Institute kesefahaman Islam Malaysia (IKIM), mengundang saya untuk
memaparkan tentang : Kurikulum Agama dalam Pendidikan dan Kesedaran Alam
Sekitar: Pengalaman Indonesia, judul ini saya paparkan dalam “Kertas Kerja
disampaikan pada Muzakarah Pakar “Komuniti
Islam Dalam Pendidikan dan Kesedaran Alam Sekitar” 2 Juli, 2013. Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM), Malaysia. Perhatian ini sekarang menjadi kajian dan
daya tarik di Malaysia, karena mereka merasa masih harus menggiatkan
keterlibatan masyarakat dengan melalui pendekatan agama Islam terutama di
kampung pedesaan dan penanganan lingkungan. >>>
Monday, July 08, 2013
Selamatkan Harimau Sumatera Melalui Kearifan Islam
“Ulama
diminta berperan dalam pelestarian harimau sumatra.”
Menyadari pentingnya eksistensi Harimau Sumatera yang terancam punah, berbagai upaya strategis untuk menyelamatkan sub spesies terakhir ini terus digalakkan. Kali ini, upaya pelestarian dengan menggugah kesadaran dan partisipasi masyarakat dilakukan melalui pendekatan agama (khususnya Islam). SELANJUTNYA>>>
Menyadari pentingnya eksistensi Harimau Sumatera yang terancam punah, berbagai upaya strategis untuk menyelamatkan sub spesies terakhir ini terus digalakkan. Kali ini, upaya pelestarian dengan menggugah kesadaran dan partisipasi masyarakat dilakukan melalui pendekatan agama (khususnya Islam). SELANJUTNYA>>>
Friday, June 07, 2013
Mengapa Taman Nasional Perlu Diselamatkan?
Akhirnya Kementerian
Kehutanan gencar membongkar vila –vila yang berdiri illegal di Taman Nasional
Gunung Halimun dan Salak (Koran Tempo,
12 Maret 2013). Adapun pemilik vila,
yang terdiri dari para pembesar dan orang yang mampu di Jakarta. Mereka,
terlebih dahulu diminta kesadaran untuk membongkar sendiri vila tersebut. Kalau
tidak, dapat diancam hukuman penjara 10 tahun karena melanggar undang-undang
Kehutanan No 41 Tahun 1999 dan undang undang
No 5/1990, tentang Konservasi dan Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
Baca selanjutnya >>>
Baca selanjutnya >>>
Sunday, May 12, 2013
Islam, Konservasi dan Budaya Minangkabau
Inilah sebuah laporan yang cukup obsesif dirancang pada mula dengan
cita-cita ingin memperoleh gambaran interaksi Islam, adat dan
pemanfaatan sumber daya alam di Sumatra Barat. Buku ini diterbitkan
memuat beberapa hasil penelitian serta intervensi proyek yang dilakukan
di Sumatra. Jangka penulisan buku ini memang tertunda selama lebih dari 1
tahun. Namun akhirnya terbit juga dengan judul: "Integrating religion within conservation: Islamic beliefs and Sumatran forest management"
pembahasan dalam buku ini merupakan merupakan uji antara teori, intervensi praktis gerakan lingkungan dan studi tentang budaya Minangkabau sendiri dengan sandi adat dan religiousitas yang kuat.
