Thursday, July 16, 2009

Dua Peradaban yang Berlanjut

Dua tempat wisata yang jaraknya dapat ditempuh berjalan kaki—karena berdekatan—dan sangat bersejarah selain Masjid Biru di Istanbul, yaitu: Museum Ayasofia dan Istana Topkapi (Topkapi Sarayi). Saya memasuki Ayasofia pada hari kedua, menggunakan kesempatan karena pertemuan konferensi diadakan hanya sampai jam 4 sore. Karena musim panas, jadi matahari terbenam –maghrib—jam 8.30. Jadi empat jam saya gunakan waktu sebaiknya untuk menjiarahi tempat-tempat bersejarah.

Ayasofia. Musium berwarna krem dan megah ini, menjadi tujuan yang menarik karena didalamnya kini adalah museum. Dengan masuk membayar 20 lira (sekitar 150 ribu) kita bisa bebas melihat sepuasnya melihat bangunan yang tadinya adalah merupakan gereja tetapi mirip masjid ini.

CERITA TENTANG SEJARAH HAGIA SOPHIA ada di sini

Hagia Sophia (Ayasofia), yang tadinya merupakan gereja basilica yang dibangun oleh Imperium Bizantium, Romawi Timur merupakan bangunan yang menakjubkan dengan materi-materi kuno berusia 1500 tahun berdiri sangat mengah. Konon, bangunan ini didirikan selama lima tahun melibatkan 1000 ahli dan 10.000 pekerja. Dalam sejarah, Justinian, raja yang mendirikan katedral ini, meresmikan gereja yang megah dan luar biasa ini dan memasukinya sambil bergandengan tangan dengan umatnya. Saking senangnya, Justianus, berujar:”Sulaiman, aku telah mengunggulimu.”Setelah masuk ke ruang, saya bersujud syukur, bisa mengunjugi tempat ini. Betapa tidak saya mempelajari sejarah Islam sejak di sekolah dasar dan membaca perjuangan heroik penaklukan gereja ini dengan semangat jihad yang luar biasa. Padahal penaklukan dilakukan 800 tahun setelah Rasulullah saw wafat.

Karena bangunan ini menjadi museum, jadi beberapa objek memang dilestarikan. Anda bisa melihat mosaic lukisan gereja seperti: gambar Yesus, Bunda Maria dan Raja Konstantin, yang tadinya diplaster setelah gereja ini dijadikan masjid, kini dimunculkan kembali. Bangunan ini masih berdiri sangat kokoh dengan lengkung (arcade) dengan pilar penyangga yang terbuat dari campuran proconessos putih, tesselian hijau, batu emas Libia, pigian berwana pink dan marmer gading cappadosian.Saya mencoba memeluk salah satu pilar ini. Sejuk terasa di kulit, tangan saya hanya bisa menggapai setengah lingkaran tiang itu. Di dalam masjid ini juga dijumpai dua kendi raksasa tinggi sekitar 2 meter dan diameter 1.5 meter yang diboyong dari Pergamon semasa pemerintahan Sultan Murad III (1574-1595). Bangunan ini dirawat dengan sebaik-baiknya secara turun temurun di zaman Dinasti Usmani, menambahkannya dengan berbagai ornamen Islam, seperti tulisan Allah, Muhammad dan empat khalifah (Abubakar, Umar, Utsman dan Ali).

Mihrab merupakan tambahan dengan mengganti altar yang menghadap ke Timur. Mihrab dan Mimbar (tempat khutbah) dibangun belakangan terbuat dari marmer. Di bagian lain terdapat perpustakaan masjid yang dibangun pada jaman Mahmut I. Ruang perpustakaan ini unik berdekorasi dengan lantai Iznik mampu menampun 30.000 judul buku.

Di bagian belakang masjid terdapat lorong dan masih ditemui sebuah cawan besar tempat pembabtisan. Kini tempat ini dijadikan tempat galleri untuk memajang foto-foto bersajarah tentang Ayasofia termasuk kunjungan para petinggi negara yang pernah datang ke tempat ini.



