Sunday, January 20, 2008

Pasak Bumi


Ini bukan kayu sembarang kayu, dia adalah pasak bumi yang berkhasiat obat sakit pinggang dan juga "keperkasaan pria". Pohonya lurus dan kecil saj paling tinggi munkin 10 meter, untuk ukuran tetapi akarnya menghunjam ketanan. Kalau terlalu tinggi tidak lagi dapat dicerabut. Untuk mendapatkan akar setengah meter, rasion batang mungkin hanya 20 cm saja, dan sulit dicabut. Memerlukan tenaga dua atau tiga orang. Sayang saya belum mendengan akar ini--walaupun penting untuk obat---tetapi tidak pernah dibudidayakan.


Orang malaysia mengatakannya tongkat ali

Buah Lokal di Kotawaringin Barat

Durian hutan atau kerantungan
( foto: bisikalgunung.blospot.com)


Buah-buah lokal ini sekarang menjadi sangat langka seiring dengan punahnya pohon-pohon ini yang ditebang untuk dijadikan kayu baik secara legal maupun illegal. Dulu ada buah nyatuh yang dijual dipasar, juga buah idur dan rengginang (rambbutan hutan) yang rasanya kecut luar biasa. Saya yakin buah-buah ini tidak lagi dapat dinikmati anak-anak usia SD, seperti saya sekolah dulu pada jaman sekarang ini. Berikut tulisan Wisnu Sukmantoro yang dibuang sayang mengenai buah-buahan itu.

Kalimantan kaya akan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan hutan. Sekitar 10,000 sampai 15,000 jenis tumbuhan berbunga yang terdiri atas 3000 jenis tumbuhan katagori tegakan pohon, 2000 jenis anggrek, 100 jenis pakis dan berbagai jenis lainnya. Dua ratus enam puluh tujuh spesies Dipterocarpaceae juga termasuk spesies yang mendiami hutan-hutan di Kalimantan dan spesies tersebut dianggap sebagai bahan baku perdagangan kayu terpenting di Asia Tenggara dan dunia. Tetapi, dalam kapasitas kampanye dalam pengembangan alternatif pendapatan yang diupayakan untuk tidak difokuskan pada kayu, ada beberapa manfaat lainnya dari jenis-jenis tumbuhan tersebut bagi kehidupan manusia seperti getah, obat-obatan dan konsumsi terutama buah-buahan.
Ada salah seorang masyarakat Desa Kubu, Kecamatan Kumai yang memiliki kepedulian terhadap tumbuhan yang memiliki nilai penting dalam pengadaan buah-buahan lokal Kalimantan, selain buah-buahan lokal yang sudah lama tersedia di pasar-pasar atau di toko-toko buah. Dalam bulan-bulan terakhir ini, beliau sebut saja Pak Surian banyak melakukan kegiatan mengumpulkan jenis-jenis buah tersebut untuk dilestarikan. Buah-buahan tersebut dianggap sebagai buah-buahan hutan yang banyak diantaranya memiliki katagori yang jarang dijumpai atau populasi spesies tersebut mengalami penurunan drastis akibat diambil kayunya. Katagori Pak Surian dalam menentukan jenis-jenis tumbuhan yang dianggap buah-buahan hutan adalah dari buah tersebut menjadi makanan burung di alam. Tetapi, tidak hanya itu, Pak Surian juga mencicipi sendiri buah-buahan tersebut layak atau tidaknya sebagai buah-buahan yang bisa dikonsumsi. Memang, beberapa diantaranya sulit dikonsumsi atau tergantung dari selera yang mengkonsumsi. Adapun buah-buahan hutan yang berhasil diidentifikasi secara penamaan lokal di Kotawaringin Barat adalah sebagai berikut;

1. Katagori Buah Hutan Rimba (Buah-buahan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan hutan daratan)
- Kerantungan
- Nyatuh
- Junjun
- Idur
- Pintau
- Senabil
- Sergam
- Pandau
- Dawak
- Sungkup
- Bentawa
- Bunut
- Paken
- Katikal
- Kuranji
- Asam Kalimantan
- Asam binjai
- Asam putaran
- Asam tungku
- Ramania
- Embak
- Kapul
- Marinjahan
- Kubing
- Tembesu
- Luwing
- Belimbing Kasai
- Kemanjing
- Belale
- Jeramuan
- Linang
- Petiti susu/Topah susu
- Kemuning
- Nyatuh jangkar
- Sundi
- Neniuran

