Friday, June 07, 2013
Mengapa Taman Nasional Perlu Diselamatkan?
Baca selanjutnya >>>
Sunday, May 12, 2013
Islam, Konservasi dan Budaya Minangkabau
Inilah sebuah laporan yang cukup obsesif dirancang pada mula dengan
cita-cita ingin memperoleh gambaran interaksi Islam, adat dan
pemanfaatan sumber daya alam di Sumatra Barat. Buku ini diterbitkan
memuat beberapa hasil penelitian serta intervensi proyek yang dilakukan
di Sumatra. Jangka penulisan buku ini memang tertunda selama lebih dari 1
tahun. Namun akhirnya terbit juga dengan judul: "Integrating religion within conservation: Islamic beliefs and Sumatran forest management"
pembahasan dalam buku ini merupakan merupakan uji antara teori, intervensi praktis gerakan lingkungan dan studi tentang budaya Minangkabau sendiri dengan sandi adat dan religiousitas yang kuat.
SELANJUTNYA >>>
Thursday, December 06, 2012
Mengurai Pemahaman tentang Hima dan Masa Depannya
Thursday, November 15, 2012
Kampanye Perubahan Iklim: The Climate Reality 24 Hour
Friday, October 26, 2012
Faith matters in climate change
Likewise, Islam’s Koran also contains numerous surahs (chapters) that both enlighten and command Muslims to use and not abuse the natural bounty the Earth provides. “Do not commit abuse on the Earth, spreading corruption.” (Al-Ankabut 29:36) is just one example. >>>>>
Islam and Ecology: Theology, Law and Practice of Muslim Environmentalism
Wednesday, October 03, 2012
World Muslim Leadership and Sustainable Development
Saturday, September 08, 2012
MUI dan Pemuliaan Lingkungan Hidup
Lembaga ini mempunyai dua tujuan seperti tertuang dalam Visi dan Misinya:Pertama, secara visi: mengembalikan kepada ajaran Islam dalam pengelolaan lingkungan hidup dan pemanfaatan sumber daya alam melalui pembinaan umat Islam yang berkualitas tinggi (khaira Ummah) dan berakhlak mulia (akhlakul karimah) sehingga terciptanya kondisi kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan yang baik, serta memperoleh ridlo dan ampunan Allah SWT (baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur). Selanjutnya >>>>
Majelis Ulama Indonesia (MUI): "Recent Environmental Fatwas"
from Green Islam in Indonesia on Vimeo.
Friday, June 15, 2012
Berkontribusi terhadap Perubahan Iklim: Cara Haji Ramah Lingkungan Diseminarkan
Upaya mitigasi atau pengurangan atas dampak perubahan iklim
harus melibatkan semua sektor sebagai suatu gerakan yang kompak, agar hasil
yang dicapai untuk mengubah perilaku manusia terhadap konsumsi sumber daya alam
dan implementasi gaya hidup lebih “hijau” dapat terwujud. Untuk itulah,
kalangan umat beragama dapat berkontribusi untuk menyumbangkan langkah nyata,
diantaranya adalah pembuatan Buku Petunjuk “Haji Ramah Lingkungan”. Selanjutnya>>>>
Berita Terkait:
Monday, April 23, 2012
Promosi untuk Disertasi Ekopesantren
Disertasi Ekopesantren berhasil dipertahankan.
