Monday, October 04, 2010

Bogor 1962

Satu lagi saya mendengar kesaksian bahwa suhu di beberapa tempat dan daerah memang telah nyata berubah. Kemarin (4/10) saya mengikuti kuliah Prof Hadi Alikodra yang telah tinggal selama lebih dari 40 tahun di Bogor. Beliau menceritakan bagaimana kondisi kota Bogor yang asri pada tahun 1960 hingga 1970an. "Kalau berangkat pagi harus pakai jaket," beliau menuturkan, "Itu saking dinginnya".

"Rumah di Bogor, kala itu tidak ada yang pakai AC".

Kuliah kami adalah Etika Moral Konservasi yang hanya diikuti oleh 4 orang. Tapi professor Hadi mengharapkan dari sini akan timbul inisiatif dan perubahan. Kami semua memang sambil tertawa ketir-ketir, membicarakan fenomena perubahan iklim di ruang kampus yang kecil dengan ruangan ber AC di Fakultas Kehutanan, Bogor. Kampus Fakultas kehutanan, memang penuh hutan-dibawah nenaungan pohon pohon hutan. Itulah asyiknya kuliah disini.

Tapi, ya tapi! sekarang panasnya bukan main, kalau memasuki ruangan kuliah, sekira jam 10-11, lorong memasuki koridor perkuliahan, mungkin karena pengaruh pohon diluarnya, lalu menjadi lembab. Hari ini memang berbeda, yang menurut Prof Hadi ada perubahan sekitar 4 derajad selsius dengan memukul tidak rata. Dulu --1962--suhu ruangan rata-rata 26-27, sekarang jadi 30-31 derajad selsius. Kesejukan di Bogor sudah musnah! Kondisi seperti ini, anda dapat rasakan kalau berada di Puncak Pas, pada hari ini.

Satu hal yang bertahan di bBogor, yaitu, ujan setiap hari. Jawab asal asalannya adalah karena kalau tidak hujan, maka siapa yang menyiram Kebun Raya Bogor?

Tapi tidak juga memang ternyata kontur Bogor yang tampas terjaga lembah Gunung Salak lah yang menyebabkan kota ini selalu hujan. Tapi sekitar Juni -Juli semester lalu, Bogor tidak hujan berminggu minggu, sehingga danau di tengah Kampus IPB menjadi setengah kering.

Duren Parung
Kelelawar atau kalong yang ada di Kebun Raya Bogor, tahun 70an setiap sore dan musim durian, akan terbang ke arah parung. Mereka terbang kesana untuk menyerbuk buah durian yang tinggi tinggi dan tumbuh lebat di kawasan Parung hingga Condet.

Anak cucu kelelawar itu, sekarang yang tinggal tersisa di Kebun Raya, tidak lagi bisa menikmati seperti kakek buyutnya, menikmati bunga durian berwarna putih yang mekar malam hari. Mereka berputar putar merebut nectar yang ada disekitar kebun raya saja. Tidak lagi jalan keluar kebun raya, karena pohon pohon besar di luar kebun raya telah musnah dan tak ada.

Friday, July 02, 2010

The Climate Project Grand Training di Nashville

Keramaian di sekitar Broadway street Nashville

Berkunjung ke Nashville negeri music country. Dari tanggal 24 hingga 30 Juni menyertai rombongan Pelatihan The Climat Project (TCP). Sekitar 40an orang dari tanah air mengikuti International Grand Training untuk presenter bersama Vice President Al Gore (Iya memang dipanggil begitu, mereka tidak pernah manggil Al Gore ‘former vice president’ melainkan vice president), untuk pimpinan tidak ada barang bekas disini. Hanya pakai nomor. Itulah penghargaan yang tinggi untuk pemimpin.

Beberapa kali aku ke US, rasanya melihat negeri ini seperti negeri ‘ liliput’, bak mimpi kerena perbedaan kesejahteraan dan kondisi penduduknya yang makmur. Negara bagian Nashville adalah ibukota Tennessee yang mempunyai sejarah cukup panjang. Kesan saya orang disini memang luwes dan ramah tamah. Selain disudut down town tertulis disetiap tempat, Nasville Music City, beberapa pengamen jalanan sangat interaktif dengan masyarakat. Mereka serius ngamennya. Tidak ecek ecek dibayar terus pergi. Lalu lalang lalu lintas terutama di downtown sekitar Wildhorse Saloon, antara jalan Broadway, banyak berjajar pub dan club malam. Isinya live music. Siang sepanjang hari pun sebuah salon dipinggir jalan tidak berhenti memutar music country, jadi kota tidak sepi dari music.


