Sunday, June 20, 2010

Resep Umur Panjang Emil Salim

80 Tahun Emil Salim, hari ini dirayakan oleh banyak kolega dan rekan rekan beliau di Balai Sudirman Jakarta. Berbahagialah Pak Emil Salim, dengan panjang umur dan manfaat umur yang beliau berikan untuk bangsa ini. Tidak terkejut saya melihat sambutan dan antusiasme pada perayaan ulang tahun Emil Salim, dihadiri oleh banyak pejabat dan mantan pejabat, banyak diantaranya para sepuh orde baru, menteri-menteri yang masih panjang umur, seperti --yang tambak oleh saya--Ali Wardhana, Harun Zain, Akbar Tanjung, Subroto dll.

Emil Salim, sosok bersahaja, ilmuwan dan pakar lingkungan dan ekonomi.Penasehat Presiden untuk Lingkungan Hidup. Kebersahajaan itulah membuat beliau selalu didengarkan 'kampanyenya' tentang lingkungan. Hari ini juga, beliau meluncurkan buku: 'Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi'(KOMPAS 2010) kumpulan renungan dan tulisan beliau di berbagai media dan tentunya masih aktual untuk dibaca.

Emil Salim bersama cucu beliau, Daffa, Naya,Dilly dan Jezzie.


Emil memberikan buku itu pada cucunya Delly, Jezzie, Daffa dan Naya orang yang paling dekat dengan beliau, dan kata beliau mengatur jadwal kalau akhir minggu. Bersyukurlah Bangsa Indonesia masih punya orang semacam Emil Salim. Produktif menulis dan kepakarannya dipandang di seluruh dunia.

Dalam usianya yang 80an ini, Pak Emil masih jernih berpikir, mampu berbicara sistematis dan melihat persoalan secara runtut. Beliau tidak berhenti mengajar dan mencurahkan ilmunya untuk penerus dan generasi muda, mau belajar dan mengajarkan sehingga banyak semangat tersentuh olehnya. Itulah resep panjang umur Emil Salim.

Life time Achievement, seluruh hidup beliau tentunya untuk memberikan sumbangan pada perkembangan lingkungan hidup, tentu saja belum selesai. Makanya buku-buku itu diserahkan kepada anak dan cucunya sebagai simbol, penerus perjuangan.

Saya pendatang baru 40 tahun belakangan. Ketika Emil Salim meraih gelar PhD di University of California Berkeley, saya bari lahir (1964!) sebagai orang kampung yang lahir nun jauh di Kalimantan, saya menyempati bertemu beliau dan menyumbangkan essay untuk ulang tahun beliau ke 80. Selamat Ulang Tahun Emil Salim!
wassalam!

Berita Terkait:

Wednesday, June 09, 2010

Tentang Eco Pesantren

Banyak pertanyaan kepada saya tentang ECO Pesantren. Apa dan bagaimana sebenarnya eco pesantren itu? Apakah ada typical ECO Pesantren yang berarti sebuah pesantren dengan wawasan yang ramah lingkungan? Adakah wujudnya, bagaimana bentuknya? Apakah ada standar dan tolok ukur yang dapat dilihat dan diperoleh sehingga Pesantren dapat menjadi sebuah Eco Pesantren.

Saya ingin menjawabnya dengan beberapa diskursus dan alasan karena, sejauh ini --setahu saya--tidak ada standar yang dibuat untuk menetapkan bagaimana sesungguhnya profile sebuah eco pesantren itu.

Sama halnya dengan upaya upaya para aktifis dan pencinta lingkungan yang ingin menghubungkan lembaganya dengan berbagai kegiatan lingkungan dan kecenderungan yang sedang marak, eco pesantren sebenarnya adalah upaya untuk memberikan label (pelabelan) pada lembaga atau institusi tertentu agar bisa menjadi ramah lingkungan. Hal ini terlepas pada penilaian secara objektif apakah jika pesantren --sesukanya--menamakan dirinya Eco-Pesantren, atau Green Boarding School, atau Go Green. Pada tarap ini, tentunya dapat dinilai bahwa pesantren tersebut pada dasarnya sudah punya kegiatan yang terkait lingkungan hidup apa pun jenisnya. Ini tentunya positif, karena dalam strategi kampanye lingkungan ada lima tingkat perubahan perilaku.

Doppelt (2008) merumuskan tentang perubahan perilaku (behavioral change) untuk mengukur tingkat kesadaran dalam lingkungan dengan asas 5 D:

1. Disinterest
2. Deliberation
3. Desingn
4. Doing
5. Defending

Minimal mereka yang memberikan label, Pesantren Ramah Lingkungan (Eco Pesantren) mereka adalah pada tahap berbuat: Doing, --Tahap "Saya berubah" dan Depending (saya telah berbuat dan terus melakukan).

Jadi kalau dipakai tolok ukur tersebut, banyaklah yang dapat diinventarisir dari kegiatan pesantren yang ramah lingkungan (eco-pesantren). Pesentren adalah suatu sistem pendidikan khas Muslim di Indonesia yang biasanya mengutamakan kemandirian. Mengolah sumber daya yang ada dan bahkan dapat menjadi pelopor dan trigger bagi masyarakat yang ada disekitarnya. Komponen inti pesantren adalah: Ustazd (Kiyai), Masjid, Santri dan pondok. Pondok bermakna bisa saja asrama atau boarding. Jadi pesantren tidak mesti ada kelas, kelas mereka adalah di masjid, sebagaimana pengajaran awal Islam. Kemudian madrasah muncul--disamping masjid-- pada saat khalifah Islamiah berjaya.

Disamping tipologi pesantren yang ber aneka ragam, dari salafiah, khalafiah hingga campuran keduanya (menurut kategori Departemen Agama). Ada pesantren yang hanya berbasis pada pengajaran teks, Al Qur an, tafsir, hadist dan kitab salafi (klasik), sekarang ini --untuk memenuhi kehendak zaman, pesantren menggunakan Kurikulum Departemen Agama yang distandarkan gabungan antara pengajaran pesantren dan kurikulum pendidikan nasional.

Hemat saya banyak hal yang bisa dipenuhi untuk menuju pada eco pesantren yang sesungguhnya, bukan hanya sekolah yang bersih, tetapi pesantren mesti by desingn menetapkan visi dan misi lingkungan atau pembangunan berkelanjutan dalam wadah pesantren dan kegiatan kehidupan mereka.

Sekarang ini banyak bertebaran contoh pesantren yang tengah berubah setidaknya berupaya pada tahap 'desingn' mereka menginkan hidup berwawasan lingkungan. Karena itulah Pemerintah Menyambut kegiatan ini dengan membuat trigger dan dorongan sehingga diresmikannya program Eco Pesantren oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

Beberapa pesantren dibawah ini kesan saya adalah merupakan tipical eco-pesantren atau yang sedang berkembang kearah tersebut:



Tabik!