SELANJUTNYA >>>
Thursday, December 06, 2012
Mengurai Pemahaman tentang Hima dan Masa Depannya
Sekitar 20 orang peserta dari berbagai negara, mengikuti
Workshop yang diadakan oleh Kuwait Institue in Research (KISR), dari tanggal 2-5
Desember. Saya sendiri mempresentasikan pengalaman Indonesia terutama terkait
dengan upanya penyadaran konservasi bersama dengan pemuka agama (Islam) dan
pemimpin lokal (tokoh ulama setempat) dan orang yang dihormati di tingkat komunitas. Presentasi saya
berjudul “Synergized Conservation Effort
through the Spirit of Hima and Islamic Culture in Indonesia”upaya
mensinergikan pemahaman agama untuk melindungi alam dan lingkungan. Selanjutnya>>>
Thursday, November 15, 2012
Kampanye Perubahan Iklim: The Climate Reality 24 Hour
Kampanye besar dilakukan untuk melakukan perubahan perilaku dalam
menghadapi perubahan iklim oleh The Climate Reality Project yang
dipimpin oleh Al Gore. Kamis (15/11) atau Rabu Waktu Amerika, dimulai
kampanye 24 jam selama sehari penuh atau dua hari dengan dua paruh waktu
di permukaan bumi untuk melakukan penyadaran terhadap perubahan iklim.>>>SELANJUTNYA
Friday, October 26, 2012
Faith matters in climate change
The Green Bible is a 2008 edition of the Christian holy
book, published by HarperCollins. There are more than 1,000 references
to the Earth in the Bible, and this 2008 copy is printed on recycled
paper using soy-based ink.
Likewise, Islam’s Koran also contains numerous surahs (chapters) that both enlighten and command Muslims to use and not abuse the natural bounty the Earth provides. “Do not commit abuse on the Earth, spreading corruption.” (Al-Ankabut 29:36) is just one example. >>>>>
Likewise, Islam’s Koran also contains numerous surahs (chapters) that both enlighten and command Muslims to use and not abuse the natural bounty the Earth provides. “Do not commit abuse on the Earth, spreading corruption.” (Al-Ankabut 29:36) is just one example. >>>>>
Islam and Ecology: Theology, Law and Practice of Muslim Environmentalism
Awal Oktober ini terbit pembahasan khusus tentang Muslim Environmentalism atau gerakan lingkungan di kalangan Muslim dalam WORLDVIEW sebuah
jurnal yang sangat berpengaruh tentang agama global, ekologi dan
budaya (global religions, cultures and ecology). Jurnal menjadi special
issue Islam and Ecology: SELANJUTNYA>>>
Wednesday, October 03, 2012
World Muslim Leadership and Sustainable Development
World Muslim Leadership Forum (WMLF) mengadakan pertemuan kedua dengan tema World Muslim Leadership Forum on Youth Leadership yang terkait dengan Pemuda dan Pembangunan Berkelanjutan (Youth and Sustainable Development). Selanjutnya >>>>
Saturday, September 08, 2012
MUI dan Pemuliaan Lingkungan Hidup
Sejak bulan September tahun 2010, Majelis Ulama Indonesia (MUI) membuat sebuah lembaga khusus dalam menangani soal lingkungan.
Lembaga ini mempunyai dua tujuan seperti tertuang dalam Visi dan Misinya:Pertama, secara visi: mengembalikan kepada ajaran Islam dalam pengelolaan lingkungan hidup dan pemanfaatan sumber daya alam melalui pembinaan umat Islam yang berkualitas tinggi (khaira Ummah) dan berakhlak mulia (akhlakul karimah) sehingga terciptanya kondisi kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan yang baik, serta memperoleh ridlo dan ampunan Allah SWT (baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur). Selanjutnya >>>>
Lembaga ini mempunyai dua tujuan seperti tertuang dalam Visi dan Misinya:Pertama, secara visi: mengembalikan kepada ajaran Islam dalam pengelolaan lingkungan hidup dan pemanfaatan sumber daya alam melalui pembinaan umat Islam yang berkualitas tinggi (khaira Ummah) dan berakhlak mulia (akhlakul karimah) sehingga terciptanya kondisi kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan yang baik, serta memperoleh ridlo dan ampunan Allah SWT (baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur). Selanjutnya >>>>
Majelis Ulama Indonesia (MUI): "Recent Environmental Fatwas"
from Green Islam in Indonesia on Vimeo.