2. Katagori Buah Hutan Rawa (Buah-buahan yang berasal dari tumbuhan-tumbuhan di hutan rawa)



- Papung
- Rerawa
- Nenasi
- Merang
- Bengaris
- Mata peladuk
- Petiti atau topah
- Piyayis
- Sesarai
- Asam asam
- Lakum
- Linang tikus
- Tentalang

3. Katagori buah padang (buah-buahan yang berasal dari habitat padang rumput atau semak):





- Karimunting padang
- Karimunting kodok
- Bati-bati
- Ubar
- Kejajing
- Jambu burung
- Mati adding

4. Katagori buah hutan mangrove (buah-buahan yang berasal dari hutan mangrove)





- Rambai padi
- Rambai Bogam
- Tembatu
- Rungun
- Mata undang
- Gayam

Dari berbagai buah-buahan tersebut ada yang sudah familiar di masyarakat seperti Kerantungan (sejenis durian), karimunting dan buah asam. Sekarang, tinggal bagaimana pemerintah daerah, para akademisi, LSM dan instansi lainnya melihat peluang tersebut untuk bisa dikembangkan atau direkayasa secara genetis untuk bisa menghasilkan buah-buahan unggulan khas Kalimantan. Manfaatnya, menambah nilai manfaat dari tumbuhan-tumbuhan Kalimantan dilihat dari segi ekonomi tanpa harus diambil kayunya dan sebagai komitmen semua pihak dalam pengembangan alternatif pendapatan untuk kesejahteraan masyarakat. Selain itu, jenis-jenis lokal ini dapat menjadi kebanggaan daerah terutama sebagai pengetahuan lokal masyarakat dan menjadi hak pengelolaan bagi masyarakat Kalimantan. ***

Sunday, January 13, 2008

Cerita dari Pulau Salawati Bersama Dai


Bersama Gus Im (tengah) di Kampung Kalobo P Salawati

Walaupun nun jauh di ujung Timur Indonesia, harus menyesuaikan ritme bangun yang lebih awal 2 jam, ternyata memang asyik juga. Bersama Gus Im (kh an im falahuddin mahrus) dari Lirboyo, kami menuju Pulau Salawati, untuk memberikan pelatihan tentang Islam dan Konservasi Sumber Daya Alam di Kampung Kalobo. Hanya 30 menit dengan speed boat CI atau 2 jam dengan kapal kayu ke pulau yang paling besar di Kabupaten Raja Ampat ini. Rupaya disana CI bersama AFKN dan TNC memfasilitasi juga acara peringatan 1 Muharram 1429 H.

Gus Im mempersiapkan Istighosah membaca zikir, sehingga masyarakat yang ada di sini mendapatkan manfaat dari kedatangan beliau. Pulau ini sangat sunyi dan kelihatannya air laut dan pantainya begitu bersih. Ada 46 imam dan khatib yang hadir, mereka berasal dari 33 kampung pulau-pulau kecil yang hampir terlupakan. Seorang khatib telah berumur dari Desa Harapan Jaya menemui saya, bercerita bahwa mereka memerlukan buku khutbah bahasa Indonesia untuk dibaca, karena selama ini mereka membaca khutbah dalam bahasa Arab, dan karena tidak dimengerti membuat semua jamaah jum'at tertidur! mengantuk.

Ada pula cerita masjid yang kalau ditinggal imamnya menangkap ikan (keluar kampung) lalu masjid tidak sembahyang jumat dan melainkan hanya shalat zuhur berjamaah. Jarak dan penduduk dan sumber daya yang sedikit memang menjadikan raja ampat sangat terisolir.

Kegiatan berlangsung tanggal 09-11 Januari 2008. Kegiatan juga diisi dengan tablikh akbar, pemilihan pildacil, khasidah dan penanaman pohon. Menurut saya ini kegiatan positif yang sangat baik untuk kaum muslimin di Raja Ampat, semoga mereka menjadi lebih baik di masa depan.

tabik!

