapan dengan kepentingan manusia. Jadi ibarat mencari sebuah mata air kehidupan di hutan belantara, atau melindungi jantung yang penting untuk memompa darah keseluruh tubuh, kawasan konservasi, dilindungi bersama komponen pentingnya alam lainnya. Namun, upaya mulia ini bukannya tanpa kendala. Dapat anda bayangkan, tempat mana yang sekarang ini belum diketahui dan terjamah oleh manusia? Dari pelosok barat dan timur, pulau kecil dan besar, hampir semuanya telah berpenghuni. Batas-batas penguasanyapun jelas, klik saja Google Earth. Setiap jengkal bumi telah terpetakan, dan semuanya terkapling menjadi negara-negara kecil dan besar, dan penguasaan itu terus mengerucup hingga pada tingkat bangsa, propinsi, kabupaten, kecamatan, desa, kampung, dan famili.

Dalam hal Pembagian kawasan tanah dan lahan di Papua, dengan otonomi daerah yang kuat, pemerintah pusat bahkan pemerintah daerah tidak dapat berjalan sedirian tanpa persetujuan masyarakat adat. Celakanya batas hak kepemilikan adat hanya diwariskan secara cultural dan tradisi oral untuk mengkapling kawasan sehingga banyak kawasan adat yang satu dengan yang lain bisa menjadi tumpang tindih. Oleh karena itu jika tidak berhati hati, dan menggunakan ‘hati’ bekerja di Papua dapat memicu konflik.

Oleh karena itulah peranan masyarakat di Papua perlu didengar dan sangat penting. Menteri sekalipun harus diterima secara adat dan pemerintah daerah harus resmi mendapatkan mandat adat untuk mengadakan pembangunan termasuk sebuah kawasan konservasi. Kelebihan mandat seperti ini adalah, adanya dukungan kuat dari masyarakat apabila kita mampu meyakinkan program ini bermakna dan investasi konservasi tidak perlu ‘menggurui’ melainkan hanya memfasilitasi dan memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber dayanya sendir.

Mentri Fredy Numberi, yang kelahiran Papua mengingatkan pentingnya memelihara kawasan laut dan merencanakan kawasan ini –termasuk pembangunan daerah—untuk dengan visi jauh, 100 tahun kedepan. Kata dia, KKLD tidak harus dilihat hasilnya dalam 10-20 tahun, melainkan 50 tahun dan 100 tahun.

Negeri ini begitu beragam dengan etnik, agama dan adat istiadat. Menapikan unsur adat di Papua sama dengan ibarat memercik air di dulang, terkena muka sendiri. Adat tampaknya menjadi suatu yang sangat dipegang teguh. Disinilah pentingnya istilah, dimana bumi dipijang disitu langit dijunjung, masyarakat yang secara cultural memang masih mempunyai keterkaitan erat satu sama lain, populasi penduduknya yang masih sedikit, khasanah social modern tidak berlaku untuk masyarakat majememuk sepeti itu.

Senja di Kaimana
Selain lautnya yang ternyata mempunyai khasanah yang luar biasa dengan terumbu karang sangat tinggi dibuktikan dengan lebih dari 350 spesies ikan karang sekali menyelam. Laut Kaimana menyimpan keunikan yang luar biasa dan harus dilestarikan.

Senja di Kaimana, Coutesy Dian Yasmin

Potensi laut sudah tidak perlu diragukan, tetapi sehari setelah saya tiba di Kaimana, saya dibawah ke tempat yang unik 14 kilometer dari kota Kaimana menuju Hutan Lindung Sawrawa Sasanau sebuah kawasan hutan dengan luas 10 ribu hektar lebih memiliki aliran anak sungai dan air bersih dengan warna biru hijau tembaga. Kata Albert Nebore teman saya warna itu kemungkinan diakibatkan pengaruh warna nikel yang terkandung di bumi Papua ini. Kejernihan air mengingatkan saya pada Santa Fe River , Florida yang menjadi obyek wisata berperahu dengan bayaran 40 USD per orang untuk menyewa sampan alumuniun dan berdaung menghilir selama satu jam.

Saya berpikir, 100 tahun kedepan, mengikuti petujuk Pak Fredy Numberi, jika Kaimana mampu mempertahankan hutan dan sungai yang mengalir ini, kelak, 50 tahun mendatang orang akan banyak berkunjung dan terkesan menikmati pemandangan alam yang unik ini. Saya yakin, tidak banyak tempat seprti ini di Indonesia dan kemajemukan alam Kaimana tentu bis memberikan alternatif lebih guna menhindarkan kerusakan alam yang parah di kawasan ini. Semoga!

Wednesday, November 19, 2008

Peluncuran Buku Bertahan di Bumi, Gaya Hidup 'Sepeda Ontel'.



Buku Bertahan di Bumi akhirnya resmi diluncurkan. Ini adalah buku ke 9, dari buku-buku yang pernah saya tulis sebelumnya. Peluncuran ini dibarengi dengan diskusi serius tentang Politik Lingkungan dan Perubahan Iklim, menghadirkan pembicara Dr. Firdaus Syam (Dosen FIP Unas), Dr. Marissa Haque (Artis dan Politisi), Fitrian Ardiansyah (WWF), dan Acara yang dimoderatori Oleh Dr. TB Massa.



Acara ini terselanggara kerjasama Fakultas Biologi UNAS, Pasca Sarjana Ilmu Politik Unas, CI, WWF dan Yayasan Obor Indonesia.

Even ini cukup meriah dan banyak yang datang, mungkin antara 250-300 orang yang membanjiri aula blok I Lt 4, Universitas Nasional, surprise juga; biasanya acara seperti ini sepi peminat. Tapi mungkin juga karena ada 'icon' Marissa Haque yang datang dan membawa rombongan infotainment.


Selama diskusi dan talkshow berjalan, saya melihat tidak banyak juga yang pulang. Acara dimulai dari bangku yang setengah terisi jam dua siang, lalu masih penuh terisi hingg jam lima sore. Mungkin karena dijanjikan para peserta mendapat kesempatan memenangkan undian 30 buku untuk 30 peserta yang beruntung karena diundi. Jitu juga cara itu rupaya.

Penting lagi diingat, buku ini mendapatkan sambutan positif dari pembahas. Dr Firdaus Syam secara akurat dan kritis mencatat kelebihan dan kelamahan buku sekaligus. Kata Firdaus,"


Penulis berani melawan arus, terhadap apa yang kini
sendang berkembang di pasar buku di Indonesia yakni pasar buku yang
lebih banyak menyoroti tema-tema politik kontemporer, atau novel sastrawi
...

Appresiasi kepada penulis adalah, pilihan ide, gagasan dan
pesan orientasi masa depan umat masia..Buku ini membincangkan mengenai
masalah masa depan kemanusiaan dan lingkungan kehidupan di planet
bumi...adalah kajian langka, sekaligus sikap penulis yang
memposisikan diri keberpihakan kepada persoalan mendasar yang jauh kedepan
mengenai apa yang disebut dengan biofilia."



Tentu saya merasa tersanjung, juga agak merasa banyak kurang sempurnanya buku ini bila dipikirkan ulang. Tapi, inilah manusia ada lebih dan ada kurang. Saya persembahkan buku 'sepeda ontel' ini untuk negeri dan bangsaku tercinta. Betapa cintanya aku pada negeri ini, negeri yang hijau kaya dengan flora dan fauna, pemilik biodiversitas terbesar di planet bumi, tapi bangsanya masih kurang bersyukur. Bukan tidak bersyukur, tapi syukurnya masih kurang, terbukti dengan bangsa ini masih belum perduli dengan kekayaan yang dimiliki ini, belum berupaya mengolahnya secara efisien dan menghargai dengan makna yang tinggi.

Terima kasih untuk datang dalam peluncuran buku yang ingin menambahkan khasanah pengetahuan lingkungan di negeri ini. Terima kasih pada para alumni dan anggota milis fabiona yang datang Bang Bahang, yang kini mengisi kegiatan pensiunnya (fabional angkatan 70an), Mas Prasetyo yang selalu memberikan support dan mau terus belajar, teman-teman muda yang lain. Bang Noer Kertapati, Bang Massa dan Firdaus Syam, adalah tiga teman saya sewaktu aktif sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Islam. Jalinan saya dengan mereka di Fisip membuat saya tidak perlu membedakan apakah saya orang biologi atau politik, saya diterima hangat di kedua tempat dengan persahabatan. Last but Not Least, Pak Dekan Fakultas Biologi Unas Tatang Mitra Setia, orang yang selalu sabar, tidak pernah marah dan gembira. Maka lihat saja beliau awet muda!

Tak kalah penting, buku ini dihadiri tamu manca negara, Dr. Crist Margueles, Vice President CI, Angela Kirkman, Director of Communication CI Indo-Pasific, lihat komentarnya, saya cut and paste:



"Congratulations Rudy on a successful event! I enjoyed it even
though I did't understand too much. I agree that even though many of the media
seemed more interested in Marissa Haque hopefully this will help get your
message out to a bigger audience."


juga Kristin Berganz dari US:




We're so proud of you! Thank you for everything you do to support CI and increase awareness of these important issues in Indonesia.


Terima kasih pada Dr. Jatna Supriatna, yang menjadi guru saya sekaligus Boss tempat bekerja. Kebebasan berkreasi dan kalemnya Pak Jatna membuat saya bisa mencurahkan kreatifitas dan memberikan sesuatu yang optimal, bukan saja untuk profesi saya, juga untuk pembangunan lingkungan dan konservasi di negeri ini. Saya jadi ingat pada sebuah catatan persembahan yang ditulis Jatna tahun 80an disebuah bukunya dengan mengutip Khalil Gibran:


"A man can free without doing great, but a great man cannot doing great
without free"


Berita Tentang Peluncuran Buku


Friday, November 14, 2008

Dua Putri Indonesia di UK

Ini catatan tertinggal selama kunjungan saya ke UK. Selama saya disana saya bertemu dengan dua mahasiswi pengejar gelar PhD. Satu Shinta Puspitasari di Oxford, dan Rondang Siregar di Cambridge, saya tentu saja bangga, kedua putri ini kini tengah 'struggle' mengejar PhDnya tanpa bantuan beasiswa dari negara, karena mereka mempunyai latar belakang bukan sebagai seorang dosen atau peneliti (yang satu-satunya diprioritaskan untuk mendapat beasiswa dikti), dan untuk mengejar itu, mereka harus bekerja sambilan.