Nasville sebenarnya penduduknya sedikit saja, sensus tahun 2008 menghitung
hanya 626,144. Itupun dianggap kota yang sangat padat populasinya padat dibandingkan dengan Memphis. Total penduduk di 13 county di Nasville adalah 1,6 juta orang, Sebanding dengan Jogjakarta yang berpenduku 500 ribu untuk kota dan 2 juta untuk seluruh propinsi.


Sekitar 600 an peserta dari 26 negara yang ikut dalam training ini memang mempunyai selera masing masing –mungkin –dalam memandang Nasville. Dominasi para presenter memang dari AS dan Canada yang paling banyak pesertanya.


Al Gore memberikan kuliah umum dan pelatihan sehari penuh, ditambah dengan materi materi yang lain terkait dengan tata cara presentasi yang baik dan bagaimana mengatasi tantangan dan bersikap optimis terhadap persoalan termasuk lingkungan.


Materi
training meman g berkisar pada buku Al Gore yang terbaru Our Choice yang memberikan jalan keluar solusi dan alternative baru terutama dalam penggunaan energi. Sesungguhnya tidak ada yang terlalu baru tentang ini, tapi Al Gore telah memberikan angka-angka keuntungan dan memberikan fakta –fakta baru bahwa hal ini dapat dilakukan dan menguntungkan selain bagi lingkungan juga secara ekonomi. Sesuatu yang selalu dikaitkan untuk menarik semua manusia yang homo economicus dan berasas pada orientasi dan keuntungan untuk melanjutkan kehidupan. Inilah faktanya.

Pelatihan dilakukan di Bar, Wildhorse Saloon, yang dari depan terlihat sempit namun di dalam ruanganan bertingka tiga layaknya ruangan concert. Cukup unik ruangan ini bisa menampung ribuan orang didalamnya. Sound sistemnya bagus dan lay out ruangan sungguh baik. walaupun suasana bar tidak dapat dihindarkan, seperti tempat pelayanan dan patung patung kuda yang terbantung di langit langit secara terbalik. Teman Indonesia saya bilang, “Ini maksudnya supaya kalau ada pengunjung bar yang mabuk , jadi merasa tidak mabuk, bila dia terkapar mabuk”, hehe.


Kelompok musik jalanan bergembira dengan wisatawan malam minggu di Nashville



Meskipun kota Nashville memang selalu gembira dengan music setiap malam, aku melihat mereka tetap ikut aturan. Setiap orang yang masuk bar, diperiksa ktp dan SIM untuk memastikan mereka berumur 18 atau 21 tahun keatas. Pintu dijaga orang angker barbaju hitam dan bertato..hehe. Meski demikian mereka ramah tidak galak.


Setiap sudut kota tidak sepi, gedung gedung dipasang salon dan bernyanyi country sepanjang malam dan siang. Sebuah kota yang ramai dengan musik!

Related News:

Al Gore Says Movement



Sunday, June 20, 2010

Resep Umur Panjang Emil Salim

80 Tahun Emil Salim, hari ini dirayakan oleh banyak kolega dan rekan rekan beliau di Balai Sudirman Jakarta. Berbahagialah Pak Emil Salim, dengan panjang umur dan manfaat umur yang beliau berikan untuk bangsa ini. Tidak terkejut saya melihat sambutan dan antusiasme pada perayaan ulang tahun Emil Salim, dihadiri oleh banyak pejabat dan mantan pejabat, banyak diantaranya para sepuh orde baru, menteri-menteri yang masih panjang umur, seperti --yang tambak oleh saya--Ali Wardhana, Harun Zain, Akbar Tanjung, Subroto dll.

Emil Salim, sosok bersahaja, ilmuwan dan pakar lingkungan dan ekonomi.Penasehat Presiden untuk Lingkungan Hidup. Kebersahajaan itulah membuat beliau selalu didengarkan 'kampanyenya' tentang lingkungan. Hari ini juga, beliau meluncurkan buku: 'Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi'(KOMPAS 2010) kumpulan renungan dan tulisan beliau di berbagai media dan tentunya masih aktual untuk dibaca.