Friday, June 15, 2012
Berkontribusi terhadap Perubahan Iklim: Cara Haji Ramah Lingkungan Diseminarkan
Upaya mitigasi atau pengurangan atas dampak perubahan iklim
harus melibatkan semua sektor sebagai suatu gerakan yang kompak, agar hasil
yang dicapai untuk mengubah perilaku manusia terhadap konsumsi sumber daya alam
dan implementasi gaya hidup lebih “hijau” dapat terwujud. Untuk itulah,
kalangan umat beragama dapat berkontribusi untuk menyumbangkan langkah nyata,
diantaranya adalah pembuatan Buku Petunjuk “Haji Ramah Lingkungan”. Selanjutnya>>>>
Berita Terkait:
Monday, April 23, 2012
Promosi untuk Disertasi Ekopesantren
Disertasi Ekopesantren berhasil dipertahankan.
Tentu sudah banyak disertasi tentang pesantren, namun tidak banyak membahas pesantren dan lingkungan. Untuk desain dalam kerangka pembangunan berkelanjutan, ini adalah baru pertama kali. Dan niatnya adalah membawa pesantren sebagai institusi Islam menjadi ramah lingkungan dengan pendekatan ilmiah dan alamiah berbasis budaya pesantren itu sendiri.| Dari kiri: fadila maula hafsah, fachruddin, ayahanda muhamad majeri dan ibunda. |
Baca Selanjutnya
Link Terkait:
KOMPAS: Agama Pengaruhi Perubahan Perilaku Lingkungan
Pesan Wakil Menteri Agama Professor Nasaruddin Umar:
Penguji Disertasi Ekopesantren
Friday, April 06, 2012
Islam Peduli Satwa Dibuat oleh Pesantren
Organisasi pembela satwa, makhluk Allah swt, mengingatkan umat Islam
supaya peduli terhadap satwa yang kita hari bertambah menderita bahkan
punah. Ornanisasi ini memulai dengan mengajak Pesantren dan Ulama
Pesantren untuk menelaah bersama kitab klasik Islam secara komprehensip.
Hasilnya: "Ada banyak kisah nabi
dan surat di Al-Quran yang menyimpulkan bahwa Islam juga mengajarkan
kasih sayang terhadap satwa." menurut Pro Fauna dalam situs PROFAUNA
BACA SELANJUTNYA
BACA SELANJUTNYA
Thursday, April 05, 2012
"Green Pesantren" Al Ittifaq Ciwidey Bandung
Al Ittifaq merupakan salah satu pesantren penerima Penghargaan Kalpataru dan dapat menjadi model eco-pesanten. Pondok Pesantren Al Itifaq Ciwidey menerima Kalpataru 2003. dipimpin oleh KH Fuad Affandi, melakukan pemberdayaan pertanian organik, pemanfaatan lahan secara efektif dan peningkatan ekonomi masyarakat sekitarnya.
BACA SELANJUTNYA
Friday, March 30, 2012
The Globalization of Eco Islam
Eco Islam is a word that has emerged in response the environmental
crisis. The movement seems to be moving from local to global action
helped by some key actors in the Muslim world who try to define and
respond to religion which is at the root of the heart and mind. The
"green take" of this movement is virtually a return back to the human
perspective to appreciate nature and natural capital as a basic need in
accordance with Islamic guidance on human nature: Fitrah.
LEARN MORE >>>>>
LEARN MORE >>>>>
Thursday, March 22, 2012
Islamic Banking Go Green?
Kemarin (21/3) saya diundang untuk memberikan pemaparan tentang aspek lingkungan dan pesan-pesan Islam untuk tema-tema terkait lingkungan di Bank Indonesia (BI) Syariah. Institusi ini merupakan bagian dari Bank Central atau Bank Indonesia (BI) yang mempunyai peran penting dalam menetapkan regulasi untuk perbankan di seluruh Indonesia.
Dalam waktu dekat menurut Nasirwan Ilyas, Acting Head Reseach Division Direktorat Perbankan Syariah BI, mereka telah menandatangani MoU dengan Kementerian Lingkungan Hidup, semasa Menteri Gusti Muhammad Hatta, menjabat, tahun ini terkait dengan bagaimana BI memberikan regulasi yang mendorong skema green melalui insentif dan disinsentif atau carrot dan stick. Reward akan diberikan oleh BI untuk perbankan yang mendorong dan melakukan pendanaan untuk upaya-upaya ramah lingkungan semisal, industri daur ulang, energi alternatif dan seterusnya.