Bagi saya yang mengesankan ketika keluar pintu sebelah utara. Saya memperhatikan daun pintunya raksasa yang sangat kuat dan terbuat seluruhnya dari perunggu. Menarik lagi disebelah pinti itu, ternyata ada sebuah tulisan beraksara arab dan tidak diterjemahkan. Hanya sebagian orang yang berkunjung kesitu, mungkin mengerti maknanya. Saya jadi ingat pelajaran sejarah Islam dan sebuah hadist yang pernah diajarkan oleh Ayah saya dulu. Hadist ini ternyata tertera di Ayasofia. Terjemahnya kira kira demikian: “Konstantinopel akan takluk (difutuhkan). Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”

Sungguh mengesankan. Konstantinopel takluk oleh Sultan Muhammad II Al Fatih, dan sejarah ini tercatat setelah hampir 800 tahun setelah Nabi pernah bersabda di tengah para sahabatnya itu. Subhanallah!

Istana Topkapi
Masuk Istana Topkapi jika musim libur Juni ini, anda harus sanggup mengantri dan berjejal-jejal. Membayar 20 Tl. Setiap hari ada puluhan ribu pengunjung melihat tempat ini. Yang menarik di Topkapi adalah istana dengan peninggalan sejarah kejayaan Islam mengagumkan.

Istana ini dibuka untuk umum dan ruang-ruangnya dipamerkan-- di masing-masing kamar istana,--peninggalan-peninggalan bersejarah dari mulai pakaian prajurit hingga baju kebesaran para Sultan Dinasti Usmani. Karena Dinasti Usmani adalah penguasai kekhalifahan Islam terakhir, maka banyak warisan koleksi suci umat Islam, berada disini misalnya: kunci ka’bah, kasing batu hajar aswad, dan pancuran (talang air) ka’bah yang terbuat dari emas hingga tongkat nabi musa.
Disudut lain juga ada koleksi perhiasan para sultan, pedang yang pernah dipakai para khalifah dan pedang Nabi Muhammad saw.

Istana ini sangat luas sehingga untuk berkeliling dan melihat secara lengkap diperlukan waktu setengah hari atau tiga hingga empat jam. Pengunjung yang ingin mendapatkan penjelasan secara elektronik bisa menyewa alat penjelasan di bagian pelayanan pengunjung dan bisa memutar frekwensi alat sesuai dengan nomor objek yang dikunjungi.



Tempat menarik juga adalah ruang rapat para menteri dan penasehat raja. Ruang ini sangat asri dengan ukiran dan ornament klasik bertatah warna warna keemasan. Tempat favorit lain di kompleks istana yang banyak diminati adalah mengunjungi kamar harem. Kompleks ini terdiri dari 250 kamar, tempat pemandian dan lain lain. Karena tempat yang banyak diminati, anda harus merogoh kocek lagi untuk membayar 15Tl (Rp100 ribu) untuk melihat tempat ini. ***

Sunday, July 12, 2009

Istanbul Aku Datang!

Tiba di Istanbul, tarikh 5 Juli dan mengikuti konferensi Islam and Environment 6-7 Juli 2009. Istanbul, yang dulunya Konstantinopel, adalah sebuah kota peradaban yang sangat tua. Di kota inilah dinasti terakhir Khilafah Islamiah Dinasiti Usmani (Ottoman Empire) berakhir dan meninggalkan peradaban yang masih mengesankan hingga kini.

Saya dan teman teman dari NU, Muhammadiyah, Departemen Kehutanan dan Kementerian Lingkungan hidup diundang untuk menghadiri Konferensi Islam and Environment sekaligus deklarasi Muslim 7 Year Action Plan for Climate Change (M7YAP). Ini merupakan kegiatan lanjutan sejak setelah drafnya dibuat di Kuwait bulan Oktober 2008, dan sekarang adalah deklarasi. Ada sekitar 80 scholar, praktisi, perwakilan pemerintah dan akademisi serta para mufti dari berbagai negara Islam yang hadir ditempat ini. Seperti: India, Emirat, Qatar, Maroko, Kuwai, Saudi Arabia, Senegal, Palestina, Turki, Malaysia, Indonesia, Mesir dll.

