Saturday, April 24, 2010

Kebijakan Pro Lingkungan


Berikut ini rekaman Talkshow Hari Bumi 22 April 2010, yang diselenggarakan oleh OREI, SOCP, Kehati dan Partners. Walaupun ini diselenggarakan di Gedung MPR DPR Senayan, saya sangat kecewa karena peserta tidak banyak hadir, termasuk Anggota DPR terhormat mungkin karena terlampau sibuk.

selamat menikmati!

The Grand Training, Connector Climate Project Indonesia

Sungguh mengharukan antusiasme aktifis Indonesia yang sadar lingkungan. Hari ini Sabtu, 24 April 2010) training grand connector The Climate Project Indonesia (TCPI) dipenuhi oleh peminat yang datang dari berbagai sudut tanah air, sekitar 250 orang hadir terseleksi dari 1500 peminat. Saya kira ini adalah semangat yang baik dan penuh ketulusan, sebab kita semua memang merasa khawatir akan masa depan planet ini dan harus segencar mungkin merubah gaya hidup dan mengkampanyekan perubahan iklim. Pesertanya dari Ibu Rumah Tangga hingga professional, anak SMP hinggi Guru Besar.

Pertama kali bagi saya mengenal beberapa Presenter TCPI yang lain, sebab saya adalah anggota no 54 dari 53 presenter yang lebih dahulu di training di Asia Pasific, jadi saya new kid on the block, karena menyusul para senior yang training dan mengikuti training oleh AL GOre di Mexico City tahun 2009.

Pelatihan ini menampilkan trainers dan Presentasi sangat menarik dan diberikan oleh mereka yang mumpuni untuk memberikan pelatihan, seperti Dr Armi Susandi, yang disebut sebagai Al Gore nya Indonesia, Suzy Hutomo Praktisi sekaligus Business lady, Nana Firman dan Ibu Mia Juliana tentang cara meyakinkan para skeptice, Charles Bonar Sirait, ahli public speaking soal presentasi di depan orang banyak dll.

Tidak kalah menariknya training ini bersifat informal namun disediakan package gratis untuk para konektor termasuk USD, Rompi, dan bahan bahan presentasi. Pengantar ucapan selamat diucapkan oleh Jeanne Clad melalui tayangan video. Jadi cara ini sungguh efisien dilakukan karana sangat membantu memberikan semangat bahwa training ini benar benar dilakukan dengan network mendunia. Jadi semua peserta tidak bekerja sendiri, ini merupakan gerakan dari 7000.000 presentasi yang telah tersentuh oleh metode Al Gore dengan The Climate Projectnya, dan mengikut sertakan 3000 presenter yang telah ditraining oleh Gore.

Semoga ini membawa hikmah dan keuntungan untuk semua.

tabik!

Friday, April 16, 2010

Nagari Malalo, Fazlun Khalid dan Metro TV

Sebelas orang tokoh adat dan ulama yang berasal dari Guguak Malalo dan Pakan Rabaa, di Padang Panjang, Sumatera Barat, bergabung untuk pelatihan tentang Islamic Environmentalism Ethic yang dipandu oleh Hajj Fazlun Khalid. Sungguh beruntung mereka ini, tapi tentunya juga saya. Fazlun mengembangkan methode ini selama 25 tahun dan sekarang usia beliau adalah 77 tahun. Sidi Fazlun, begitu kami memanggilnya di UK, merupakan orang yang merintis Islamic Environmentalism dan terinspirasi dari pemikiran Seyyed Husain Nasr. Saya jadi ingat komentar Syech Saggaf, Pimpinan Pesantren Nurul Iman Parung, ketika melihat metode ini diajarkan di Pesantrennya, ahli tafsir tersebut menyebutnya, ini tokoh unik dan ajaib. Beliau mampu menterjemahkan sains dalam hal praktis dan mengintegrasikan pesan al Qur'an. Syech Saggaf bilang, dia "Wali." Metodenya sungguh unik, oleh karena itulah buku-bukunya saya terjemahkan.



Metodologi TOT ini terbukti kini mulai berhasil menggerakkan posisi Islam dan Gerakan Lingkungan di Indonesia. Beberapa literatur yang saya tulis adalah mengacu pada pemikiran beliau.
Disamping antusiasme Fazlun untuk beberapa kali datang ketempat ini, beliau sungguh senang dengan kegiatan di lapangan dan bergerak ke akar rumput. "Konferensi penting. Tapi, saya lebih senang dengan aksi lapangan karena ini yang akan memberikan kontribusi signifikan dan akan bisa merubah keadaan," katanya, ketika saya undang untuk memberikan ceramah sebagai salah satu Key Note Speaker dalam konferensi 9-10 April di Bogor.

Fazlun Khalid mempunyai reputasi dunia dalam membela kelestarian lingungan melalui pendekatan tradisi dan agama. Dan dikenal sebagai salah satu dari 15 eco theologian dunia. Dia masuk dalam Independent list sebagai salah satu dari 100 environmentalist terbaik Inggris tahun 2008.


Sekali lagi, di Padang, datuk dan ninik mamak, dan tokoh adat, serta ulama ini sungguh beruntung. Mungkin saja tidak mereka sadari keberuntungan ini. Tapi lebih dari itu, saya berharap proyek ini bisa berhasil sebagaimana proyek di Memba, Afrika yang mengadakan pendekatan yang sama.


Green Lifestyle Metro TV




Sepulang dari padang (Kamis, 15/4), kami mendapatkan kehormatan untuk menjelaskan kepada publik tentang kaitan Islam dan Lingkungan, di Metro TV dalam talkshow Green Lifestyle. Sidi Fazlun banyak menjelaskan keterkaitan Islam dan lingkungan, dan saya banyak menjelaskan tentang kegiatan konferensi Muslim and Climate Change Action. walaupun waktu terasa pendek, syukurlah apa yang kami lakukan mendapatkan perhatian publik dan media.


Tabik!



Tulisan-tulisan Fazlun Khalid:

Guard of Natural Order

Islam and Environment ( Encyclopedia of Global Env Change)


Tahniah untuk First International Conference: Muslim action on climate change

Akhirnya jadi juga dan, akhirnya selesai juga. Selama dua hari, Alhamdulillah sejak tanggal 9-10 April penyelenggaraan First Muslim Conference on Climate Change Action di Bogor, berjalan dengan baik. tercatat enam belas Negara yang mendaftar dalam konferensi muslim ini, seperti Malaysia, Indonesia (tuan rumah), Jordania, Mesir, Inggris, Jepang, Amerika, Madagaskar, Filipina, Australia, Maroko, Uzbekistan, Bangladesh, Zimbabwe dan Spanyol. Namun sampai detik terakhir hanya 13 yang hadir, tiga Negara terakhir tidak datang, Bagladesh, sudah membeli tiket dan mendapatkan dari visa dari KBRI Dacca, tetapi tertahan di Imigrasi yang urusannya sangat tidak professional dan berbelit-belit. Sorry brother kami tidak bisa menghadirkan ANDA!

Walaupun dengan penyelenggaraan yang tertunda tunda karena masalah teknis, kami berupaya konferensi ini tetap jalan. Sebab ini adalah pertama kali dilakukan khususnya (mungkin) untuk dunia Muslim. Terlihat antusiasme yang luar biasa para participant yang terlibat. Hingga hari kedua, peminat masih memenuhi seluruh ruangan. Sesi parallel pun demikian. Di bagian B, tentang green city and low carbon development tidak kalah menarik perhatian. Hingga ada peserta berdiri karena tidak kebagian bangku.

Saya sebagai salah satu penyelenggara kegiatan ini sungguh bersyukur, walaupun tampak kekurangan disana sini, tentunya itu suatu yang biasa. Dan harus diketahui, bahwa konferensi ini benar-benar diselenggarakan dengan pendanaan patungan dan atas asas sukarela dari mereka yang tertarik melibatkan diri baik sebagai supporter maupun partners. Mereka adalah: British Council, Islamic University League, World Muslim Academy of Science, Bakriland, BNI,BPPT, CI, Kehati, The Climate Project Indonesia, Republika, Muhammadiyah, Pemerintah Kota Bogor, DNPI, KLH dan Departemen Kehutanan. Tentu saja, selain tidak dipungut bayaran, kelas participant pun bervariasi, dari professional lingkungan, pejabat, mahasiswa S3, activist, pimpinan pesantren, universitas hingga organisasi majlis ta’lim. Mereka adalah orang-orang yang bekerja dan mempunyai aksi di lapangan baik secara langsung maupun tidak. Panitia terutama tim perumus adalah mereka yang professional seperti Prof Amany Lubis dan Dr Mubariq Ahmad, hingga detik terakhir penuh mendedikasikan diri pada perhelatan ini. Jadi anda bisa membayangkan kualitas pertemuan ini mudah-mudahan sangat bermutu.



Green City of Bogor
Konferensi ini memang benar-benar gerakan civil society Muslim, dan tidak terikat pada Negara anggota OKI. Sebagai gerakan grass root rekomendasi rencananya akan disampaikan juga kepada Kantor Pusat OKI atau Organization of Islamic Conference (OIC). Bogor menjadi green city tapi ini tidak berhenti sekarang. Kami akan berupaya mewujudkan membantu program ini hingga lima tahun kedepan, karena ini deklarasi yang ditanda tangani adalah Recognitioan and Support for Bogor as Green City. Bogor sebenarnya sudah punya peraturan ke arah ini, namun perlu penyempurnaan dan dukungan dan isya Allah dukungan akan berdatangan untuk mewujudkan hal ini.
Tabik!

Related News :
  • Inspirasi dari Nabi Yusuf (Republika)
  • A Different Kind of Green
  • World Muslim Seeking Action for Climate Change (the Jakarta Post)
  • Perlu Aksi Nyata (Republika)
  • Bogor ditetapkan sebagai kota hijau

Saturday, March 20, 2010

Guguak Malalo

Rasanya tidak ada sudut bumi yang kosong dari penguasaan manusia. Dari Barat ke timur dari kedalaman laut hingga puncak gunung yang tinggi, di negeri ini sudah pernah kukunjungi. Orangnya ada! Inilah yang kami lihat di Bukit Danau Singkarak, Nagar Guguak Malalo. Beberapa kilometer nun jauh diatas danau singkarak.

Minggu lalu (13-16 Maret) bersama kawan kawan lain kami mengadakan Lokalatih untuk guru di Padang. Pelatihan ini merupakan kerjasama antara Darwin Initiative (DI), FFI, British Council dan CI Indonesia. Topiknya seputar Integrating religion within conservation: Islamic beliefs and Sumatran forest management: “Menyelamatkan Hutan Sumatera Barat dari Kerusakan Lingkungan & Perubahan Iklim dalam sudut Pandang Islam”



Para peserta adalah guru-guru sekolah menengah atas dan kejuruan yang mewakili sekolah-sekolah beragama Islam di daerah perkotaan (Padang) dan pedalaman (di luar Padang, sebisa mungkin yang mewakili daerah rural seperti daerah pertanian, pegunungan, sekitar hutan dll).

Pendekatan agama (Islam) akan dirasakan sangat penting pada tingkat implementasi dan akar rumput bagi komunitas muslim yang teguh seperti di Padang. Tidak ada jaminan bahwa kesadaran akan tumbuh tanpa upaya untuk menggerakkan hati dan pikiran mereka. Hati dan pikiran hanya dapat disentuh dengan agama, atau apa yang mereka yakini. Dan salah satu upaya itu adalah mengingatkan bahwa dalam Al Qur'an, Allah swt menyebutkan bahwa semesta--termasuk bumi-- diciptakanNya secara seimbang (maujuunin). Sehingga kata al Mizan (keseimbangan), yang berasal dari kata M Z N, mizan, atau neraca muncul dalam beberapa ayat dalam Al Qur'an.

Lokalatih ini menyungguhkan kata kunci,bahwa Tuhan adalah Pencipta, dan manusia diwajibkan menjada dan memelihara ciptaaNya itu sebagai sebuah amanah. Fazlun Khalid menyebutkan kata khalaq (al-Khaliq), Allah sebagai pencipta, dengan segala derivasinya muncul sebanyak 261 ayat dalam kitab suci umat Islam itu.

Setelah pelatihan, kami mengunjungi Nagari Guguak Malalo, Sumatra Barat, yang akan dijadikan kawasan pilot implementasi kearifan islam terhadap pelestarian hutan dan alam ini. Nagari ini terletak di pinggiran Danau Singkarak, dengan pemandangan yang sangat menakjubkan. Masyarakat di sini, tahun 2000 pernah terhantam galodo yang dahsyat sehingga menewaskan beberapa puluh orang. Dan saya menjadi diingatkan peristiwa 9-10 tahun yang lalu itu, karena audiensi dengan penduduk nagari dan ketua nagari diadakan di balai nagari yang sama --tidak berubah--ketika kami memberikan bantuan logistik untuk meringankan beban karena bencara tersebut.

Insya Allah, proyek ini adalah pelengkap dan menjadi instrumen yang menarik dalam upaya mendekatkan ajaran Islam pada perawatan dan pemeliharaan alam dan lingkungan. Budaya Minangkabau dangan adat basandi Syara, dan basandi Kitabullah, sangat pastilah sangat sesuai dengan ruh dan semangat yang dibahas dalam lokalatih ini. Berikut ini saya kutipkan beberapa kaitan dengan tujuan dan hasil yang diinginkan dari lokalatih ini:


Tujuan Kegiatan

· Memberikan pemahaman dan pengetahuan tentang pendidikan pelestarian lingkungan hidup dan perubahan iklim

· Memberikan pengayaan pengetahuan kepada guru tentang upaya pelestarian lingkungan hidup dan perubahan iklim dalam tinjauan dan nilai-nilai Islam.

· Meningkatkan keterampilan guru dalam menyampaikan pembelajaran pendidikan pelestarian lingkungan hidup dan perubahan iklim untuk diterapkan di sekolah.

· Melatih guru untuk menggunakan materi tentang pelestarian lingkungan hidup dan perubahan iklim untuk mengajar di dalam dan di luar kelas


Hasil yang Diharapkan

· Guru memiliki pemahaman yang kokoh dan utuh tentang metode, teknik, serta materi pembelajaran pendidikan pelestarian lingkungan hidup dan perubahan iklim.

· Guru memiliki pengetahuan yang lebih kaya dan terarah untuk menyampaiakan pendidikan pelestarian lingkungan hidup dan perubahan iklim dengan memadukan nilai nilai Islam ke dalam materi pembelajaran di sekolah.

· Guru memiliki keterampilan yang relevan dalam menyampaikan pembelajaran lingkungan hidup dan perubahan iklim di sekolah dengan mengacu pada kurikulum tingkat satuan pendidikan yang berlaku.

· Terbentuknya jejaring guru untuk Pendidikan Lingkungan Hidup dan Pendidikan Perubahan Iklim

· Dukungan pihak-pihak terkait di tingkat lokal untuk Pendidikan Lingkungan Hidup dan Pendidikan Perubahan Iklim di wilayah Padang dan sekitarnya

Saturday, February 06, 2010

Pendidikan di Tanah Papua, Miskin di Tengah Kekayaan Alam

Selama enam hari saya mengadakan perjalanan jurnalistik ke tanah Papua. Sebuah tanah di negeri Timur nun jauh. Berangkat malam pukul 21, dan tiba pagi pukul 8, ada perbedaan waktu 2 jam lebih dahulu di kawasan ini. Dari ujung ke ujung Indonesia memang seluas benua Amerika. Bisa dibayangkan, saya menuju pulau ini sama dengan pergi ke Dubai, delapan jam!



Saya mengunjungi Kampung Dabra yang merupakan bagian dari distrik Mamberamo Hulu, Papua, dengan jumlah penduduk hanya 728 orang. Masih ada kampung lain yang terdekat seperti Papasena I dan II, Kampung Taria dll.

Menjangkau kawasan ini harus menggunakan pesawat kecil milik Yajasi,sebuah penerbangan misionaris yang mengadakan penerbangan rutin di tempat itu. Hanya pesawat yang memungkinkan menembus kawasan ini. Kalau kapal, anda bisa menempuhnya dengan waktu berminggu minggu karena transportasi yang tidak memadai. Barang-barang pun disini mahal bukan main, karena serba diangkut pakai pesawat. Bensin 30 ribu perliter, gula pasir 20ribu per kg, dan luar biasa beras 35ribu/kg! Tapi pemerintah menurunkan raskin yang harganya satu ribu, itu pun kalau ada pesawat mengangkutnya.

Masyarakat Dabra, merupakan masyarat yang masih dalam masa transisi. Dari traditional gatherer atau tradisi pengumpul dengan mencari makan di hutan dan hidup cukup makan hari tersebut atau dua tiga hari dari makanan yang mereka kumpulkan dari hutan, seperti sagu dan umbi-umbian. Tidak banyak orang yang terdidik disini, dari 700 orang 80% masih buta aksara. Ada fasilitas sekolah dan puskesmas tapi guru dan dokter tidak ada! Siswa sekolah tidak tetap, terkadang masuk kadang tidak, satu dua hari masuk, sebulan menghilang ikut orang tuanya kehutan."Mereka bilang mencari makan"

Seorang kepala suku di Dabra, bertutur pada saya, walaupun Mamberamo telah menjadi kapubaten sendiri, tapi perkembangan sangat lambat. Masyarakat kesulitan menghubungi pemerintah dan pengurus kecamatan karena mereka semua berada di Jayapura. Pak Kepala suku menginginkan adanya percepatan dan guru tetap di desanya, tapi ternyata, guru-guru tidak kerasan disebabkan gajih mereka terlambat dibayar. Memenuhi itu Pak guru kadang-kadang harus berbisnis untuk bertahan hidup.

Pemerintahpun sudah berbaik hati membuatkan rumah permanen dengan harapan mereka bisa menjadi orang-orang yang bisa hidup menetap, tidak berpindah pindah. Sudah ada puluhan rumah dibangun, bagus tapi belum berpenghuni..entah kapan mulai dihuni. Conservation International disini memulai hal yang baru, bukan lagi riset dan menghasilkan laporan yang elitis dan akademis tapi memulai denangan pembangunan masyarakatnya. Memulainya dari pendidikan!

Peter Kamarea menuturkan ini adalah tindakan nyata untuk membangun Papua dari bawah. Tidak ada jalan lain, kini sebuah Community Centre didirikan untuk membarikan pelatihan dari pendidikan hingga perbekalan hidup dan demontration plot untuk cara bercocok tanam. Peter melatih masyarakat lokal yang terdidik untuk menjadi, ada 32 guru lokal yang diberikan pelatihan, dan anak anakpun mulai dikumpulkan memulai dengan pengenalan hurup, menggambar dan mewarnai...untuk anak setingkat 3-6 tahun. Saya tertegun dan terharu memperhatikan, bangsa ini ternyata masih ribuan tahun tertinggal dan sekarang masih berupaya untuk bertransisi.

tabik!

Foto foto di Dabra

Sunday, January 24, 2010

Our Common Future --Kuburan Kita Semua

Kerja Bakti? biasa saja setiap hari minggu. Walaupun terkadang jarang jarang ikut serta sebagai warga RT yang baik. Hari minggu cerah ini, diisi dengan kerjabakti. tapi bukan di permukiman manusia hidup, tapi dipermukiman manusia mati, alias di Kuburan masyarakat.

Kober namanya, entah apa singkatannya, mungkin dulu dengan ejaan lama,"Koeboer Bersama". Kelihatannya semua orang di Betawi menyebut kompleks perkuburan menjadi Kober. Ada ratusan orang yang giat kerjabakti sejak jam 8 di RW kami. Sebab memang perkuburan yang letakknya persis di pinggir CIliwung Cawang ini dikelilingi oleh hunian kumuh, RW 02, Cawang.

Kompleks ini telah berjejal jejal dan banyak kuburan yang bertumpuk-tumpuk, sebab yang mati tentunya bukan hanya warga sekitar yang lalu ikut dikubur disitu. Tetapi juga warga jauh-jauh yang merantau dan mati di Jakarta. Bukan orang betawi asli. Mereka orang Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dll. Aku bergidik membayangkan, Jakarta ini sungguh semrawut. Dikubur saja rebutan, apalagi hidup...di Bis kota masih berimpitan, lalu mati pun ternyata begitu pula. Apa yang kau cari di Jakarta? ketika kehidupan penuh dengan kompetisi dan rasa keleluargaan dan sapa menyapa telah pupus. Sulitlah membayangkan.

Benar juga Gus Dur, dia pulang ingin dikuburkan dikampung halamannya. Karena kampung adalah sebuah jati diri dan tidak bisa ditukar dengan apapun.

Aku sering bepergian keluar negeri melihat kuburan yang teratur dan banyak lahan lahan luas disekitarnya. Kuburan dapat menjadi taman, karena disekelilinnya ada nisan yang satu pancang saja, tanpa ada gundukan. Kuburan seharusnya tidak dibuat menakutkan, karena dia adalah masa depan kita semua (our common future). Apalagi kuburan menjadi kumuh dan kotor banyak plastik dan tidak beraturan. Aku lihat arsitektur kuburan tidak pernah ada yang menggarap (atau ada? Kasih tahu saya). Pikir saya, kuburan masyarakat dapat mencerminkan pula nilai peradaban rupayanya tapi ini tentu terkait dengan keyakinan.

Masalahnya kuburan-kuburan yang kutemukan hari ini adalah kuburan yang tidak menyenangkan, penuh sampah dan terlihat sebuah kematian yang tidak dihargai. Disia-siakan, tidak terawat. Cermin ini pula yang menjadi refleksi kehidupan duniawi di Jakarta. Kuburan dikomplek ini ada yang pakai tegel bagus, tapi yang lain compang-camping, nisannya terkapar, pusaranya ditumbuhi jamur dan kapang,kalau tidak limbah plastik menumpuk disamping kanan kirinya. Datanglah sang penjaga kuburan, kalau kita mau jiarah, dia baik hati. menyapu seputar kuburan saja, dibersihkanlah. Orang ini menyapu berputar-putar, menumpuk sampak kekuburan sebelanya. Bayar, 5000. Lalu kita baca doa untuk saudara, bapak, ibu, kakek! Naif sekali. Mudah mudahan ini hanya kompleks kuburan sini saja, dan tidak terjadi diperkuburan lain.

Semrawut di dunia dan di akhirat!

Ternyata cermin dunia akhirat di Jakarta tidak jauh beda. Suatu hari, karena saking penuhnya kuburan, maka dicarilah batas antara. Lalu disitu digali. Kalau tidak dijumpai batas antara, dilihatlah kuburan yang tak pernah dirawat oleh keluarganya. Lalu digusur, karana ada penghuni baru yang mau dikubur. 'Bodo amat' tidak ada sakralnya lagi kuburan orang lain. Soalnya di dunia juga begitu yang terjadi kan? Gusur menggusur kerap terjadi.

Pada akhirnya memang--ketika kurenungkan--manusia semua akan menghadapi masa depan bersama ini. Tinggal nama saja yang dituliskan di nisannya. tinggal nama saja yang ditinggal di sertifikat rumah, ijasah, surat kawin, ktp, paspor. dan kalau memang berjasa, ya jadi pahlawan. Tapi semua jasad tetap masuk tanah, hancur, back to nature.

Inilah rahasia Tuhan paling agung, yaitu kematian. Semua penyakit ada obatnya, semua barang bisa dibeli dengan uang: kekuasaan, harta, wanita, kecantikan, kegantengan... tapi maut tidak! juga tak ada obat untuk orang mati.Semua akan bertanggunjawab atas dirinya sendiri diharapan Al Khaliq, betapa dahsyatnya kehidupan ini kalau tidak diisi dan dimanfaatkan untuk kebaikan?

Sunday, January 10, 2010

Jadi anak sekolahan lagi!

Maafkan saya tidak bisa aktif sebagai blogger yang baik. Sibuk banget dengan kerja sambil kuliah. Atau kuliah sambil kerja. Semester ini, seminggu tiga kali drive bogor Jakarta dengan mobil tua. Jakarta-Darmaga IPB, kampus yang cukup luas, bikin nyasar beberapa kali. Alhamdulilah mobil tua ku ini syukurnya tidak pernah macet karena selalu disayang, pergi ke bengkel rutin. Cuma ya, memang tidak bisa ngebut. Ke Dermaga rata-rata 1-1,5 jam. Kampus IPB adalah kampus yang asri, walaupun tidak seasri kampus di luar negeri. Selain luas di bukit Dermaga, kampus ini masih banyak pohon, jalannya berkelok-kelok, seminggu aku masuk kampus ini, masih nyasar -nyasar kemana mana. Syukurlah ketemu jalan alternatif IPB lewat Belakang, tembus ke CIFOR lalu ke arah Kompleks Yasmin dan Bablas ke Sentul (Jalur Bogor-Sentul) yang baru resmi sebulan yang lalu.

Amat jauh memang,tapi lumayan dekat kalau aku harus meninggalkan Anak anak ke Luar Negeri. Beberapa professor sudah kuhubungi, misalnya Prof Richard Foltz di Concordia, Canada dan Prof Michael Northcot yang menunggu kedatanganku di Edinburgh,UK. Tapi mesti realistis lah, sebab anak anak juga harus sekolah.

Alhamdulillah beberapa waktu lalu, aku diterima di IPB untuk menlanjutkan doktoral. Hanya ingin mengejar Mimpi dan memenuhi kapasitas untuk belajar lagi.

Dua bulan, sejak tahun lalu, masih ditambah kesibukan baru, menjadi panitia untuk persiapan konferensi Muslim Association for Climate Change Action (MACCA) di Bogor. Organisasi payung untuk implementasi M7YAP yang kemarin dibuat di Kuwait, dan di deklarsikan di Istanbul. Tidak mudah memang mengorganisir konferensi besar tanpa dana memadai. MACCA menjadi organisasi idealis yang hanya bermodal jaringan sesama muslim dan perlu perjuangan untuk menyakinkan bahwa program ini sangat menarik dan harus didukung.

Kuncinya tentunya memang keyakinan, bahwa kalau ada kemauan, pasti ada jalan. Apalagi ini aksi lingkungan untuk dunia Muslim, jadi ada unsur perjuangannya juga (saya tak berani ini bilang jihad) tapi pasti ada pengorbanan disini.

Saya berharap banget MACCA dapat menjadi tonggak aksi kawan-kawan dunia muslim untuk memperbaiki lingkungan di negara negara Muslim.

Rencananya dalam Acara 1-2 Maret ini, kegiatan ini juga akan mendeklarasikan Bogor Sebagai salah satu Muslim Green City disamping Madinah Saudi Arabia.

Saturday, December 12, 2009

Kita Diatas Kapal yang Sama


Wawancara dengan Al Jazeera

Sembari menghadiri acara penanaman pohon yang dilaksanakan di Puncak Gunung Salak Sabtu (12/12), diatas ketinggian sekitar 800meter dari permukaan laut. Saya diwawancara oleh Televisi Al Jazeera, wartawannya, Sahaib Jassim memberikan hanya dua pertanyaan terkait dunia Islam dan Perubahan Iklim:

Al- Jazeera: Mengapa umat Islam di dunia harus perduli dengan perubahan iklim?

FM: Dunia Islam merupakan bagian dari masyarakat bumi dan dua pertiga Muslim dari 1.6 miliar ummat Islam di muka bumi berada di Asia Selatan: Bangladesh Sri Langka, India, Indonesia dan bebarapa di Kepulauan Pasifik. Mereka yang sekarang ini—seperti di Indonesia—merasakan dampak perubahan iklim—jadi Umat Islam harus ikut terlibat dalam penanggulangan perubahan iklim. Kedua, umat Islam disuruh untuk memelihara bumi dan tidak boleh membuat kerusakan dimuka bumi:..wala tufsyidu fil arldi ba’da islahiha.., janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya”. Kemudian, memelihara bumi merupakan tugas kekhalifahan seorang muslim. Terlepas dari adanya perubahan iklim, seorang Muslim mempunyai kewajiban dan perduli terhadap kelangsungan hidup dan perbaikan dimuka bumi, ini tugas kekhalifahan selaku Muslim yang mengembang amanah.

Bagaimana dengan pendapat orang yang mengatakan, negara lain tidak perlu membantu karena yang membuat kerusakan adalah mereka sendiri?

Dalam planet yang hanya satu ini, anda tidak bisa menghidar dari perbuatan satu masyarakat, karena semua saling kait mengkait. Bumi ini hanya mempunyai sedikit ekosistem yang baik dan produktif untuk keseimbangan belahan bumi yang lain. Misalnya, negara maju seperti Jepang, memang mampu mempertahankan hutannya. Sekarang mereka mempunyai 69-70 persen hutan alam yang masih bertahan (utuh). Namun, sejak tahun tujuh puluhan negara ini mengimpor kayu dan menebang kayu-kayu di hutan Tropis di Indonesia. Apa yang terjadi kini? Negara itu pun tidak bisa menghindar dari terjadinya perubahan iklim (curah hujan bertambah tinggi di Jepang). Curah hujan bertambah tinggi di negara maju, walaupun mempunyai sistem drainase yang baik tetap akan terjadi banjir. Tahun tujuh puluhan –saya ingat—kapal kapal Jepang membawa gelondongan kayu beratus meter kubik sehari dari Kalimantan. Berpuluh tahun kemudian terjadi pemanasan global, karena ekosistem dan keseimbangan bumi terganggu. Untuk hal seperti ini, anda seharusnya tidak bisa tidur tenang...ini bukan hanya masalah sekarang, juga anak cucu kita yang tidak mempunyai harapan dimasa yang akan datang.


Saya ingin mengingatkan pada sebuah hadist Nabi Muhammad saw. Tentang semua orang yang berada dalam satu kapal. Sebagai sebuah kapal yang mempunyai penumpang dengan berkelas dan bertingkat. Orang yang di dek bagian atas memiliki air dan kemampuan untuk mengatur orang yang ada dibawah. Suatu ketika orang dibawah perahu itu memerlukan air, dan mereka yang dibawah tidak dibantu oleh orang yang mempunyai air diatasnya. Lalu mereka yang dibawah, merasa mempunyai hak dan tidak sabar berupaya melobangi perahu tersebut untuk mendapatkan air.

Apa yang akan terjadi bila orang dibawah perahu membuat lobang dibawah perahu itu? Kapal akan tenggalam. Penumpang kapal mendapat bercana bahkan mati bersama! Kejadian itulah yang sekarang terjadi negara berkembang. Mereka perlu ”air”, ekonomi dan kebutuhan untuk hidup, kami menebangi hutan untuk keperluan hidup. Namun anda tidak mau membantu, mereka untuk menahan laju kerusakan hutan yang sedang dilakukan. Padahal analoginya sama dengan perahu yang dilobangi. Apapun upaya anda sangat terkait dengan kegiatan yang kami lakukan di negara berkembang, kita hanya mempunyai satu planet yang layak untuk dihuni yaitu bumi.


  • Foto-foto kegiatan penanaman pohon di Gn Salak


Tulisan terkait:

Saturday, December 05, 2009

Peresmian Greenfest Bersepeda Ramai ramai

Sabtu pagi (5/12), sudah ramai di Komplek Perumahan Menteri Widya Chandra IV, terutama di rumah Menteri LH yang baru Dr Gusti M Hatta. Aku buru buru dari rumah maksudnya takut ketinggalan, eh rupanya acaranya jam 7.30. Aku jam setengah enam sudah berangkat dari rumah. Gusti Hatta, orangnya sederhana. Pagi pagi beliau keluar dengan celana olahraga dan mencoba dulu salah satu sepeda yang bersusun di depan rumah beliau. " Cuba dulu, sudah lama tidak pakai sepeda," katanya dengan aksen Banjarmasin yang kental.

Saya bawa sepeda sendiri dari rumah. KLH menyediakan sepeda pinjaman dari salah satu merek sepeda terkenal yang menjadi sponsor. Greenfest diselenggarakan untuk membuat kesadaran lingkungan. Display yang dibuat sangat bagus dengan berbagai zona lingkungan yang dapat dipelajari masyarakat awam. Akan sangat sayang bila stand ini dikunjungi dalam dua hari.

Grup Sepeda Ontel berkumpul didepan rumah Mentri LH (kanan)


Apalagi musim hujan begini, pasti banyak peminat yang tadinya mau hadir dan batal. Sayang sekali kalau hanya dua hari. Sedemikian besar tenaga dan ongkos yang dibuang untuk kegiatan besar seperti ini.

Kegiatan ini bekerjasama dengan The Climate Project Indonesia.

Berkunjunglah, setidaknya anda bisa belajar dan sadar lingkungan dengan cara yang fun dan mudah:

Berita terkait:

Sunday, November 08, 2009

Musim Gugur di Calke Abbey


Setelah presentasi di London, saya diboyong teman teman ke Burton Upon

tRENTiga jam perjalanan dari London. Tinggal di kompleks perumahan yang sangat asri dengan lahan yang cukup luas. Dibelakang rumah ada cemetery atau kompleks perkuburan, yang masih jarang penghuninya. Ditumbuhi pepohonan besar, dan menurut Ayyub King, merupakan salah satu kompleks yang dimiliki oleh real estate.

Calke Abbey Park (www.nationaltrust.org.uk/calke), jaraknya hanya 20 menit drive dari rumah kami. Kawasan ini merupakan National Nature Reserve, luasnya hanya 600 acre. Di Indonesia mungkin padanannya bisa berupa Taman Hutan Raya yang fungsinya tidak hanya sebagai paru paru kota, tetapi terbuka untuk umum setiap hari. Bedanya, ada kawasan ini benar benar penuh manfaat. Ada peternakan biri biri yang memang sengaja dibawa oleh pemilik awal kawasan ini sejak abad 18. Bulunya diolah dengan tangan, merupakan produksi khas, ada kandang rusa merah dan fallow deer.

Taman dan kawasan ini tadinya merupakan milik para aristokrat (orang ningrat) inggris yang berkuasa dan berjaya di zaman kolonial. Mereka adalah tuan tanah (landlord), raja raja kecil di negara bagian, dan para gubernur kolonial yang membawa kemakmuran dan kekayaan dari tanah jajahan mereka. Ketika zaman berubah, keturunannya tidak lagi dapat merawat kawasan yang besar ini lalu diserahkan pada lembaga yang namanya ’National Trust’ semacam lembaga khusus yang diberikan kepercayaan oleh mereka yang mempunyai untuk kemudian digunakan oleh kepentingan publik.
”Zaman berubah, semua orang akan dipergilirkan, kini kami bisa menikmati kawasan ini yang tadinya orang dilarang masuk” kata Saba Khalid, istri Fazlun Khalid mengenang.

Ketempat ini, anda bisa mengajak teman, sekedar berjalan jalan melihat dan menikmati pergantian musim. Musim gugur merupakan salah satu musim favorit, ketika suhu berkisar antara 11-13. Sejuk udara, mendukung anda untuk berjalan jauh tanpa mendapat keringat.

Autum atau musim gugur, merupakan musim peralihan yang indah, dimana daun daunan rontok berguguran. Lapangan terhampar luas dengan parkir yang memadai, dilengkapi juga dengan tempat bermain anak anak. Tua muda menikmati musim kesini untuk menghabiskan akhir minggu. Makan di restoran dengen menu khas buatan tangan (hand made), yang disediakan di kompleks tersebut. Tentu saja kalau tidak tahan dingin ruangan ini akan menghangatkan sambil menikmati menu makan siang atau minum teh hangat di sore hari (yang merupakan tradisi Inggris).

Kami berjalan menuju aliran sungai yang ternyata menjadi reservoar kota, menuruni bantaran kali dan berjalan dipinggiran sungai. Disini memang telah tersedia jalan jalan setapak, yang menyediakan kesempatan kemanapun anda bisa mengekplorasi kawasan. Melihat rumah para ningrat (mansion house), termasuk gereja keluarga, tempat merumput biri biri yang tersebar dimana mana. ”Itu pohon oak, yang umurnya bisa ratusan tahun,” kata Fazlun menjelaskan. Sayapun manggut manggunt dan buru buru saya ambil kamera untuk memontret. Pohon ini tidak telalu besar tetapi rindang, dengan percabangan mekar seperti beringin.

Menjelang musim gugur hingga musim dingin, taman yang ada rumah ningrat itu sementara tidak dibuka karena dalam pemulihan dan perawatan.

Kami berbelok kekiri menyebrang bendungan kecil reservoar air yang mengalir ke arah selatan kawasan. Disini dijumpai danau, dan air mengalir ke kawasan lembah yang kemudian mengaliri Stauntin Harold Reservoir. Disitu ada rusa yang dipagar dan kelihatannya tidak terlalu jinak dengan manusia, karena mereka berupaya menjauhi para pengunjung.

Disini tempat yang memand dibiarkan alami, dimana studi ilmiah dapat dilakukan. Juga anda terkadang menemui bebarapa jenis hidupan liar sepanjang tahun. Saya melihat burung crane dan itik liar yang cukup jinak, karena pengunjung tampak bisa memberi makanan pada hewan itu dan mereka berebut makan.

Kami pulang menuju rumah setelah kelelahan berjalan beberapa kilometer, lalu menikmati ’english tea’ yang hangat disore hari.

Tabik!

Charity Dinner yang Meriah

Tidak terbayangkan sebelumnya betapa antusiasnya ternyata warga Muslim di London dengan Charity Dinner yang diadakan oleh IFEES Jumat (6/11) lalu. Walaupun kami datang terlambat karena berputar putar belum mengetahui tempat. Ditambah hujan gerimis mengguyur kota London, sehabit maghrib dengan cuaca dan suhu yang sejuk di musim gugur: peserta perlahan berdatangan sehingga sekitar 90 kursi yang disediakan panitia penuh terisi. Sebagian malah ada yang berdiri. Yang hadir saya lihat 50:50 antara wanita dan pria dari berbagai bangsa yang sangat beragam di London, ada pula non muslim yang tertarik.

Menuju Toynbee Hall ditengah kota London, saya diantar mobil kedutaan RI, bersama Pak Herry Sudrajat Kepala Penerangan KBRI, yang mewakili Dubes HE Yuri Thamrin yang berhalangan hadir.

Sebagai salah satu pembicara, saya menyiapkan presentasi dengan serius. Mengecek bahasa Inggris dengan baik, sampai larut malam dengan bentual Waraqah Andrew William, saya minginap dirumahnya semalam. Karena ini merupakan presentasi adopsi pohon pertama yang saya lakukan di luar negeri. Disamping itu ada juga pembicara lain yaitu Syeikh Hakim Murad, Guru besar teologi dari Islamic Studies di Universitas Cambrigde yang secara sangat baik menerangkan aspek pohon dalam Islam. Ternyata Islam sangat kaya dengan kata yang menyentuh tentang pohon. Salah satunya diceritakan ketika ketika seorang biksu meramalkan, nasib seorang anak yang duduk dibawah pohon padahal usianya baru 12 tahun, ”Tidak ada yang duduk dibawah pohon itu, kecuali dia adalah seorang nabi,” lalu beberapa tahun kemudian perkataan itu terbukti, dialah Nabi Muhammad saw. Dan tentu saja kita mengerti persoalan skandal pohon di sorga yang didekati Adam dan menurunkannya ke bumi.
Sangat menyentuh ketika beliau mengulang ayat, bahwa tujuh lapis langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya adalah bertasbih kepada Allah, termasuk pohon pohon dan semua ciptaanNYA.

Lalu Ayman Ahwal, presentasi tentang proyek sungai (up river stream) yang dia kerjakan di Aceh termasuk juga dalam penanaman pohon.

Sehabis presentasi banyak brother dan sister yang datang menemui saya, bertukar kartu nama, dan baru saya sadar bahwa mereka adalah dari berbagai bangsa. Termasuk dua putri manis manis dari Saudi Arabia, yang memperkenalkan diri dan sangat tertarik dengan presentasi dan menjanjikan kontak untuk hubungan lanjut dalam kerjasama arsitektur hijau, karena saya ceritakan tentang M7YAP tentang Green Hajj dan Muslim Green Cities yang sebentar lagi kita gagas sebagai inisiatif baru kontribusi muslim dalam memulai hidup selaras dengan lingkungan.

Foto bersama Dubes RI di London HE.Yuri Thamrin

Suhu dingin 13 derajat diluar Toynbee Hall, ternyata belum mampu membekukan persahabatan, kehangatan dan antusiasme peserta sesama muslim. Sambil menikmati masakan Indonesia: satu persatu saya tanya, dari manakah mereka? Lebanon, Saudi Arabia, Sri Langka, Bangladesh, Nigeria, Libia, Australia, Jepang, Brunai….London. Keperdulian lingkungan ternyata mempersatukan kami.

Subhanallah...

Link Foto-foto kegiatan ada di Eco Muslim

Windsor Celebration

Bersama Prof Dr Talip Alp, Rector Fatih University Istanbul.
Planet bumi dihuni oleh 80 persen manusia yang percaya pada adanya Tuhan. Dan krisis lingkungan termasuk perubahan iklim dan dampak dari peradaban manusia yang mengancam membuat orang kembali merenungi akan makna kehidupan dan melihat kembali ajaran agama. Di kompleks Kastil Windsor (Windsor Castle), 2-4 November berkumpul tokoh agama dan lingkungan di seluruh dunia. Saya melihat beberapa tokoh kunci agama agama-agama, baik dari akademisi hingga praktisi, dari pejabat walikota hingga masyarakat grass root. Para pemuka agama yang hadir antara lain dari 9 agama: Bahai’s, Buddhis, Kristiani, Tao, Hindu, Yahudi, Muslim, Sinto dan Sikh. Ada pemuka agama Tao seperti Master Xing Zhi Ren, Frather Michael Holman, Jesuit, Archbishop Mokiwa Valentine, President of all Africa Conference of Churches. Bishop Walter S Thomas Snr, New Palmist Baptist Church, Baltimore. Kusum Vyas, Hindu Activist, Rt Revenern Richard Chartres, Bishop of London, Syeikh Ali Gomma, Mufti Agung Mesir, Tahiri Naylor, Baha’I, Rabbi Zalman Shachter-Sholomi.


Ini merupakan follow up dari kegiatan yang dilakukan di masing masing komunitas agama untuk berkomitmen menaggulangi fenomena perubahan iklim dengan membuat rencana-rancana jangka menengah (5-10 tahun) yang difasilitasi oleh UNDP dan ARC.
Bertempat di Harte Garter, beberapa kegiatan dan pertemuan mulai dilakukan. Dari mumulai dari berbagi pendapat tentang , mengapa agama agama peduli (Why we do care? Inspirational Stories from the faiths about protecting the environmet), yang membagi cerita para tokoh agama tentang lingkungan dan keprihatinan mereka.



Mokiwa, misalnya mengemukakan selama 10 bulan, hingga sekarang anak yang baru lahir belum kenal adanya hujan. Kekeringan melanda beberapa kawasan di Tanzania sehingga ternak penduduk banyak mati. Sementara di kawasan Mozambiuque di saat yang sama terjadi banjir besar.

Mastern Xing Zhi Ren, mengemukakan tentang pentingnya kheidupan yang harmonis dengan alam dan lingkungan. Sedangkan Dekila Chugyalpa, dari WWF mempresentasikan kerjanya bersama para bikso di Himalaya dalam bergiat melestarikan lingkungan, menanam pohon dan seterusnya.

Mufti Agung Mesir Syekh Ali Jomaa, mengemukanan—yang diterjemahkan dalambahasa Arab—pesan Al Qur an supaya manusia tidak berbuat kerusakan dimuka bumi setelah Allah memperbaikinya. ”Polusi dan pemanasan global memegang peran bahkan lebih mengancam dibandingkan perang dan menyelamatkan lingkungan merupakan upaya positif agar umat manusia dapat bersatu untuk menghadapinya.

Dipandu Jumoke Fasola
Saya berkesempatan untuk tampil pada hari kedua atas semua aktifitas terkait inisiatif agama dan lingkungan di Indonesia. Ternyata kalau dirunut dan dituturkan tidak cukup juga waktu lima belas menit. Menariknya, presentasi dilakukan dengan sistem wawancara ala celebrity, ditanya langsung diatas stage lalu menceritakan tentang apa mengapa dan bagaimana pekerjaan lingkungan dilakukan di Indonesia. Pemandu wawancaranya adalah Jumoke Fasola, broadcaster BBC London dan juga penyanyi Jazz.

Puncak acara adalah ketika jam 11, semua dialog selesai dan peserta dengan pakaian tradisional masing masing agama, menyebrang dari Hotel Harte &Garter menuju Winsdsor Casstle. Saya sebagai satu satunya ’manusia langka dari Indonesia’ karena Dr Hidayat Nurwahid dan Duta Besar RI tidak bisa hadir, berupaya mewakili wajah Indonesia dengan pakai batik dan peci, walaupun suhu diluar 12 derajat dan berangin ditambah gerimis tentu pakai batik.....hehe tambah dingin aja. Arak arakan di pandu oleh panji panji masing masing agama, alam lomba MTQ di kampung saya..menuju Istana Windsor yang usianya sudah lebih dari 900 tahun. Aroma kerajaan sangat teras ketika memasuki Istana dan balroom Chamber of Watherloo, tempat acara. Segala ornamen klasik, dari perisai yang dingantung didinding hingga memenuhi langit langit, sampai tombak pedang, senapan locok, dan baju perang masih ada terpampang. Sayang tidak boleh memontret ditempat ini. Sedangkan fotographer resmi disediakan.

Acara puncak dihadiri oleh Mr Ban Ki Moon, dan Pangeran Philip yang memberikan sertifikat kepada seluruh pemuka agama untuk upaya mereka membuat perubahan dan perbedaan dalam menghadapi perubahan iklim dengan membuat rencana aksi jangka panjang. Setelah itu perjamuan makan siang dilakukan dengan menu vegetarian yang nikmat.

Wassalam,

Foto-foto resmi Windsor ada di: www.windsor2009.org
Foto-foto kegiatan di Windor dari Facebook

Berita Terkait: The Guardian



Friday, October 23, 2009

350 Berani di UIN Jakarta


Saya melakukan poresentasi pertama kali setelah ikut Training --The Climate Project (TCP) di Mexico kemarin --adalah di Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Jakarta (Jum’at 23 Oktober 2009). Presentasi TCP merupakan sarana penyadaran tentang terjadinya perubahan iklim yang harus diketahui oleh semua orang, tak terkecuali mahasiswa sampai masyarakat awam. Sekitar 200 mahasiswa mengikuti dengan tekun presentasi ini. Terima kasih!

Pemahaman harus dilakukan karena menyangkut persoalan masa depan peradaban manusia yang terancam eksistensinya. Penebalan dinding atmosfer terus berjalan dan terekskalasi. Konsentrasi CO2 di atmonsfer telah mencapai 386 ppmv, sedangkan titik aman ambang batas konsentrasi adalah 350ppm. lihat: www.350.org

Maka tema untuk presentasi ini adalah 350ppm. Kampanye ini dilakukan secara global dan hari ini (24 october 2009) adalah Hari PBB untuk Climate Action, ada berbagai rangkaian acara yang digelar di seluruh dunia.

Presenter dan relawan TCP Indonesia menggelar presentasi di 40 Universitas di tanah air. Saya kebagian di UIN. Senang sekali berbagi pengetahuan bersama mahasiswa, mereka bisa memahami perubahan iklim dan diharapkan dapat merubah perilaku dan kearifan terhadap lingkungan, dari mulai diri sendiri hingga pada tataran mereka sebagai mahasiswa di perguruan tinggi, lalu cita cita dan karir mereka di lingkungan.

Doa saya semoga presentasi ini bermanfaat untuk teman teman ini!
Jangan lupa, kalau mau gabung jadi supporter The Climate Project Indonesia cari di Facebook dan juga twitter.


Wassalam,

BERITA TERKAIT