Tuesday, May 09, 2006

University of Florida Conference on Religion and Nature


The Inaugural Conference University of Florida on April 6-9, 2006, was remarkable, about 145 scholars from all over the world attend the meeting, included some keys respected advocates of nature and spirituality attend as key note speakers in religion, nature and cultural science: Prof. Mary Evelyn Tucker of Harvard, Prof. Stephen Kellert of Yale and Caroline Merchant of UC Davis. Most of them are academia from recognize universities. I was quite astonish, that I am the only Indonesian attend the conference actually with specific presentation about Indonesia Moslem and Environmental Movement in Indonesia. My impression that every academic conference not likely only a field of intellectual and sharing experience and thinking but also a networking movement to further steps in the future. This was the second time for me to attend international meeting after the Research Seminar on Religion and Ecology at the Graduate, Centre for Religious & Cross-curtural Studies, Gajah Mada University, Yogyakarta, last August 2005.

Observatorium Boscha


Observatorium Bintang Boscha, Lembang Bandung merupakan salah satu tempat favorit yang bisa dikunjungi keluarga di akhir pekan. Hanya saja kompleks ini sangat terbatas bagi pengunjung dan Boscha memberikan waktu-waktu tertentu untuk ikut mengamati bintang dan planet lain bagi anak-anak sekolah. Usia Boscha mungkin sudah hampir 100 tahun, tapi gedungnya masih sama dan antic. Tempat ini seharusnya mendapatkan perhatian layak dunia ilmu pengetahuan karena bisa menjembatani keterangan mengenai ilmu astronomi dan astrofisika.

Keluarga kami mengunjungi Boscha July 2005 yang lalu.

KLINIK ORANGUTAN DI PASIR PANJANG

Bersalaman dengan orangutan semoga cepat sehat dan bisa masuk hutan. Foto: Dila Maula Hafsah





Setelah hampir lima tahun tidak mengunjungi Pasir Panjang, Pangkalan Bun Kalimantan Tengah. Ternyata kota ini benar-benar berubah. Pasir Panjang yang tadinya terletak ditengah-tengah antara Kumai dan Pangkalan Bun, kini sudah menjadi satu dan terasa sangat dekat. Kondisi kota Kumai (kota kelahiranku) biasa: masih berpasir dan kering kala musim panas. Tapi angin masih sepoi sepoi karena kota ini sangat dekat dengan teluk Kumai yang tidak terlalu jauh dari laut.

Pasir panjang adalah 10 km dari Kumai. Dulu ditempuh dengan kendaraan terasa jauh aku pernah bersepeda di kawasan ini, melewati Batu Balaman yang penuh rawa hampir dua kilometer. Juntrungannya, gantian: sepeda kita bopong, untuk menyebrangi jembatan kayu balok masih dikelilingi rawa dan masuk hutan. Di Pasir Panjang masih banyak buah duku, durian dan rambutan yang ditanam penduduk aslinya orang dayak.

18 tahun yang lalu Birute Galdikas pernah mengatakan keberatannya tentang pembukaan jalan dikampung ini kepada saya. Tetapi orang dayak di kampungnya itu menyatakan senang sekali dengan dibukanya jalan sebagai tanda ada kemajuan.

Sekitar bulan November 2004, saya mengunjungi Pasir Panjang yang kini berubah. Jangan Tanya tentang hutan yang lebat 20 tahun yang lalu. Kini sudah musnah. Kawasan yang masih utuh adalah kompleks tempat nursery orangutan rehabilitasi milik Yayasan Orangutan yang memelihara khusus merawat orangutan baik sitaan maupan yang diserahkan secara sukarela oleh pemiliknya.

Ada puluhan anak-anak orangutan disini yang perlu ketelatenan, diberikan susu, buah-buahan, dan pengobatan. Beberapa petugas secara bergantian memberikan pelatihan dan menunggu orangutan dibawah pohon, mengembalikannya kenal alam mereka. Memanjat dan memakan daun-daunan.

Betapa sulitnya mengembalikan orangutan ke alam. Mungkin jutaan dollar harus diinvestasikan untuk mengupayakan mereka kembali ke hutan. Saya dijelaskan ada orangutan yang kemudian stroke, dan lumpuh karena diperlakukan semena-mena oleh manusia, ketika ada pembukaan kebun sawit. Orangutan terdesak dan harus tergusur tidak tahu harus pulang kemana, karena hutan sudah tiada.

Saya sangat khawatir, kalau hutan masih terus dikapling dan dirambah, orangutan yang ada di klinik ini tidak akan bisa kembali ke hutan, karena hutan sebagai rumah dan tempat mereka hidup dan mencari makan, sudah hilang!