Tiba di Istanbul jam tiga sore kami menginap di Hotel Kalyon yang sudah disiapkan oleh panitia. Rasanya tidak sabar untuk melihat Ayasofia dan Blue Mosque yang terkenal itu. Ternyata hotel ini tidak terlalu jauh tempat tempat bersejarah itu. Kalyon terletak di pinggir pantai dan jalan besar dengan dua jalur umum serta berdekatan dengan garis pantai selat Basforus yang menyambung sampai ke Laut Hitam.

Lautan didepan hotel dipenuh dengan kapal kapal dagang dan perahu hilir mudik. Kontur kota Istanbul yang berbukit dan masih asri dengan pemandangan yang terpelihara sangat menyenangkan untuk dilihat. Angin sepoi-sepoi terasa menerpa kulit. Saya keluar kamar dan menggunakan sisa waktu dan berkenalan dengan teman Prof Najib Abdul Wahab Alfili, seorang Guru Besar Syariah dari Uni Emirat Arab yang rupanya satu pesawat dengan saya.

Keluar dari Kalyon Hotel, yang langsung berhadapan dengan Laut Marmara, saya berjalan hingga menuju tikungan dan berada di ujung jalan dan belok kekiri. Tidak berapa lama berjalan, saya diterperangah dengan bangunan agung berwarna krem kemerahan dangan kubah dan dua menara tepat berada didepan saya. Inilah rupanya Ayasofia yang terkenal itu! Tidak jauh ketika saya menoleh kekiri jalan, saya juga terpana oleh bangunan megah yang lain, dengan kubah berwarna biru. Inilah rupaya masjid besar Blue Mosque yang dibangun oleh Sultan Ahmed.

Ayasofia (Hagia Sophia) yang artinya kearifan yang suci yang semula merupakan Gereja Basilika yang didirikan oleh Konstantinus-- Putra Konstantin yang Agung--- kemudian direbut oleh oleh tentara islam, dan kemudian dijadikan masjid dengan tidak merubah arsitekturnya dan hanya mengganti dan menambah kelengkapan di masjid, misalnya termpat berwudlu, mihrab yang menhadap ke timur dan mimbar untuk khatib berkhutbah.

Menurut sejarah, sejak tahun 1453, sultan menjadikan gereja ini masjid dengan mengganti ornament yang ada tersebut tanpa merusaknya. Syahdan dalam sejarah tercatat, bahwa Sultan Mehmed II, pada suatu hari perebutan dan Konstantinopel jatuh ditangan kaum muslim, beliau turun dari atas kudanya lalu dan sujud syukur.

Peradaban berganti ganti di Istanbul yang nama sebelumnya Konstantinopel, lalu diganti namanya menjadi Istanbul. Istanbul kemudian menjadi pusat perkembangan Kekhalifahan terakhir Islam dengan Dinasti Ottoman yang menjadi negara super power saat itu.

Karena hari Minggu, ternyata Ayasofia pun tutup, saya melangkahkan kaki menuju Masjid Biru yang dibangun berseberangan dengan Ayasofia. Karena sendiri saya mencoba berkenalan dengan para wisatawan yang ada di kiri kanan saya untuk memberikan kamera dan sesekali mengabadikan diri. “Indonesia…” saya tahu anda pasti dari Indonesia, kata Ahmet yang mengajark keluarganya untuk menyaksikan masjid bersejarah itu. “check..check...” “foto..foto”, lalu berikan kamera pada mereka. Ahmet bersama keluarganya terlihat surprise ketika saya kenalkan bahwa saya seorang muslim. “Ah..muslim, good. Ini Mustafa..” katanya memperkenalkan pada saudara disebelahnya sambil mengoceh dalam bahasa Turki yang tidak saya mengerti.






Rupanya bulan Juli ini, adalah musim panas di Turki, sehingga hari menjadi panjang. Saya menyaksikan orang sangat menikmati hari panjang ini dengan duduk-duduk di taman Masjid Biru dan bercengkrama dengan sanak keluarga. Di depan Masjid Biru selain terdapat taman yang luas dan indah, juga disediakan tempat duduk berjajar jajar. Seperti halnya di taman-taman publik di Indonesia, disini juga ada pedagang kaki lima. Ada yang berjualan buah segar yang langsung dikupas digerobaknya. Ada yang berjual jagung bakar dan kue kue khas Turki, minuman turkusu –merah seperti sirop dan terlihat manis—tapi rasanya asam seperti acar!

Anak anak riang bermain ditaman. Apalagi ini hari minggu dan libur. Beberapa wisatawan tentunya banyak yang berasal dari Eropa Timur, termasuk dari Yunani, Spanyol hingga Rusia.

Turki memang unik. Dua benua bertemu disini dan hanya dibelah oleh Selat Balforus. Jadi sebagian wilayan mertropolitan Turki berada di Asia dan Sebagian lagi di benua Eropa. Istanbul menjadi salah satu kota terpadat di Eropa dengan penduduk 15 juta jiwa, lebih padat dari Jakarta, tetapi secara sepintas saya menyaksikan kawasan kota tua ini memang tertata dengan baik sehingga kegiatan wisata maupun kegiatan public yang lain menyebar di beberapa tempat.

Kota Istanbul kini menjadi tujuan wisata yang sangat diminati. Pada musim liburan seperti ini, ada jutaan pengunjung kawasan ini. Saya menyaksikan mobil mobil tour penuh mengantri.



Saya terus melangkah melihat sekeliling Masjid Biru, sebuah masjid dengan dua kubah bertingkat lima—menggambarkan rukun Islam serta jumlah waktu shalat, dan enam menara yang menggambarkan rukun iman dangan jumlah tingkat menara yang berjumlah 16 menggambarkan masjid ini dibangun oleh Sultan ke enam belas dari Dinasti Usmani. Rupanya masjid ini memang dibuka untuk umum dan masih berfungsi dengan baik.

Karena perjalanan sudah sore, saya berminat untuk langsung saja shalat maghrib di masjid ini sebagai awal pengalaman. Saya mencoba bertanya pada salah seorang pengunjung taman, jam berapa biasanya shalat magrib? Dia tersenyum saja. Dan menoleh kepada istrinya, rupanya walaupun muslim, pemuda paruh baya ini juga jarang shalat. “Tanya pada istri saya, jujur saja saya juga jarang shalat,” katanya sambil tertawa mesam. Rupanya shalat maghrib jam 8.30 karena memang matahari sangat panjang bersinar.

Memasuki masjid, saya sangat kagum dengan arsitektur yang begitu agung dan kuat. Pintu pintu masjid ini terbuat dari perunggu, sedangkan hampir seluruh bangunan terbuat dari granit dan batu pualam yang terkadang hampir seluruhnya terlihat utuh tanpa sambungan. Empat tiang penyangga yang menjadi sokoguru masjid ini luar biasa besarnya, sehingga disebut kaki gajah (elephant foot) garis tengahnya kurang lebih tiga meter, murni batu pualam, membuat orang awam seperti saya bingung membayangkan bagaimana cara mendirikan dan membawa batu yang bulat penuh ini ke tempat yang agung ini.
_____
ALBUM:
Menuru Wikipedia, masjid ini dibangun antara tahun 1609dan 1616 atas perintah Sultan Ahmed I, yang kemudian menjadi nama masjid tersebut. Ia dimakamkan di halaman masjid. Masjid ini dikenal dengan nama Masjid Biru karena warna karena dome atau kubahnya yang berwarna biru. Akan tetapi cat biru tersebut bukan merupakan bagian dari dekor asli masjid, maka cat tersebut dihilangkan. Sekarang, interior masjid ini tidak terlihat berwarna biru.

Arsitek Masjid Sultan Ahmed, Sedefhar Mehmet Aga, diberi mandat untuk tidak perlu berhemat biaya dalam penciptaan tempat ibadah umat Islam yang besar dan indah ini. Struktur dasar bangunan ini hampir berbentuk kubus, berukuran 53 kali 51 meter.
Sambil menunggu shalat magrib, saya berkenalah dengan Maksum (53 tahun) yang mengaku pernah menjadi imam di Masjid Venicia, Italia dan kini pensiun dan menjadi pemandu wisata khususnya masjid biru ini.

Dari lelaki berpenampilan parlente ini, saya mendapatkan keterangan cukup banyak tentang masjid biru. Dia mengajak saya berkeliling. Dari beranda depan, bagian utara Masjid dimana pintu masjid berhadapan dengan taman, air mancur dan pintu gerbang masijid. Dari tempat ini masih bisa dilihat kubah Ayasofia yang tidak jauh letaknya.
Maksum menjelaskan bahwa masjid ini, didirikan sebagai pusat kegiatan umat, selain masjid sebagai tempat beribadah, juga ada madrasah, rumah sakit, pasar tidak jauh dari masjid dan disediakan juga dapur tempat memberikan makan bagi mereka yang kelaparan (fakir miskin) sebagai jaminan sosial pemerintah Islam.

Sultan apabila tiba untuk shalat berjamaah, datang dari pintu utara, dimana ada rantai dibentangkan yang menjadi perlambang, siapa saja yang masuk masjid, mereka adalah sama, dan harus tunduk. Tidak ada yang membusungkan dada. “Sultan, rakyat adalah sama dihadapan Allah swt,” kata Maksum menjelaskan. “rantai ini usianya 600 tahun dan masih ada disini.

Dia menunjukkan saya pada balkon disamping taman masjid yang letaknya di lantai dua. “Itu tempat sultan melambaikan tangannya pada umat,” katanya. Sayang sekali, Sultanahmet, sang pendiri masjid terkenal dengan bangunan 21 ribu keramik biru ini, meninggal dalam usia sangat muda. Ketika mendirikan masjid ini berusia 20 tahun, membina pembangunan masjid selama 7 tahun, dan meninggal dunia pada usia ke 27.

Usai shalat magrib, saya masih bisa menikmati malam dengan bulan purnama tersembunyi dibalik kubah masjid biru. Menikmati keindahan dan keagungan kejayaan peradaban Islam yang sangat mengesankan. Turki Usmani dengan khalifah Islam memerintah kawasan ini dengan kekuasaannya yang luas hingga mencapai Iran dan Rusia selama 777 tahun. Sebuah masjid yang mengagumkan!***

Berita Terkait

Monday, June 01, 2009

Eco Pesantren Menggembirakan

Tiga puluh pesantren yang ada di sekitar Lampung datang hadir dalam acara sosialisasi Ecopesantren cluster Lampung (Jum’at,29/5). Eco Pesantren mengalami perkembangan yang menggembirakan. Sebagai salah satu juri saya diundang oleh Deputi VI Kementerian Lingkungan Hidupn (KLH) untuk memberikan materi tentang kemitraan dan membangun jejaring di Lampung, Sumatera Selatan. Satu hal yang penting adalah peran pesantren yang sangat strategis dalam pendidikan ummat sehingga diharapkan dengan program ecopesantren tumbuh inisiatif dan inovasi dari kalangan pesantren untuk mengembangkan diri menjadi pesantren yang ramah lingkungan.



Ada 15.000 pondok pesantren di Indonesia dengan jumlah murid sekitar 2 (versi EMIS 2001) dan 4 juta menurut Dirjen Depag terakhir 2008. Pesantren tetap menjadi daya dorong kuat pembangunan akhlak masyarakat dari bawah. Namun banyak pesantren yang dikelola secara sangat tertutup jauh dari management modern, pemiliknya individu bahkan ketika diminta rekening pesantren masih milik kiyai pengasuhnya.



Ecopesantren, menurut LH menghendaki pesantren dapat menjadi pendorong masyarakat agar ramah lingkungan. Agama menganjurkan hal itu, tapi memang harus dimulai dari pesantren. Telah ada pesantren pelopor yang patut dicontoh, misalnya Al Ittifaqiah Ciwidey yang mengelola pesantren dengan support pertanian organic, mengolah sampah untuk kompos kebunnya dan membuat biogas untuk santri memasak.

Menurut cerita, Wartim Sumana, kepala bidang Permukiman Masyarakat KLH, kemajuan pesantren ini dikarenakan kiyainya KH…membuka pintu pesantren untuk bekerjasama. Beliau berteman dengan seorang ahli dari sebuah universitas di Bandung, untuk memajukan dan belajar teknik pertanian dan peternakan yang baik, walaupun temannya itu adalah seorang yang beragama Nasrani. Sejauh yang tidak berkait dengan akidah hanya masalah duniawi (muamalah) hal ini tentu diperbolehkan.

Saya sendiri berharap, pesantren dapat berkembang sesuai dengan independensinya dan mempunyai inovasi yang luas di bidang lingkungan. Untuk itulah kemitraan dan saling relajar sangat penting dilakukan. Bukankah Rasulullah saw dalam mendapatkan pengetahuan bisa belajar dari mana saja. Nabi memerintahkan sahabat belajar dengan tawanan perang (yang beragama Nasrani) untuk mempelajari tulis menulis sebagai tebusan. Beliau juga mengirim sahabat-sahabatnya untuk belajar ilmu ketabiban (kedokteran) di negeri-negeri lain yang kala itu beragama Nasrani.

Wallahu ‘alam.

Tuesday, May 26, 2009

Ziarah ke Tanah Leluhur

Cuti selama empat hari ditambah libur dan week end, Mei-17 sd 24, bersama keluarga terbang ke Kalimantan. Karena Ibunda (Uma) mengajak ziarah ke Martapura untuk melihat paman dan acil serta keluarga dari sebelah Ayah. Walaupun perjalanan cukup melelahkan dari Kalimantan Tengah ke Selatan, hampir satu hari satu malam, saya ikut menyetir mobil kijang yang kami sewa. Senang sajalah, soalnya ini adalah pengalaman pertama membawa mobil menelusuri hutan Kalimantan (Eh memang ada hutan?) Jujur, sudah tidak ada hutan lagi, yang ada adalah semak dan kebun sawit. Jalan sudah lumayan bagus. Jembatan panjang-panjang untuk mengatasi aliran rawa-rawa Kalimantan yang luas.



Di Martapura Kalimantan Selatan, disinilah ayah saya dilahirkan. Dari keluarga santri ortodoks golongan salafi yang menghormati Tuan Guru dan para ulama. Dua puluh tahun yang lalu saya ke daerah ini, masih teringat saya suara Tuan Guru Zaini Ghani yang merdu mengelus telinga membaca burdah dan shalawat. Kini beliau telah tiada dan saya bersama keluarga hanya mengunjugi nisannya didalam Kubah Kampung Sekumpul Martapura sambil memanjatkan doa. Kubur beliau berada di sebelah Mushalla Al Raudhah yang dibangunnya bersama ummat yang mengagungkan shalawat kepada Nabi Sallalahu alaihi wassalam.



Perubahan terjadi sangat drastis, seperti tempat lainnya di Kalimantan. Sekumpul yang tadinya hutan belantara menjadi kompleks yang hidup dan membawa dampak bagi masyarakat sekitar. Ekonomi masyarakat hidup, karena tempat ini menjadi daya tarik wisata religious di Kalimantan. Hampir setiap rumah di Kalimantan (utamannya di kalangan muslim) Banjarmasin, memajang foto Tuan Guru Syaykh Zaini Ghani keturunan ke tujuh Datu Kelampaian atau Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

Sebelum ke Sekumpul kami mengunjungi kompleks Mangunjaya, tempat pemakaman keluarga dan disana disemayamkan Patih Mangunjaya. Ziarah kuburan Nenek dan Kakek kami, juga paman yang dulu ku kenal sangat baik dan pemurah, telah mendahului kami.


Di Alkah ini juga, dimakamkan al Mukharram Abdul Ghani, ayahanda Tuan Guru Zaini Ghani dan saudarinya Zaleha (bibik sepupu saya). Sungguh khusuk kami mendoakan kedua orang tua ini.

Sehabis dari situ barulah kami melanjutkan perjalanan ke Kelampaian yang jaraknya 35 km dari Martapura. Saya masih ingat, dulu rasanya jauh sekali ke tempat ini. Tapi sekarang terasa dekat, apakah karena faktor transportasi yang mudah atau jalan yang bagus, atau memang pesaraan saja. Seperti cerita ayah, tahun 60an ke tempat ini orang bisa berhari-hari lamanya bahkan memasak di perahu karena harus melalui sungai.