Keterlibatan Islamic Banking untuk secara kritis dan selektif dalam pendanaan proyek-proyek atau industri skala besar yang berdampak pada lingkungan perlu dilakukan. Sebab dengan cara inilah sebenarnya kerusakan yang meluas dan kasat mata akan dapat dicegah apabila sumber pendanaan --yang kerap dibilang darah--bagi sebuah usaha di tahan alirannya karena usaha tersebut tidak ramah lingkungan.
BI Syariah bercita-cita menjadi: Beyond Banking, bukan sekedar bank biasa. Tentunya hal itu dapat menjadi nilai tambah untuk mereka yang peduli lingkungan kemudian berinvestasi pada skema syariah, karena pendanaan Islam Rahmatan Lill alamin dan tidak merusak lingkungan dapat dimulai dari sini. Insya Allah.
Link terkait:
Dalam waktu dekat menurut Nasirwan Ilyas, Acting Head Reseach Division Direktorat Perbankan Syariah BI, mereka telah menandatangani MoU dengan Kementerian Lingkungan Hidup, semasa Menteri Gusti Muhammad Hatta, menjabat, tahun ini terkait dengan bagaimana BI memberikan regulasi yang mendorong skema green melalui insentif dan disinsentif atau carrot dan stick. Reward akan diberikan oleh BI untuk perbankan yang mendorong dan melakukan pendanaan untuk upaya-upaya ramah lingkungan semisal, industri daur ulang, energi alternatif dan seterusnya.
Keterlibatan Islamic Banking untuk secara kritis dan selektif dalam pendanaan proyek-proyek atau industri skala besar yang berdampak pada lingkungan perlu dilakukan. Sebab dengan cara inilah sebenarnya kerusakan yang meluas dan kasat mata akan dapat dicegah apabila sumber pendanaan --yang kerap dibilang darah--bagi sebuah usaha di tahan alirannya karena usaha tersebut tidak ramah lingkungan.
BI Syariah bercita-cita menjadi: Beyond Banking, bukan sekedar bank biasa. Tentunya hal itu dapat menjadi nilai tambah untuk mereka yang peduli lingkungan kemudian berinvestasi pada skema syariah, karena pendanaan Islam Rahmatan Lill alamin dan tidak merusak lingkungan dapat dimulai dari sini. Insya Allah.
Link terkait:
Wednesday, March 14, 2012
Green Islam in Indonesia
Beberapa waktu yang lalu teman saya Professor Anna M Gade, Guru Besar di University of Wisconsin at Madison, USA, membuat rekaman kegiatan terkait aktifitas di beberapa pesantren lingkungan (ekopesantren) baik di Jawa Barat maupun Jawa Tengah.
"Islamic Ecology and Global Cooperation" (Indonesian and English) from Green Islam in Indonesia on Vimeo.
Menurutnya, beliau merekam 32 seri "Islam Hijau di Indonesia" yang membawa aroma positif kegiatan Islam dan lingkungan yang berasal dari tokoh-tokoh pesantren di tingkat akar rumput. Perbincangan saat video ini diluncukan juga sangat menarik ditayangkan oleh National Public Radio (NPR) di Wisconsin, USA.
Selanjutnya >>>>
"Islamic Ecology and Global Cooperation" (Indonesian and English) from Green Islam in Indonesia on Vimeo.
Menurutnya, beliau merekam 32 seri "Islam Hijau di Indonesia" yang membawa aroma positif kegiatan Islam dan lingkungan yang berasal dari tokoh-tokoh pesantren di tingkat akar rumput. Perbincangan saat video ini diluncukan juga sangat menarik ditayangkan oleh National Public Radio (NPR) di Wisconsin, USA.
Selanjutnya >>>>
Sunday, November 06, 2011
St. Francesco Assisi yang Ekologis
Sekitar sepuluh tahun yang lalu, saya menulis essai mengutip keteladanan St Franciscus Assisi (1182-1226) yang sangat perduli pada makhluk selain manusia termasuk burung, rubah, tupai dan binatang yang turun kehadapannya untuk mendengarkan khutbah dan petuahnya. Saya juga mempelajari dokumen Assisi Declaration, yang diumumkan 25 tahun yang lalu oleh HRH Prince Philips bersama tokoh tokoh agama besar dunia: Budha, Baha'i, Hindu, Kristen, Islam, Jainism, Sikhism dan Yahudi berkumpul dan mendeklarasikan kearifan ekologis--- menurut keyakinan masing-masing--- yang sekarang menjadi satu satunya dokumen penting aliansi konservasi dan agama.
Basilica St Franseco Assisi
Tahun ini, saya bersyukur di undang ketempat ini: Assisi Italia. Ternyata merupakan salah satu warisan dunia yang diakui oleh UNESCO. Tempat ini memang ajaib, kalau tidak bisa dikatakan tempat yang mengagumkan, berada di puncak gunung berbatu granit dibangun oleh sebuah komunitas agama (communion) Katholik yang taat. Saya bisa membayangkan betapa tekun dan gigihnya tempat ini dibangun. Tempat sepanjang lebih kurang 5 kilometer merupakan komunitas yang tidak terpisah dengan gereja (basilika) dan menjadi satu dengan alam.
Pohon zaytun dan anggur tumbuh subur. Bangunan disusun dari batu pualam yang bisa bertahan ribuan tahun.
Lagi-lagi saya satu-satunya orang Indonesia dan menjadi makhluk eksotis ditengah warga Italia dan berbagai bangsa dunia yang lain. Tentu saya tidak bisa kesini tanpa undangan dari Alliance of Religion and Conservation (ARC).
Kegiatan yang diadakan merupakan peluncuran jaringan kota-kota tempat ziarah (green pilgrimage network) termasuk didalamnya diluncurkan juga pembuatan Green Hajj booklet yang ditujukan untuk para jamaah haji agar haji mereka selain mambur juga dapat berkontribusi menjaga kelestarian lingkungan. Saya berkontribusi dalam pembuatan buku Green Hajj ini dan juga akan menterjemahkannya kedalam bahasa Indonesia.
Event ini diikuti oleh sekitar 150 delegasi dari berbagai sekte dan agama agama di dunia yang mempunyai kegiatan terkait dengan lingkungan hidup dan aksi tindak untuk mencegah perubahan iklim. Eco Sikh, misalnya memberikan bibit pohon kepada setiap pengunjung Golden Temple di India, untuk kemudian pohon tersebut dibawa kerumah dan ditanam di rumah masing-masing. Candi mereka juga beralih pada energi yang terbarukan, menghemat air dan aksi ramah lingkungan lainnya.
FOTO: Lihat foto-foto acara prosesi pembukaan serta green pilgrimage network
Di negara maju seperti Denmark, gereja mempunyai target mereduksi emisi mereka menjadi 20 persen. Selain menghemat uang umat juga menjaga pelestarian lingkungan. Sama halnya dengan inisiatif tentang Green Masjid yang berupaya menghemat pemakaian energi dan air. Sedangkan Candi Shinto di Jepang, mendaur ulang pemakaian bahan kayu untuk mencegah pembalakan dan penebangan hutan alam. "Pada umumnya Kuil Shinto sudah sangat hijau, sehingga kami tidak perlu lagi menamakannya Green Shinto Srhine," kata Katsu Iwayashi dari Jinja Honco, Jepang. Kesadaran bangsa Jepang terhadap kehidupan beragama semakin meningkat setelah ada bencana tsunami. Dan saya baru tahu agama Shinto mempunyai 8 juta tuhan. "Banyak sekali..." kata teman saya Omar Faruk, pendiri Eco Muslim, sambil bercanda.
Pokoknya, acara ini sangat bersejarah dan sangat mengesankan.