Rondang Siregar

Tidak banyak mahasiswa Indonesia yang mempunyai kesempatan juga berkeinginan kuat untuk mengejar PhD, salah satunya termasuk Rondang Siregar. Beliau alumni UNAS satu tahun diatas saya, tengah menyelesaikan disertasinya tentang orangutan. Karena kadung janji sudah di negeri orang, October 24, 2008 saya terbang dari Edinburgh menuju Gatwick Airport, pakai pesawat Easy Fly, beli tiket pakai online, print langsung bawa tikenya sendiri ke airport. Mudah sekali hidup di jaman ini.

Rupaya Ka Rondang, begitu saya memanggilnya, tengah sibuk di labnya ketika saya tiba di alun-alun kota Cambrigde, sudah agak sore telp tidak nyambung membuat saya agak khawatir tidak dijemput. Padahal--besok paginya baru saya sadar--kota ini memang sesungguhnya kecil tetapi massif dengan bangunan yang banyak diantaranya kuno, termasuk bangunan Katedral Cristian Chruch (kalau tidak salah) yang berada di pinggir kali Cambrigde University. Tiba pakai bus. Rondang menjempus saya pakai sepeda, saking dinginnya saya masuk kompleks kolam renang dipinggiran alun-alun duduk di meeting point, setelah janjian sama Rondang.

Shinta Puspitasari

Akhirnya datang juga!
Karena datang sekitar pukul tujuh malam, kita jalan kaki ke asrama kampus yang disewanya. Dengan senang hati saya dipersilahkan tidur dikamar mahasiswa yang hanya cukup untuk satu orang, nah, Kak Rondang menjadi 'korban' tidur dengan sleeping bag di lab University of Cambridge. Penghormatan tamu yang luar biasa! Tapi kedatangan saya tampaknya mengobati rindunya dengan tanah air terlebih lagi saya membakannya bumbu rendang dan bumbu nasi goreng yang dia pesan dari tanah air.

Sebenarnya Rondang sebentar lagi selesai, tetapi karena dia juga harus bekerja untuk bertahan hidup, menyelesaikan disertasi tanpa beasiswa, menyebabkan dia lama untuk selesai. Begitulah seninya, sambil tidak banyak berhadap pada negeri sendiri yang sedang banyak uang, tapi dikorupsi oleh para pejabat yang seenaknya membagi-bagikan uang negara! Jangan heran kalau ada anggota parlemen cepat kaya mendadak karena konspirasi politik seperti ini. Tidak adakah bujet dari parlemen untuk membantu mahasiswa seperti mereka?

Saya yakin, kita perlu orang yang berwawasan dan mempunyai kepintaran untuk menjadi wakil rakyat di negeri ini, bukan kemudian mereka yang tidak pintar duduk di DPR lalu kesana kemari mengadakan studi banding dengan biaya negara, karena merasa mereka memang tidak mempunyai khasanah dan pengalaman dalam mengelola negara dan tidak pintar harus belajar lagi setelah di parlemen? Came on!

Saya tidak habis pikir, kedua putri kita ini ibaratnya tengah 'pontang-panting' untuk menyelesaikan disertasinya dengan sambil bekerja, tentu saja kita bisa berharap mereka segera selesai dan berkarya di tanah air. Mereka ini bukan hanya Raden Ajeng Kartini, tapi orang yang harus didorong untuk segera menyumbangkan kontribusinya untuk negara, jangan lagi orang yang baru ingin belajar memberanikan diri memimpin negara. Berapa orang mempunyai pengalaman dan bergelar S2 dan S3 di parlemen? Bahkan yang memalukan, ada yang mencoba masuk parlemen dengan ijasah palsu! Habislah negara ini!

Shinta Puspitasari menuturkan Dia berlinang air mata ketika memutar lagu Indonesia Raya, di blog kanan saya ini. Ini edisi lengkap Indonesia Raya yang memang menimbulkan semangat warisan perjuangan. Baitnya reffnya dinyanyikan lengkap dan tidak dibaca separo. Ini yang saya usulkan ketika pelantikan para pejabat, atau anggota DPR RI lagu ini harus dinyanyikan secara lengkap, karena ini pedoman umum mengelola negara selain UUD. Indonesia Raya Edisi Lengkap penuh dengan cita cita dan semangat membela tanah air dan pengorbanan. Please simak lagu ini., tidak banyak orang Indonesia yang tahu!

"Sadarlah hatija, sadarlah boedija untuk Indonesia Raja"

"Indonesia tanah jang akoe sajangi,..."

Kembali ke Cambridge
Universitas ini merupakan salah satu University terbaik di UK, Pangeran Charles adalah alumni Trinity college Cambrigde. Masih ingat Watson dan Crick? penemu double helix DNA, ini adalah bekarja di Lab Cambrigde. Pagi-pagi ketika berkeliling dengan kak Rondang, saya ditunjukkan tempat konko-konkonya Watson Crick sebuah restoran yang kemudian menjadi sejarah penemuan tersebut. Jadi tentu sekolah di Cambrigde bukan sembarang orang.

Di pusat kampus Cambridge kita bisa menyaksikan orang berkeliling kampus dengan menggunakan perahu dan membayar 4 pond sterling, yang mendayung adalah mahasiswa yang kemudian menjelaskan tentang kanal yang dibuat itu.

Tentu bisa menjadi sumber pendapatan untuk kampus. Saya juga ke masuk ke Gereja Anglikan yang menurut Rondang koor Gerejanya luar biasa bagus, sehingga ditayangkan ke seluruh dunia pada saat hari natal oleh BBC London dan channel penting lainnya. Saya menyaksikan piano yang besarnya sama dengan metro mini. Pengunjung dengan tertib mengelilingi gereja yang cukup sakral ini.

Nah, terakhir, saya berkunjung ke lab Ka Rondang. Disitu tertulis siapa saja yang sudah mendapatkan gelar PhD, ini khusus yang dibimbing oleh Dr David Chievers promotornya Rondang. Ada belasan, orang, termasuk diantaranya Dr. Yanuar (alumni UNAS) yang baru saja tamat sebagai ahli primata juga.

Saya sangat beruntung, dan mensupport semua mimpi kedua putri kita ini, walaupun nanti kalau ke UK lagi saya hanya bisa bawa kacang atom (yang tak ada di UK), sambel rendang dan bumbu nasi goreng. Selamat mengerjar mimpi anda!

Thursday, November 06, 2008

Indonesia First Interfaith Conference in Climate Change


It seems that the movement of religion and environment is not at the stage of beginning, but the start was begun in 1986 since Prince Phillip the Duke of Edinburgh and WWF held an initiative to facilitate all the religious leaders from all over the world congregated at Assisi Italia. As an outcome of this conference:


The Assisi Declaration Proclaimed.

Other action was also conducted in Ohito, Japan, and created other expression of concern of the planet such as:
• The health of the planet is being undermined by systemic breakdowns on several levels. Faith communities are not taking effective action to affirm the bond between humankind and nature, and lack accountability in this regard.
– Human systems continue to deteriorate, as evidenced by militarism, warfare, terrorism, refugee movement, violations of human rights, poverty, debt and continued domination by vested financial, economic and political interests.
– Biological systems and resources are being eroded, as evidenced by the ongoing depletion, fragmentation and pollution of the natural systems.
Recognising the important parallels between cultural and biological diversity, we feel a special urgency with regard to the ongoing erosion of cultures and faith communities and their environmental traditions, including the knowledge of people living close to the land.
• As people of faith, we are called to respond to these concerns. We recognise that humanity as a whole must face these concerns together. Therefore we recommend these principles as a basis for appropriate environmental policy, legislation and programmes, understanding that they may be expressed differently in each faith community. (quoted from Harfiah Haleem Presentation, 2008)



I am surprised to participate at the first conference Indonesia’s Interfaith and Climate Change held by NU and the British Embassy, as about 100 interfaith leaders as well as some grass root activism shared their ‘best practiced’ to response to the global warming actions: such as planting millions trees, changes the electric to micro-hydro power which can avoid the used 300.000 liters gasoline/year, recycling garbage and financing 50% of operational cost to run the an environmental television program. I believe this emerging attention to the faith group for climate action could become much more significant in the future.

I attended the meetin in order to facilite Mrs Harfiah Haleem as she replaced Fazlun Khalid –bacause of the health problem—that cannot attend the conference. Its firs time to acquaintance Harfiyah as I understand she is an important environmentalist to represent IFEES from UK//

Monday, November 03, 2008

Bertatap Muka Dengan Pangeran Charles

Pangeran Charles ternyata begitu serius dengan misinya untuk melibatkan agama-agama dalam menanggulangi perubahan iklim. Beliau sangat antusias dengan pertemuan para pemuka agama dalam membahas tentang climate change yang diadakan di Hotel Niko, Jakarta hari ini Senin (3/11). Hari ini adalah pembukaan Konferensi Agama-Agama untuk Perubahan Iklim yang diakan oleh Gerakan Nasional Kehutanan dan Lingkungan (GNKL) NU dan Kedutaan Besar Inggris.

Sebagai orang yang turut merintis kearah ini, saya bisa bergembira dengan sambutan yang luar biasa pemimpin agama untuk terlibat dalam melestarikan lingkungan. Sejak lama saya berharap gerakan ini memberikan kontribusi signifikan dalam menyelamatkan lingkungan. Sebagai Muslim, saya bisa memberikan kontribusi yang lebih pada dunia Muslim karena sadar betul bahwa Islam mempunyai keunikan ajaran yang baik dalam memberikan solusi terhadap gaya hidup yang lebih spartan dan ramah lingkungan.