Emil Salim bersama cucu beliau, Daffa, Naya,Dilly dan Jezzie.


Emil memberikan buku itu pada cucunya Delly, Jezzie, Daffa dan Naya orang yang paling dekat dengan beliau, dan kata beliau mengatur jadwal kalau akhir minggu. Bersyukurlah Bangsa Indonesia masih punya orang semacam Emil Salim. Produktif menulis dan kepakarannya dipandang di seluruh dunia.

Dalam usianya yang 80an ini, Pak Emil masih jernih berpikir, mampu berbicara sistematis dan melihat persoalan secara runtut. Beliau tidak berhenti mengajar dan mencurahkan ilmunya untuk penerus dan generasi muda, mau belajar dan mengajarkan sehingga banyak semangat tersentuh olehnya. Itulah resep panjang umur Emil Salim.

Life time Achievement, seluruh hidup beliau tentunya untuk memberikan sumbangan pada perkembangan lingkungan hidup, tentu saja belum selesai. Makanya buku-buku itu diserahkan kepada anak dan cucunya sebagai simbol, penerus perjuangan.

Saya pendatang baru 40 tahun belakangan. Ketika Emil Salim meraih gelar PhD di University of California Berkeley, saya bari lahir (1964!) sebagai orang kampung yang lahir nun jauh di Kalimantan, saya menyempati bertemu beliau dan menyumbangkan essay untuk ulang tahun beliau ke 80. Selamat Ulang Tahun Emil Salim!
wassalam!

Berita Terkait:

Wednesday, June 09, 2010

Tentang Eco Pesantren

Banyak pertanyaan kepada saya tentang ECO Pesantren. Apa dan bagaimana sebenarnya eco pesantren itu? Apakah ada typical ECO Pesantren yang berarti sebuah pesantren dengan wawasan yang ramah lingkungan? Adakah wujudnya, bagaimana bentuknya? Apakah ada standar dan tolok ukur yang dapat dilihat dan diperoleh sehingga Pesantren dapat menjadi sebuah Eco Pesantren.

Saya ingin menjawabnya dengan beberapa diskursus dan alasan karena, sejauh ini --setahu saya--tidak ada standar yang dibuat untuk menetapkan bagaimana sesungguhnya profile sebuah eco pesantren itu.

Sama halnya dengan upaya upaya para aktifis dan pencinta lingkungan yang ingin menghubungkan lembaganya dengan berbagai kegiatan lingkungan dan kecenderungan yang sedang marak, eco pesantren sebenarnya adalah upaya untuk memberikan label (pelabelan) pada lembaga atau institusi tertentu agar bisa menjadi ramah lingkungan. Hal ini terlepas pada penilaian secara objektif apakah jika pesantren --sesukanya--menamakan dirinya Eco-Pesantren, atau Green Boarding School, atau Go Green. Pada tarap ini, tentunya dapat dinilai bahwa pesantren tersebut pada dasarnya sudah punya kegiatan yang terkait lingkungan hidup apa pun jenisnya. Ini tentunya positif, karena dalam strategi kampanye lingkungan ada lima tingkat perubahan perilaku.

Doppelt (2008) merumuskan tentang perubahan perilaku (behavioral change) untuk mengukur tingkat kesadaran dalam lingkungan dengan asas 5 D:

1. Disinterest
2. Deliberation
3. Desingn
4. Doing
5. Defending

Minimal mereka yang memberikan label, Pesantren Ramah Lingkungan (Eco Pesantren) mereka adalah pada tahap berbuat: Doing, --Tahap "Saya berubah" dan Depending (saya telah berbuat dan terus melakukan).

Jadi kalau dipakai tolok ukur tersebut, banyaklah yang dapat diinventarisir dari kegiatan pesantren yang ramah lingkungan (eco-pesantren). Pesentren adalah suatu sistem pendidikan khas Muslim di Indonesia yang biasanya mengutamakan kemandirian. Mengolah sumber daya yang ada dan bahkan dapat menjadi pelopor dan trigger bagi masyarakat yang ada disekitarnya. Komponen inti pesantren adalah: Ustazd (Kiyai), Masjid, Santri dan pondok. Pondok bermakna bisa saja asrama atau boarding. Jadi pesantren tidak mesti ada kelas, kelas mereka adalah di masjid, sebagaimana pengajaran awal Islam. Kemudian madrasah muncul--disamping masjid-- pada saat khalifah Islamiah berjaya.

Disamping tipologi pesantren yang ber aneka ragam, dari salafiah, khalafiah hingga campuran keduanya (menurut kategori Departemen Agama). Ada pesantren yang hanya berbasis pada pengajaran teks, Al Qur an, tafsir, hadist dan kitab salafi (klasik), sekarang ini --untuk memenuhi kehendak zaman, pesantren menggunakan Kurikulum Departemen Agama yang distandarkan gabungan antara pengajaran pesantren dan kurikulum pendidikan nasional.

Hemat saya banyak hal yang bisa dipenuhi untuk menuju pada eco pesantren yang sesungguhnya, bukan hanya sekolah yang bersih, tetapi pesantren mesti by desingn menetapkan visi dan misi lingkungan atau pembangunan berkelanjutan dalam wadah pesantren dan kegiatan kehidupan mereka.

Sekarang ini banyak bertebaran contoh pesantren yang tengah berubah setidaknya berupaya pada tahap 'desingn' mereka menginkan hidup berwawasan lingkungan. Karena itulah Pemerintah Menyambut kegiatan ini dengan membuat trigger dan dorongan sehingga diresmikannya program Eco Pesantren oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

Beberapa pesantren dibawah ini kesan saya adalah merupakan tipical eco-pesantren atau yang sedang berkembang kearah tersebut:



Tabik!




Friday, May 28, 2010

200 Kahmi members join climate change training




In an effort to foster awareness about the global phenomenon, the Association of Islamic Students Alumni (Kahmi) hosted a one-day educational seminar on climate change that was attended by about 200 of its members Thursday.

The participants were obliged to communicate their knowledge on climate change to at least five groups of communities over the next year.

“You are the agents for change to improve the environment. Climate change is very real and has caused unpredictable weather patterns in Indonesia,” Kahmi chairman Abidinsyah Siregar told the participants.

Abidinsyah, who is a medical doctor, said the spread of diseases was greatly influenced by climate change.

“The endemic of malaria now is hitting almost all provinces in the country. Temperature increases are quickening the spread of the disease,” he said.

The one-day training seminar was organized jointly by Kahmi, the National Council on Climate Change and Climate Project Indonesia and provided by four TCPI presenters – Armi Susandi, Nana Fitrian Firman, Fachruddin Majeri Mangunjaya and Dicky Edwin Hindarto.



“We need to change our behavior and lifestyles to tackle climate change,” said Armi, who is a lecturer at the Bandung Technology of Institute.

by Adianto P. Simamora, The Jakarta Post, Jakarta | Thu, 05/20/2010 6:19 PM | National

Saturday, April 24, 2010

Kebijakan Pro Lingkungan


Berikut ini rekaman Talkshow Hari Bumi 22 April 2010, yang diselenggarakan oleh OREI, SOCP, Kehati dan Partners. Walaupun ini diselenggarakan di Gedung MPR DPR Senayan, saya sangat kecewa karena peserta tidak banyak hadir, termasuk Anggota DPR terhormat mungkin karena terlampau sibuk.

selamat menikmati!

The Grand Training, Connector Climate Project Indonesia

Sungguh mengharukan antusiasme aktifis Indonesia yang sadar lingkungan. Hari ini Sabtu, 24 April 2010) training grand connector The Climate Project Indonesia (TCPI) dipenuhi oleh peminat yang datang dari berbagai sudut tanah air, sekitar 250 orang hadir terseleksi dari 1500 peminat. Saya kira ini adalah semangat yang baik dan penuh ketulusan, sebab kita semua memang merasa khawatir akan masa depan planet ini dan harus segencar mungkin merubah gaya hidup dan mengkampanyekan perubahan iklim. Pesertanya dari Ibu Rumah Tangga hingga professional, anak SMP hinggi Guru Besar.

Pertama kali bagi saya mengenal beberapa Presenter TCPI yang lain, sebab saya adalah anggota no 54 dari 53 presenter yang lebih dahulu di training di Asia Pasific, jadi saya new kid on the block, karena menyusul para senior yang training dan mengikuti training oleh AL GOre di Mexico City tahun 2009.