Lihat juga:
Basilica St Franseco AssisiTahun ini, saya bersyukur di undang ketempat ini: Assisi Italia. Ternyata merupakan salah satu warisan dunia yang diakui oleh UNESCO. Tempat ini memang ajaib, kalau tidak bisa dikatakan tempat yang mengagumkan, berada di puncak gunung berbatu granit dibangun oleh sebuah komunitas agama (communion) Katholik yang taat. Saya bisa membayangkan betapa tekun dan gigihnya tempat ini dibangun. Tempat sepanjang lebih kurang 5 kilometer merupakan komunitas yang tidak terpisah dengan gereja (basilika) dan menjadi satu dengan alam.
Pohon zaytun dan anggur tumbuh subur. Bangunan disusun dari batu pualam yang bisa bertahan ribuan tahun.
Lagi-lagi saya satu-satunya orang Indonesia dan menjadi makhluk eksotis ditengah warga Italia dan berbagai bangsa dunia yang lain. Tentu saya tidak bisa kesini tanpa undangan dari Alliance of Religion and Conservation (ARC).
Kegiatan yang diadakan merupakan peluncuran jaringan kota-kota tempat ziarah (green pilgrimage network) termasuk didalamnya diluncurkan juga pembuatan Green Hajj booklet yang ditujukan untuk para jamaah haji agar haji mereka selain mambur juga dapat berkontribusi menjaga kelestarian lingkungan. Saya berkontribusi dalam pembuatan buku Green Hajj ini dan juga akan menterjemahkannya kedalam bahasa Indonesia.
Event ini diikuti oleh sekitar 150 delegasi dari berbagai sekte dan agama agama di dunia yang mempunyai kegiatan terkait dengan lingkungan hidup dan aksi tindak untuk mencegah perubahan iklim. Eco Sikh, misalnya memberikan bibit pohon kepada setiap pengunjung Golden Temple di India, untuk kemudian pohon tersebut dibawa kerumah dan ditanam di rumah masing-masing. Candi mereka juga beralih pada energi yang terbarukan, menghemat air dan aksi ramah lingkungan lainnya.
FOTO: Lihat foto-foto acara prosesi pembukaan serta green pilgrimage network
Di negara maju seperti Denmark, gereja mempunyai target mereduksi emisi mereka menjadi 20 persen. Selain menghemat uang umat juga menjaga pelestarian lingkungan. Sama halnya dengan inisiatif tentang Green Masjid yang berupaya menghemat pemakaian energi dan air. Sedangkan Candi Shinto di Jepang, mendaur ulang pemakaian bahan kayu untuk mencegah pembalakan dan penebangan hutan alam. "Pada umumnya Kuil Shinto sudah sangat hijau, sehingga kami tidak perlu lagi menamakannya Green Shinto Srhine," kata Katsu Iwayashi dari Jinja Honco, Jepang. Kesadaran bangsa Jepang terhadap kehidupan beragama semakin meningkat setelah ada bencana tsunami. Dan saya baru tahu agama Shinto mempunyai 8 juta tuhan. "Banyak sekali..." kata teman saya Omar Faruk, pendiri Eco Muslim, sambil bercanda.
Pokoknya, acara ini sangat bersejarah dan sangat mengesankan.
Lihat juga:
Sunday, September 04, 2011
S.O.S Sungai Sekonyer Tanjung Puting!