Pangeran Charles, gembira ketiaka saya ceritakan bahwa kemarin saya adalah salah satu peserta Dictley Conference, begitu beliau menyebutnya. Saya adalah satu satunya dari Indonesia yang diundang dalam symposium yang cukup penting tersebut, dan saya lihat, NU telah menterjemahkan hasil pertamuan Dictley untuk disosialisasikan pada peserta forum Konferensi Agama-agama dan perubahan iklim.

Tidak aneh bagi saya, Pangeran Charles karena beliau mempunyai perhatian yang lebih terhadap perkembangan Islam dan mampu memahami kearifan Islam lewat akarnya agama Ibrahim. Saya menemukan pandangan yang sama dengan Professor Northcott, yang menjadi host saya di Edinburgh oktober ini: “Saya yakin, kita mempunyai Tuhan yang sama,” katanya.

Prince of Wales atau Pangeran Charles seperti ayahnya Duke of Edinburgh atau Pangeran Philips akan menjadi pewaris tahta Kerajaan Inggris dan menjadi pemimpin tertinggi Gereja Anglikan. Sejarah panjang pertarungan agama-agama dalam politik memang tidak perlu lagi diperdebatkan, karena semuanya ternyata mempunya akar yang satu.

Sadar betul tentang sejarah, bahwa peradaban dibangun secara sambung menyambung. Universitas tua di Inggris seperti Oxford dengan Komplek Gereja Kristusnya merupakan kelanjutan peradaban yang banyak terinspirasi oleh Islam Spanyol dan desain kota-kota muslim yang juga kompleks di Baghdad dan Andalusia (Spanyol). Wallahu ‘alam.

Saya mengisi waktu dengan acara penting hari ini, selain menjadi moderator untuk Menteri Lingkungan Hidup, karena didaulat Sdr Imam Pituduh, dari NU, juga bertatap muka dengan Pangeran Charles.

Thursday, October 23, 2008

Presentation at CASAW University of Edinburgh



To me its a previlage to deliver a presentation about Islam and Environmental movement in Indonesia at the Centre of Advance Study for Arab World or Al Markaz al Dirasah Al Mukadamiyah li Alam al Arabiy (CASAW) at the University of Edinburgh. Even thoungh quite few people coming (around only 10) but proudly the study was thanks me regarding they are hosting for the first time on this kind of topic.

There must be a conciousness of Indonesia, because the country is very important in term of the largest population of embranched muslim in the world as well as there a growing attention to the environmental problems in the country. I believe , there is rather an un explored dicipline to understand Islamic Ethic for the environment, as it being undestood by many Islamic schoolars at the academic levels. But unfortunately, environment need a real praxis actions in the field, theory is not enough of course in respond the current exacerbated situation of greedy behaviour of capitalism economy.


What I am doing in partnering with ulama' in Indonesia, being honest, is only a first start and suppose to be a scaling up to this new invention of approach for the environment. I believe one time, there will be a 'change' if there are, collective conciousness about the Islamic teaching in environment and the growth spiritual intention that as human being, a Muslim not only bestowed by the wise environmental Islamic teaching, but also their piety will growingly if Muslim understand that whole creation is praise to GOD!

Wednesday, October 22, 2008

Benarkah Islam Akan Bangkit dari Eropa?



Ketika tiba di Birmingham hari Senin dan Selasa (20-21 October) saya merasa surprise sebagai seorang muslim. Negeri ini dihuni oleh 50% muslim, dan pagi-pagi ketika Daud mengantar saya ke kantor IFEES saya menyaksikan banyak sekali masjid yang ada di Birmingham. Walaupun banyak pendatang, mayoritas kegiatan disini dilalukan seperti suasana yang Islami, seperti restoran Islam dan banyak wanita-wanita yang berjilbab bahkan pakai cadr di jalan raya. Datang agak malam di Birmingham, dinginnya mungkin sekitar 10 derajat, ini menjelang autum atau musim gugur di UK. Jaket kulit yang kukenakan terasa tidak cukup, bahkan pakai sarung tangan, yang biasa kupakai untuk naik motor--dari kulit--dingin masih masuk juga, dan terpaksa dimasukkan lagi ke kantor baju kulit, ditambah topi kupluk warna coklat pembelian dari istri di Jakarta!



Rupanya teman-teman Muslim di Birmingham sudah kenal saya dari pembicaraan tentang pekerjaan saya dengan Islam dan Lingkungan di Indonesia. "Fachrudd...in, nama yang tidak asing, dan selalu kami dengar dari Sidi Fazlun," kata Shabas Mughal yang menjemput saya. Shabas dengan mobil Audinya meluncur dengan kencangnya. Dia generasi kedua di Inggris, bapak Ibunya hijrah ke tempat ini tahun 50an dan sudah menjadi warga negara Inggris. Mughal berasal dari Kasmir, India. Memperhatikan Shabas, mengingatkan pada penguasa Sultah Shah Jahan, penguasa Mughal India yang mendirikan Taj Mahal, karena tirus muka, tipe jambang dan hidung mancungnya itu mengingatkan saya pada wajah raja paling romantis didunia itu. Anda tahu, Shah Jahan mendirikan Taj Mahal untuk mengenang istrinya yang meninggal ketika melahirkan, saking cintanya: maka didirikanlah museleum (kuburan) Taj Mahal yang cantik dan merupakan salah satu keajaiban dunia.




India menjadi penduduk muslim kedua terbesar setelah Indonesia, tetapi negeri itu tidak menjanjikan untuk sebagian orang hidup lebih baik, dan kebanyakan mereka pergi ke Eropa dan Amerika, dan sebagian lagi tentu menjadi warganegara Inggris dan menetap di Birmingham.

Saya kemudian diajak melihat sekolah Islam paling maju di Birmingham "Al Hijrah Islamic School" yang didirikan oleh ...Syakieb. yang semula hanya mempunya delapan murid pada tahun 80an kini menampung 1200 anak setiap minggu untuk bersekolah.

Kurikulumnya pun terintegrasi, kurikulum inggris dan Islam, bahkan ditambah kunjungan ke negara-negara Islam terdekat serta situs bersejarah semacam Masjis al Aqsa dan ke Spanyol untuk melihat Granada, Sevilla dan Istana Al Hambra penginggalan dinasti Umayyah di Spayol. Pengkondisian seperti ini membuat saya merasa generasi muda muslim disini lebih beruntung dibandingkan dengan di negeri muslim yang lain, karena pendidikan yang sangat menjanjikan.




Saya dikasih waktu untuk ceramah selama 7 menit ala kultum, dan memperkenalkan diri serta memotivasi tentang Islam dan Lingkungan di ruang aula pada sekitar 100 siswa dan siswi al hijrah. Mereka tentu saja sangat antusias. Merekalah masa depan Islam di Eropa ini dan mereka merupakan generasi Islam harapan yang terpelajar memberikan bentuk Islam yang rahmatan lil alamin. Di bidang lingkungan tentunya diharapkan ada kesadaran yang lebih tinggi untuk generasi muda ini karena masa depan ditangan mereka.



Saya sesungguhnya sangat iri dengan pendirikan yang mereka peroleh dan tipikal ini bisa di bawa untuk madrasah atau sekolah Islam lainnya di Indonesia. Melihat kota Birmingham, saya jadi ingat wacana tahun 80an tentang kebangkitan Islam, tapi sekarang wacana itu tenggelam dan tidak terdengar lagi. London, dan Birmingham merupakan dua tempat dengan Islamic Banking yang kuat. Setelah Lehman Brother bankrut dengan ekonomi kapitalistiknya, dan Ekonomi Islam sudah mulai dipertimbangkan sebagai alternatif, maka teman-teman saya mengatakan, mungkinkan Islam akan bangkit dari Eropa?

Video menarik tentang Demography Islam di Eropa

Tuesday, October 21, 2008

Islam and Environment, Simposium di Oxford Center for Islamic Studies


Simposium di Lybrari Ditchley Park



Dr Farhan Nizami,Director Oxford Centre for Islamis Studies



Bismillahirahmanirrahiem,

Tiga puluh lima ilmuwan dan pengambil kebijakan dan aktifis dari mulai jurist Bangladesh Mustafa Kamal hingga Dr K S Jomo Assistant Secretary-General for Economic Development, UN, berkumpul bersama di Ditchley Park, UK sebuah mansion house bergaya klasik Eropa yang sangat asri dan merupakan salah satu rumah kebanggaan 'great house of england'.


Sedangkan orang penting lainnya yaitu antara lain: Dr Khalid M Al-Mathkoor Chairman, The Higher Committee for Shariah, Kuwait (penasihat sultan), Shaikh Khalid A Alireza Executive Director, Xenel Industries, Kingdom of Saudi Arabia,HE Dr Abdulaziz Dr Mahmoud Akef, Earth Mates, Professor Rais Akhtar Jawaharlal Nehru University, India Professor Rafid Al Khaddar Faculty of Technology and Environment, Liverpool John Moores University, HE Dr Abdul Rahman Al-Awadi Executive Secretary, ROPME, Professor Osman bin Bakar Centre for Civilization Dialogue, University of Malaya Mr Richard Beeston The Times HE Mohammed Ahmed Al Bowardi Managing Director, Abu Dhabi Environment Agency, HE Sayyid Hamoud bin Faisal Al Busaidi Minister of Environment and Climate Affairs, Oman, Mr Bruce Clark, The Economist, Professor Mike Edmunds School of Geography, Oxford, Dr Abdul Karim El-Eryani, Political Advisor of the President, Yemen Arab Republic, Dr Shahridan Faiez The World Bank, Dr Manar Fayyad Director, Water and Environment Research and Study Center, University of Jordan, HE Shaikh Dr Ali Gomaa Mufti of Egypt, Dr Safei-Eldin Hamed Texas Tech University, USA, HE Sayed Ali Al-Hashimi Advisor to the President of the UAE, Professor Salim Al-Hassani,Foundation for Science Technology and Civilisation, UK, Professor Mohamed Hyder Emeritus Professor, University of Nairobi, Mr Othman Abd-ar Rahman Llewellyn-National Commission for Wildlife Conservation and Development, Kingdom of Saudi Arabia, Mr Fachruddin Mangunjaya Environmentalist, Jakarta, Indonesia, HE Mr Majed Al Mansouri, Secretary-General, Environment Agency of Abu Dhabi Mr Michael McCarthy The Independent, Dr Basil Mustafa, Nelson Mandela Fellow, Oxford Centre for Islamic Studies Dr Mohammad Akram Nadwi, Research Fellow, Oxford Centre for Islamic Studies, Professor Ibrahim Saleh Al-Naimi Chairman, Doha International Center for Interfaith Dialogue, Mr Martin Palmer Secretary-General, Alliance of Religions and Conservation, UK, Dr Ali Al Qaradaghi University of Qatar, Sir Crispin Tickell, Director, Policy Foresight Programme, James Martin Institute for Science and Civilization, Oxford University, Dr Mahmood Yousif Director of Research, Kuwait Foundation for the Advancement of Science Dr M Anas Zarka The International Investor, Kuwait, dan ada beberapa lagi yang enggak tercatat.