Pelatihan ini menampilkan trainers dan Presentasi sangat menarik dan diberikan oleh mereka yang mumpuni untuk memberikan pelatihan, seperti Dr Armi Susandi, yang disebut sebagai Al Gore nya Indonesia, Suzy Hutomo Praktisi sekaligus Business lady, Nana Firman dan Ibu Mia Juliana tentang cara meyakinkan para skeptice, Charles Bonar Sirait, ahli public speaking soal presentasi di depan orang banyak dll.

Tidak kalah menariknya training ini bersifat informal namun disediakan package gratis untuk para konektor termasuk USD, Rompi, dan bahan bahan presentasi. Pengantar ucapan selamat diucapkan oleh Jeanne Clad melalui tayangan video. Jadi cara ini sungguh efisien dilakukan karana sangat membantu memberikan semangat bahwa training ini benar benar dilakukan dengan network mendunia. Jadi semua peserta tidak bekerja sendiri, ini merupakan gerakan dari 7000.000 presentasi yang telah tersentuh oleh metode Al Gore dengan The Climate Projectnya, dan mengikut sertakan 3000 presenter yang telah ditraining oleh Gore.

Semoga ini membawa hikmah dan keuntungan untuk semua.

tabik!

Friday, April 16, 2010

Nagari Malalo, Fazlun Khalid dan Metro TV

Sebelas orang tokoh adat dan ulama yang berasal dari Guguak Malalo dan Pakan Rabaa, di Padang Panjang, Sumatera Barat, bergabung untuk pelatihan tentang Islamic Environmentalism Ethic yang dipandu oleh Hajj Fazlun Khalid. Sungguh beruntung mereka ini, tapi tentunya juga saya. Fazlun mengembangkan methode ini selama 25 tahun dan sekarang usia beliau adalah 77 tahun. Sidi Fazlun, begitu kami memanggilnya di UK, merupakan orang yang merintis Islamic Environmentalism dan terinspirasi dari pemikiran Seyyed Husain Nasr. Saya jadi ingat komentar Syech Saggaf, Pimpinan Pesantren Nurul Iman Parung, ketika melihat metode ini diajarkan di Pesantrennya, ahli tafsir tersebut menyebutnya, ini tokoh unik dan ajaib. Beliau mampu menterjemahkan sains dalam hal praktis dan mengintegrasikan pesan al Qur'an. Syech Saggaf bilang, dia "Wali." Metodenya sungguh unik, oleh karena itulah buku-bukunya saya terjemahkan.



Metodologi TOT ini terbukti kini mulai berhasil menggerakkan posisi Islam dan Gerakan Lingkungan di Indonesia. Beberapa literatur yang saya tulis adalah mengacu pada pemikiran beliau.
Disamping antusiasme Fazlun untuk beberapa kali datang ketempat ini, beliau sungguh senang dengan kegiatan di lapangan dan bergerak ke akar rumput. "Konferensi penting. Tapi, saya lebih senang dengan aksi lapangan karena ini yang akan memberikan kontribusi signifikan dan akan bisa merubah keadaan," katanya, ketika saya undang untuk memberikan ceramah sebagai salah satu Key Note Speaker dalam konferensi 9-10 April di Bogor.

Fazlun Khalid mempunyai reputasi dunia dalam membela kelestarian lingungan melalui pendekatan tradisi dan agama. Dan dikenal sebagai salah satu dari 15 eco theologian dunia. Dia masuk dalam Independent list sebagai salah satu dari 100 environmentalist terbaik Inggris tahun 2008.


Sekali lagi, di Padang, datuk dan ninik mamak, dan tokoh adat, serta ulama ini sungguh beruntung. Mungkin saja tidak mereka sadari keberuntungan ini. Tapi lebih dari itu, saya berharap proyek ini bisa berhasil sebagaimana proyek di Memba, Afrika yang mengadakan pendekatan yang sama.


Green Lifestyle Metro TV




Sepulang dari padang (Kamis, 15/4), kami mendapatkan kehormatan untuk menjelaskan kepada publik tentang kaitan Islam dan Lingkungan, di Metro TV dalam talkshow Green Lifestyle. Sidi Fazlun banyak menjelaskan keterkaitan Islam dan lingkungan, dan saya banyak menjelaskan tentang kegiatan konferensi Muslim and Climate Change Action. walaupun waktu terasa pendek, syukurlah apa yang kami lakukan mendapatkan perhatian publik dan media.