Tentu sudah banyak disertasi tentang pesantren, namun tidak banyak membahas pesantren dan lingkungan. Untuk desain dalam kerangka pembangunan berkelanjutan, ini adalah baru pertama kali. Dan niatnya adalah membawa pesantren sebagai institusi Islam menjadi ramah lingkungan dengan pendekatan ilmiah dan alamiah berbasis budaya pesantren itu sendiri.| Dari kiri: fadila maula hafsah, fachruddin, ayahanda muhamad majeri dan ibunda. |
Baca Selanjutnya
Link Terkait:
KOMPAS: Agama Pengaruhi Perubahan Perilaku Lingkungan
Pesan Wakil Menteri Agama Professor Nasaruddin Umar:
Friday, April 06, 2012
Islam Peduli Satwa Dibuat oleh Pesantren
BACA SELANJUTNYA
Thursday, April 05, 2012
"Green Pesantren" Al Ittifaq Ciwidey Bandung
Al Ittifaq merupakan salah satu pesantren penerima Penghargaan Kalpataru dan dapat menjadi model eco-pesanten. Pondok Pesantren Al Itifaq Ciwidey menerima Kalpataru 2003. dipimpin oleh KH Fuad Affandi, melakukan pemberdayaan pertanian organik, pemanfaatan lahan secara efektif dan peningkatan ekonomi masyarakat sekitarnya.
BACA SELANJUTNYA
Friday, March 30, 2012
The Globalization of Eco Islam
LEARN MORE >>>>>
Thursday, March 22, 2012
Islamic Banking Go Green?
Dalam waktu dekat menurut Nasirwan Ilyas, Acting Head Reseach Division Direktorat Perbankan Syariah BI, mereka telah menandatangani MoU dengan Kementerian Lingkungan Hidup, semasa Menteri Gusti Muhammad Hatta, menjabat, tahun ini terkait dengan bagaimana BI memberikan regulasi yang mendorong skema green melalui insentif dan disinsentif atau carrot dan stick. Reward akan diberikan oleh BI untuk perbankan yang mendorong dan melakukan pendanaan untuk upaya-upaya ramah lingkungan semisal, industri daur ulang, energi alternatif dan seterusnya.
Keterlibatan Islamic Banking untuk secara kritis dan selektif dalam pendanaan proyek-proyek atau industri skala besar yang berdampak pada lingkungan perlu dilakukan. Sebab dengan cara inilah sebenarnya kerusakan yang meluas dan kasat mata akan dapat dicegah apabila sumber pendanaan --yang kerap dibilang darah--bagi sebuah usaha di tahan alirannya karena usaha tersebut tidak ramah lingkungan.
BI Syariah bercita-cita menjadi: Beyond Banking, bukan sekedar bank biasa. Tentunya hal itu dapat menjadi nilai tambah untuk mereka yang peduli lingkungan kemudian berinvestasi pada skema syariah, karena pendanaan Islam Rahmatan Lill alamin dan tidak merusak lingkungan dapat dimulai dari sini. Insya Allah.
Link terkait:
Wednesday, March 14, 2012
Green Islam in Indonesia
"Islamic Ecology and Global Cooperation" (Indonesian and English) from Green Islam in Indonesia on Vimeo.
Menurutnya, beliau merekam 32 seri "Islam Hijau di Indonesia" yang membawa aroma positif kegiatan Islam dan lingkungan yang berasal dari tokoh-tokoh pesantren di tingkat akar rumput. Perbincangan saat video ini diluncukan juga sangat menarik ditayangkan oleh National Public Radio (NPR) di Wisconsin, USA.
Selanjutnya >>>>
Sunday, November 06, 2011
St. Francesco Assisi yang Ekologis
Basilica St Franseco AssisiTahun ini, saya bersyukur di undang ketempat ini: Assisi Italia. Ternyata merupakan salah satu warisan dunia yang diakui oleh UNESCO. Tempat ini memang ajaib, kalau tidak bisa dikatakan tempat yang mengagumkan, berada di puncak gunung berbatu granit dibangun oleh sebuah komunitas agama (communion) Katholik yang taat. Saya bisa membayangkan betapa tekun dan gigihnya tempat ini dibangun. Tempat sepanjang lebih kurang 5 kilometer merupakan komunitas yang tidak terpisah dengan gereja (basilika) dan menjadi satu dengan alam.
Pohon zaytun dan anggur tumbuh subur. Bangunan disusun dari batu pualam yang bisa bertahan ribuan tahun.