Sungai Sekonyer dulu...(hanya bisa di lihat saat masuk Kawasan TNTP (atas) dan sekarang (bawah)
Hampir 20 tahun tidak ke Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), sekarang dapat kesempatan untuk memasuki kawasan ini. Bagiku kunjungan kali ini tidak terlalu menyenangkan, sebab tercium aroma yang lain dan dan terlihat perubahan lingkungan yang luar biasa. Bagiku dramatis, karena ketika kelotok berjalan sekitar dua jam dari Pelabuhan Kumai, lalu masuk ke Sungai Sekonyer, tidak lagi dijumpai air yang bersih seperti dahulu: merah kehitaman, seperti air teh karena air ini bercampur serasah dan humus. Kini, karena pencemaran yang dilakukan masyarakat akibat pertambangan emas dan pasir silikon rakyat di sebelah kiri, Sungai Sekonyer sepanjang empat jam perjalanann, berair keruh dan coklat seperti kopi susu! Tak ada yang bisa membedakan kalau hanya berkunjung dalam 10 tahun terakhir, 20 tahun lalu, air disini dahulu sangat bersih bahkan menjadi tempat kapal kapal masuk untuk mendapatkan air minum sebelum berangkat ke Jawa. Buaya berjemur kerap dijumpai di pinggir sungai dan mendadak sontak bercebur takala perahu kami lewat.
Sangat nyata rusaknya di pencemaran sungai, dan saya yakin belum pernah di lakukan pengecekan berapa kekeruhan air dan kontaminasi kimiawi di S. Sekonyer yang begitu asri tadinya. Keyakinan saya mengatakan, sungai ini sudah melampaui baku mutu dan melanggar Undang Undang Lingkungan Hidup No 32/2009. Memang tak terlihat kontaminasi pada vegetasi secara fisik. Tapi saya khawatir ikan dan flora fauna air di sekonyer sudah pasti tidak dapat hidup di air keruh seperti ini. Aku melihat pohon pinggiran sungai ini kusam dan masai. Kejam nian! Sepanjang jalan di sungai biasanya, dulu ada saja orang memancing ikan. Sekarang tidak ada seorang pun!
Sungai ini dihuni berbagai spesies ikan air tawar seperti: gabus dan toman dan dan buaya gavial atau buaya muara, saya tidak yakin ada ikan yang mampu bertahan dan memijah. Begitu pula arwana yang musim pada saat banjir dan hujan besar itu masih ada di sungai ini. Dalam sebulan terakhir ini saja, Hanafi, seorang guide yang rutin masuk ke TNTP menemukan setidaknya ada tiga buaya yang mati terkapar. Dia juga menemukan orangutan yang hanyut mati di sungai seekor induk dan bayi. Dia juga menemuka babi yang mati, "Saya penasaran, mencoba membuktikan apakah babi itu mati karena berkelahi? Tapi tidak ada luka" tambah dia. Hanafi menghitung kasar dia menyaksikan sembilan ekor buaya tertelentang hanyut di sungai setidaknya dlama empat tahun terakhir. Parahnya, ketika kami masuk sungai ini Kamis (1/9), saya menyaksikan ada rusa mati bengkak di pinggiran sungai...Astgfirullah parah sekali. Penelitian biodiverisity sungai perlu dilakukan apakah ikan masih bisa mentolerir kekeruhan yang kasat mata yang ironis ini.
Memang Sungai Sekonyer tidak dilindungi semuanya, tapi jelas ekosistem korban dari dampak atas kawasan yag tidak dilindungi. Aliran sungi sekonyer kiri --yang tidak dilindungi--mencemari sungai utama sepanjang puluhan kilometer. Ironinya, penambangan masih berlanjut, sementara wisatawan pun animonya tidak turun. (lihat peta tahun 2007 di Google di laman ini)
Di Kumai sekarang terdapat hampir 50 kelotok wisata yang mengantar wisatawan rutin melihat orangutan. Meningkat 10 x lipat dibanding tahun 80an yang bisa dihitung dengan jari Pariwisata cukup antusias tapi potensi wisata ini tak bisa menjanjikan bila alam tntp parah seperti ini.
Lokasi Pertambangan di Sebelah Kiri Sekonyer River:
Lokasi Pertambangan di Sebelah Kiri Sekonyer River:
View Larger Map
Alamnya rusak, yang tersisa memang hanya kawasan yang mendapatkan perlindungan (dikonservasi). Ketika kelotok berbelok kekanan yang menuju 8km anak sungai sekonyer kanan tujuan camp leakey, beberapa kilometer air masih bersih. Alam masih bersahabat disini, pepohonanpun masih terlihat segar dan tidak merana seperti di alur sungai sebelumnya. Sungai bersih ini mustahil ada tanpa kawasan konservasi yg terjaga dengan baik. Sekali lagi realitas perubahan lingkungan mematri pepatah orang bijak: semua telah berubah, kecuali perubahan itu sendiri. Salam!