Dari kiri Dr. Mahmood Yoseef Ali dan Dubes Yaman untuk Inggris, HE Mr. Mehmet Yigit Alpogan



Selama dua hari simposium untuk mendapatkan masukan tentang issue lingkungan dan dunia Islam dalam soal lingkungan. Kelompok dibagi tiga: Islamic Ethic and Environment, Social, Culture and Environment dan Technology, Economy and Environment.

Banyak isue mendasar di dunia muslim yang menjadi pembicaraan, diantarnya kesenjangan gap antara negara kaya dan miskin, seperti Bangladesh yang sangat menderita karena alamnya yang rentan dengan perubahan, banjir lumpur, dan badai. Hal mendasar seperti ini memerlukan tanggapan yang seharusnya sangat cepat dengan birokrasi yang tidak bertele-tele, orang harus makan setiap harinya dan disuplai ketika terjadi bencana. Fenomena itu dikemukakan oleh Jurist Bangladesh Mustafa Kamal.


Isu lingkungan di dunia muslim bukan saja soal lingkungan saja, yang sangat memalukan adalah soal bantuan-bantuan yang dikorupsi oleh pemerintah di negara-negara tersebut, jadi banyak bantuan yang tidak sampai kebawah karena bantuan itu adalah G to G. Maka, sekarang para pemberi bantuan sudah mengetahui untuk segera membantu kepada yang memerlukan melaui NGO yang langsung bekerja di lapangan.


Kiranya sudah jelas, ajaran Islam tentang lingkungan dan tidak perlu diperdebatkan hanya perlu pendalaman dan memberikan perbaikan atas pikiran mendasar yang bisa diterima dalam tingkat praktis. Di bagian etika Islam menganjurkan untuk memperbanyak sosialisasi berupa publikasi tentang Islam dan lingkungan serta pada tingkat praktis dalam soal perawatan lingkungan. "Islam adalah agama environmentalist," kata Iman Ahwal praktisi lingkungan UK dan produser film yang melanglang buana dari tinggal di Maroko, Malaysia dan sekarang di Aceh beliau menurut saya adalah seorang Muslim yang taat. Bukankah Muslim sebagai khalifah disuruh untuk berbuat kebaikan dan ishlah dimuka bumi agar dapat mengabdi kepada Allah swt secara sempurna?


Alhamdulillahirabbil 'alamin

Saturday, October 18, 2008

Perubahan Paradigma di Oxford Centre for Islamic Studies


Lantai dua bangunan OCIS

Bismillahirahmanirrahim

Jam tiga sore, (17/10), rombongan pergi melihat OCIS (Oxford Centre for Islamic Studies), yang merupakan Islamic Foundation pertaman di Oxford yang berdiri secara independent tetapi secara akademik berafiliasi di Oxford. Gedung ini baru dibangun, dan dalam tahap penyelesaian interiornya. Mungkin baru 60 persen. Kami diajak bekeliling ke kompleks dalam gedung yang akan dibuat sangat integrative dengan kegiatan akademis sebuah pusat pengkajian, misalnya ruang perpustakaan, ruang tempat tinggal scholars atau fellow, berdiskusi atau mengadakan workshop hingga masjid yang akan terbuka untuk umum berkapasitas sekitar 700 jamaah.

Bila menengok pada menara anda akan ingat dengan gaya Andalusia, karena memang dibuat mirip, sedangkan kubah masjid disebelahnya dibuat mirip dengan kubah Masjid Madinah.
Dr Basil Mustafa, yang menjadi fellow di OCIS memberikan penjelasan kepada kami, bahwa pusat studi ini sekarang memang telah berubah dari sebelumnya, lebih independen dan dikelola oleh banyak muslim dan mereka bebas mengembangkan khazanah Islam untuk berkontribusi kepada kemanusiaan dan dunia.

Sebelumnya memang Islamic studies dibuat sebagai bagian dari studi orientalisme untuk memahami ketimuran yang didirikan oleh para akademisi dan kemudian menjadikan mereka ahli-ahli di Barat. Abad dua puluh satu ini dimana interdependensi dan dialog peradaban semakin bekembang, fenomena ini kemudian dirubah dengan sebuah pertanyaan:’Bagaimana bisa sebuah pusat pengkajian Islam diisi oleh orang-orang yang hanya memahami Islam untuk pengetahuan saja, tanpa melibatkan Muslim –untuk berkontribusi sebagai seorang Muslim yang memahami bagaimana bersikap--dengan kontribusi mereka untuk bersama membangun peradaban dunia?’

Pintu Timur OCIS, lihat kubah Nabawi dan Menara Andalusia itu!

Memang tadinya ada kekhawatiran tentang keterlibatan secara jauh Muslim di Oxford yang tadinya mempunyai cikal bakal sebagai sekolah teologi atau seminari. Tapi kemudian, mereka tersadar, bukankah Oxford yang tua 900 tahun ini, telah banyak belajar tentang pendirian universitas mereka dari peradaban Islam di abad pertengahan? Sejarah mencatat Francis Bacon pernah sekolah di Sevilla, Cordoba dan kemudian menjadi pionir dari Oxford dan peradaban ratusan tahun di UK (baru seingat saya, tolong cek lagi ini benar engga).

Perlahan-lahan, konsep-konsep Islam seperti shariah, mulai diterima karena secara terbuka menjadi diskursus dan dialog dalam menterjemahkannya menjadi sebuah jawaban bagi peradaban manusia secara keseluruhan. Hal ini terbukti dengan konsep bank Islam (islamic banking) yang kini digunakan dan telah diterima di berbagai tempat. Walaupun ada kritik dimana-mana tentang bias konsep ini digunakan oleh bank konvensional karena adanya kapital dan potensi finansial yang besar dari 1.8 miliar umat Islam, tetapi minimal dalam konsep ini, ada suatu penerimaan global yang –hemat saya—tidak perlu diperdebatkan lagi.

Malaysia sebagai negara persemakmuran, bekas koloni Inggris, sungguh sangat beruntung atas keterbukaan ini. Komitmen inggris untuk membuka jalan atas generasi negara persemakmuran menjadikan negara ini melaju pesat tanpa meninggalkan kekayaan Melayu Islam mereka dan mampu berkembang sebagai negara Muslim (secara substansial) yang paling maju di Asia. Tidak berhenti dari sebuah keterbukaan, sesungguhnya pemimpin Malaysia seperti Mahatir Muhammad atau Tun Razak sebelumnya sadar betul tentang pentingnya pendidikan, sehingga ata puluhan ribu graduate dan post graduate program yang datang menuntut ilmu ke negeri ini setiap tahun. Dengan adanya teknologi, dan standar bahasa Inggris yang telah setara, maka kemajuan Britania Raya menjadi setara di Malaysia, dan banyak murid-murid belajar saja di negerinya tanpa harus ke luar negeri.

Tidak heran Malaysia mempunyai andil juga dalam pembangunan Islamic Centre ini, di wing Barat bangunan OCIS yang bertingkat tiga ini, ada bilik atau ruangan Malaysia, kayu-kayu berukiran melayu telah pun dikirim untuk dipasang. Saya lihat ini kayu yang digunakan adalah kayu bengkirai yang merupakan kayu berkualitas tinggi dari hutan tropika. Saya ingat kayu ini juga digunakan untuk membangun rumah keluarga kami di Kumai, karena memang bisa bertahan lama.

Saya melihat ukiran bilik lengkung bunga-bunga seperti rumah Malaysia. Tapi rekan saya Nalla, dari Malaysia yakin, kayu ini tidak dibuat dari Malaysia, mungkin outsorching dari Indonesia. Saya tambahkan setidaknya kalau pun dibuat di Malaysia, pasti tukangnya orang Indonesia. Jadi orang Indonesia juga berkontribusi atas bagian dari bilik ini. Tapi bagian pekerja yang diupah oleh Malaysia, seperti biasa memang negara kita belum mampu mengekspor otak, tetapi baru mampu ekspor otot!


Bersama dengan Othman Llwelyn perencana konservasi dari Saudi Arabia.

Prince of Wales, atau Pangeran Charles yang menjadi patron atas organisasi ini sangat terobsesi dengan peradaban Islam, sehingga di bagian belakang dari bangunana akan dibuat taman Islam yang nantinya mirip taman di Andalusia, Sevilla atau Cordoba sebagaiman beliau terkesan dengan taman-taman Islam yang masih bertahan hingga kini dari abad pertengahan.
Alhamdulilahirabbil 'alamin

Friday, October 17, 2008

Orang Udik ada di Oxford


Kapan Sungai Arut, Kumai atau Ciliwung bisa begini ya?






The Thames River




Ditcley Park dari ruang sayap kanan tempat saya menginap.

