Sunday, June 20, 2010

Resep Umur Panjang Emil Salim

80 Tahun Emil Salim, hari ini dirayakan oleh banyak kolega dan rekan rekan beliau di Balai Sudirman Jakarta. Berbahagialah Pak Emil Salim, dengan panjang umur dan manfaat umur yang beliau berikan untuk bangsa ini. Tidak terkejut saya melihat sambutan dan antusiasme pada perayaan ulang tahun Emil Salim, dihadiri oleh banyak pejabat dan mantan pejabat, banyak diantaranya para sepuh orde baru, menteri-menteri yang masih panjang umur, seperti --yang tambak oleh saya--Ali Wardhana, Harun Zain, Akbar Tanjung, Subroto dll.

Emil Salim, sosok bersahaja, ilmuwan dan pakar lingkungan dan ekonomi.Penasehat Presiden untuk Lingkungan Hidup. Kebersahajaan itulah membuat beliau selalu didengarkan 'kampanyenya' tentang lingkungan. Hari ini juga, beliau meluncurkan buku: 'Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi'(KOMPAS 2010) kumpulan renungan dan tulisan beliau di berbagai media dan tentunya masih aktual untuk dibaca.

Emil Salim bersama cucu beliau, Daffa, Naya,Dilly dan Jezzie.


Emil memberikan buku itu pada cucunya Delly, Jezzie, Daffa dan Naya orang yang paling dekat dengan beliau, dan kata beliau mengatur jadwal kalau akhir minggu. Bersyukurlah Bangsa Indonesia masih punya orang semacam Emil Salim. Produktif menulis dan kepakarannya dipandang di seluruh dunia.

Dalam usianya yang 80an ini, Pak Emil masih jernih berpikir, mampu berbicara sistematis dan melihat persoalan secara runtut. Beliau tidak berhenti mengajar dan mencurahkan ilmunya untuk penerus dan generasi muda, mau belajar dan mengajarkan sehingga banyak semangat tersentuh olehnya. Itulah resep panjang umur Emil Salim.

Life time Achievement, seluruh hidup beliau tentunya untuk memberikan sumbangan pada perkembangan lingkungan hidup, tentu saja belum selesai. Makanya buku-buku itu diserahkan kepada anak dan cucunya sebagai simbol, penerus perjuangan.

Saya pendatang baru 40 tahun belakangan. Ketika Emil Salim meraih gelar PhD di University of California Berkeley, saya bari lahir (1964!) sebagai orang kampung yang lahir nun jauh di Kalimantan, saya menyempati bertemu beliau dan menyumbangkan essay untuk ulang tahun beliau ke 80. Selamat Ulang Tahun Emil Salim!
wassalam!

Berita Terkait:

Wednesday, June 09, 2010

Tentang Eco Pesantren

Banyak pertanyaan kepada saya tentang ECO Pesantren. Apa dan bagaimana sebenarnya eco pesantren itu? Apakah ada typical ECO Pesantren yang berarti sebuah pesantren dengan wawasan yang ramah lingkungan? Adakah wujudnya, bagaimana bentuknya? Apakah ada standar dan tolok ukur yang dapat dilihat dan diperoleh sehingga Pesantren dapat menjadi sebuah Eco Pesantren.

Saya ingin menjawabnya dengan beberapa diskursus dan alasan karena, sejauh ini --setahu saya--tidak ada standar yang dibuat untuk menetapkan bagaimana sesungguhnya profile sebuah eco pesantren itu.

Sama halnya dengan upaya upaya para aktifis dan pencinta lingkungan yang ingin menghubungkan lembaganya dengan berbagai kegiatan lingkungan dan kecenderungan yang sedang marak, eco pesantren sebenarnya adalah upaya untuk memberikan label (pelabelan) pada lembaga atau institusi tertentu agar bisa menjadi ramah lingkungan. Hal ini terlepas pada penilaian secara objektif apakah jika pesantren --sesukanya--menamakan dirinya Eco-Pesantren, atau Green Boarding School, atau Go Green. Pada tarap ini, tentunya dapat dinilai bahwa pesantren tersebut pada dasarnya sudah punya kegiatan yang terkait lingkungan hidup apa pun jenisnya. Ini tentunya positif, karena dalam strategi kampanye lingkungan ada lima tingkat perubahan perilaku.