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Friday, August 26, 2011
Mengapa Rakyat Membakar Lahan?
Hot Spot, asap membumbung dan kebakaran hutan, kembali meraja lela. Rabu (23/8) saya ke Palangkaraya, Ibukota Kalimantan Tengah. Musim kemarau disini, dedaunan kering, dan rumput menjadi coklat karena kurang air. Dan, ada yang menjadi ciri rutin kawasan ini setiap musim panas yang belum pernah dapat terselesaikan: kebakaran lahan dan hutan.
Pelabuhan Kumai penuh asap (29/8) (bawah) dan Bandara Tjilik Riwut (24/8), petugas bandara menggunakan masker. Bencana tahunan yang tidak pernah selesai?
Sepertinya, kebakaran dan asap setiap pagi pada musim panas di Kalimantan dan Sumatra adalah hal yang lumrah. Berpuluh tahun, bahkan mungkin beratus tahun, orang disini bertani dengan cara berladang dan membakar lahan untuk membuka kawasa pertanian baru. Tapi kejadian ini semakin tidak enak dan merugikan manakala tidak terkendali dan bahkan menjadi bencana. 20 hingga 25 %, CO2 yang menyebabkan perubahan iklim berasal dari kebakaran hutan. Sebab itu, kebakaran hutan, tentu patut disesalkan bahkan seharusnya dieliminasi.
Sejak kecil hingga masa remaja di Kalimantan, membuatku familiar dengan kabut asap. Suasana menyengat bau asap api yang membakar rumput dan tumbuhan hijau, tercium menusuk, tapi rasanya 20 tahun lalu tidak ekstrim seperti hari ini. Memang terlihat berkabut kalau pagi, dan gelap bila sore. Namun, asap tidak membuat sampai mata pedas. Mungkin karena hari ini kami berada di ruang kantor Gubernur yang ber AC, ruang itu dipenuhi asap dan memerihkan mata. Tapi tidak diluar sana.
Mengapa kebakaran terjadi hampir setiap tahun?
Ada input yang mengagetkan ketika saya tanya pada salah seorang tokoh masyakat dayak, bahwa mereka membakar merupakan ekpresi kekesalan atas tidak dihormatinya kepemilikan adat dan hak hak mereka. Tanggungjawab kolektif yg tadinya mereka rasakan dan menjadi pupus setelah menyaksikan bahwa secara semaunya pemerintah memberikan izin pada pengusaha yag kemudian malah meampk lahan mereka. Masyarakat setempat tidak diberikan kesempatan untuk terlibat. 'Kedua, ada masalah kultural yang tidak pernah hilang karena menganggap membakar lahan merupakan bagin praktis pertanian yg wajar dilakukan dan musim kemarau adalah berkah yang harus disyukuri serta dimanfaatkan untuk membuka ladang. Modernisasi pertanian gagal mengikis praktik ini karena tidak ada satupun benda mekanik yg menjadi alat rakyat kedialu chainshaw kayu.Intensifikasi pertanian dalam 30 tahun berjalan hanya otopia untuk Kalimantan.
Penduduk kalaupun tidak seratus persen, yang tinggal di pinggiran hutan adalah mereka yang miskin dan menggantungkan hidup pada kekayaan alam yang bahkan hanya mengambilnya: menggali emas, menebang kayu, menjual pasir silikon yang dilakukan tanpa memikirkan keberlanjutan. Akibatnya alam memjadi semakin cepat rusak dan tercemar. Sementara pembangunan perkebunan seperti sawit dan pulp yang dibangun dengan modal besar, tidak sama sekali menyelesaikan dan dapat membantu keterpurukan ekonomi mereka.
Subscribe to:
Posts (Atom)