Mimpi jadi kenyataan. Inilah hari pertama suatu pagi di Oxford, diluar cuaca cerah sekali, walaupun, matahari mulai menyinari cerobong-cerobong asap rumah-rumah tua di Oxford. Putih awan mulai kelihatan, dan bayangan pagi terlukis lembut karana matahari tidak bersinar terik, sinar agak redup itu terlihat menyembunyikan banyangan cerobong menjadi semacam lukisan yang diarsir saja.

Hotel Victoria House tempat aku tinggal rupanya hotel kecil yang asri dan apik, penginapan dengan brand bertuliskan putih berwarna biru ini terletak di tengah kota. Jadi aku bisa gampang untuk melihat kehidupan di kota pelajar ini. Tidak banyak yang diterima di hotel ini, rupayanya mereka hanya memiliki 14 kamar saja. Bayarannya £85, untung saja Shita Puspitasari, mahasiswa PhD dan sekarang bekerja di Departemen Lingkungan di Oxford, secara sukarela membookingkan hotel saya dengan menjaminkan kartu kreditnya.

Tidak banyak warga negara Indonesia yang beruntung seperti Shinta, bisa bersekolah di luar negeri dengan beasiswa ’Chivening Award’. Di Oxford pun tidak banyak pula mereka yang sekolah cerita Shinta, hanya ada 11 orang dan tiga diantanya mahasiswa PhD. Saya pikir orang seperti Shinta harus menggunakan waktunya sebaik-baiknya kesempatan ini dan menimba ilmu lalu pulang ke negerinya dan ikut membangun negeri. Indonesia perlu orang pintar dan jujur lebih banyak. Dalam hitungan jari, negeri ini baru memiliki 6700 doktor menurut direktori doktor Indonesia (http://www.directoridoktor.net/), dibandingkan dengan penduduknya yang 283 juta jiwa sekarang, hanya berarti 0.00028 hampir tidak kelihatan dalam angka matematika dan bisa dianggap tidak ada!

Setelah bangun pagi dan beberapa kali tadi malam night mare, karena mesti beradaptasi, enam jam lebih lambat dari tanah air. Jadi waktu tidur saya seharusnya digunakan untuk bangun. Sedangkan waktu bangun digunakan untuk tidur, jam 3, bangun pagi---karena tidak bisa tidur lagi-- di Oxford, akus shalat tahajud. Kulihat, ini sama dengan jam 9 pagi di Indonesia, waktu aku sering mengejakan Shalat Dluha.
Pagi ini lari sebentar dari keluar hotel, pasang jaket kulit, celana blue jeans dan sarung tangan ala tukang ojek Indonesia—baju dan sarung tangan yang sama ketika dipakai naik motor menuju kantor-- jalan lurus tanpa peta ketemu Christ Church (http://www.chch.ox.ac.uk/) yang merupakan gereja tua dengan tanah yang luas, merupakan salah satu college dari 40 Institusi perguruan tinggi yang ada adi Oxford University. Gereja ini didirikan oleh Raja…. Pada abad 15, ditengah turbulensi kejayaan kerajaan Inggris. Tidak sempat masuk, karena masih harus bayar £4,9 untuk yang dewasa dan £ 3 untuk anak-anak atau £9 untuk yang membawa rombongan. Enggak keburu juga.

Setelah itu saya lari ke ujung jalan, melihat Sungai Thames yang terkenal itu, saya menukik kekiri masuk di pintu gergam Head of River sebelum menuju jembatan penyebrangan Folly Bridge. Subhanallah! Inilah bukti mimpi saya saat masih SMP. Waktu itu saya menceritakan pada ayah, bahwa, saya akan pergi melihat negeri Britania Raya (Inggris) dan melihat Jembatan Sungai Thames ini. Bayangan mimpi itu masih saya simpan setelah hampir 30 tahun, di usia saya yang mendekat 44 tahun inilah mimpi itu rupanya diwujudkan oleh Tuhan. Ini bukan mimpi cita-cita ala Laskar Pelangi, tapi mimpi benar!

Di bagian kiri, sebelah jalan Abingdon Road --sebelum menaiki jembatan---inilah ada restoran pinggir kali beruliskan kapital berwarna emas Head of River yang kursinya mejanya masih kosong, kelihatannya restoran ini belum buka karena terlalu pagi, atau hanya dipakai sore hari, entahlah. Seperti orang sinting—saking udiknya--saya memotret dua dari berbagai arah jembatan sungai bersih ini. Sesekali memencet pemutar otomatis untuk menjebak diri ala camera trap. Saya melihat di tengah kota ada perahu bersusun-susun, mungkin itu untuk disewakan dengan sungai yang tidak ada sampah satu pun, walaupun ada rumah di pinggir kali. Sungai ini telah terawat ratusan tahun, sangat sulit menjumpai kawasan semacam ini di Jakarta.

Mereka sebenarnya menggunakan bantaran kali sebagai tempat yang paling indah dilihat, bukan pembuangan sampah seperti di Jakarta. Aku melihat masih ada hutan sedikit dipinggir kalinya dan menyaksikan bebek beriringan berenang. Aku membayangkan, jika di Jakarta atau daerah lainnya semacam Sungai Martapura yang sehari-hari dipakai untuk kehidupan atau Sungai Arut dan Sungai sampit yang bersih, bukan menjadi TPA penduduknya. Kehidupan akan lebih menyenangkan. Syaratnya, tidak ada orang yang miskin dan bodoh!

Kemiskinan dan kebodohanlah yang menyebabkan—saya kira—penduduk kita tidak mempunyai empati pada lingkungan apalagi masa depan anak cucu.

Dichley Park
Rupanya cek out hotel diharuskan jam 11, hotel sempit ini tidak sepi peminat, selalu penuh. Ketika koper dikeluarkan petugas pembersih kamar langsumg membersihkan kamar. Untung saja saya buru-buru kurang seperempat jam dari jam 12.00 petugas hotel mengingatkan saya harus memindah barang-barang. Tepat pukul 12 satu menit, petugas dari Dicthley park sudah menjemput saya dengan mercedes van yang khusus dikelola oleh The Dictcley Foundation. Jarak tempuh 20 menit tidak terasa karena menikmati pemandangan rumah-rumah ala eropa yang tertata dan asli.

Rumah-rumah batu yang saya lewati sepanjang menuju dictley yaitu ke arah utara menunju Woodstock city, masih berwana putih atau bata merah dan hitam dan massif bisa bertahan mungkin ratusan tahun. Cuaca di kawasan temperate memang tidak seperti di negara tropis yang banyak rayap dan cenderung berdebu karena panas dan melapukkan jendela dan kayu disaat musim bergantian ekstrim.

Saya tidak melihat ada bangunan-bangunan baru yang sedang direhab seperti halnya rumah di Jakarta. Beda sekali kalau saya lewat di perumahan elit dan kelas menengah, di Ibukota, mereka saat ini merubah bagian depan mereka yang tadinya trend 80 dan 90an dengan gaya spayol, lalu dirubah menjadi arsitek minimalis, modern. Bukankah itu ongkos mubajie yang dibuang setiap 20 tahun?

Dicthley Park rupannya sebuah Mansion House, rumah ningrat Inggris yang sengaja dibangun tahu 58 oleh Sir David Wills, untuk tempat perundingan dan pertemuan penting para elit para ilmuwan kelas dunia dan pengambil kebijakan untuk derdiskusi dan berkonferensi memperdebatkan persoalan dari mulai politik, sosial, agama hingga budaya misalnya: the politic of identity and relitiond: must culture clash?

Atau tentang The Future of the United Nation yang diadakan pada 22-24 June, sedangkan sekarang 17-19 October, adalah tentang Islam and Environment: Kali ini lingkungan dan Islam merupakan salah satu topik penting di Inggris, sehingga perhatian dicurahkan juga untuk fenomena lingkungan terutama di Dunia Islam. Ada sekitar 35 orang yang hadir disini rata-rata bergelar PhD dan guru besar.

Dari Indonesia, sayang sekali hanya saya yang diundang, entah mengapa sebabnya (to be honest!), duta besar RI di UK juga diundang, tapi diwakili oleh Mas Herry Sudrajat bagian penerangan, KBRI.
Di ruang perpustakaan, ala Hari Potter ini, berdiskusilah para elit itu, sembil melihat perpustakaan dengan buku dan raknya yang mejulang kelangit. Dr. Farhan Nizami Direktur OCIS mengemukakan diskusi ini memang tertutup dan hanya menjadi catatan pribadi. Jadi saya tidak boleh menuliskan di blog ini, nanti temui saya saja langsung ya! Hehe. Udah ah.

Thursday, October 16, 2008

Oxford!


Ngantar Ibu Irma and Mira didampingi Shinta (paling kanan), ke Train Station Oxford


Didepan sebuth chapel Kampus Oxford University


Makan Malam di Rentoran India, disambut teman Mahasiswa dan staff KBRI yang kebetulan di Oxford

Bus station di Hetrow menuju Oxford
Sambil kecepean, perjalanan 8 jam Dubai-London akhirnya tiba juga. Udara dingin menusuk kulit, ini menjelang musim Autum (musim gugur). Semua orang memakai jaket dan sweater tebal-tabel bersepatu tinggi, dan baju-baju panjang ala Eropa.

Dubai dan TKW Indonesia


Bandara Dubai

Tiba di Dubai perjalanan Sembilan jam Jakarta Bubai, dengan waktu take off dari jakarta menjelang jam satu pagi, tanggal 16/10, berangkat. Tiba di dubai jam 6 pagi ditanggal yang sama, jam saya harus diputar mundur, karena mengulang satu hari.

Alasan saya ikut Emirate Airline, dengan harapan bisa melatih pendengaran bahasa Arab, agar bukan hanya mendengar pas lagi ada orang Azan atau mengaji saja, bisa mendengar bahasa Arab! Benar juga, di berbagai tempat di pesawat hingga duty free dari pesawat hingga petunjuk arah, semua dalam dua bahasa Inggris dan Arab. Ketika saya mau log ini ke blog, enggak bisa log in, karena salah pencet di bagian navigasi, gara-gara blog saya ternyata bahasa Arab semua!