Doppelt (2008) merumuskan tentang perubahan perilaku (behavioral change) untuk mengukur tingkat kesadaran dalam lingkungan dengan asas 5 D:

1. Disinterest
2. Deliberation
3. Desingn
4. Doing
5. Defending

Minimal mereka yang memberikan label, Pesantren Ramah Lingkungan (Eco Pesantren) mereka adalah pada tahap berbuat: Doing, --Tahap "Saya berubah" dan Depending (saya telah berbuat dan terus melakukan).

Jadi kalau dipakai tolok ukur tersebut, banyaklah yang dapat diinventarisir dari kegiatan pesantren yang ramah lingkungan (eco-pesantren). Pesentren adalah suatu sistem pendidikan khas Muslim di Indonesia yang biasanya mengutamakan kemandirian. Mengolah sumber daya yang ada dan bahkan dapat menjadi pelopor dan trigger bagi masyarakat yang ada disekitarnya. Komponen inti pesantren adalah: Ustazd (Kiyai), Masjid, Santri dan pondok. Pondok bermakna bisa saja asrama atau boarding. Jadi pesantren tidak mesti ada kelas, kelas mereka adalah di masjid, sebagaimana pengajaran awal Islam. Kemudian madrasah muncul--disamping masjid-- pada saat khalifah Islamiah berjaya.

Disamping tipologi pesantren yang ber aneka ragam, dari salafiah, khalafiah hingga campuran keduanya (menurut kategori Departemen Agama). Ada pesantren yang hanya berbasis pada pengajaran teks, Al Qur an, tafsir, hadist dan kitab salafi (klasik), sekarang ini --untuk memenuhi kehendak zaman, pesantren menggunakan Kurikulum Departemen Agama yang distandarkan gabungan antara pengajaran pesantren dan kurikulum pendidikan nasional.

Hemat saya banyak hal yang bisa dipenuhi untuk menuju pada eco pesantren yang sesungguhnya, bukan hanya sekolah yang bersih, tetapi pesantren mesti by desingn menetapkan visi dan misi lingkungan atau pembangunan berkelanjutan dalam wadah pesantren dan kegiatan kehidupan mereka.

Sekarang ini banyak bertebaran contoh pesantren yang tengah berubah setidaknya berupaya pada tahap 'desingn' mereka menginkan hidup berwawasan lingkungan. Karena itulah Pemerintah Menyambut kegiatan ini dengan membuat trigger dan dorongan sehingga diresmikannya program Eco Pesantren oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

Beberapa pesantren dibawah ini kesan saya adalah merupakan tipical eco-pesantren atau yang sedang berkembang kearah tersebut:



Tabik!




Friday, May 28, 2010

200 Kahmi members join climate change training




In an effort to foster awareness about the global phenomenon, the Association of Islamic Students Alumni (Kahmi) hosted a one-day educational seminar on climate change that was attended by about 200 of its members Thursday.

The participants were obliged to communicate their knowledge on climate change to at least five groups of communities over the next year.

“You are the agents for change to improve the environment. Climate change is very real and has caused unpredictable weather patterns in Indonesia,” Kahmi chairman Abidinsyah Siregar told the participants.

Abidinsyah, who is a medical doctor, said the spread of diseases was greatly influenced by climate change.

“The endemic of malaria now is hitting almost all provinces in the country. Temperature increases are quickening the spread of the disease,” he said.

The one-day training seminar was organized jointly by Kahmi, the National Council on Climate Change and Climate Project Indonesia and provided by four TCPI presenters – Armi Susandi, Nana Fitrian Firman, Fachruddin Majeri Mangunjaya and Dicky Edwin Hindarto.



“We need to change our behavior and lifestyles to tackle climate change,” said Armi, who is a lecturer at the Bandung Technology of Institute.

by Adianto P. Simamora, The Jakarta Post, Jakarta | Thu, 05/20/2010 6:19 PM | National

Saturday, April 24, 2010

Kebijakan Pro Lingkungan


Berikut ini rekaman Talkshow Hari Bumi 22 April 2010, yang diselenggarakan oleh OREI, SOCP, Kehati dan Partners. Walaupun ini diselenggarakan di Gedung MPR DPR Senayan, saya sangat kecewa karena peserta tidak banyak hadir, termasuk Anggota DPR terhormat mungkin karena terlampau sibuk.

selamat menikmati!