Lagi-lagi saya satu-satunya orang Indonesia dan menjadi makhluk eksotis ditengah warga Italia dan berbagai bangsa dunia yang lain. Tentu saya tidak bisa kesini tanpa undangan dari Alliance of Religion and Conservation (ARC).
Kegiatan yang diadakan merupakan peluncuran jaringan kota-kota tempat ziarah (green pilgrimage network) termasuk didalamnya diluncurkan juga pembuatan Green Hajj booklet yang ditujukan untuk para jamaah haji agar haji mereka selain mambur juga dapat berkontribusi menjaga kelestarian lingkungan. Saya berkontribusi dalam pembuatan buku Green Hajj ini dan juga akan menterjemahkannya kedalam bahasa Indonesia.
Event ini diikuti oleh sekitar 150 delegasi dari berbagai sekte dan agama agama di dunia yang mempunyai kegiatan terkait dengan lingkungan hidup dan aksi tindak untuk mencegah perubahan iklim. Eco Sikh, misalnya memberikan bibit pohon kepada setiap pengunjung Golden Temple di India, untuk kemudian pohon tersebut dibawa kerumah dan ditanam di rumah masing-masing. Candi mereka juga beralih pada energi yang terbarukan, menghemat air dan aksi ramah lingkungan lainnya.
FOTO: Lihat foto-foto acara prosesi pembukaan serta green pilgrimage network
Di negara maju seperti Denmark, gereja mempunyai target mereduksi emisi mereka menjadi 20 persen. Selain menghemat uang umat juga menjaga pelestarian lingkungan. Sama halnya dengan inisiatif tentang Green Masjid yang berupaya menghemat pemakaian energi dan air. Sedangkan Candi Shinto di Jepang, mendaur ulang pemakaian bahan kayu untuk mencegah pembalakan dan penebangan hutan alam. "Pada umumnya Kuil Shinto sudah sangat hijau, sehingga kami tidak perlu lagi menamakannya Green Shinto Srhine," kata Katsu Iwayashi dari Jinja Honco, Jepang. Kesadaran bangsa Jepang terhadap kehidupan beragama semakin meningkat setelah ada bencana tsunami. Dan saya baru tahu agama Shinto mempunyai 8 juta tuhan. "Banyak sekali..." kata teman saya Omar Faruk, pendiri Eco Muslim, sambil bercanda.
Pokoknya, acara ini sangat bersejarah dan sangat mengesankan.
Lihat juga:
Sunday, September 04, 2011
S.O.S Sungai Sekonyer Tanjung Puting!
Sungai Sekonyer dulu...(hanya bisa di lihat saat masuk Kawasan TNTP (atas) dan sekarang (bawah)
Lokasi Pertambangan di Sebelah Kiri Sekonyer River:
View Larger Map
Friday, August 26, 2011
Mengapa Rakyat Membakar Lahan?
Hot Spot, asap membumbung dan kebakaran hutan, kembali meraja lela. Rabu (23/8) saya ke Palangkaraya, Ibukota Kalimantan Tengah. Musim kemarau disini, dedaunan kering, dan rumput menjadi coklat karena kurang air. Dan, ada yang menjadi ciri rutin kawasan ini setiap musim panas yang belum pernah dapat terselesaikan: kebakaran lahan dan hutan.
Pelabuhan Kumai penuh asap (29/8) (bawah) dan Bandara Tjilik Riwut (24/8), petugas bandara menggunakan masker. Bencana tahunan yang tidak pernah selesai?
Sepertinya, kebakaran dan asap setiap pagi pada musim panas di Kalimantan dan Sumatra adalah hal yang lumrah. Berpuluh tahun, bahkan mungkin beratus tahun, orang disini bertani dengan cara berladang dan membakar lahan untuk membuka kawasa pertanian baru. Tapi kejadian ini semakin tidak enak dan merugikan manakala tidak terkendali dan bahkan menjadi bencana. 20 hingga 25 %, CO2 yang menyebabkan perubahan iklim berasal dari kebakaran hutan. Sebab itu, kebakaran hutan, tentu patut disesalkan bahkan seharusnya dieliminasi.