Bagi saya ada yang menarik di Dubai karena ibukota Uni Emitat Arab ini merupakan salah satu negara kaya minyak dengan kemakmuran yang melimpah, pembangunan yang mereka lakukan dinegerinya tidak tanggung, memakai investor kelas dunia dengan arsitektur yang canggih. Sebab itu, saya melewati bandara ini, isamping itu penasaran ingin melihat Palm al Jumeriah, pembangunan Dubai yang menyedot perhatian banyak orang dan ahli lingkungan karena negeri teluk ini merekayasa kawasan elit mengakomodasi kemewahan dengan investasi milyaran dollar.

Al Jumerian merupakan salah satu kebanggaan Dubai dengan kompleks real estate terlengkap dari mall hingga lapangan golf berkelas dunia.

Pesawat Boeing 777-300, Emirat lebih nyaman dibanding penerbangan luar negeri yang pernah saya naiki, selain agak longgar—karena penumpangnya tidak penuh, fitur teknologi yang mereka miliki juga lumayan canggih. Personal video interaktif, hingga e-mail pribadi dan sms bisa dilakukan dari tempat duduk kita.

Pramugarinya berwajah Indonesia, tapi ternyata ketika saya tanya dia apakah dia orang Malaysia atau Indonesia, dia bilang orang Philipina. ”Banyak orang Indonesia, berbahasa Indonesia menyapa saya” katanya. Memang warga serumpun melayu, wajahnya masih mirip tetangga saya di Kalimantan.

Tapi pengalaman yang sama saya jumpai di Amerika, ketika orang Filipina yang bekerja di airport San Fransisco, mengejar-ngejar saya berbahasa tagalok, setelah bertemu, dia mendekati saya, dan menyanyakan:”Philipinos?” dia mengira saya orang Filipina. Benar juga kata Tom Friedman, dalam bukunya yang terbaru (Hot, Flat and Crowded, 2008) Indonesia masih belum mampu mengekspor tenaga kerja dengan skill, baru banyak memproduksi babu rumah tangga.

Mereka adalah TKI yang dijadikan pahlawan devisa oleh negara. Disebelah saya dalam perjalanan ke Dubai, duduk seorang wanita berkerudung, orang Indonesia, rupanya dia menjadi pembantu di Saudi Arabia, dalam perjalanan ke Jeddah. Perempuan Majalengka ini sudah dua tahun bekerja di Saudi Arabia, tapi masih belum bisa naik haji, karena jarak tempuh Makkah dengan tempatnya tinggal lebih kurang sepuluh jam perjalanan mobil. ”Saya insya Allah naik haji,” katanya berharap.

Dua tahun bekerja dia mendapatkan kesempatan cuti dua bulan dan bekerja mendapatkan gajih 800 real (Rp2jt). Dan karana gajihnya bersih, dan pulang pergi ditanggung majikan, dia lumayan dia bisa pulang uang sekitar Rp10.000 (Rp20juta) setahun. Kalau bisa berhemat, karena gajih bersih, TKW bisa membangun rumah dikampungnya. Kalau anda mau tahu, gajih sebesar itu juga sama dengan gajih pokok guru besar di Universitas Negeri. Seorang dosen sekarang ini, kalau tidak rajin, ngojek—istilahnya mengajar kesana kemari, tidak cukup hidup, apalagi untuk tinggal di Jakarta. Jadi pahlawan devisa ini sesungguhnya sudah senang sekali, walaupun dia harus meninggalkan dua orang anak dan suaminya yang masih kerja serabutan di kampung halaman.

Bila dilihat secara garis besar kurang beruntungnya bangsa kita karena satu sebab, tidak dipakainya bahasa Inggris sebagai bahasa resmi yang diakui (tertulis) oleh pemerintah. Penguasaan bahasa menjadikan bangsa sangat cepat tertranformasi dan beradaptasi dengan perubahan dan kemajuan. Di era globalisasi sekarang ini, bahasa inggris menjadi bahasa utama dunia. Dua bangsa di Asia tenggara, Malaysia dan Filipina menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris sejak di bangku SD dengan tidak meninggalkan bahasa nasional mereka. Jadilah mereka, setidaknya tamatan SMAnya bisa menjadi pramugari atau pekerja di Airport di Luar Negeri, atau minimal sopir.

Saya masih ingat ketika Sutan Takdir Alisyahbana menganjurkan bahasa Inggris sebagai bahasa utama di Indonesia. Padahal dia sendiri pengarang buku bahasa Indonesia. Tidak ada masalah... dunia ini semakin mengecil dan menyempit. Aksen inggris pun berkembang, coba anda dengar kalau orang India ngomong, whaa.. lidahnya kelipat lipat sambil goyang goyang, dengan aksen mereka.

Orang Malaysia semua ujungnya ditambah 'kah' dengan 'lah'. ” I can..lah, don’t worry lah...” toh bahasa Inggrisnya bisa dipahami. Karena lidah kita diciptakan Tuhan berbeda-beda, tidak mesti persis seperti orang England. Bahkan tiga bangsa Induk pengguna bahasa Inggris: US, UK dan Australia, semua aksen berbeda, sehingga anda bisa mengenal tuturan kata-kata mereka dari dialek yang mereka miliki. Yang penting standar penulisan saya kira pasti sama.
Udah ah jadi ngelantur!

Saturday, October 11, 2008

Empati dan Dukacita untuk Keluarga Sulaiman

Innalillahi wainnailahi rajiun. Tidak ada yang kekal hidup di muka bumi semua pasti akan kembali kepada Yang Maha Kuasa. Jumat malam lalu saya bersama Dr Sugajito dan Dr Barita Manulang, mengunjungi keluarga H Sulaiman Sumantakusuma, untuk ta’jiah tujuh hari meninggalnya beliau. Meluncur ke jalan Menteng, Jakarta.

Saya melihat banyak sekali orang yang hadir di Jalan Cendana Menteng itu. Jalan Suwiryo sepanjang jalan dipenuhi mobil sampai ke seluruh trotoar. Kami agak keder memilih tempat, Pak Jito menyetir sambil bercerita, betapa Pak Sulaiman memang orang besar dan baik dan mempunyai rasa empati luar biasa untuk berhubungan dengan seseorang. Senang membantu dalam kesulitan, bahkan mendidik siapa saja sehingga menjadi mandiri. Pernah salah satu anak asuhnya yang tidak berkecukupan, kemudian dikursuskannya atau disekolehkannya. Salah satunya saya masih ingat, dia menganjurkan juga kursus untuk pembantunya sehingga bisa mandiri dengan mengambil kursus sederhana sebagai tukuang pijat. Pak Sulaiman juga tidak segan untuk tetap menjalin silaturahim, bahkan Barita bercerita tentang jalinan silaturahim yang hangat selalu beliau pelihara, sehingga beliau sendiri mengantarkan undangan ketika Aishah Nicole Sari, anak beliau menikah. “Ini amanah dari Ibu almarhum”, tutur beliau
Pertemuan terakhir saya dengan Pak Sulaiman adalah akhir tahun 2001, di rumah beliau di Pejaten, itu pun beliau masih menawarkan kalau ada kesulitan dalam kehidupan, supaya mengontak beliau. Beliau masih mempunyai rasa sosial yang luar biasa. Pantas saja derajatnya selalu terangkat sehingga banyak empati ketika orang ta’jiah banyak sekali yang hadir.

Pak Sulaiman adalah suami dari Nina Sulaiman yang juga telah berpulang 17 tahun silam. Nina Sulaimanlah yang banyak menghantar para mahasiswa Fakultas Biologi Unas seperti Barita Manullang, Sugarjito, Jatna Supriatna, Soeharto, Endang Sukara, Jaumat Dulhajah atau bang Jojo, Undang Abdul Halim, Dedi Darnaedy, dll ke station riset penelitian orangutan atas dana dari Belanda van Teienhovven, untuk penelitian primata di Tanjung Putting. Hampir saja Nina menjadi dekan di Fakultas Biologi, karena urusan sesungguhnya yang beliau emban sebagai dosen di Sastra Inggris Unas tetapi banyak kegiatan dan pelibatan aktifitas bergerak di Fakultas Biologi.

Sebelumnya, tentu orang kenal, Birute Galdikas juga dihantar oleh Nina Sulaiman. Birute menjadikan kedua orang ini menjadi ibu dan bapak angkat, sehingga saya masih ingat di Tanjung Putting ada nama orangutan yang ditabalkan oleh Birute sebagai nama: Sulaiman. Ada juga namanya Rini, (nama salah satu orangutan yang mengambil nama anak beliau Rini Sulaiman). Bagi kami orang konservasi, mendapatkan nama untuk ditabalkan pada nama orangutan adalah sebuah penghormatan dan sama sekali bukan pelecehan. Sama dengan trend orang dibarat yang memberi nama artis, seperti misalnya: Britney , Alpacino,Mariah, dll untuk anjing dan kucing mereka.

Semata-mata untuk mengenang atau memudahkan panggilan. Saya masih ingat, ada orangutan yang bernama Soegarjito, anaknya Siswoyo (orangutan betina). Soegajito lucu sekali, bila bemain di pinggir jembatan kalau kita mandi di Ujung Jembatan di TN Tanjung Putting, kupingnya yang kecil itu suka saya tarik dan jewer! (Pak Jito senang sekali dan tertawa ngakak, kalau saya cerita ini), sebab beliau waktu itu adalah dosen perilaku hewan di UNAS.

Nina Sulaiman, adalah keturunan Belanda yang mempunyai empati sosial luar biasa. Semua mahasiswa yang dekat dengan beliau dibantu, hingga saya pun, sebagai mahasiswa kampung yang kemudian diperkenalkan dengan berbekal sepucuk surat dari Birute Galdikas, menjadi ‘pasien’ beliau kalau terlambat membayar uang kuliah. Saya masih ingat ketika kiriman dari orang tua tidak datang, hampir saja tidak bisa ikut ujian di fakultas. Beliau menarik tangan saya ke bagian kasir pembayaran gajih dosen dan memberi kan seluru uang gajihnya untuk melunasi tagihan yang saya harus bayar. Sehingga saya tamat, dan menyelesaikan kuliah, saya menuliskan ucapan terima kasih di tesis yang saya tulis untuk keluarga ini.

Di pertemuan yang khusuk di ruangan ber AC dan dingin rumah yang indah itu, saya ketemu dengan Dr Idris Sulaiman yang rupanya terpanggil untuk berkarya di bidang pembangunan lingkungan dan upaya mitigasi terhadap perubahan iklim. Beliau menjadi CEO di Computers Off Autralia (www.computersoff.org , a green IT initiative yang memberikan sertifikasi pada kelayakan go green pada suatu lembaga. Tidak sempat banyak berdialog dengan beliau karena tamu begitu banyak. Upaya ini tentu saja sangat menarik, katanya Australia mempunyai pemerintahan yang telah berubah dan akan lebih banyak berhubungan dengan negara-negara tropis tetangganya dalam upaya menyelamatkan lingkungan.

Tabik!

Wednesday, October 08, 2008

Laskar Pelangi, Mengingat Lagi Masa Kecil

Siapapun orang kampung seperti saya, kalau menonton Laskar Pelangi pasti akan terharu. Hari Sabtu (4/10), saya mengajak anak dan istri untuk mengisi liburan mereka dengan menyaksikan film fenomenal ini. Datang ke bioskopnya sih hari Jum'at, tapi udah kehabisan tiket, wah! Penontonnya membeludak, terpaksa beli sekarang nontonya besok.

Tapi inilah uniknya, memang aku tidak selesai membaca Novel Laskar Pelangi, lagi jenuh membaca karena harus membaca yang lain, maka nonton filmnya saja jadilah. Bagi saya, menonton laskar pelangi memang menjadi kenangan tahun 70an, dimana kita masih pakai sendal jepit atau nyeker (pakai telapak adam) ke sekolah. Menghitung pakai lidi.

SD saya tidak jauh beda dengan SD Muhammadiyah, tapi mungkin lebih beruntung karena masuk SD Negeri. Sebelum SDN 2 di Kumai, gedung itu malah meminjam tanah wakaf dari Pengurus Babussalam. Gedung sekolahnya sama, kayu. Ditambal sana sini, tapi kayu di Ulin di Kalimantan--waktu itu masih banyak. Maka sekolah itu dibuat seperti rumah panggung, bertiang tinggi sehingga kita bisa bermain dibawahnya. Dibawah sekolah yang berpasir itu, rasanya dingin. Ditanah pasir yang dingin itulah kami suka memancing undur-undur, dan mendengarkan dongeng teman-teman yang suka 'membual' gaya si Mahar itu. Dongeng yang aku paling suka kalau temanku Anang Odon bercerita tentang hantu gergasi. Wah rasanya seram sekali, pintar sekali dia bercerita. Seolah semuanya hidup dan sampai terbawa-bawa mimpi.

Pelepah pinang yang ditarik itu juga sering jadi permainan. Selain itu banyak permainan lain: beasinan, batewah, main balangan, songketan, gasing, layangan, wah banyak. Saya yakin anak sekarang pada enggak ngerti, karena orang tuanya sibuk menyuruh mereka kursus ini dan itu. Sebenarnya pelajaran di alam yang membuat kami berani dan bersemangat. Dengan lingkungan yang masih bersih dan alami permainan apa pun ada dan jadi tidak harus membeli.

Tanpa terasa air mata ku meleleh, istriku yang duduk disampingku pun demikian pula. Film ini sangat indah. Sejak aku melihat si Mahar dengan radionya yang tengil, airmataku tak terbendung, menangis sambil tertawa. This is the best film I ever seen. Biasanya kalau film apapun ditengah-tengahnya ada penyakit kambuhan aku: mengantuk! Biarpun film The Earth yang katanya terbaik untuk bidang lingkungan, penyakit ku tidak bisa sembuh, ditengah-tengah mengantuk...di akhir film istriku meledek: "Baru sekarang aku lihat kamu menangis" katanya. Pasalnya memang yang paling sering ku ledek adalah dia, setiap menonton sinetron sedikit saja langsung menangis. Kini gantian ya.

Jadi anak-anakku, lihatlah kami 30-40 tahun yang lalu dengan sekolah yang seadanya tetapi semuanya berhasil dengan memancang mimpi! Orang yang terdidik sekarang harus berefleksi dengan melihat film ini, betapa pendidikan itu penting tapi yang lebih penting lagi adalah semangat, ketulusan dan cinta pada anak-anak didik. Terima kasih Andrea Hirata, luar biasa! Anda bisa membangkitkan gairah baru pendidikan di negeri tercinta kita ini. Anda telah memberi pengaruh untuk anak-anak kita bermimpi dengan kejayaan Indonesia yang akan datang.

Sunday, September 28, 2008

Ekowisata, Belajar dari Costa Rica

Foto bareng di Javan Gibbon Centre, setelah mengunjungi owa jawa.

Upaya ekowisata di Indonesia, memang tampaknya belum dikelola secara professional. Terbukti dengan bayaran masuk ke Taman Nasional yang hanya 2,500 rupiah. Bandingkan dengan upaya negara berkembang lainnya dalam menjual paket Ekowisata. Untuk melihat monyet endemik Costa Rica, seorang turis harus membayar 120 USD perhari. Itu pun belum tentu bertemu, mereka menjelaskan seluk-beluk hutan tropis, memandu ekowisata sambil melihat jejak-jejaknya saja. Bahkan untuk menjelaskan feces binatang hutan yang dijumpai, pemandu wisatanya bisa menjelaskan berjam-jam mengenai seluk beluk apa yang dimangsa satwa tersebut dan tetek bengeknya.

Jangan heran, ketika tidak bertemu monyet, anda disuruh melihatnya di Kebun Binatang. Tapi kan orang pasti penasaran ingin melihat di alam aslinya. "Ok, kalau mau, anda harus membayar 120 USD lagi hari berikutnya," sayang setelah sore hari, baru terdengan suara dari satwa tersebut dari kejauhan. Untuk itu, anda harus datang lebih pagi dan membayar kembali--bila penasaran--dengan 120USD.

Bayangkan berapa turis harus membayar untuk melihat satwa langka saja. Padahal belum tentu berjumpa. Kalau menyerah, Anda tetap mendapatkan sertifikat penghargaan:

Si A telah menjelajah belantara Costarica, dan bertemu feces (bahasa kasarnya...maaf tai satwa....), dan telah berupaya berjumpa makhluk endemik Constarica.


Itulah yang diceritakan Jatna Supriatna, PhD dalam kuliah khususnya di Stasiun Penelitian Bodogol, untuk pembekalan Miss Indonesia Earth 2008.

Miss Earth khususnya Miss Ecotourism bisa mendorong agar promosi pariwisata di Indonesia menjadi lebih menjual dan menarik. Kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia sangat 'sexy' dan tidak boleh 'dijual murah' untuk berjumpa mereka di alam, apalagi diputuskan dengan hanya memungut bayaran 2500 rupiah.

Lihat contoh misalnya Raja Ampat yang telah mampu memperoleh miliaran dengan menerapkan sistem tag bagi para penyelam dalam waktu sangat singkat. Dengan demikian masyarakat dapat merasakan langsung mereka mempunyai kekayaan yang bisa dijual hanya dengan hanya melihat saja.

Miss Earth di Bodogol
Dalam dua hari ini (Sabtu-Minggu, 27-28 September), memang saya disibukkan untuk berpartisipasi bersama teman-teman lain di CI Bodogol memfasilitasi Miss Indonesia Earth 2008. Memberikan mereka pembekalan dan pengenalan secara lebih dekat terhadap upaya konservasi alam. Mereka diperkenalkan rehabilitasi Owa Jawa, pemasangan kamera trap dan melihat satwa nocturnal dimalam hari. Yang sangat seru adalah pagi Minggu (28/9), kita menelusuri punggung gunung yang terjal berjalan sekitar 5 jam ke air Mancur Cisuren, yang mempunyai medan terjal luar biasa.

Miss Earth yang bisa hadir hanyalah Heidhy, Fitri dan Mentari, dua orang yang lain--sayangnya berhalangan hadir. Kegiatan ini diakhiri dengan penanaman pohon di pinggiran hutna TNGGP. Thanks to Anto Ario dengan teamnya yang luar biasa dan berdedikasi tinggi untuk pelestarian kawasan Gunung Gede Pangrango.

salam!

Tuesday, September 23, 2008

Green Ramadhan Angkatan I Masih Kurang Sempurna

Alhamdulillah, Green Ramadhan angkatan pertama berjalan dengan berhasil. Kurangnya hanya pada jumlah peserta yang diluar target dan minim. Ditargetkan 40 atau minimal 30 orang, yang menjadi peserta adalah 19 orang. Padahal dormitori di CICO harus dibayar minimum 30 orang. Semua pembicara memenuhi undangan dan sesuai dengan rancangan seperti: Tentang Shalat Tahajud bersama Dr Sudirman Abbas, penulis buku the Power of Tahajud, Husain Heriyanto, MHum tentang Kosmologi dan Islam, Fachruddin Mangunjaya: Al Qur'an, Ciptaan dan Konservasi, eksplorasi ayat-ayat al-Qur'an tentang konservasi dan kearifan lingkungan, dr. Ratna Nurhayati tentang Konsep diri dan Emosional; Fitrian Ardiansyah tentang Perubahan Iklim, Prof Hadi Alikodra tentang Persoalan Lingkungan dan Konservasi di Indonesia, dan Tib'un Nabawi (Pengobatan Cara Nabi) yang disampaikan oleh Ismanto, Master National Hipnotheraphi Indonesia.

Dilihat dari segi materi, saya menilai komposisi ini sungguh bagus. Sekali lagi peserta--setelah di evaluasi--dari segi beratnya materi akan diambil nantinya hanya yang berumur antara kelas 1 SMU hingga Perguruan Tinggi tingkat 1. Karena minimal sudah mengetahui basic science dan analisis.

Karena ini peserta bersubsidi--thanks to WWF board yang menyumbang peserta plus akomodasinya--maka tidak banyak waktu untuk memilih. Salah satu yang dipikirkan adalah bagaimana acara ini tidak berhenti disini, tetapi bisa menular pada kader yang lain. Nantinya mungkin dari SMA harus diambil aktifis Rohis atau OSIS yang mempunyai leadership, atau dari senat Mahasiswa, melihat mutu materi yang diberikan adalah relevan dengan tangkatan umur tersebut.

Bagaimanapun, semoga ini menjadi amaliah yang baik di bulan ramadhan ini, terutama untuk keperdulian lingkungan dan kontribusi merawat alam Indonesia !

Walhamdulillah...


Agenda Kegiatan
GREEN RAMADHAN


HARI I
(Sabtu, 20 September 2009)
Jam
Acara
Nara Sumber/PIC
09.00-10.00
Perkenalan, pembagian kamar dan tour the place.
Panitia
10.00-11.30 :
Pembukaan dan Sambutan oleh WWF Indonesia. Perkenalan
Prof Dr. Hadi S Alikodra
10.30-12.00
Perkenalan dan Istirahat
12.30-13.00
Shalat Juhur
13.30-15.30
Al Qur’an, Ciptaan dan Konservasi Eksplorasi tentang Kaitan Al-Qur’an Dengan sistem kehidupan dan Konservasi. I
Drs Fachruddin Mangunjaya, Msi
15.30-16.30
Istirahat (Shalat Ahshar) dan diskusi kelompok
Soni Razali dkk
16.30-17.30
Film Lingkungan
Rini, WWF, CI
17.30-19.00
Buka puasa, sholat maghrib
Imam sekaligus pembimbing
Dr. Ahmad Sudirman Abbas,MA
19.00-21.00
Sholat tarawih dan Materi Shalat Tahajjud (diskusi buku The Power of Tahajud).
Dr. Ahmad Sudirman Abbas,MA
21.00-22.00
Tuntunan Praktis Shalat dan Perbaikan Ritual Shalat (Tanya jawab).
Dr. Ahmad Sudirman Abbas,MA
HARI II
(Ahad, 21 September 2008)
03.00-03.30
Tahajud Berjamaah
Dr. Ahmad Sudirman Abbas,MA

Ust.Hasan & Ustdzah Santi
03.30-04.30
Makan sahur
Ust.Hasan & Ustdzah Santi
04.30-05.00
Persiapan sholat subuh dan Kuliah Tujuh Menit
Ust.Hasan & Ustdzah Santi
05.00-06.00
Permainan & Olah Raga
Soni Razali dkk
06.00-09.00
Istirahat dan persiapan mendapatkan materi berikutnya
09.00-10.30
Kosmologi: Pengenalan Islam terhadap penciptaan alam semesta.
Husain Heriyanto, Mhum
10.30-12.00
Konsep Diri dan Kecerdasan Emosional
Dr. Ratna Nurhayati
12.00-12.30
Shalat dzuhur
Ustz Oman
12.30-14.00
Kailulah (tidur siang)
14.00-15.30 :
Stadium Generale: Indonesia dan Perubahan Iklim
Fitrian Ardiansyah, WWF Indonesia
15.30-16.30
Al Qur’an, Ciptaan dan Konservasi Eksplorasi tentang Kaitan Al-Qur’an Dengan sistem kehidupan dan Konservasi. II (Presentasi)
Drs Fachruddin Mangunjaya, Msi
16.30-17.30
· Talk Show: Tib’un Nabawi bersama Drs Ismanto, Master Hypnotherapy Nasional
· Buka Puasa, Sholat, Maghrib
Moderator: Soni Razali
19.00-21.00
Tarawih berjamaah ceramah.
Ust.Hasan & Ustdzah Santi
21.00-23.00
Api unggun performance
Sony Rozali dkk

HARI III
(Senin, 22 September 2008)
23.00-03.00
Tidur
03.00-04.00
Tahajud berjamaah
Ust.Hasan & Ustdzah Santi
04.00-05.00
Sahur,sholat subuh
Ust.Hasan & Ustdzah Santi
05.00-06.00
Permainan
Sony Rozali dkk
06.00-09.00
Istirahat
09.00-10.30
Stadium Generale: Masalah Lingkungan di Indonesia.
Prof Dr. Hadi Alikodra
10.30-11.30
Komitmen Dan Muhasabah untuk Alam
Nana Firman & Diah Sulistiowati
11.30-12.30
Pesan kesan
Sony Rozali
12.30-13.30
Shalat dzuhur
Ust.Hasan & Ustdzah Santi
13.30-14.00
Persiapan pulang
Panitia
14.00 s/d selesai
Pulang

Wednesday, September 17, 2008

Kemusyrikan Dalam Konservasi

Salam,

Adopsi praktis konservasi modern memberikan apresiasi atas segala bentuk kultur dan tradisi positif dalam menghormati alam demi untuk kelestarian alam itu sendiri. Ada dilemma bagi seorang muslim yang memandang secara normative nilai-nilai Islam secara rigid—secara praktis, sebagai muslim yang baik—dengan ikut-ikutan mengakui dan mengapresiasi bentuk praktik konservasi yang dianggap masih primitive dan terkadang berbau ‘paganisme’ seperti misalnya: lahan keramat, hutan larangan dll yang didalamnya dilestarikan karena kepercayaan bahwa hutan tersebut mengandung nilai mistik dengan keyakinan akan kekuatan roh-roh jahat.

Ada kekhawatiran, bahwa hal ini akan membahayakan aqidah dan membuat seseorang Muslim—apabila mengapresiasi hal tersebut – akan menjadi syirik atau mempersekutukan Tuhan.

Bagaimana sikap seorang muslim?

Memang terkadang saya juga berpikir –dan merasa khawatir –bisa terjebak pada kerangka yang sama, mengadopsi saja nilai –nilai modern konservasi yang menghormati sacret sites, secara totalitas. Padahal sesungguhnya, keyakinan tersebut bukanlah dimiliki orang yang diluar dimana kawasan tersebut dianggap keramat, tetapi hanyalah sekelompok orang (masyarakat) yang mengakui dan percaya akan hal tersebut sehingga kawasan hutan, laut pantai dan sumberdaya yang ada disana terjaga secara utuh. Artinya, kita kan tidak ikut percaya, apalagi yakin.

Tetapi sebagai seorang saintis atau aktifis konservasi, tentu saja standar yang paling bermakna untuk memberikan apresiasi adalah nilai-nilai lain, secara intrinsic kawasan yang terjaga tersebut. Misalnya, ketika ada hutan yang masih utuh, tentu saja nilai penting ilmiah kawasan tersebut akan semakin tinggi, juga nilai keanekaragaman hayati yang dimilikinya. Sehingga pengakuan seharusnya bukan pada keramat karena ‘mistisnya’ tetapi secara sains kawasan tersebut legitimate untuk diterima sebagai kawasan konservasi.

Jadi segala sesuatu harus menjunjung tinggi ‘ilmu’nya atau sains yang mempunyai nilai objective dan universal. Karena itulah saya kira Islam sangat mengajurkan bila ingin melakukan atau memutuskan sesuatu –jalan, aktifitas, kehendak dll—seyogyanya menggunakan ilmu:”Man aradhaddunya bil ilmi, waman aradhal akhirah, bil ilmi, waman aradhahuma faialaihi bil ilmi”.

Renungan ini menjadi jawaban yang saya sampaikan juga pada Forum Seminar Nasional Lingkungan Hidup dan Lauching Kelompok Studi Primata “Tarsius” di UIN Syarif Hidayatullah, Rabu 17, September. Seminar ini dihadiri sekitar 150an mahasiswa biologi dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta: UIN, UNAS, UNJ,UI dll, tentunya yang beragama Islam yang mempunyai interes keterkaitan Konsevasi dan Islam. Gairah mahasiswa untuk mengorgasisasi diri menjadi kelompok kajian akan banyak manfaatnya seperti halnya saya yang belajar banyak menulis karena adanya kelompok-kelompok mahasiswa yang mengorganisir diri sehinggi kita bisa belajar dari para senior maupun antar teman sendiri pada saat aktif di kemahasiswaan.

Alhamdulillahirabbil 'Alamin.

Thursday, September 11, 2008

Seleksi Eco Pesantren

Menjadi Juri Eco Pesantren, menuju Ever Green, Puncak. Membantu KNLH dengan Eco-Pesantren. Ada sepuluh orang yang hadir sesuai dengan Keputusan Menteri yang ditandatangani Deputy Menteri KNLH: diataranya, Bambang Widiantoro, Asisten Deputi Urusan Pemberdayaan Masyarakat Perkotaan KNLH,Dr. Dedi Djubaeri MA, Dr. Ahmad Sudirman Abbas, Wartim, Morasakti, Nuthayati, H. Mardhani Juhti Emi Mardiati, dan Heri Suprianto.

Secara keseluruhan hanya ada 17 pesantren yang lolos untuk tahap verifikasi dan ditetapkan nominasinya sesuai dengan kategori: Pengelolaan Sampah, Pemanfaatan lahan, Perpustakaan Lingkungan dan Sistem informasi lingkungan.

Ini merupakan tahap awal dari langkah jauh kedepan untuk melibatkan pesantren yang jumlahnya ada 15ribu di seantero negeri dan baru sekitar 450an yang mengikuti sosialisasi dalam cluster yang diadakan oleh KNLH.

Semoga saja ini menjadi amaliah yang baik di bulan Ramadhan.

Perkembangan pesantren dalam gerakan lingkungan bukan hal yang baru, tetapi upaya menularkan kebaikan ini pada pesantren pesantren yang masih belum ketularan bukan hal yang mudah. Masih banyak pesantren yang 'jorok' dan belum mengenal kebersihan lingkungan sama sekali.