The Grand Training, Connector Climate Project Indonesia

Sungguh mengharukan antusiasme aktifis Indonesia yang sadar lingkungan. Hari ini Sabtu, 24 April 2010) training grand connector The Climate Project Indonesia (TCPI) dipenuhi oleh peminat yang datang dari berbagai sudut tanah air, sekitar 250 orang hadir terseleksi dari 1500 peminat. Saya kira ini adalah semangat yang baik dan penuh ketulusan, sebab kita semua memang merasa khawatir akan masa depan planet ini dan harus segencar mungkin merubah gaya hidup dan mengkampanyekan perubahan iklim. Pesertanya dari Ibu Rumah Tangga hingga professional, anak SMP hinggi Guru Besar.

Pertama kali bagi saya mengenal beberapa Presenter TCPI yang lain, sebab saya adalah anggota no 54 dari 53 presenter yang lebih dahulu di training di Asia Pasific, jadi saya new kid on the block, karena menyusul para senior yang training dan mengikuti training oleh AL GOre di Mexico City tahun 2009.

Pelatihan ini menampilkan trainers dan Presentasi sangat menarik dan diberikan oleh mereka yang mumpuni untuk memberikan pelatihan, seperti Dr Armi Susandi, yang disebut sebagai Al Gore nya Indonesia, Suzy Hutomo Praktisi sekaligus Business lady, Nana Firman dan Ibu Mia Juliana tentang cara meyakinkan para skeptice, Charles Bonar Sirait, ahli public speaking soal presentasi di depan orang banyak dll.

Tidak kalah menariknya training ini bersifat informal namun disediakan package gratis untuk para konektor termasuk USD, Rompi, dan bahan bahan presentasi. Pengantar ucapan selamat diucapkan oleh Jeanne Clad melalui tayangan video. Jadi cara ini sungguh efisien dilakukan karana sangat membantu memberikan semangat bahwa training ini benar benar dilakukan dengan network mendunia. Jadi semua peserta tidak bekerja sendiri, ini merupakan gerakan dari 7000.000 presentasi yang telah tersentuh oleh metode Al Gore dengan The Climate Projectnya, dan mengikut sertakan 3000 presenter yang telah ditraining oleh Gore.

Semoga ini membawa hikmah dan keuntungan untuk semua.

tabik!

Friday, April 16, 2010

Nagari Malalo, Fazlun Khalid dan Metro TV

Sebelas orang tokoh adat dan ulama yang berasal dari Guguak Malalo dan Pakan Rabaa, di Padang Panjang, Sumatera Barat, bergabung untuk pelatihan tentang Islamic Environmentalism Ethic yang dipandu oleh Hajj Fazlun Khalid. Sungguh beruntung mereka ini, tapi tentunya juga saya. Fazlun mengembangkan methode ini selama 25 tahun dan sekarang usia beliau adalah 77 tahun. Sidi Fazlun, begitu kami memanggilnya di UK, merupakan orang yang merintis Islamic Environmentalism dan terinspirasi dari pemikiran Seyyed Husain Nasr. Saya jadi ingat komentar Syech Saggaf, Pimpinan Pesantren Nurul Iman Parung, ketika melihat metode ini diajarkan di Pesantrennya, ahli tafsir tersebut menyebutnya, ini tokoh unik dan ajaib. Beliau mampu menterjemahkan sains dalam hal praktis dan mengintegrasikan pesan al Qur'an. Syech Saggaf bilang, dia "Wali." Metodenya sungguh unik, oleh karena itulah buku-bukunya saya terjemahkan.



Metodologi TOT ini terbukti kini mulai berhasil menggerakkan posisi Islam dan Gerakan Lingkungan di Indonesia. Beberapa literatur yang saya tulis adalah mengacu pada pemikiran beliau.
Disamping antusiasme Fazlun untuk beberapa kali datang ketempat ini, beliau sungguh senang dengan kegiatan di lapangan dan bergerak ke akar rumput. "Konferensi penting. Tapi, saya lebih senang dengan aksi lapangan karena ini yang akan memberikan kontribusi signifikan dan akan bisa merubah keadaan," katanya, ketika saya undang untuk memberikan ceramah sebagai salah satu Key Note Speaker dalam konferensi 9-10 April di Bogor.

Fazlun Khalid mempunyai reputasi dunia dalam membela kelestarian lingungan melalui pendekatan tradisi dan agama. Dan dikenal sebagai salah satu dari 15 eco theologian dunia. Dia masuk dalam Independent list sebagai salah satu dari 100 environmentalist terbaik Inggris tahun 2008.