Tabik!



Tulisan-tulisan Fazlun Khalid:

Guard of Natural Order

Islam and Environment ( Encyclopedia of Global Env Change)


Tahniah untuk First International Conference: Muslim action on climate change

Akhirnya jadi juga dan, akhirnya selesai juga. Selama dua hari, Alhamdulillah sejak tanggal 9-10 April penyelenggaraan First Muslim Conference on Climate Change Action di Bogor, berjalan dengan baik. tercatat enam belas Negara yang mendaftar dalam konferensi muslim ini, seperti Malaysia, Indonesia (tuan rumah), Jordania, Mesir, Inggris, Jepang, Amerika, Madagaskar, Filipina, Australia, Maroko, Uzbekistan, Bangladesh, Zimbabwe dan Spanyol. Namun sampai detik terakhir hanya 13 yang hadir, tiga Negara terakhir tidak datang, Bagladesh, sudah membeli tiket dan mendapatkan dari visa dari KBRI Dacca, tetapi tertahan di Imigrasi yang urusannya sangat tidak professional dan berbelit-belit. Sorry brother kami tidak bisa menghadirkan ANDA!

Walaupun dengan penyelenggaraan yang tertunda tunda karena masalah teknis, kami berupaya konferensi ini tetap jalan. Sebab ini adalah pertama kali dilakukan khususnya (mungkin) untuk dunia Muslim. Terlihat antusiasme yang luar biasa para participant yang terlibat. Hingga hari kedua, peminat masih memenuhi seluruh ruangan. Sesi parallel pun demikian. Di bagian B, tentang green city and low carbon development tidak kalah menarik perhatian. Hingga ada peserta berdiri karena tidak kebagian bangku.

Saya sebagai salah satu penyelenggara kegiatan ini sungguh bersyukur, walaupun tampak kekurangan disana sini, tentunya itu suatu yang biasa. Dan harus diketahui, bahwa konferensi ini benar-benar diselenggarakan dengan pendanaan patungan dan atas asas sukarela dari mereka yang tertarik melibatkan diri baik sebagai supporter maupun partners. Mereka adalah: British Council, Islamic University League, World Muslim Academy of Science, Bakriland, BNI,BPPT, CI, Kehati, The Climate Project Indonesia, Republika, Muhammadiyah, Pemerintah Kota Bogor, DNPI, KLH dan Departemen Kehutanan. Tentu saja, selain tidak dipungut bayaran, kelas participant pun bervariasi, dari professional lingkungan, pejabat, mahasiswa S3, activist, pimpinan pesantren, universitas hingga organisasi majlis ta’lim. Mereka adalah orang-orang yang bekerja dan mempunyai aksi di lapangan baik secara langsung maupun tidak. Panitia terutama tim perumus adalah mereka yang professional seperti Prof Amany Lubis dan Dr Mubariq Ahmad, hingga detik terakhir penuh mendedikasikan diri pada perhelatan ini. Jadi anda bisa membayangkan kualitas pertemuan ini mudah-mudahan sangat bermutu.



Green City of Bogor
Konferensi ini memang benar-benar gerakan civil society Muslim, dan tidak terikat pada Negara anggota OKI. Sebagai gerakan grass root rekomendasi rencananya akan disampaikan juga kepada Kantor Pusat OKI atau Organization of Islamic Conference (OIC). Bogor menjadi green city tapi ini tidak berhenti sekarang. Kami akan berupaya mewujudkan membantu program ini hingga lima tahun kedepan, karena ini deklarasi yang ditanda tangani adalah Recognitioan and Support for Bogor as Green City. Bogor sebenarnya sudah punya peraturan ke arah ini, namun perlu penyempurnaan dan dukungan dan isya Allah dukungan akan berdatangan untuk mewujudkan hal ini.
Tabik!

Related News :
  • Inspirasi dari Nabi Yusuf (Republika)
  • A Different Kind of Green
  • World Muslim Seeking Action for Climate Change (the Jakarta Post)
  • Perlu Aksi Nyata (Republika)
  • Bogor ditetapkan sebagai kota hijau