Tuesday, January 01, 2008

Foto-foto Peluncuran Buku Menanam Sebelum Kiamat

Rekan-rekan wartawan menerima buku dari Editor SMK
Berita di Koran Borneo News

Peluncuran Buku Menanam Sebelum Kiamat (MSK)

Yang Amat Berhormat Jamaluddin Karim, SH. Anggota DPR RI menerima hadiah buku dari
editor: Fachruddin Mangunjaya (kanan), disaksikan oleh Wakil Bupati Kobar, IR Sukirman,
dalam peluncuran buku Menanam Sebelum Kiamat (MSK).

Buku ini diluncurkan di kampung halaman saya di Kumai, Pangkalan Bun Kalimantan Tengah, 21 Ramadhan 1428 H (Oktober 2007), dengan niat bahwa buku ini akan diterima masyarakat yang dimulai dari tingkat akar rumput. Biasanya sebuah buku diluncurkan dengan diskusi ilmiah yang hingar bingar. Karena buku adalah buku kearifan Islam tentang lingkungan, tentu saja bulan Ramadhan merupakan momentum, selain silaturahim juga kegiatan yang akan menjadi manfaat serta menambah amaliah.
Buku setebal lebih dari 309+xxxiii halaman ini merupakan buku lingkungan Islam yang ditulis oleh 15 pakar Islam dan lingkungan, diantaranya SH Nasr, Sayyed Mohsen Miri, Ahmad Sudirman Abbas, Othman Llewellyn, KH An’Im Falahuddin Mahrus, KH Husein Muhammad, Husain Heriyanto dan lain-lain. Buku ini juga ingin melengkapi tulisan saya sebelumnya “Konservasi Alam Dalam Islam” dan khasanah Islam dan lingkungan yang lebih komplit.
Tidak lain niatnya adalah: mengerjakan sesuatu harus dimulai dengan sains, atau ilmu pengetahuan, seperti halnya mempelajari shalat yang harus mengetahui rukun-rukun dan bacaannya, puasa yang harus memahami makna dan beribadah untuk lingkungan dan konservasi harus mengetahui pula filosofi serta ayat-ayatnya. Orang mungkin mengira melestarikan lingkungan bukan merupakan bagian dari sebuah ibadah. Melestarikan lingkungan dan melestarikan alam adalah ibadah! Buku ini memberikan hujjah untuk pemahaman itu. Islam menganjurkan agar manusia tidak membuat kerusakan di muka bumi. Berbuat baik kepada semua makhluk dan semua makhluk ternyata bertasbih kepada Allah.
Jadi jelaslah sudah bagi seorang muslim, merupakan suatu keberuntungan jika dia bisa ikut melestarikan lingkungan, melindungi makhluk makhluk Allah, memberikan kontribusi menjaga ciptaanNya dengan niat yang ikhlas, bahwa sumbangannya itu adalah untuk kemanusiaan, untuk alam dan untuk sang pencipta. Berbahagia pula orang yang mempunyai keimanan dalam memperlakukan lingkungan: berbagi keramahan, tidak sombong dan congkak ketika harus menanda tangani kontrak karya untuk menambang bumi (ciptaan Gusti Allah), menanda tangani HPH dan Bismillah menebang kayu (yang tidak pernah ditanam oleh tangannya).
Buku ini, kalaupun ada kelebihannya, memang akan memberikan pencerahan bahwa dunia Islam dan muslim (pada umumnya) adalah orang yang banyak melupakan khasanah alam dan lingkungan sekelilingnya. Bukti-bukti konkrit kearifan lingkungan zaman Rasulullah diuraikan secara komprehensip oleh Othman, andaikan saja konsep itu masih diindahkan, maka pencemaran dan kekeringan sungai tidak akan terjadi. Demikian pula kepunahan makhluk hidup dapat dicegah.

By the way, terima kasih kepada Abang Jamaludin Karim, SH, anggota DPR RI Komisi VII yang bersedia hadir datang dalam peluncuran buku, Sukirman, Wakil Bupati Kotawaringin Barat, para anggota DPRD Kobar, tokoh masyarakat di Kumai, teman-teman dari Borneo Lestari Foundation (BSF): Bang Meda, Komar, Raihan, Imansyah, Jamat, Bang Esol, Dodi, dll yang menyumbang untuk peresmian BSF termasuk pak Bupati Ujang Iskandar yang baik.
Tabik!
Berita Peluncuran: