Sunday, August 10, 2008

"Mengusung Mimpi" Menuju Jakarta Hijau

Sabtu Minggu diisi dengan Rembuk Warga Jakarta di Pusat Pemberdayaan Masyarakat Jakarta (LPMJ). Gedung megah yang didirikan oleh pemerintah DKI 2 tahun yang lalu ini, memang didirikan untuk kegiatan-kegiatan positif termasuk pelatihan, workshop, seminar, sarasehan dll. Tempat ini juga digunakan oleh kelurahan-kelurahan se Jakarta untuk meningkatkan kapasitas diri.

Rembuk Warga Jakarta Sabtu -Minggu, 9-10 Agustus, 2008. "Mengusung Tema: Hijaunya Jakarta Adalah Keperdulianku". Diikuti oleh berbagai kalangan yang perduli dengan Jakarta, dan yang lebih penting lagi, menurut Panitianya Prof Paulus Wiroutomo, mereka yang telah melakukan sesuatu yang positif untuk lingkungan di Jakarta. Aku sendiri tertegun, begitu gigihnya panitia mengumpulkan orang yang sangat beragam dari akademisi (guru besar) guru kecil (maksud saya guru biasa), aktifis lingkungan hingga murid SMP.

Niniek L Karim, dari psikologi UI bersama teman-teman beliau menuturkan, pemilihan anggota peserta ini telah diperdebatkan 7 hari 7 malam. Istilahnya, memang penuh dengan pemikiran.

Tujuan mulia pertemuan ini adalah "Menjakartakan warga Jakarta", sesuatu yang terasa tidak mungkin dengan kondisi majemuknya warga Jakarta dan banyaknya penduduk yang menghuni Ibu kota ini.

Metode yang digunakan dalam workshop ini adalah Appreciatative Inquiry (AI) yang telah terbukti berhasil menggerakkan masyarakat Urban di Chichago, Bangkok, Mexico dll untuk berubah dan menjadikan kota mereka yang tadinya buruk menjadi baik.

Kita disuruh menyimpan baik-baik hal-hal negatif dan hanya memikirkan yang positif saja, problem dan masalah tidak akan mengemuka dalam dialog ini. Diganti istilahnya dalam pembicaraan dengan sebutan: 'fenomena' dst. Pokoknya tidak ada menjelek-jelekkan.

Selama dua hari, kami merumuskan apa saja yang terbaik untuk dilakukan oleh kita sebagai warga. Anehnya bertemu dengan istilah-istilah yang tercipta sendiri dan cukup mengagumkan kesepakatan yang terbentuk: misalnya adanya : Komunitas Hijau, Sekolah Hijau, Industri Hijau, dan segala bentuk positif dari gerakan yang akan dilakukan dan ditulis action plannya.

Time frame action plan ini jelas dan membentuk. Mudah-mudahan panitia segera menyebarkannya lewat milis (karena waktu dua hari tidak cukup untuk menuliskan). Saya sendiri selalu memikirkan apa yang bisa dilakukan untuk lingkungan sekitar, sehingga memilih yang terdekat dan memilih berkelompok dengan "Komunitas Hijau". Disini ada Ibu Bambang, seorang pinisepuh yang gigih menjadikan RWnya hijau dan asri sehingga mendapatkan pengakuan Kalpataru atas kegigihannya. "Ini memang tidak mudah, apa kita bisa melakukannya" begitu Mbak Brigite Isworo Laksmi, wartawati KOMPAS merasa khawatir dalam soal implementasinya. Time frame memang dibuat longgar dari 3 bulan hingga 2 tahun. Memang tidak perlu lama-lama karena 3 bulan kemudian ini, konon kita akan dipertemukan lagi dan dipertanyakan perubahan apa yang dilakukan dan yang mana program yang berjalan dari "Mimpi" yang dirumuskan tentang Jakarta.

Bila melihat komponen dan kesadaran yang terbentuk, rasanya memulai Jakarta yang hijau dari tingkat RT dan RW bukan mustahil. Mudah-mudahan saya bisa memulainya dari keluarga dan mengajak RT dulu.

Tahapan yang dilakukan dalam dua hari ini adalah:
  1. Discovery: tahap mengidentifikasi segala potensi (modal fisik, modal manusia, modal sosial, modal budaya) yang tersimpan di kota ini.
  2. Dream: bersama-sama menemukan citra kota Jakarta yang kita impikan bersama.
  3. Design: perumusan strategi dan langkah-langkah bersama dimasa mendatang.
  4. Destiny: Memantapkan komitmen untuk masa depan dalam bentuk ikrar bersama ”menyelamatkan Jakarta”.

Lebih dari 10 psikolog dari Universitas Indonesia termasuk Niniek L Karim, dan beberapa doktor psikologi UIN memandu Sarasehan ini.

Tabik

Thursday, July 31, 2008

Miss Indonesia Earth 2008


31 Juli 2008, kalau diceritakan tentang kegiatan ceramah lingkungan yang saya adakan hari ini, tentu membuat dosen muda manapun, akan iri tujuh turunan. Saya memberikan kuliah didepan 20an peserta contest Miss Indonesia Earth yang akan mewakili Indonesia dalam ajang dunia Miss Earth bila mereka terseleksi. Mereka adalah hasil seleksi ratusan gadis-gadis potensial yang bukan saja hanya memiliki beuty tetapi juga brain.

Ini adalah kehormatan kedua dan saya tahun lalu diundang di forum yang sama memberikan kuliah tentang konservasi alam Indonesia.

Karena ini adalah pembekalan untuk mereka menjadi duta lingkungan dalam kegiatan yang akan mereka lakukan tahun ini dan tahun depan, tentu saja dengan senang hati jurus-jurus penjelasan tentang kasus lingkungan di Indonesia harus mereka kuasai, misalnya jika mereka mendapatkan pertanyaan tentang hutan di Indonesia dst.

Saya tidak tahu, apakah dengan dua jam kuliah, mereka bisa mendapatkan penjelasan yang lengkap, tapi saya berupaya untuk memfasilitasi dan membekali pemahaman tentang konservasi secara global dan sederhana. Hal penting tentunya, gadis cantik putri bumi ini juga harus sungguh-sungguh belajar dan banyak membaca dan terlibat dalam sejumlah aktifitas lingkungan agar mereka memahami makna penyelamatan lingkungan dan konservasi dalam arti sesungguhnya.

Dalam banyak hal karena mereka mempunyai latar belakang yang berbeda dan kuliah di berbagai bangku perguruan tinggi bukan berencana untuk menjadi miss earth, tetapi menjadi seorang awam yang belajar tentang lingkungan. Nah sebagai orang awam, keperdulian lingkungan menjadi penting, maka ketika mereka menanyakan apa yang harus diperbuat ketika melihat ada anak orangutan diperjual belikan di pasar burung?

Mereka harus mengadukan keberadaan dan perbuatan melanggar hukum (menjual binatang langka) kepada balai konservasi sumberdaya alam (KSDA) setempat. Tentu saja orangutan bukan untuk diperjual belikan, tetapi harus dilindungi di habitat aslinya....

Dialog Kontribusi Pesantren untuk Konservasi Alam, 29 Juli 2008


Walaupun dimulai suasana pagi agak berdebar-debar, untuk menyelenggarakan dialog kecil memfasilitasi pesantren, ternyata berhasil juga. Berdebarnya, pagi-pagi menuju CICO salah jalan, dengan maksud jalan pintas eh, nyasar ke perumahan.

Acara berjalan sesuai dengan harapan, banyak input dari pesantren yang ternyata telah berbuat banyak tetapi tidak tercover secara significant, namun tidak bisa dipungkiri juga ada yang memang masih dalam tarap mempelajari dan ingin terlibat lebih banyak soal konservasi.

Pesantren tentu saja tidak menjadi tumpuan untuk diharapkan berkontribusi banyak dalam soal pelestarian alam, namun posisi institusi pendidikan Islam yang unik di masyarakat ini, sedikit banyaknya akan dapat membantu mensosialisasikan dan bertindak langsung untuk konservasi, minimal dalam cakupan pemahaman bagi para santri mereka yang berjumlah dari ratusan hingga ribuan tersebut. Berikut ini rekaman tulisan yg dibuat sdr Fathi Royyani yang ikut sebagai pembantu umum panitia.

Sarasehan Peran Pesantren
Dalam rangka “membangunkan” kekuatan besar untuk pelestarian lingkungan di Indonesia dengan memberikan kesadaran lingkungan bagi para Kyai maka dilaksanakan Sarasehan Kontribusi Pesantren Untuk Konservasi Alam di Bogor yang digagas dan diprakarsai oleh Religion and Conservation Initiative CI Indonesia, Yayasan Owa Jawa dan Rufford Small Grant. Sarasehan ini dihadiri oleh 30-an Kyai dan pengurus pesantren dari tiga wilayah (Bogor, Sukabumi dan Cianjur) yang berdekatan dengan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango.

Di pilihnya pesantren-pesantren tersebut karena diharapkan mereka akan terlibat dalam penjagaan dan juga restorasi Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, dan Taman Nasional Gunung Salak. “Diharapkan usaha pelestarian yang dilakukan kedua Taman Nasional tersebut, tanpa keterlibatan pesantren, kurang efektif. Masih banyak kerusakan dan penebangan ilegal di taman nasional yang dilakukan oleh masyarakat.
Sarasehan ini diisi dengan dua session diskusi.

Pada session pertama yang menjadi pengantar diskusi adalah Prof. Dr. Dudung Darusman, MA dari Fakultas Kehutanan IPB dan KH Thanthowi Musaddad, MA dari Pesantren al-Wasilah, Garut. Prof Dudung membawakan makalah berjudul Membangun Tradisi Islam dalam Memelihara Lingkungan Hidup sedangkan Kyai Thonthowi membawakan makalah seputar kaitan antara Islam dan konservasi. Dalam pembahasannya, Kyai Thonthowi membahas tentang konsep-konsep yang telah ada dalam Islam, seperti ibadah, jariyah, dan lain-lain kearah hubungan manusia dan alam. Selama ini, konsep-konsep tersebut lebih banyak diterapkan pada pergaulan sosial. Diskusi session pertama ini dimoderatori oleh Iwan Aminuddin, salah seorang aktifis lingkungan dan mahasiswa tingkat doktoral Institut Pertanian Bogor.

Pada session kedua, yang bertindak sebagai pengantar diskusi adalah Dr. Ahmad Sudirman Abbas, MA dari Universitas Islam Negeri Jakarta dan Fachruddin M. Mangunjaya dari CI Indonesia. Ahmad Sudirman Abbas membawakan makalah yang berjudul “Menghidupkan Lahan Mati, Ihyaaul Mawat, dalam Kajian Fiqih” sedangkan Fachruddin membawakan makalah “Tradisi Harim dan Hima dalam Konservasi Islam. Diskusi session kedua ini dimoderatori oleh Kafil Yamin dari Media.
Para pengantar diskusi maupun para peserta tampaknya sepakat akan satu hal, bahwa Islam memiliki konsep-konsep konservasi, landasan hukum konservasi, dan tradisi konservasi yang pernah dilaksanakan dalam sejarah Islam. Hanya saja, hal-hal tersebut belum begitu “membumi” di masyarakat sehingga banyak dari masyarakat Islam yang kurang mengetahuinya.

Para kyai maupun pengurus pesantren yang menjadi peserta terlihat antusias dalam mengikuti sarasehan. Antusisme peserta ditunjukkan dengan banyaknya respon yang dilakukan melalui pertanyaan-pertanyaan seputar konsep-konsep konservasi maupun tanggapan-tanggapan dalam session diskusi.

Sarasehan ini juga menghasilkan satu “kesepakatan” umum tentang perlunya meningkatkan peran pesantren untuk melestarikan lingkungan. Peningkatan tersebut bisa berupa pembibitan tanaman dan gerakan pelestarian alam yang dimulai dari pesantren. Para peserta sepakat bahwa pesantren tentu saja memiliki “tenaga” di lapangan yang siap mensukseskan program konservasi namun lemah dalam kordinasi dan ilmu-ilmu tentang lingkungan. Untuk itu diperlukan sinergi antara pesantren, NGO, maupun ilmuwan dan pemerintah.

Sarasehan ini membawa angin segar baru bagi usaha-usaha penyelamatan lingkungan dari kerusakan di Indonesia. Maka sambil terus merapatkan barisan dengan kordinasi yang kuat antar organisasi serta didukung aksi nyata di lapangan, kita boleh berharap sambil menantikan kiprah pesantren lebih lanjut dalam konservasi alam. Semoga...

Berita tentang pertemuan:

Menghukum Para “Politikus” Perusak Lingkungan

Hari Kamis,24 Juli 2008, meluncur ke Parung, menuju sebuah institusi pendidikan yang dibangun oleh Dompet Duafa (DD) Republika. Disini saya memberikan kuliah untuk 100 mahasiswa yang rata-rata berada di semester pertama. Mereka adalah para mahasiswa berprestasi tetapi berkatagori duafa dan mendapatkan beasiswa kuliah di 11 perguruan tinggi negeri yang disebar di seluruh Indonesia.

Mereka meminta materi tentan global warming dan perubahan iklim yang sekarang tengah menjadi pembahasan di berbagai tempat dalam soal kasus lingkungan.
Sungguh mengesankan institusi pendidikan yang dikelola secara professional ini berdiri sejak 1999 dan sekarang tahun ke sepuluh, banyak menghasilkan langkah yang berarti dan secara swadaya dompet duafa telah membuktikan jika zakat dan infaq dikelola dengan baik, maka akan mempunyai dampak luar biasa.

Di kompleks sekolah ini ada masjid dan asrama, serta sekolah dari tk hingga SMA. Sedangkan para mahasiswa yang menjadi peserta kuliah global warming saya itu adalah mereka yang beruntung lolos seleksi beasiswa untuk perguruan tinggi negeri.
Sebagai masasiswa yang kritis, hampir 80% mengangkat tangannya secara berbarengan ketika sesi pertanyaan dibuka. Ini membuat saya suka, tersenyum dan sekaligus terharu, mereka antusias dengan pengetahuan yang baru dan sanggup berdialog secara kritis.

Salah satu pertanyaanya adalah: “Bagaimana menyikapi penyimpangan lingkungan di era democrazi seperti sekarang ini?” Jawaban saya adalah simple: Mereka membuat list partai dan anggota parlemen yang ternyata terbukti tidak mempunyai komitmen lingkungan bahkan melakukan penyelewengan seperti korupsi dan terlibat suap atas penggundulan hutan, lalu, mengingatkan pada public dan diri mereka sendiri agar “menghukum” partai dan orang-orang tersebut dengan tidak lagi memilihnya pada 2009. Itulah cara yang “paling lemah” dapat dilakukan yaitu menentukan kepemimpinan dan menunjuk pemimpin dengan komitmen perawatan alam dan lingkungan yang lebih baik.

Wednesday, July 23, 2008

Sarasehan Pesantren

Kontribusi Pesantren untuk Konservasi Alam, tanggal 29 Juli 2008 CICO Resotr, Bogor

View Larger Map

Friday, July 04, 2008

Pesantren di Mlangi


















Pesantren Arrisalah (atas) dan Pintu Gerban Masjid Mlangi

Jumat Pagi, setelah penutupan International Conference di UGM kemarin, saya mengunjungi pesantren di Kampung Mlangi dan shalat Jum'at di masjid Jami Mlangi, sekitar 25km dari Jogyakarta. Kunjungan semula direncanakan ke Pesan-trend Iman Giri, saya batalkan karena tidak pas waktunya. Di Kampung Mlangi ada 20 pesantren yang berpencar-pencar di
perkampungan, kecil-kecil dengan murid puluhan hingga ratusan. Tidak semuanya dapat tercover dalam perjalanan ini, memang kesan saya pesantren disini tumbuh bersama tradisi masyarakatnya yang guyub dan spartan.

Disini saya dan Pendeta Muda Roni Chandra dari Semarang, bersilaturahim disambut oleh Ustadz Muhammad Mustafid dan beberapa ustad lain. Kami melihat Pesantren Ar Risalah yang ada spesifikasinya untuk menghafal al-Qur'an (tahfizd) 30 juz dan murid-muridnya pun tidak banyak, asramanya sangat sederhana dan muridnya berasal dari masyarakat sekitar juga dari
berbagai daerah.

Komunitas kampung Mlangi mewarisi tradisi pesantren cukup tua, disini ditemukan Makam Kiyai Nur Iman bergelar Pangeran Ngabei (salah satu pengikut Pangeran Diponegoro) dan masih keturunan Kesultanan Mataram (Jogjakarta), makam beliau persis berada di sebelah kiri depan Masjid Jami Mlangi. Tidak banyak cerita yang bisa diperoleh dari kunjungan ini kecuali
sejarah Mbah Kiayi Nur Iman yang merupakan seorang keturunan Raja Mataram (RM Suryo Putro) yang melarikan diri kemudian menjadi santri di pesantren.

RM Suryo meninggalkan kerajaan kemudian menyantri di sebuah pondok pesantren dan mendapat nama samaran Muchsin, sekitar tahun 1703. Saya hanya membayangkan, betapa tuanya pesantren itu yang entah kemana jejaknya kini. Yang perlu dicatat adalah, walaupun bangunan pesantren tersebut, dahulu --mungkin karena zaman perjuangan, maka bentuk mereka mungkin hanya gubuk-gubuk bambu yang sederhana. Bangunan itu bisa roboh, tetapi yang mengagumkan, tradisi pesantren itu yang tumbuh terus melekat, dengan adanya kiayi dan masjid dan proses belajar mengajar. Memang pesantren dilakukan untuk menjadi benteng atas kekalahan strategi melawan kolonial yang mempunyai kecanggihan yang lebih baik baik dari segi politik dan strategi, dan menurut saya, benteng tersebut telah berhasil didirikan dan dilestarikan dalam bentuknya dengan pesantren sekarang ini: pesantren dari bentuk yang pondok-pondok hingga pesantren modern gontor dan super modern seperti Ma'had Al Zaytun.

Thursday, July 03, 2008

Konferensi Globalisasi dan Tantangan Agama-Agama




Dari kiri: Aristides Katoppo, Fazlun Khalid, Maria (moderator)
dan Michael Nothcott

Dari tanggal 30-4 Juli 2008, saya berada di Jogjakarta untuk mengikuti Konferensi Internasional tentang Globalisasi: Tantangan dan Peluang untuk Agama-Agama (Globalization Challange and Opportunities for Religions) yang diadakan oleh ICRS dan CRCS, UGM Jogjakarta. Konferensi ini diikuti oleh sekitar 120 peserta dari berbagai kalangan agamawan, akademisi, aktifis yang datang dari berbagai disiplin ilmu diantanya beberapa scholar dari berbagai belahan dunia yang menjadi nara sumber dalam konferensi: Mark Woodward (Arizona State Uniersity, USA), Melba Magay (Philipines), Michael Nothcott (Edinburg, UK), Fazlun Khalid dan beberap tokoh agama dan akitif nasional seperti Ismail Yusanto (Jurubicara Hijbut Tahrir), dan Romo Ign Sandiwan Sumardi (aktifis sosial dan relawan dari Jakarta), Bill Dyrness( Fuller Theological Seminary, USA). Konferensi ini adalah follow up dari tiga worksop sebelumnya yang bertemakan tiga topik:



  • Globalization, Media and Youth


  • Globalization, Wealth Poverty and Environment


  • Globalization and Religious Symbols/Practices

Dialog ini memang mencakup pembicaraan yang cukup luas tentang pengaruh globalisasi yang sangat dahsyat, dimana komunikasi mempengaruhi segala bentuk kehidupan. Arus informasi yang tidak terkontrol membuat kita lebih awas dengan
persoalan di negara lain dan tetapi tidak melek dengan masalah tetangga sendiri. Bertemunya kita di dalam arena bagi saya pribadi membawa banyak pengalaman dan pemahaman bagaimana sikap agama lain dari berbagai sumber dan latar belakang berbeda mempunyai pendapat dan persepsi tidak sama dalam memandang globalisasi.

Dari segi tertentu, kita belajar tentang pluralisme, memahami dan berdialog langsung ketika saat istirahat dengan saudara sebangsa tetapi berkeyakinan lain. Misalnya saya baru mengerti tentang Kristiani yang ternyata tidak hanya terdiri dari Katolik dan Protestan saja, tetapi banyak kelompok lain dengan group dan gereja kecil yang tetap berkembang. Saya bertemu Romo dari Gereja Ortodok Jawa di Solo, yang sumber ajarannya berkiblat pada Jurusalem (tempat kelahiran Nabi Isa), dan ajaran inilah yang kiranya menjadi gereja ortodok Kristin Koptik yang dimasa Rasullullah saw disebut dengan Ahli Kitab.

Karena saya membidangi soal lingkungan, panitia menunjuk menjadi 'convener' untuk group discussion: menampung pembicaraan yang tidak tercakup didalam dialog diskusi. Satu aspek yang menarik menurut saya dari segi lingkungan adalah pendapat Michael Nothchott yang mengemukakan tentang awal mula skandal penciptaan manusia yang dihubungkan dengan
global warming. Mike membuka pembicaraannya dengan soal pohon dan mengutip surah 14:24, tentang pohon yang baik.

Yang menggambarkan betapa pentingnya pohon, oleh karena itu dia menggambarkan bahwa pemanasan global sekarang ini berkait dengan soal pula, ketika carbon menjadi soal pohon penting dalam menyerap kembali emisi karbon. Dan skandal manusia kembali bersentuhan dengan soal pohon, sebagaimana Adam as juga telah bermasalah karena 'bersentuhan dengan
soal pohon,'. Terlepas dengan soal penafsiran, bahwa kemanusiaan sekarang--karena ancaman pemanasan global--sangat tergantung eksistensinya dan penyeimbang keadaan adalah pohon.***

Sunday, May 25, 2008

Konservasi, apakah musibah?

Prof Chotibul Umam menyerahkan kenang-kenangan dari NU


Sebagai aktifivis yang bergiat di sebuah organisasi internasional, saya sering ditanya tentang berbagai hal yang berkaitan dengan aktifitas organisasi yang terkadang dianggap sebagian orang ternyata melanggar hak-hak rakyat.

Pasalnya konservasi di Indonesia didorong oleh beberapa organisasi internasional dan banyak kawasan-kawasan konservasi direkomendasikan oleh lembaga-lembaga lingkungan (NGO) international kepada departemen kehutanan. Dephut memang sudah membuat banyak hal, tetapi kebutuhan untuk perlindungan untuk kawasan konservasi masih dianggap sangat lamban dan tidak selaju dengan kerusakan yang dialami hutan Indonesia.

Sayangnya laju hunian terhadap habitat alami juga sangat cepat, sehingga sepertinya tidak ada lagi tanah yang sudah tidak bertuan. Beberapa taman nasional di claim merupakan hak adat dan bahkan terkadang sudah ada ladang. Pembagian tata lahan (kawasan konservasi) yang lamban setelah ditunjuk menjadi sebuah kawasan konservasi dan untuk beberapa bagian kawasan yang ternyata sudah dihuni oleh penduduk (yang telah digarap), pengusiran mereka keluar kawasan, ternyata menjadi "sebuah musibah".

Apakah penunjukan kawasan konservasi seperti itu adalah musibah?
Boleh iya boleh tidak, sebab kepentingan konservasi jangka panjang memang menuntut keikhlasan orang-orang di sekitar hutan demi anak cucu mereka kelak dan kondisi ekosistem memang memerlukan pengorbanan. Tetapi yang perlu dikecam adalah mereka yang berperilaku boros dan tidak turut perduli dengan kesengsaraan mereka, tidak menyediakan alternatif.

Konflik terjadi karena kekurang pahaman tentang fungsi kawasan konservasi yang sangat agung, melindungi makhluk hidup, tapi mungkin ada kesalahan juga pada penetapan kebijakan kawasan dan undang-undang yang kaku untuk pengelolaan kawasan taman nasional. Taman Nasional yang dibuat oleh Indonesia sekarang adalah taman nasional yang diadopsi dari Amerika Utara, yang berlaku sama, mengusir suku apache dan memerangi penduduk lokal untuk keluar taman nasional karana penguasaan lahan. Sungguh tidak manusiawi jika ini diterapkan di Indonesia, karena itu, saya mengusung Konservasi Islami, dengan pendekatan Hima zaman Rasulullah: yang sifatnya lebih lunak kepada orang miskin dan penggembala rumput yang diperbolehkan mencari kehidupan di kawasan konservasi.

Hima sekarang menjadi alternatif pengelolaan kawasan yang dihargai sebagai kawasan yang paling bertahan di timur tengah, cerita ini dapat dilihat di blog islam dan ekologi; mungkinkah pendekatan cara yang diterapkan Nabi Muhammad saw serta khulafa ul rasyidin (Abubakar, Umar, Utsman dan Ali, radiyallahu anhu) dapat kita adopsi sebagai bentuk alternatif kawasan konservasi?

Saya berdoa semoga alternatif ini bisa terwujud, sebagaimana ummat Islam di negara yang sekuler, mereka bisa memilih antara Bank Ribawi dan Bank Syariat.

23 Mei, saya diminta oleh CBDRM NU untuk presentasi tentang: "Kompleksitas Lingkungan yang Berdampak Bencana"

tabik!

Sunday, April 27, 2008

Gaya Hidup Ramah Lingkungan (baru ada 74)

  1. Jangan menggunakan listrik untuk penerangan atau peralatan kecuali jika anda benar-bnar sedang menggunakannya, jika tidakmenggunakannya matikanlah !
  2. Menggunakan lampu luorescent (neon) yang hemat energi.
  3. Pergunakan penerangan, pembangkit listrik, unit-unit pemanasbertenaga surya.4. Manfaatkan lebih banyak penerangan cahaya alam.
  4. Pergunakan ventilasi yang struktural untuk penyejuk ruangandaripada menggunakan Air Condition (AC)
  5. Pergunakan air dingin, bukan air panas.
  6. Pastikan peralatan bertenaga listrik tetap efisien dan terawatdengan baik
  7. Pengendalian penerangan, alat pendingin udara secara otomatis,misal dengan alat sensor cahaya.
  8. Pergunakan alat-alat pematul cahaya untuk menggantikan lampu penerangan.
  9. Pergunakan film pelapis kaca atau rayban untuk mengurangi panasmatahari.
  10. Tanamlah tanaman sebanyak mungin di kebun anda untuk mengurangikarbondiosida.
  11. Jangan membakar apa saja, bahkan rokok.
  12. Lengkapi mobil atau motor anda dengan katalisator.
  13. Jika menggunakan kendaraan pompalah ban anda (isi angin) yang cukup, kekurangan angin di kendaraan menyebabkan pemakaian BBM lebih boros.
  14. Jika anda menghentikan kendaraan dalam waktu yang tidak lama,jangan matikan mesin kendaraan anda.
  15. Kurangi bawaan pada kendaraan anda untuk mengurangi beban,bahkan mengeluarkan sebatang pensil dari kendaraanpun akan membantu.
  16. Jangan membuang sesuatu yang dapat di daur ulang, seperti kalengaluminium dan kertas. Simpan dan berikan pemulung untuk dijual kembali.
  17. Meminimalisir penggunaan styrofoam (gabus sintetik) untukbungkus makanan.18. Lihat dan periksa kembali jika anda menggunakan aerosol, cat,AC, apakah mengandung khlorofluorokarbon (CFC).
  18. Jangan beli barang apapun yang langsung dibuang sesudah dipakaisekali, jika ada barang sejenis yang dapat dibeli sebagai investasijangka panjang.
  19. Belilah produk yang anda sukai sehingga produk tersebut tidakperlu diganti sampai benar-benar rusak dan tidak dapat dipakai kembali.
  20. Cobalah untuk tidak memiliki barang yang hanya memiliki nilai estetika saja
  21. Berhati-hati dengan barang plastik yang anda beli karena adabeberapa jenis plastik tidak dapat di daur ulang.
  22. Bawalah tas anda sendiri jika hendak berbelanja yang terbuatdari kain atau kanvas untuk mengurangi produk plastik.
  23. Cegahlah seseorang jika anda melihatnya membuang sampah secara sembarangan.
  24. Jangan sekali-sekali memotong tanaman atau menebang pohon karenatetumbuhan membantu menyelamatkan bumi.
  25. Sirami taman anda dengan air hujan, buat sistem tadah hujan.
  26. Pergunakan air sehemat mungkin untuk mencuci kendaraan danmenyiram kebun anda.
  27. Pisahkan sampah yang dapat di daur ulang dan tidak.
  28. Jangan membuang sampah kedalam saluran air, terusan air, sungaidan laut.
  29. Jangan gunakan bahan kimia terutama bahan detergen dan bahanpembersih yang mengandung phospat.
  30. Pakailah bahan pengganti zat kimia dalam rumah misal jus lemondicampur dengan garam,cuka dan amoniak.
  31. Jangan menggunakan air lebih dari yang anda perlukan.
  32. Apabila mungkin, air di daur ulang.
  33. Jangan menggunakan air untuk membersihkan halaman jika dapatdibersihkan dengan sapu.
  34. Pastikanlah agar keran bekerja dengan baik dan pergunakanpancuran yang mengalir pelan.
  35. Periksa pembilas toilet berada dalam keadaan baik untukmenghindarkan pembilasan yang tidak perlu.
  36. Simpan air bekas dan mesin cuci pakaian untuk mencuci kendaraananda.
  37. Biasakan meminum air dengan tidak menyisakan air dalam gelas.
  38. Jangan melakukan perjalanan, kecuali anda terpaksa melakukannya.
  39. Jangan melakukan perjalanan dengan kendaraan pribadi, kecualijika anda memang terpaksa.
  40. Pergunakan kendaraan umum untuk mengurangi kemacetan, karbonmonoksida dan ongkos parkir.
  41. Pergunakan sepeda, jika jarak yang ditempuh relatif dekat.
  42. Pergunakan bahan bakar yang bebas timah (unleaded fuel).
  43. Pergunakan bahan bakar beroktan rendah.
  44. Mengkonversi mesin kendaraan anda untuk memakai gas alam yang dipadatkan.
  45. Merawat mesin dengan teratur.
  46. Pilih kendaraan yang menggunakan bahan bakar paling efisien.
  47. Jika hendak mencetak (nge-print) periksa setting print terlebihdahulu, pergunakan cetak draft untuk menghemat tinta.
  48. Pergunakan dibalik kertas yang telah terpakai untuk kebutuhanintern.
  49. Jangan pergunakan gambar-gambar yang yang tidak dibutuhkan dalamsebuah tulisan, karena gambar membutuhkan tinta yang lebih.
  50. Pilih jenis dan ukuran huruf yang standart.
  51. Jangan mempergunakan pupuk yang mengandung zat kimia ataupenyalahgunaan pestisida.
  52. Pergunakan bahan kimia untuk tanaman herbisida dan fungisidaseefisien mungkin.
  53. Mulailah menanam tanaman dengan teknik hidroponik (ditanam tanpamenggunakan tanah dan hanya memberi gizi secukupnya di dalam air.
  54. Untuk pedagang keliling, jangan menghidupkan alat-alat yangmenimbulkan suara bising, kecuali untuk memberikan demonstrasi kepadakonsumen.
  55. Menghindarkan musik pengiring ditempat-tempat publik.
  56. Jangan mengoperasikan peralatan pada jam-jam puncak istirahat.
  57. Hindari memperdengarkan musik bersuara keras, sehingga mengaburkan bunyi pengumuman yang penting.
  58. Pastikan bahwa peralatan benar-benar kedap suara dan diservisuntuk memperkecil suara bising.
  59. Pakailah alat penutup telinga jika bekerja pada mesin yangbersuara bising.
  60. Pastkan agar produk yag menimbulkan suara mengeluarkan suarasekecil mungkin atau diisolasi.
  61. Gunakanlah alat-alat musik pada tingkat suara yang wajar dantidak memekakkan telinga.
  62. Jangan menempel poster,atribut organisasi atau hal-hal yangberbau promosi di dinding atau tembok di area publik.
  63. Hindari pemasangan tanda penunjuk atau rambu lebih dari satu sehingga orang tidak dibingungan dengan rambu itu.
  64. Pasanglah reklame atau baliho pada tingkat kewajaran.
  65. Jangan bangun pabrik yang menimbulkan pencemaran di daerahpemukiman.
  66. Pastikan adanya prasarana yang memadai untuk pembuangan seluruh limbah.
  67. Meminimalisir tingkat asap beracun dan limbah cair yang rendah.
  68. Cari informasi dari pemerintah mengenai standar pencemaran udara dan air yang dapat diterima.
  69. Pergunakan bahan bakar yang paling sedikit menimbulkan pencemaran.
  70. Pergunakan teknologi pembersih atau anti pencemaran yang adauntuk menjaga agar prosesing pabrik anda menjadi bersih.
  71. Hindarkan pemakaian bahan-bahan beracun, kecuali jika haltersebut sangat diperlukan sekali.
  72. Jangan menanam limbah beracun tanpa nasehat ahli.
  73. Jangan membuang limbah beracun di luar pabrik anda.
  74. Jangan membakar limbah industri di tempat terbuka.
  75. Apapun yang anda lakukan dan apapun yang anda beli, pikirkan apakahanda merusak lingkungan kita? Pesan diatas diambil dari blog:http://learningrevolution.wordpress.com/2008/04/20/save-our-planet-75-cara-menyelamatkan-bumi/

Thursday, April 24, 2008

Omar Sossa Java Jazz

Rasanya masih penasaran kalau menjadi penggemar jazz tapi tidak memasang clip jazz ini di blog. Saya ragu-ragu untuk memuatnya takut digugat oleh Java Jazz, namun kerinduan terhadap Jazz bisa menghapus semuanya itu. Selamat menikmati!

Untuk mengenang sahabatku Monalisa Tasiam

Buku Biologi Konservasi dan Caravan di Safari Park



Caravan di Taman Safari dan Diskusi Buku Biologi Konservasi di UI (bawah)


Setelah serius menjadi moderator diskusi buku di UI, Depok (18/4) dalam peluncuran buku Biologi Konservasi, yang dihadiri oleh Emil Salim, Sony Keraf, Damayanti Buchori, Ninok Leksono dan Agus Purnomo. Acara yang dihadiri oleh 200an mahasiswa dan ungangan ini sangat menarik karena mencerahkan. Emil Salim selalu saja tentunya merasa tertang untuk mempertanyakan kepada ahli konservasi, kontribusi yang lebih besar berupa pemberdayaan genetika yang bisa menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi dari hanya sekedar kayu.

Sayangnya, cita-cita untuk memujudkan harga yang mahal--lebih dari sekadar menebang kayu ---misalnya melalui bioprospecting di Indonesia masih belum berjalan. Konservasionis berjalan ditempat berupaya melindungi mati-matian hutan alam, tapi belum mampu menyungguhkan alternative yang lebih berharga dengan mempertahankan hutan, tetapi hasil yang diperoleh’riel’ selain menebang kayu, rotan, resin, dan ekploitasi lainnya, belumlah terwujud. Nampaknya jalan masih panjang untuk memberikan keyakinan bahwa hutan tropis Indonesia mempunyai potensi.
Sejujurnya, yang telah banyak dilakukan memang hanya sebatas penelitian guna memberikan pemahaman pada ilmu-ilmu murni belum pada tahap aplikatif yang memberikan dampak ekonomi substantive bagi masyarakat sekitar. Memang, jika dihitung aka nada jasa ekosistem yang harganya tidak ternilai seperti air, udara, karbon sink dll, namun, studi-studi saja akan tidak memadai untuk memberikan keyakinan pada masyarakat tentang pentingnya memelihara keanekaragaman hayati secara utuh.

Week end kali ini memang harus lebih menyenangkan, Sabtu (19/4), kami mensyukuri nikmat Ilahi, pergi ke gunung, kami sekeluarga menguji coba ‘caravan’ alam yang disediakan oleh Taman Safari. Menikmati udara sejuk memang ternyata harus dibayar mahal, namun akan lebih bermakna lagi kalau ternyata udara yang segar adalah lebih ‘mahal’ dibandingkan udara yang tercemar seperti di Jakarta.

Kami mengambil paket satu malam, tidur di caravan dengan fasilitas yang komplit. Tidak terpikir sebelumnya tempat sekecil itu dibuat sangat efisien untuk keluarga (kami berlima). Sayangnya cuaca sore sangat mendung dan hujan sehingg kicauan burung tidak banyak terdengar. Begitu pula pagi setelah shalat subuh, saya membuka pintu dan menghirup udara segar, tapi kicauan burung di tempat ini sangat minim. Saya kira karena hutan cemara (pinus) tidak banyak menyediakan pakan bagi burung untuk survive, sehingga celoteh spesies ini nyaris tak terdengar. Barangkali perlu ditanam pohon-pohon pionir yang disukai burung misalnya pohon salam dan fikus yang buahnya selalu menjadi idaman setiap burung terbang.***

Tuesday, April 15, 2008

Globalisasi, Lingkungan dan Kemiskinan


Jogja memang selalu antusias dan haus dengan informasi dan perkembangan. Dinamika pendidikan di tanah Sri Sultan Mataram ini memang selalu menginginkan up date. Kesan itulah yang saja jumpai dalam rangkaian kunjungan ke Jogja, tanggal 11 hingga 13 Januari. Hari pertama (11/4), Jaringan Mahasiswa Muslim Kehutanan (JMKKI) mengundang untuk mengadakan diskusi dengan topik: kearifan lingkungan dalam persfektif agama, budaya dan ilmu. Pembicara lain adalah Ustadz H. Nasruddin Ansory CH, dari Pesan- Trend (memang begitu tulisannya...) Iman Giri (lihat disini>>>), Yogjakarta, sebuah yang menceritakan tentang perkampungan yang tadinya kering kerontang kemudian tergerak—setelah beliau mewakafkan diri—di kawasan tersebut dan mejadi teman banyak masyarakat untuk melestarikan desa dan menhijaukan 165 ha hutan santri, dan pemberdayaan pertanian. (Kesan tentang pekerjaan Ustadz Nasurddin)

Kegiatan lain yang dilakukan di Jogja adalah Diskusi Buku Menanam Sebelum Kiamat: yang tampaknya mulai mendapatkan sambutan dan pemahaman mendalam dari berbagai pihak yang ingin mengetahui lebih jauh tentang kearifan lingkungan dalam Islam.
Diskusi bertempat di MP Book Point Jogjakarta, walaupun tidak banyak yang hadir, namun diskusi sangat menarik dilakukan dalam mensosialisasikan buku dan pengalaman.
Dialog menarik dilakukan dibawah Gunung Merapi (12-13/4), di sebuah wisma yang sejuk selama dua hari. Dialog ini mengambil tema: Globalisasi, Kemiskinan dan Lingkungan Hidup: Peluang agama-agama. Diskusi ini dihadiri oleh tokoh-tokoh agamawan dari berbagai kalangan, termasuk organisasi Islam ‘garis keras’ seperti Majlis Mujahidin, Hijbut Tahrir, Sabili, dll, juga ada dari Kalangan Pesantren, aktifis NGO, akademisi, tokoh agama Budha, Hindu, Katholik dan Protestan.

Lingkungan dan kemiskinan memang merupakan ‘common enemy’ yang tidak memilih keyakinan. Oleh karena itu dialog ini sangat bermanfaat dalam membicarakan musuh bersama tinimbang melihat perbedaan—yang sudah pasti berbeda. Sangat mengesankan, ketika kita duduk dan berdialog dengan rukun tanpa memandang lagi parbedaan, walaupun perdebatan masih mengemuka tetapi tetap dalam frame kepala yang dingin dan penuh citra saling menghargai. Tarima kasih pada ICRS dan CRCS UGM yang memfasilitasi acara ini. Tabik!

Wednesday, March 26, 2008

Flying Over at the Last Habitat of Sumatran Orangutan

It cost us two days to fly to Sumatra accompanying US Ambassador Cameron Hume, Jatna, Glenn Prickett, Arifin Panigoro, Tom and Ann Friedman and best friend—indeed—Mr Alfred Nakatsuma of USAID. We have seen the last habitat of the orangutans at Batang Toru Watershed Area, in the middle of the huge natural forest. One can clearly see from the airplane that the forest in Sumatra is disappearing rapidly, mainly in the lowland areas.We discuss about the oil palm threats as well as other economic activities in the area. As many other parts of Sumatra, there are not so many lowland forest habitat left, as I have seen the rest of forest left in some areas –included Batang Toru— it seen only the peak of high elevation, means not on the lowland forest.

We fly over a part of good forest, home to some 350-400 Sumatran orangutans. This area seems to be the last orangutan home in the southern part Tapanuli. Batang Toru holds at least six principal habitat types, including most of the forest (above 620m), hillside moist forest (dominant between 200m–600m), lowland, cliffs and talus slopes, secondary forest and riparian forest. The total existant habitat covers approximately 148,000 ha.We arrived at Aek Godang Air Port and continue our trip along the hard trails to get Aek Nabara Village and meet the community.

They are really happy and tell us about their dreams and thank the group for the visit to their area. Mr. Hasibuan, the head of the village, says they are surprised and thank CI for their understanding of the importance of the orangutans in their area. According to Conservation International, most of the forests in the West Batang Toru area are facing a severe thrat of deforestation, so that the orangutan population in this area has been under high pressure.On the other hand, this prediction can come true in the future, since the area is surrounded by provincial and regency level roads, new settlements that continue to extend upward, penetrating the forest.

The orangutan habitat is disturbed by humans through forest conversion to agriculture and plantation areas (dominated by the oil palm), and logging or gold mining activities, either legal or illegal.The most interesting lesson of this trip, is to see Tom Friedman persistently working, always taking notes with his laptop. Tom is on leave and concentrating on a new book. The creative process of this writer of international fame and winner of the Pulitzers prize is amazing to watch.

I envy him his amazing laptop with strong battery , with which he can continue to work for 3-4 hours , whereas mine lastsonly 30 minutes! Why? that is because (being honest…I use a
recycled computer). Yet my contributions to the conservation are useful (I think).You might read some articles by Thomas Friedman in the New York Times, or the book The Lexus and The Olive Tree, which has been translated into Indonesian and so many other books he wrote.

Tom is concerned with conservation in Indonesia, and he really helps us to spread the word to let people know about our activities and what happens in this remote area to the species!Tom is an amazing writer, because his ‘cursor’ may influence US policy, which might be change the world.

I hope that after Toms visit to Indonesia and Batang Toru, there will be a significant change in the perfective of the world (including the US) to our forest and living community ’In Indonesia.



TOM FRIEDMAN ABOUT His visit to Batang Toru Area, Sumatra



Sunday, March 09, 2008

Conservation or 'Conversation?'

Dr. Mubariq Ahmad CEO WWF Indonesia (midle)

Salimah, a Muslim women organization for Islamic preaching (Da’wah) invited me to attend their gathering at Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta (March 8th ). This Muslim Women organization lively force from the economic, capacity building, da’wah to disaster relief and -- having a significant grass root supporters ---enthusiastic to understand about conservation and environment.

Being honest, actually I replaced Dr. Hendri Bastaman (Assistant to the Ministry of Environment) who cannot attend the meeting. The organization claimed nation wide members and advocating of Muslim (women activism) instead other women organization: Muslimat NU –affiliated with NU and Aisiyyah wich is associated to Muhammadiyah.

The perfect presentation nowadays a systematic methodology to explain Islamic perfective to nature is a simple presentation produced by IFEES: Qur’an, Creation and Conservation (authored by Fazlun Khalid); the module available in Bahasa Indonesia and that translated by Conservation and Religion Program Conservation International Indonesia.

Conservation is not a popular terminology. It proven that in some where people have wrongly spelt it to ‘conversation’. I find the similar ‘guess’ to my bank statement too. That is why conservationist have to work hard to spread the facts of conservation not to become only a ‘conversation’, not doing anything like No Action but Talk Only (NATO). I find this action implemented in today’s dialogue at the students of Sekolah Tinggi Agama Islam Madinatul Ilmi (STAIMI), Depok who has a positive movement, they plant 1000 trees and they would like to understand what Islamic Perfective to the Nature by discussing my new book: Menanam Sebelum Kiamat: Islam Ekologi dan Gerakan Lingkungan.

Book Discussion: Menanam Sebelum Kiamat

At least the fundamental spirit of the eagerness nurturing the earth would be much more encouraged if they understand the knowledge which is much more involved by their ‘heart’ and believe. About 60 students attended the discussion they are enthusiastic to learn as well taking actions and care a contribution to save the earth from global warming.

Thursday, March 06, 2008

ECO PESANTREN








March, 5 2008, Ministry of environment (Rachmat Witoelar) launched a program specially to encourage Islamic boarding schools (pesantren) to involve in the environmental movement.


The frame called ‘eco-pesantren’. 600 Islamic boarding school member attended at the gathering and they are from all the schools of East Java, Sulawesi and Nusa Tenggara. I was surprised that now Pesantren become one of the leads to the movement in regards of their potential influence in the grass roots level.


To note now there about 17thousand numbers of Pesantren in Indonesia and they mostly existed in the rural areas and villages. It serves more than 2 million students. A little contribution the small world, I am proudly also involve to contribute as a member of the ‘guideline team’ for the eco-pesantren’ and Ministry office has produce ‘Buku Panduan Eco Pesantren’. Hopefully, this step could be a significant contribution in the future.

Sunday, February 17, 2008

Membedah Menanam Sebelum Kiamat




Diskusi buku ini dilakukan untuk memberikan sosialisasi pada mahasiswa Islamic College for Advanced Studies. Pendekatan lingkungan melalui agama telah menjadi suatu kewajaran dan transetter baru di dunia lingkungan hidup dan pelestarian alam. Sebabnya misi seorang ahli lingkungan tentu saja sangat mulia, melestarikan bumi dan menyelamatkannya dari berbagai kerusakan yang pada hakekatnya merupakan misi agama. (Ulasan seorang mahasiswa tentang diskusi ini dapat dilihat pada blog ini >>>>>)


Diskusi didampingi oleh Husein Heriyanto (editor ke 2) dan Bapak Samanto, seorang staff di ICAS.


Saya melihat perkembangan yang menggembirakan response dunia akademis terhadap pergerakan lingkungan dan agama (khususnya Islam) di Indonesia. Setidaknya ada tiga mahasiswa yang mengirim surat kepada saya bahwa, dia sekarang sedang dan telah menulis tesis tentang Islam dan Lingkungan dan seorang lagi dari perguruan tinggi berbasis pesantren yang menulis thesis S1-nya dalam bahasa Arab tentang fiqh al-biah.


Di ICAS kajian lebih intensif buku MSK dibahas oleh mahasiswa menjadi bahan kajian dan diskusi mahasiswa. Tampaknya ICAS ingin memberikan dan respons yang lebih pada persoalan lingkungan ini karena ia menjadi sangat diperlukan sekarang ini dalam menumbuhkan pikiran anak-anak muda yang akan menghadapi masa depan lingkungan yang jauh lebih kompleks.
Persoalan lingkungan adalah problema sekarang dan masa depan. Akselerasi teknologi dan eksistensi manusia di bumi akan semakin mengancam kehidupan lain yang sesungguhnya menjadi pendukung hidupnya sendiri.

Tabik!

Sunday, January 20, 2008

Pasak Bumi


Ini bukan kayu sembarang kayu, dia adalah pasak bumi yang berkhasiat obat sakit pinggang dan juga "keperkasaan pria". Pohonya lurus dan kecil saj paling tinggi munkin 10 meter, untuk ukuran tetapi akarnya menghunjam ketanan. Kalau terlalu tinggi tidak lagi dapat dicerabut. Untuk mendapatkan akar setengah meter, rasion batang mungkin hanya 20 cm saja, dan sulit dicabut. Memerlukan tenaga dua atau tiga orang. Sayang saya belum mendengan akar ini--walaupun penting untuk obat---tetapi tidak pernah dibudidayakan.


Orang malaysia mengatakannya tongkat ali

Buah Lokal di Kotawaringin Barat

Durian hutan atau kerantungan
( foto: bisikalgunung.blospot.com)


Buah-buah lokal ini sekarang menjadi sangat langka seiring dengan punahnya pohon-pohon ini yang ditebang untuk dijadikan kayu baik secara legal maupun illegal. Dulu ada buah nyatuh yang dijual dipasar, juga buah idur dan rengginang (rambbutan hutan) yang rasanya kecut luar biasa. Saya yakin buah-buah ini tidak lagi dapat dinikmati anak-anak usia SD, seperti saya sekolah dulu pada jaman sekarang ini. Berikut tulisan Wisnu Sukmantoro yang dibuang sayang mengenai buah-buahan itu.

Kalimantan kaya akan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan hutan. Sekitar 10,000 sampai 15,000 jenis tumbuhan berbunga yang terdiri atas 3000 jenis tumbuhan katagori tegakan pohon, 2000 jenis anggrek, 100 jenis pakis dan berbagai jenis lainnya. Dua ratus enam puluh tujuh spesies Dipterocarpaceae juga termasuk spesies yang mendiami hutan-hutan di Kalimantan dan spesies tersebut dianggap sebagai bahan baku perdagangan kayu terpenting di Asia Tenggara dan dunia. Tetapi, dalam kapasitas kampanye dalam pengembangan alternatif pendapatan yang diupayakan untuk tidak difokuskan pada kayu, ada beberapa manfaat lainnya dari jenis-jenis tumbuhan tersebut bagi kehidupan manusia seperti getah, obat-obatan dan konsumsi terutama buah-buahan.
Ada salah seorang masyarakat Desa Kubu, Kecamatan Kumai yang memiliki kepedulian terhadap tumbuhan yang memiliki nilai penting dalam pengadaan buah-buahan lokal Kalimantan, selain buah-buahan lokal yang sudah lama tersedia di pasar-pasar atau di toko-toko buah. Dalam bulan-bulan terakhir ini, beliau sebut saja Pak Surian banyak melakukan kegiatan mengumpulkan jenis-jenis buah tersebut untuk dilestarikan. Buah-buahan tersebut dianggap sebagai buah-buahan hutan yang banyak diantaranya memiliki katagori yang jarang dijumpai atau populasi spesies tersebut mengalami penurunan drastis akibat diambil kayunya. Katagori Pak Surian dalam menentukan jenis-jenis tumbuhan yang dianggap buah-buahan hutan adalah dari buah tersebut menjadi makanan burung di alam. Tetapi, tidak hanya itu, Pak Surian juga mencicipi sendiri buah-buahan tersebut layak atau tidaknya sebagai buah-buahan yang bisa dikonsumsi. Memang, beberapa diantaranya sulit dikonsumsi atau tergantung dari selera yang mengkonsumsi. Adapun buah-buahan hutan yang berhasil diidentifikasi secara penamaan lokal di Kotawaringin Barat adalah sebagai berikut;

1. Katagori Buah Hutan Rimba (Buah-buahan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan hutan daratan)
- Kerantungan
- Nyatuh
- Junjun
- Idur
- Pintau
- Senabil
- Sergam
- Pandau
- Dawak
- Sungkup
- Bentawa
- Bunut
- Paken
- Katikal
- Kuranji
- Asam Kalimantan
- Asam binjai
- Asam putaran
- Asam tungku
- Ramania
- Embak
- Kapul
- Marinjahan
- Kubing
- Tembesu
- Luwing
- Belimbing Kasai
- Kemanjing
- Belale
- Jeramuan
- Linang
- Petiti susu/Topah susu
- Kemuning
- Nyatuh jangkar
- Sundi
- Neniuran

2. Katagori Buah Hutan Rawa (Buah-buahan yang berasal dari tumbuhan-tumbuhan di hutan rawa)



- Papung
- Rerawa
- Nenasi
- Merang
- Bengaris
- Mata peladuk
- Petiti atau topah
- Piyayis
- Sesarai
- Asam asam
- Lakum
- Linang tikus
- Tentalang

3. Katagori buah padang (buah-buahan yang berasal dari habitat padang rumput atau semak):





- Karimunting padang
- Karimunting kodok
- Bati-bati
- Ubar
- Kejajing
- Jambu burung
- Mati adding

4. Katagori buah hutan mangrove (buah-buahan yang berasal dari hutan mangrove)





- Rambai padi
- Rambai Bogam
- Tembatu
- Rungun
- Mata undang
- Gayam

Dari berbagai buah-buahan tersebut ada yang sudah familiar di masyarakat seperti Kerantungan (sejenis durian), karimunting dan buah asam. Sekarang, tinggal bagaimana pemerintah daerah, para akademisi, LSM dan instansi lainnya melihat peluang tersebut untuk bisa dikembangkan atau direkayasa secara genetis untuk bisa menghasilkan buah-buahan unggulan khas Kalimantan. Manfaatnya, menambah nilai manfaat dari tumbuhan-tumbuhan Kalimantan dilihat dari segi ekonomi tanpa harus diambil kayunya dan sebagai komitmen semua pihak dalam pengembangan alternatif pendapatan untuk kesejahteraan masyarakat. Selain itu, jenis-jenis lokal ini dapat menjadi kebanggaan daerah terutama sebagai pengetahuan lokal masyarakat dan menjadi hak pengelolaan bagi masyarakat Kalimantan. ***

Sunday, January 13, 2008

Cerita dari Pulau Salawati Bersama Dai


Bersama Gus Im (tengah) di Kampung Kalobo P Salawati

Walaupun nun jauh di ujung Timur Indonesia, harus menyesuaikan ritme bangun yang lebih awal 2 jam, ternyata memang asyik juga. Bersama Gus Im (kh an im falahuddin mahrus) dari Lirboyo, kami menuju Pulau Salawati, untuk memberikan pelatihan tentang Islam dan Konservasi Sumber Daya Alam di Kampung Kalobo. Hanya 30 menit dengan speed boat CI atau 2 jam dengan kapal kayu ke pulau yang paling besar di Kabupaten Raja Ampat ini. Rupaya disana CI bersama AFKN dan TNC memfasilitasi juga acara peringatan 1 Muharram 1429 H.

Gus Im mempersiapkan Istighosah membaca zikir, sehingga masyarakat yang ada di sini mendapatkan manfaat dari kedatangan beliau. Pulau ini sangat sunyi dan kelihatannya air laut dan pantainya begitu bersih. Ada 46 imam dan khatib yang hadir, mereka berasal dari 33 kampung pulau-pulau kecil yang hampir terlupakan. Seorang khatib telah berumur dari Desa Harapan Jaya menemui saya, bercerita bahwa mereka memerlukan buku khutbah bahasa Indonesia untuk dibaca, karena selama ini mereka membaca khutbah dalam bahasa Arab, dan karena tidak dimengerti membuat semua jamaah jum'at tertidur! mengantuk.

Ada pula cerita masjid yang kalau ditinggal imamnya menangkap ikan (keluar kampung) lalu masjid tidak sembahyang jumat dan melainkan hanya shalat zuhur berjamaah. Jarak dan penduduk dan sumber daya yang sedikit memang menjadikan raja ampat sangat terisolir.

Kegiatan berlangsung tanggal 09-11 Januari 2008. Kegiatan juga diisi dengan tablikh akbar, pemilihan pildacil, khasidah dan penanaman pohon. Menurut saya ini kegiatan positif yang sangat baik untuk kaum muslimin di Raja Ampat, semoga mereka menjadi lebih baik di masa depan.

tabik!

Tuesday, January 01, 2008