Sekali lagi, di Padang, datuk dan ninik mamak, dan tokoh adat, serta ulama ini sungguh beruntung. Mungkin saja tidak mereka sadari keberuntungan ini. Tapi lebih dari itu, saya berharap proyek ini bisa berhasil sebagaimana proyek di Memba, Afrika yang mengadakan pendekatan yang sama.


Green Lifestyle Metro TV




Sepulang dari padang (Kamis, 15/4), kami mendapatkan kehormatan untuk menjelaskan kepada publik tentang kaitan Islam dan Lingkungan, di Metro TV dalam talkshow Green Lifestyle. Sidi Fazlun banyak menjelaskan keterkaitan Islam dan lingkungan, dan saya banyak menjelaskan tentang kegiatan konferensi Muslim and Climate Change Action. walaupun waktu terasa pendek, syukurlah apa yang kami lakukan mendapatkan perhatian publik dan media.


Tabik!



Tulisan-tulisan Fazlun Khalid:

Guard of Natural Order

Islam and Environment ( Encyclopedia of Global Env Change)


Tahniah untuk First International Conference: Muslim action on climate change

Akhirnya jadi juga dan, akhirnya selesai juga. Selama dua hari, Alhamdulillah sejak tanggal 9-10 April penyelenggaraan First Muslim Conference on Climate Change Action di Bogor, berjalan dengan baik. tercatat enam belas Negara yang mendaftar dalam konferensi muslim ini, seperti Malaysia, Indonesia (tuan rumah), Jordania, Mesir, Inggris, Jepang, Amerika, Madagaskar, Filipina, Australia, Maroko, Uzbekistan, Bangladesh, Zimbabwe dan Spanyol. Namun sampai detik terakhir hanya 13 yang hadir, tiga Negara terakhir tidak datang, Bagladesh, sudah membeli tiket dan mendapatkan dari visa dari KBRI Dacca, tetapi tertahan di Imigrasi yang urusannya sangat tidak professional dan berbelit-belit. Sorry brother kami tidak bisa menghadirkan ANDA!

Walaupun dengan penyelenggaraan yang tertunda tunda karena masalah teknis, kami berupaya konferensi ini tetap jalan. Sebab ini adalah pertama kali dilakukan khususnya (mungkin) untuk dunia Muslim. Terlihat antusiasme yang luar biasa para participant yang terlibat. Hingga hari kedua, peminat masih memenuhi seluruh ruangan. Sesi parallel pun demikian. Di bagian B, tentang green city and low carbon development tidak kalah menarik perhatian. Hingga ada peserta berdiri karena tidak kebagian bangku.

Saya sebagai salah satu penyelenggara kegiatan ini sungguh bersyukur, walaupun tampak kekurangan disana sini, tentunya itu suatu yang biasa. Dan harus diketahui, bahwa konferensi ini benar-benar diselenggarakan dengan pendanaan patungan dan atas asas sukarela dari mereka yang tertarik melibatkan diri baik sebagai supporter maupun partners. Mereka adalah: British Council, Islamic University League, World Muslim Academy of Science, Bakriland, BNI,BPPT, CI, Kehati, The Climate Project Indonesia, Republika, Muhammadiyah, Pemerintah Kota Bogor, DNPI, KLH dan Departemen Kehutanan. Tentu saja, selain tidak dipungut bayaran, kelas participant pun bervariasi, dari professional lingkungan, pejabat, mahasiswa S3, activist, pimpinan pesantren, universitas hingga organisasi majlis ta’lim. Mereka adalah orang-orang yang bekerja dan mempunyai aksi di lapangan baik secara langsung maupun tidak. Panitia terutama tim perumus adalah mereka yang professional seperti Prof Amany Lubis dan Dr Mubariq Ahmad, hingga detik terakhir penuh mendedikasikan diri pada perhelatan ini. Jadi anda bisa membayangkan kualitas pertemuan ini mudah-mudahan sangat bermutu.



Green City of Bogor
Konferensi ini memang benar-benar gerakan civil society Muslim, dan tidak terikat pada Negara anggota OKI. Sebagai gerakan grass root rekomendasi rencananya akan disampaikan juga kepada Kantor Pusat OKI atau Organization of Islamic Conference (OIC). Bogor menjadi green city tapi ini tidak berhenti sekarang. Kami akan berupaya mewujudkan membantu program ini hingga lima tahun kedepan, karena ini deklarasi yang ditanda tangani adalah Recognitioan and Support for Bogor as Green City. Bogor sebenarnya sudah punya peraturan ke arah ini, namun perlu penyempurnaan dan dukungan dan isya Allah dukungan akan berdatangan untuk mewujudkan hal ini.
Tabik!