Sejak kecil hingga masa remaja di Kalimantan, membuatku familiar dengan kabut asap. Suasana menyengat bau asap api yang membakar rumput dan tumbuhan hijau, tercium menusuk, tapi rasanya 20 tahun lalu tidak ekstrim seperti hari ini. Memang terlihat berkabut kalau pagi, dan gelap bila sore. Namun, asap tidak membuat sampai mata pedas. Mungkin karena hari ini kami berada di ruang kantor Gubernur yang ber AC, ruang itu dipenuhi asap dan memerihkan mata. Tapi tidak diluar sana.
Mengapa kebakaran terjadi hampir setiap tahun?
Ada input yang mengagetkan ketika saya tanya pada salah seorang tokoh masyakat dayak, bahwa mereka membakar merupakan ekpresi kekesalan atas tidak dihormatinya kepemilikan adat dan hak hak mereka. Tanggungjawab kolektif yg tadinya mereka rasakan dan menjadi pupus setelah menyaksikan bahwa secara semaunya pemerintah memberikan izin pada pengusaha yag kemudian malah meampk lahan mereka. Masyarakat setempat tidak diberikan kesempatan untuk terlibat. 'Kedua, ada masalah kultural yang tidak pernah hilang karena menganggap membakar lahan merupakan bagin praktis pertanian yg wajar dilakukan dan musim kemarau adalah berkah yang harus disyukuri serta dimanfaatkan untuk membuka ladang. Modernisasi pertanian gagal mengikis praktik ini karena tidak ada satupun benda mekanik yg menjadi alat rakyat kedialu chainshaw kayu.Intensifikasi pertanian dalam 30 tahun berjalan hanya otopia untuk Kalimantan.
Penduduk kalaupun tidak seratus persen, yang tinggal di pinggiran hutan adalah mereka yang miskin dan menggantungkan hidup pada kekayaan alam yang bahkan hanya mengambilnya: menggali emas, menebang kayu, menjual pasir silikon yang dilakukan tanpa memikirkan keberlanjutan. Akibatnya alam memjadi semakin cepat rusak dan tercemar. Sementara pembangunan perkebunan seperti sawit dan pulp yang dibangun dengan modal besar, tidak sama sekali menyelesaikan dan dapat membantu keterpurukan ekonomi mereka.
Friday, August 19, 2011
Kiyai yang Berubah dan Membawa Perubahan
Kalau anda punya, 5000 meter kubik! artinya dalam sepuluh tahun anda bisa menabung 15 sd 20 miliar!Perhitungan Wajar, hasil pengamatan pertumbuhan pohon jati emas dan jati lokal diperoleh hasil bahwa pada usia 7-8 tahun volume jati emas sebagai jati unggulan mencapai 0.88 m3/pohon.
Menanam pohon bukan mimpi, tidak terasa dan pohon memberikan berkah kepada semua makhluk baik oksigen, stok karbon maupun kelebihan lain dari sebuah pohon. Masyarakat kita sudah terbiasa manja, menebang tanpa menanam, padahal menebang pun tidak mudah, karena menebang di hutan alam otomatis menghadapi keganasan alam yang tidak menyenangkan. Ada makhluk hidup lain yang terancam, kawasan tangkapan air yang hilang dan abrasi menyebabkan tanah longsong.
TG Hasanain Juaini, membuktikan lagi betapa berkahnya menanam pohon, beliau menyediakan bibit-bibit untuk masyarakat sekitar berserta santrinya untuk menghijaukan bukit gundul di NTB. Belum sampai sepuluh tahun saya kita, Kiyai ini bertubi-tubi mendapatkan penghargaan atas upayanya itu. Penghargaan Maarif Award tahun 2008 dan kemudian memperoleh penghargaan Ramon Magsasay 2011.
Persis sebuah cerita, ketika seorang sultan yang menyamar ke sebuah kampung. Sejenak sultan berhenti memperhatikan seorang kakek sedang menanam tanaman keras di kebun nya:
Sultan: "Kakek, boleh saya tanya. Untuk apa, kakek menanam pohon ini, bukankan usia kakek tak akan sampai menemui ketika pohon ini berbuah dan menghasilkan?"
Kakek:"Saya tidak pernah berpikir seperti itu. Menanam saja. Kalau berpikir demikian, niscara kita tidak bisa menikmati buah-buahan yang orang tua dulu juga menanam tanpa menunggu harus memakan!"
Sultan: "Masya Allah, betapa mulia kakek ini. Pengawal! coba ambilkan dinar, berikan hadiah untuk kakeh yang mulia ini."
Kakek: "Al Hamdulillah. Belum lagi pohon ini berbuah. Saya sudah bisa menikmati keberkahannya."
Dua orang diatas yang saya amati merupakan kiyai yang tidak hanya menkaji juga menerapkan apa yang pernah dikajinya. Keduanya adalah peserta Penggagas Fiqh Al Biah tahun 2003.
Alhamdulillahirabbil Alamin...
Link Terkait:
Qoluqium Fiqh Al Biah 2007
Konferensi Islam dan Perubahan Iklim 2010
Friday, August 05, 2011
Green Talk Islam dan Konservasi Lingkungan
"Ilmu dan alam adalah dari akar kata yang sama, oleh sebab itu ilmu memerlukan alam untuk diaplikasikan dan alam memerlukan ilmu untuk dijaga." kata Ustadz Ahmad Yani. Beliau memberikan penekanan bahwa menjaga lingkungan hari ini merupakan tujuan tertinggi dari Syariat Islam.
Sore ini, menjelang buka puasa, jam 4.30, Saya dan Ustadz Ahmad Yani, (Dari Daarul Ulum Lido) mendapat kesempatan untuk memaparkan kegiatan dalam acara Talk Show di Green Radio 89,2FM, tentang Harim Zone Pilot project yang didirikan oleh PM Daarul Ulum Lido. Rupaya selain memang mendapatkan sambutan positif, banyak pihak yang ternyata ingin belajar dari kegiatan lingkungan yang berakar dari tradisi Islami ini. Kami diundang untuk berbincang tengan Harim Zone dan lingkungan dan kegiatan lainnya seputar lingkungan dan pesantren terutama dengan kegiatan kami bersama Conservation International Indonesia, Yayasan Owa Jawa dan Rufford Small Grant yang memberikan dukungan pada program ini.
Lihat : Peta dan Gagasan Awal Harim Zone
Harim zone merupakan ajaran Islam yang mempraktekkan perawatan bantaran sungai, pedestrian dan kawasan hijau (green belt) untuk kepentingan publik. Kawasan ini dapat dimanfaatkan sebagai kawasan serapan air dan zona pemanfaatan yang berkelanjutan.
Dengarkan Rekaman Wawancara (Listen to the Interview) © Couresy of Green Radio 89,2 FM)
Menurut Green Radio, keberadaan Pesantren semakin dinilai penting dalam upaya menjaga kelestarian alam dan merawat ekosistem. Apalagi banyak Pesantren yang letaknya tidak jauh dari kawasan-kawasan konservasi. Sekitar 926 pesantren dengan jumlah murid 108 ribu orang berada di Jalur Bogor, Cianjur dan Sukabumi yang diketahui merupakan kawasan konservasi. Sedangkan pada radius 10 km di sekitar Gunung Gede Halimun dan Salak, jumlah pesantren yang mendekati anak-anak sungai mencapai 29 pondok pesantren.
Berita Terkait:
- Pesantren dan Pemanfaatan SDA Berkelanjutan
- Harim Zone di PM Lido
- Talkshow Agama dan Lingkungan
No comments:


