Showing posts with label Conservation. Show all posts
Showing posts with label Conservation. Show all posts
Saturday, March 15, 2014
Pemerintah, LSM dan Akademisi Dukung Fatwa Pelestarian Satwa
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa nomor 4 Tahun 2014 tentang Pelestarian Satwa Langka untuk Menjaga Keseimbangan Ekosistem. Pemberian fatwa ini dikeluarkan untuk menjawab dan memberikan kepastian hukum menurut pandangan Islam tentang perlindungan terhadap satwa yang dilindungi terutama yang statusnya rawan bahkan terancam punah ataupun hilang dimuka bumi. Satwa ini termasuk harimau, gajah, badak dan orangutan. LANJUT>>>
Monday, July 08, 2013
Selamatkan Harimau Sumatera Melalui Kearifan Islam
“Ulama
diminta berperan dalam pelestarian harimau sumatra.”
Menyadari pentingnya eksistensi Harimau Sumatera yang terancam punah, berbagai upaya strategis untuk menyelamatkan sub spesies terakhir ini terus digalakkan. Kali ini, upaya pelestarian dengan menggugah kesadaran dan partisipasi masyarakat dilakukan melalui pendekatan agama (khususnya Islam). SELANJUTNYA>>>
Menyadari pentingnya eksistensi Harimau Sumatera yang terancam punah, berbagai upaya strategis untuk menyelamatkan sub spesies terakhir ini terus digalakkan. Kali ini, upaya pelestarian dengan menggugah kesadaran dan partisipasi masyarakat dilakukan melalui pendekatan agama (khususnya Islam). SELANJUTNYA>>>
Friday, June 07, 2013
Mengapa Taman Nasional Perlu Diselamatkan?
Akhirnya Kementerian
Kehutanan gencar membongkar vila –vila yang berdiri illegal di Taman Nasional
Gunung Halimun dan Salak (Koran Tempo,
12 Maret 2013). Adapun pemilik vila,
yang terdiri dari para pembesar dan orang yang mampu di Jakarta. Mereka,
terlebih dahulu diminta kesadaran untuk membongkar sendiri vila tersebut. Kalau
tidak, dapat diancam hukuman penjara 10 tahun karena melanggar undang-undang
Kehutanan No 41 Tahun 1999 dan undang undang
No 5/1990, tentang Konservasi dan Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
Baca selanjutnya >>>
Baca selanjutnya >>>
Thursday, December 06, 2012
Mengurai Pemahaman tentang Hima dan Masa Depannya
Sekitar 20 orang peserta dari berbagai negara, mengikuti
Workshop yang diadakan oleh Kuwait Institue in Research (KISR), dari tanggal 2-5
Desember. Saya sendiri mempresentasikan pengalaman Indonesia terutama terkait
dengan upanya penyadaran konservasi bersama dengan pemuka agama (Islam) dan
pemimpin lokal (tokoh ulama setempat) dan orang yang dihormati di tingkat komunitas. Presentasi saya
berjudul “Synergized Conservation Effort
through the Spirit of Hima and Islamic Culture in Indonesia”upaya
mensinergikan pemahaman agama untuk melindungi alam dan lingkungan. Selanjutnya>>>
Sunday, September 04, 2011
S.O.S Sungai Sekonyer Tanjung Puting!
Sungai Sekonyer dulu...(hanya bisa di lihat saat masuk Kawasan TNTP (atas) dan sekarang (bawah)
Hampir 20 tahun tidak ke Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), sekarang dapat kesempatan untuk memasuki kawasan ini. Bagiku kunjungan kali ini tidak terlalu menyenangkan, sebab tercium aroma yang lain dan dan terlihat perubahan lingkungan yang luar biasa. Bagiku dramatis, karena ketika kelotok berjalan sekitar dua jam dari Pelabuhan Kumai, lalu masuk ke Sungai Sekonyer, tidak lagi dijumpai air yang bersih seperti dahulu: merah kehitaman, seperti air teh karena air ini bercampur serasah dan humus. Kini, karena pencemaran yang dilakukan masyarakat akibat pertambangan emas dan pasir silikon rakyat di sebelah kiri, Sungai Sekonyer sepanjang empat jam perjalanann, berair keruh dan coklat seperti kopi susu! Tak ada yang bisa membedakan kalau hanya berkunjung dalam 10 tahun terakhir, 20 tahun lalu, air disini dahulu sangat bersih bahkan menjadi tempat kapal kapal masuk untuk mendapatkan air minum sebelum berangkat ke Jawa. Buaya berjemur kerap dijumpai di pinggir sungai dan mendadak sontak bercebur takala perahu kami lewat.
Sangat nyata rusaknya di pencemaran sungai, dan saya yakin belum pernah di lakukan pengecekan berapa kekeruhan air dan kontaminasi kimiawi di S. Sekonyer yang begitu asri tadinya. Keyakinan saya mengatakan, sungai ini sudah melampaui baku mutu dan melanggar Undang Undang Lingkungan Hidup No 32/2009. Memang tak terlihat kontaminasi pada vegetasi secara fisik. Tapi saya khawatir ikan dan flora fauna air di sekonyer sudah pasti tidak dapat hidup di air keruh seperti ini. Aku melihat pohon pinggiran sungai ini kusam dan masai. Kejam nian! Sepanjang jalan di sungai biasanya, dulu ada saja orang memancing ikan. Sekarang tidak ada seorang pun!
Sungai ini dihuni berbagai spesies ikan air tawar seperti: gabus dan toman dan dan buaya gavial atau buaya muara, saya tidak yakin ada ikan yang mampu bertahan dan memijah. Begitu pula arwana yang musim pada saat banjir dan hujan besar itu masih ada di sungai ini. Dalam sebulan terakhir ini saja, Hanafi, seorang guide yang rutin masuk ke TNTP menemukan setidaknya ada tiga buaya yang mati terkapar. Dia juga menemukan orangutan yang hanyut mati di sungai seekor induk dan bayi. Dia juga menemuka babi yang mati, "Saya penasaran, mencoba membuktikan apakah babi itu mati karena berkelahi? Tapi tidak ada luka" tambah dia. Hanafi menghitung kasar dia menyaksikan sembilan ekor buaya tertelentang hanyut di sungai setidaknya dlama empat tahun terakhir. Parahnya, ketika kami masuk sungai ini Kamis (1/9), saya menyaksikan ada rusa mati bengkak di pinggiran sungai...Astgfirullah parah sekali. Penelitian biodiverisity sungai perlu dilakukan apakah ikan masih bisa mentolerir kekeruhan yang kasat mata yang ironis ini.
Memang Sungai Sekonyer tidak dilindungi semuanya, tapi jelas ekosistem korban dari dampak atas kawasan yag tidak dilindungi. Aliran sungi sekonyer kiri --yang tidak dilindungi--mencemari sungai utama sepanjang puluhan kilometer. Ironinya, penambangan masih berlanjut, sementara wisatawan pun animonya tidak turun. (lihat peta tahun 2007 di Google di laman ini)
Di Kumai sekarang terdapat hampir 50 kelotok wisata yang mengantar wisatawan rutin melihat orangutan. Meningkat 10 x lipat dibanding tahun 80an yang bisa dihitung dengan jari Pariwisata cukup antusias tapi potensi wisata ini tak bisa menjanjikan bila alam tntp parah seperti ini.
Lokasi Pertambangan di Sebelah Kiri Sekonyer River:
Lokasi Pertambangan di Sebelah Kiri Sekonyer River:
View Larger Map
Alamnya rusak, yang tersisa memang hanya kawasan yang mendapatkan perlindungan (dikonservasi). Ketika kelotok berbelok kekanan yang menuju 8km anak sungai sekonyer kanan tujuan camp leakey, beberapa kilometer air masih bersih. Alam masih bersahabat disini, pepohonanpun masih terlihat segar dan tidak merana seperti di alur sungai sebelumnya. Sungai bersih ini mustahil ada tanpa kawasan konservasi yg terjaga dengan baik. Sekali lagi realitas perubahan lingkungan mematri pepatah orang bijak: semua telah berubah, kecuali perubahan itu sendiri. Salam!
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Wednesday, April 19, 2006
My Profile
Fachruddin M Mangunjaya
fmangunjaya@yahoo.com
Environmentalist and Independent consultant.Lecturer at Universitas Nasional, Fellow The Climate Project Presenter. Graduated with a bachelor’s degree from the Faculty of Biology at the National University (UNAS) in Jakarta, and master degree in conservation biology at the University of Indonesia, and PhDfrom Post Graduate Program Environmental Management and Natural Resouces (PSL), Bogor Agricultural University. He is very interested in bringing religion to bear to help conservation goals. One leading eco-activist in the Muslim world and elected as one of four Muslim Eco-Warrior. A member of the Forum on Religion and Ecology and International Society for the Study of Religion Nature and Culture (ISSRNC), environmental journalist and columnist. Treasurer Yayasan Orangutan Indonesia (Yayorin). Adisory and Founder of Borneo Lestari Foundation, Central Kalimantan. He also serves as executive editor of Conservation International Indonesia’s TROPIKA Indonesia Magazine. Editor and Author of several books: Konservasi Alam Dalam Islam -Nature Conservation in Islam (YOI, 2005), Hidup Harmonis Dengan Alam (Living Harmoniously with Nature), -YOI 2006, Menanam Sebelum Kiamat (co Editor), -(YOI 2007), Editor Fiqh al Biah (Fikih Lingkungan), (INFORM 2005) Bertahan Di Bumi: Gaya Hidup Menghadapi Perubahan Iklim (YOI 2008) and several children books: Keluarga Gajah, Orangutan Pesta Buah Durian dan Kancil Millenium. Khazanah Alam: Menggali Tradisi Islam untuk Konservasi (YOI 2009), Islam Peduli Lingkungan, Suplemen Modul untuk SMK/SMK/Aliyah, ditulis bersama Agus Rahmah, Asep Hilman Yahya dan M Abdullah Darrasz (Ed)(Ma'arif Institute Jakarta). He has authored more than 200 articles for popular science on environment and conservation in the national Indonesia media.
fmangunjaya@yahoo.com
Environmentalist and Independent consultant.Lecturer at Universitas Nasional, Fellow The Climate Project Presenter. Graduated with a bachelor’s degree from the Faculty of Biology at the National University (UNAS) in Jakarta, and master degree in conservation biology at the University of Indonesia, and PhDfrom Post Graduate Program Environmental Management and Natural Resouces (PSL), Bogor Agricultural University. He is very interested in bringing religion to bear to help conservation goals. One leading eco-activist in the Muslim world and elected as one of four Muslim Eco-Warrior. A member of the Forum on Religion and Ecology and International Society for the Study of Religion Nature and Culture (ISSRNC), environmental journalist and columnist. Treasurer Yayasan Orangutan Indonesia (Yayorin). Adisory and Founder of Borneo Lestari Foundation, Central Kalimantan. He also serves as executive editor of Conservation International Indonesia’s TROPIKA Indonesia Magazine. Editor and Author of several books: Konservasi Alam Dalam Islam -Nature Conservation in Islam (YOI, 2005), Hidup Harmonis Dengan Alam (Living Harmoniously with Nature), -YOI 2006, Menanam Sebelum Kiamat (co Editor), -(YOI 2007), Editor Fiqh al Biah (Fikih Lingkungan), (INFORM 2005) Bertahan Di Bumi: Gaya Hidup Menghadapi Perubahan Iklim (YOI 2008) and several children books: Keluarga Gajah, Orangutan Pesta Buah Durian dan Kancil Millenium. Khazanah Alam: Menggali Tradisi Islam untuk Konservasi (YOI 2009), Islam Peduli Lingkungan, Suplemen Modul untuk SMK/SMK/Aliyah, ditulis bersama Agus Rahmah, Asep Hilman Yahya dan M Abdullah Darrasz (Ed)(Ma'arif Institute Jakarta). He has authored more than 200 articles for popular science on environment and conservation in the national Indonesia media.
Media coverage:
- REPUBLIKA 24 Juni 2005: Terenyuh Melihat Kerusakan Alam
- ORANGUTAN Week: Australian Orangutan Project
- Raising Green Banner of Islam ISLAM ONLINE
- Greening Indonesia ISLAM ONLINE
- Eco Muslim Gallery of London Muslim for Greening Indonesia Dinner
- The Guardian: Ban Ki Moon Urges Religious Leader
- Climate and Religion: Conservation International
- The Guardian: Helping Green Shoot to Grow
- The Jakarta Globe: Muslim School Leads Islamic Green Movement in Java
- The Brunei Times: Muslim Voices Call for Climate Action
- The Jakarta Post, August 30, 2004 Destructive Fishing and Togean Island Coral
- SINAR Harapan, 2003 Menjenguk Kerajaan Penyu
- KORAN TEMPO, 2004 Pintu Surga di Mandailing Natal
- KORAN TEMPO, 2005 Wisata Pendidikan Gunung Gede Pangrango
- KORAN TEMPO, 2006 Jurassic Park di Washington
- KORAN TEMPO,2008 Menikmati Kota Kastil Berhantu
PROJECT:
- Islamic Boarding School and Conservation .The World Bank Report 2005 (Pdf)
- Faiths and Environment (The World Bank Project, 2000-2005) (Pdf)
- Integrating religion within conservation: Islamic beliefs and Sumatran forest management. DICE, University of Kent UK
- Rufford Small Grant: Introducing Hima and Harim System in Indonesia
- Rufford Small Grant Phase II
LECTURES:
- Centre for Advance Study on Arab World University of Edinburgh,UK: Islam and Environmental Movement in Indonesia
- IFEES, UK: Greening Indonesia
PUBLICATIONS:
- Books
- Journal
- Popular articles
- Paper
- Presentation check here
Subscribe to:
Posts (Atom)