Related News :
  • Inspirasi dari Nabi Yusuf (Republika)
  • A Different Kind of Green
  • World Muslim Seeking Action for Climate Change (the Jakarta Post)
  • Perlu Aksi Nyata (Republika)
  • Bogor ditetapkan sebagai kota hijau

Saturday, March 20, 2010

Guguak Malalo

Rasanya tidak ada sudut bumi yang kosong dari penguasaan manusia. Dari Barat ke timur dari kedalaman laut hingga puncak gunung yang tinggi, di negeri ini sudah pernah kukunjungi. Orangnya ada! Inilah yang kami lihat di Bukit Danau Singkarak, Nagar Guguak Malalo. Beberapa kilometer nun jauh diatas danau singkarak.

Minggu lalu (13-16 Maret) bersama kawan kawan lain kami mengadakan Lokalatih untuk guru di Padang. Pelatihan ini merupakan kerjasama antara Darwin Initiative (DI), FFI, British Council dan CI Indonesia. Topiknya seputar Integrating religion within conservation: Islamic beliefs and Sumatran forest management: “Menyelamatkan Hutan Sumatera Barat dari Kerusakan Lingkungan & Perubahan Iklim dalam sudut Pandang Islam”



Para peserta adalah guru-guru sekolah menengah atas dan kejuruan yang mewakili sekolah-sekolah beragama Islam di daerah perkotaan (Padang) dan pedalaman (di luar Padang, sebisa mungkin yang mewakili daerah rural seperti daerah pertanian, pegunungan, sekitar hutan dll).

Pendekatan agama (Islam) akan dirasakan sangat penting pada tingkat implementasi dan akar rumput bagi komunitas muslim yang teguh seperti di Padang. Tidak ada jaminan bahwa kesadaran akan tumbuh tanpa upaya untuk menggerakkan hati dan pikiran mereka. Hati dan pikiran hanya dapat disentuh dengan agama, atau apa yang mereka yakini. Dan salah satu upaya itu adalah mengingatkan bahwa dalam Al Qur'an, Allah swt menyebutkan bahwa semesta--termasuk bumi-- diciptakanNya secara seimbang (maujuunin). Sehingga kata al Mizan (keseimbangan), yang berasal dari kata M Z N, mizan, atau neraca muncul dalam beberapa ayat dalam Al Qur'an.

Lokalatih ini menyungguhkan kata kunci,bahwa Tuhan adalah Pencipta, dan manusia diwajibkan menjada dan memelihara ciptaaNya itu sebagai sebuah amanah. Fazlun Khalid menyebutkan kata khalaq (al-Khaliq), Allah sebagai pencipta, dengan segala derivasinya muncul sebanyak 261 ayat dalam kitab suci umat Islam itu.

Setelah pelatihan, kami mengunjungi Nagari Guguak Malalo, Sumatra Barat, yang akan dijadikan kawasan pilot implementasi kearifan islam terhadap pelestarian hutan dan alam ini. Nagari ini terletak di pinggiran Danau Singkarak, dengan pemandangan yang sangat menakjubkan. Masyarakat di sini, tahun 2000 pernah terhantam galodo yang dahsyat sehingga menewaskan beberapa puluh orang. Dan saya menjadi diingatkan peristiwa 9-10 tahun yang lalu itu, karena audiensi dengan penduduk nagari dan ketua nagari diadakan di balai nagari yang sama --tidak berubah--ketika kami memberikan bantuan logistik untuk meringankan beban karena bencara tersebut.

Insya Allah, proyek ini adalah pelengkap dan menjadi instrumen yang menarik dalam upaya mendekatkan ajaran Islam pada perawatan dan pemeliharaan alam dan lingkungan. Budaya Minangkabau dangan adat basandi Syara, dan basandi Kitabullah, sangat pastilah sangat sesuai dengan ruh dan semangat yang dibahas dalam lokalatih ini. Berikut ini saya kutipkan beberapa kaitan dengan tujuan dan hasil yang diinginkan dari lokalatih ini:


Tujuan Kegiatan

· Memberikan pemahaman dan pengetahuan tentang pendidikan pelestarian lingkungan hidup dan perubahan iklim

· Memberikan pengayaan pengetahuan kepada guru tentang upaya pelestarian lingkungan hidup dan perubahan iklim dalam tinjauan dan nilai-nilai Islam.

· Meningkatkan keterampilan guru dalam menyampaikan pembelajaran pendidikan pelestarian lingkungan hidup dan perubahan iklim untuk diterapkan di sekolah.

· Melatih guru untuk menggunakan materi tentang pelestarian lingkungan hidup dan perubahan iklim untuk mengajar di dalam dan di luar kelas


Hasil yang Diharapkan

· Guru memiliki pemahaman yang kokoh dan utuh tentang metode, teknik, serta materi pembelajaran pendidikan pelestarian lingkungan hidup dan perubahan iklim.

· Guru memiliki pengetahuan yang lebih kaya dan terarah untuk menyampaiakan pendidikan pelestarian lingkungan hidup dan perubahan iklim dengan memadukan nilai nilai Islam ke dalam materi pembelajaran di sekolah.

· Guru memiliki keterampilan yang relevan dalam menyampaikan pembelajaran lingkungan hidup dan perubahan iklim di sekolah dengan mengacu pada kurikulum tingkat satuan pendidikan yang berlaku.

· Terbentuknya jejaring guru untuk Pendidikan Lingkungan Hidup dan Pendidikan Perubahan Iklim

· Dukungan pihak-pihak terkait di tingkat lokal untuk Pendidikan Lingkungan Hidup dan Pendidikan Perubahan Iklim di wilayah Padang dan sekitarnya

Saturday, February 06, 2010

Pendidikan di Tanah Papua, Miskin di Tengah Kekayaan Alam

Selama enam hari saya mengadakan perjalanan jurnalistik ke tanah Papua. Sebuah tanah di negeri Timur nun jauh. Berangkat malam pukul 21, dan tiba pagi pukul 8, ada perbedaan waktu 2 jam lebih dahulu di kawasan ini. Dari ujung ke ujung Indonesia memang seluas benua Amerika. Bisa dibayangkan, saya menuju pulau ini sama dengan pergi ke Dubai, delapan jam!



Saya mengunjungi Kampung Dabra yang merupakan bagian dari distrik Mamberamo Hulu, Papua, dengan jumlah penduduk hanya 728 orang. Masih ada kampung lain yang terdekat seperti Papasena I dan II, Kampung Taria dll.

Menjangkau kawasan ini harus menggunakan pesawat kecil milik Yajasi,sebuah penerbangan misionaris yang mengadakan penerbangan rutin di tempat itu. Hanya pesawat yang memungkinkan menembus kawasan ini. Kalau kapal, anda bisa menempuhnya dengan waktu berminggu minggu karena transportasi yang tidak memadai. Barang-barang pun disini mahal bukan main, karena serba diangkut pakai pesawat. Bensin 30 ribu perliter, gula pasir 20ribu per kg, dan luar biasa beras 35ribu/kg! Tapi pemerintah menurunkan raskin yang harganya satu ribu, itu pun kalau ada pesawat mengangkutnya.

Masyarakat Dabra, merupakan masyarat yang masih dalam masa transisi. Dari traditional gatherer atau tradisi pengumpul dengan mencari makan di hutan dan hidup cukup makan hari tersebut atau dua tiga hari dari makanan yang mereka kumpulkan dari hutan, seperti sagu dan umbi-umbian. Tidak banyak orang yang terdidik disini, dari 700 orang 80% masih buta aksara. Ada fasilitas sekolah dan puskesmas tapi guru dan dokter tidak ada! Siswa sekolah tidak tetap, terkadang masuk kadang tidak, satu dua hari masuk, sebulan menghilang ikut orang tuanya kehutan."Mereka bilang mencari makan"

Seorang kepala suku di Dabra, bertutur pada saya, walaupun Mamberamo telah menjadi kapubaten sendiri, tapi perkembangan sangat lambat. Masyarakat kesulitan menghubungi pemerintah dan pengurus kecamatan karena mereka semua berada di Jayapura. Pak Kepala suku menginginkan adanya percepatan dan guru tetap di desanya, tapi ternyata, guru-guru tidak kerasan disebabkan gajih mereka terlambat dibayar. Memenuhi itu Pak guru kadang-kadang harus berbisnis untuk bertahan hidup.

Pemerintahpun sudah berbaik hati membuatkan rumah permanen dengan harapan mereka bisa menjadi orang-orang yang bisa hidup menetap, tidak berpindah pindah. Sudah ada puluhan rumah dibangun, bagus tapi belum berpenghuni..entah kapan mulai dihuni. Conservation International disini memulai hal yang baru, bukan lagi riset dan menghasilkan laporan yang elitis dan akademis tapi memulai denangan pembangunan masyarakatnya. Memulainya dari pendidikan!

Peter Kamarea menuturkan ini adalah tindakan nyata untuk membangun Papua dari bawah. Tidak ada jalan lain, kini sebuah Community Centre didirikan untuk membarikan pelatihan dari pendidikan hingga perbekalan hidup dan demontration plot untuk cara bercocok tanam. Peter melatih masyarakat lokal yang terdidik untuk menjadi, ada 32 guru lokal yang diberikan pelatihan, dan anak anakpun mulai dikumpulkan memulai dengan pengenalan hurup, menggambar dan mewarnai...untuk anak setingkat 3-6 tahun. Saya tertegun dan terharu memperhatikan, bangsa ini ternyata masih ribuan tahun tertinggal dan sekarang masih berupaya untuk bertransisi.

tabik!

Foto foto di Dabra

Sunday, January 24, 2010

Our Common Future --Kuburan Kita Semua

Kerja Bakti? biasa saja setiap hari minggu. Walaupun terkadang jarang jarang ikut serta sebagai warga RT yang baik. Hari minggu cerah ini, diisi dengan kerjabakti. tapi bukan di permukiman manusia hidup, tapi dipermukiman manusia mati, alias di Kuburan masyarakat.

Kober namanya, entah apa singkatannya, mungkin dulu dengan ejaan lama,"Koeboer Bersama". Kelihatannya semua orang di Betawi menyebut kompleks perkuburan menjadi Kober. Ada ratusan orang yang giat kerjabakti sejak jam 8 di RW kami. Sebab memang perkuburan yang letakknya persis di pinggir CIliwung Cawang ini dikelilingi oleh hunian kumuh, RW 02, Cawang.

Kompleks ini telah berjejal jejal dan banyak kuburan yang bertumpuk-tumpuk, sebab yang mati tentunya bukan hanya warga sekitar yang lalu ikut dikubur disitu. Tetapi juga warga jauh-jauh yang merantau dan mati di Jakarta. Bukan orang betawi asli. Mereka orang Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dll. Aku bergidik membayangkan, Jakarta ini sungguh semrawut. Dikubur saja rebutan, apalagi hidup...di Bis kota masih berimpitan, lalu mati pun ternyata begitu pula. Apa yang kau cari di Jakarta? ketika kehidupan penuh dengan kompetisi dan rasa keleluargaan dan sapa menyapa telah pupus. Sulitlah membayangkan.

Benar juga Gus Dur, dia pulang ingin dikuburkan dikampung halamannya. Karena kampung adalah sebuah jati diri dan tidak bisa ditukar dengan apapun.

Aku sering bepergian keluar negeri melihat kuburan yang teratur dan banyak lahan lahan luas disekitarnya. Kuburan dapat menjadi taman, karena disekelilinnya ada nisan yang satu pancang saja, tanpa ada gundukan. Kuburan seharusnya tidak dibuat menakutkan, karena dia adalah masa depan kita semua (our common future). Apalagi kuburan menjadi kumuh dan kotor banyak plastik dan tidak beraturan. Aku lihat arsitektur kuburan tidak pernah ada yang menggarap (atau ada? Kasih tahu saya). Pikir saya, kuburan masyarakat dapat mencerminkan pula nilai peradaban rupayanya tapi ini tentu terkait dengan keyakinan.

Masalahnya kuburan-kuburan yang kutemukan hari ini adalah kuburan yang tidak menyenangkan, penuh sampah dan terlihat sebuah kematian yang tidak dihargai. Disia-siakan, tidak terawat. Cermin ini pula yang menjadi refleksi kehidupan duniawi di Jakarta. Kuburan dikomplek ini ada yang pakai tegel bagus, tapi yang lain compang-camping, nisannya terkapar, pusaranya ditumbuhi jamur dan kapang,kalau tidak limbah plastik menumpuk disamping kanan kirinya. Datanglah sang penjaga kuburan, kalau kita mau jiarah, dia baik hati. menyapu seputar kuburan saja, dibersihkanlah. Orang ini menyapu berputar-putar, menumpuk sampak kekuburan sebelanya. Bayar, 5000. Lalu kita baca doa untuk saudara, bapak, ibu, kakek! Naif sekali. Mudah mudahan ini hanya kompleks kuburan sini saja, dan tidak terjadi diperkuburan lain.

Semrawut di dunia dan di akhirat!

Ternyata cermin dunia akhirat di Jakarta tidak jauh beda. Suatu hari, karena saking penuhnya kuburan, maka dicarilah batas antara. Lalu disitu digali. Kalau tidak dijumpai batas antara, dilihatlah kuburan yang tak pernah dirawat oleh keluarganya. Lalu digusur, karana ada penghuni baru yang mau dikubur. 'Bodo amat' tidak ada sakralnya lagi kuburan orang lain. Soalnya di dunia juga begitu yang terjadi kan? Gusur menggusur kerap terjadi.

Pada akhirnya memang--ketika kurenungkan--manusia semua akan menghadapi masa depan bersama ini. Tinggal nama saja yang dituliskan di nisannya. tinggal nama saja yang ditinggal di sertifikat rumah, ijasah, surat kawin, ktp, paspor. dan kalau memang berjasa, ya jadi pahlawan. Tapi semua jasad tetap masuk tanah, hancur, back to nature.

Inilah rahasia Tuhan paling agung, yaitu kematian. Semua penyakit ada obatnya, semua barang bisa dibeli dengan uang: kekuasaan, harta, wanita, kecantikan, kegantengan... tapi maut tidak! juga tak ada obat untuk orang mati.Semua akan bertanggunjawab atas dirinya sendiri diharapan Al Khaliq, betapa dahsyatnya kehidupan ini kalau tidak diisi dan dimanfaatkan untuk kebaikan?

Sunday, January 10, 2010

Jadi anak sekolahan lagi!

Maafkan saya tidak bisa aktif sebagai blogger yang baik. Sibuk banget dengan kerja sambil kuliah. Atau kuliah sambil kerja. Semester ini, seminggu tiga kali drive bogor Jakarta dengan mobil tua. Jakarta-Darmaga IPB, kampus yang cukup luas, bikin nyasar beberapa kali. Alhamdulilah mobil tua ku ini syukurnya tidak pernah macet karena selalu disayang, pergi ke bengkel rutin. Cuma ya, memang tidak bisa ngebut. Ke Dermaga rata-rata 1-1,5 jam. Kampus IPB adalah kampus yang asri, walaupun tidak seasri kampus di luar negeri. Selain luas di bukit Dermaga, kampus ini masih banyak pohon, jalannya berkelok-kelok, seminggu aku masuk kampus ini, masih nyasar -nyasar kemana mana. Syukurlah ketemu jalan alternatif IPB lewat Belakang, tembus ke CIFOR lalu ke arah Kompleks Yasmin dan Bablas ke Sentul (Jalur Bogor-Sentul) yang baru resmi sebulan yang lalu.

Amat jauh memang,tapi lumayan dekat kalau aku harus meninggalkan Anak anak ke Luar Negeri. Beberapa professor sudah kuhubungi, misalnya Prof Richard Foltz di Concordia, Canada dan Prof Michael Northcot yang menunggu kedatanganku di Edinburgh,UK. Tapi mesti realistis lah, sebab anak anak juga harus sekolah.

Alhamdulillah beberapa waktu lalu, aku diterima di IPB untuk menlanjutkan doktoral. Hanya ingin mengejar Mimpi dan memenuhi kapasitas untuk belajar lagi.

Dua bulan, sejak tahun lalu, masih ditambah kesibukan baru, menjadi panitia untuk persiapan konferensi Muslim Association for Climate Change Action (MACCA) di Bogor. Organisasi payung untuk implementasi M7YAP yang kemarin dibuat di Kuwait, dan di deklarsikan di Istanbul. Tidak mudah memang mengorganisir konferensi besar tanpa dana memadai. MACCA menjadi organisasi idealis yang hanya bermodal jaringan sesama muslim dan perlu perjuangan untuk menyakinkan bahwa program ini sangat menarik dan harus didukung.

Kuncinya tentunya memang keyakinan, bahwa kalau ada kemauan, pasti ada jalan. Apalagi ini aksi lingkungan untuk dunia Muslim, jadi ada unsur perjuangannya juga (saya tak berani ini bilang jihad) tapi pasti ada pengorbanan disini.

Saya berharap banget MACCA dapat menjadi tonggak aksi kawan-kawan dunia muslim untuk memperbaiki lingkungan di negara negara Muslim.

Rencananya dalam Acara 1-2 Maret ini, kegiatan ini juga akan mendeklarasikan Bogor Sebagai salah satu Muslim Green City disamping Madinah Saudi Arabia.