Saturday, October 18, 2008

Perubahan Paradigma di Oxford Centre for Islamic Studies


Lantai dua bangunan OCIS

Bismillahirahmanirrahim

Jam tiga sore, (17/10), rombongan pergi melihat OCIS (Oxford Centre for Islamic Studies), yang merupakan Islamic Foundation pertaman di Oxford yang berdiri secara independent tetapi secara akademik berafiliasi di Oxford. Gedung ini baru dibangun, dan dalam tahap penyelesaian interiornya. Mungkin baru 60 persen. Kami diajak bekeliling ke kompleks dalam gedung yang akan dibuat sangat integrative dengan kegiatan akademis sebuah pusat pengkajian, misalnya ruang perpustakaan, ruang tempat tinggal scholars atau fellow, berdiskusi atau mengadakan workshop hingga masjid yang akan terbuka untuk umum berkapasitas sekitar 700 jamaah.

Bila menengok pada menara anda akan ingat dengan gaya Andalusia, karena memang dibuat mirip, sedangkan kubah masjid disebelahnya dibuat mirip dengan kubah Masjid Madinah.
Dr Basil Mustafa, yang menjadi fellow di OCIS memberikan penjelasan kepada kami, bahwa pusat studi ini sekarang memang telah berubah dari sebelumnya, lebih independen dan dikelola oleh banyak muslim dan mereka bebas mengembangkan khazanah Islam untuk berkontribusi kepada kemanusiaan dan dunia.

Sebelumnya memang Islamic studies dibuat sebagai bagian dari studi orientalisme untuk memahami ketimuran yang didirikan oleh para akademisi dan kemudian menjadikan mereka ahli-ahli di Barat. Abad dua puluh satu ini dimana interdependensi dan dialog peradaban semakin bekembang, fenomena ini kemudian dirubah dengan sebuah pertanyaan:’Bagaimana bisa sebuah pusat pengkajian Islam diisi oleh orang-orang yang hanya memahami Islam untuk pengetahuan saja, tanpa melibatkan Muslim –untuk berkontribusi sebagai seorang Muslim yang memahami bagaimana bersikap--dengan kontribusi mereka untuk bersama membangun peradaban dunia?’

Pintu Timur OCIS, lihat kubah Nabawi dan Menara Andalusia itu!

Memang tadinya ada kekhawatiran tentang keterlibatan secara jauh Muslim di Oxford yang tadinya mempunyai cikal bakal sebagai sekolah teologi atau seminari. Tapi kemudian, mereka tersadar, bukankah Oxford yang tua 900 tahun ini, telah banyak belajar tentang pendirian universitas mereka dari peradaban Islam di abad pertengahan? Sejarah mencatat Francis Bacon pernah sekolah di Sevilla, Cordoba dan kemudian menjadi pionir dari Oxford dan peradaban ratusan tahun di UK (baru seingat saya, tolong cek lagi ini benar engga).

Perlahan-lahan, konsep-konsep Islam seperti shariah, mulai diterima karena secara terbuka menjadi diskursus dan dialog dalam menterjemahkannya menjadi sebuah jawaban bagi peradaban manusia secara keseluruhan. Hal ini terbukti dengan konsep bank Islam (islamic banking) yang kini digunakan dan telah diterima di berbagai tempat. Walaupun ada kritik dimana-mana tentang bias konsep ini digunakan oleh bank konvensional karena adanya kapital dan potensi finansial yang besar dari 1.8 miliar umat Islam, tetapi minimal dalam konsep ini, ada suatu penerimaan global yang –hemat saya—tidak perlu diperdebatkan lagi.

Malaysia sebagai negara persemakmuran, bekas koloni Inggris, sungguh sangat beruntung atas keterbukaan ini. Komitmen inggris untuk membuka jalan atas generasi negara persemakmuran menjadikan negara ini melaju pesat tanpa meninggalkan kekayaan Melayu Islam mereka dan mampu berkembang sebagai negara Muslim (secara substansial) yang paling maju di Asia. Tidak berhenti dari sebuah keterbukaan, sesungguhnya pemimpin Malaysia seperti Mahatir Muhammad atau Tun Razak sebelumnya sadar betul tentang pentingnya pendidikan, sehingga ata puluhan ribu graduate dan post graduate program yang datang menuntut ilmu ke negeri ini setiap tahun. Dengan adanya teknologi, dan standar bahasa Inggris yang telah setara, maka kemajuan Britania Raya menjadi setara di Malaysia, dan banyak murid-murid belajar saja di negerinya tanpa harus ke luar negeri.

Tidak heran Malaysia mempunyai andil juga dalam pembangunan Islamic Centre ini, di wing Barat bangunan OCIS yang bertingkat tiga ini, ada bilik atau ruangan Malaysia, kayu-kayu berukiran melayu telah pun dikirim untuk dipasang. Saya lihat ini kayu yang digunakan adalah kayu bengkirai yang merupakan kayu berkualitas tinggi dari hutan tropika. Saya ingat kayu ini juga digunakan untuk membangun rumah keluarga kami di Kumai, karena memang bisa bertahan lama.

Saya melihat ukiran bilik lengkung bunga-bunga seperti rumah Malaysia. Tapi rekan saya Nalla, dari Malaysia yakin, kayu ini tidak dibuat dari Malaysia, mungkin outsorching dari Indonesia. Saya tambahkan setidaknya kalau pun dibuat di Malaysia, pasti tukangnya orang Indonesia. Jadi orang Indonesia juga berkontribusi atas bagian dari bilik ini. Tapi bagian pekerja yang diupah oleh Malaysia, seperti biasa memang negara kita belum mampu mengekspor otak, tetapi baru mampu ekspor otot!


Bersama dengan Othman Llwelyn perencana konservasi dari Saudi Arabia.

Prince of Wales, atau Pangeran Charles yang menjadi patron atas organisasi ini sangat terobsesi dengan peradaban Islam, sehingga di bagian belakang dari bangunana akan dibuat taman Islam yang nantinya mirip taman di Andalusia, Sevilla atau Cordoba sebagaiman beliau terkesan dengan taman-taman Islam yang masih bertahan hingga kini dari abad pertengahan.
Alhamdulilahirabbil 'alamin

3 comments:

Jek Brubu said...

Tulisan yang ini bikin aku tambah ngiri Fach, bahasanya bagus dan ilustarasinya luas. Setiap langkah yang kamu lewati sepertinya banyak pengetahuan sederhana yang terlupakan. Excellent....

xerutaN Dir said...

assamualaikum saudara...

sedikit comment...

ukiran2 yg terdapat di west wing itu adalah dari malaysia, dan tukang2 yang mengukirnya juga adalah wargaegara malaysia....

saya telah berkesempatan untuk bersama sorang teman yang terlibat secara langsung dalam project ini untuk mengambil gambar mereka ketika proses mengukir dijalankan...

fachruddin mangunjaya said...

terima kasih clear, sengaja kami dalam perbualan yang berseloroh pada puan kita dari Malaysia itu. Terima kasih diumumkan: ukiran itu adalah aseli buatan Malaysia.

salam hormat,
FM