Thursday, May 14, 2009

Konferensi Kelautan Dunia

MANADO 12-14 Mei saya mengikuti Konferensi Kelautan Dunia (World Ocean Conference) di Manado, Sulawesi Utara. Kota Manado, menjadi ramai dengan pengunjung para peserta konferensi dari hampir 80 negara. Beberapa tempat penginapan dan hotel fully box dan banyak peserta tidak kebagian tempat tingal sehingga rumah masyarakat di sekitar tempat diadakan konferensi dijadikan tempat yang bisa disewa oleh para peserta. Meskipun menurut saya Kota Manado merupakan salah satu kota yang cukup pesat pembangunannya dengan beberapa hotel berbintang, tapi ternyata ketika menyelenggarakan event berkelas dunia, semuanya jadi serba sempit.

Jalan di Manado seperti daerah-daerah lain di Indonesia –diluar jalan protokol—adalah bukan jalan yang ditata menjadi dua jalur, hanya dapat dilalui oleh dua atau tiga mobil. Lalu pemerintah kota Manado menghimbau masyarakat yang mempunyai mobil pribadi dan angkot untuk keluar jalan raya sesuai dengan tanggal: ganjil atau genap dengan mencocokkan nomor seri belakang mobil. Bila seri belakang ganjil, boleh keluar pada tanggal ganjil, lalu kalau genap bisa keluar pada tanggal genap.

Simposium
Sebagaimana konferensi International yang lain, kegiatan ini tentunya yang paling menarik diisi dengan simposium atau pertemuan para ahli kelautan dalam mempresentasikan hasil penelitian baik sains, teknologi, maupun kebijakan di bidang kelautan. Ada ratusan topik diskusi yang digelar dan tentu tidak dapat diikuti semua. Aku mengikuti dua sesi pertama tentang coral triangle (segitiga terumbu karang) yang membahas tentang jalur hubungan genetik ikan dari kawasan Laut Indonesia timur hinggá ke barat.

Kedua tentang pentingnya Kawasan Konservasi Laut yang dipresentasikan oleh Dr Alan White, seorang marine biologist kawakan dunia. Menarik apa yang dikatakan Alan, bahwa adanya kawasan konservasi laut ternyata menambah peningkatan produktivitas ikan, karena ternyata kawasan-kawasan yang dilindungi ini terlepas apakah dikelola dengan baik atau tidak mempunyai sisi positif bagi pelestarian terumbu karang. Di kawasan coral triangle telah terbentuk lebih dari 1500 MPA network yang menjadi basis konservasi kelautan di kawasan ini. Ikan di kawasan yang dilindungi meningkat hampir 900 persen dibandingkan dengan ikan tangkap yang berada di luar kawasan konservasi yang hanya meningkat 300 persen.


Bersama Menteri Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Timor Leste,
Mariano Assanami Sabino (37 tahun), mantan aktifis Unibrawijaya zaman reformasi.


Ini merupakan hasil survey di enam kawasan konservasi laut (MPA): Berau, Tubbataha, Wakatobi, Kimbe Bay, Karimunjawa dan Cebu. Pengamatan saya atas usaha utama pemerintah untuk melindungi kawasan laut memang begitu serius. Sangat disayangkan bila Indonesia hanya menjadi daya tarik luar biasa para peneliti asing dan banyak peneliti berdatangan kesini. Arena WOC ternyata tidak banyak ditangkap manfaatnya oleh bangsa di negeri sendiri.

Satu hal kecil saya perhatikan, di ruangan tempat saya duduk –dari ratusan orang--tidak ada satu pun wajah mahasiswa Indonesia mengikuti simposium penting itu, minimal untuk ikut relajar. Secara sepihak kulihat wajah-wajah graduate student asing berumur sekitar 20an dengan tekun bisa mengikuti acara ini. Kemana mereka?

Prof Hasym Jalal, ahli hukum tata laut Nusantara

Apakah tidak ada mahasiswa di Indonesia yang bisa ikut dengan biaya subsidi untuk belajar ‘Marine Life’ di negara yang 2/3 kawasan teritorialnya merupakan lautan raya? Ketika duduk bersama dengan seorang ibu dosen perikanan dari Universitas Samratulangi, mereka bilang hal ini memang terlepas dari pikiran mereka: “Yang ada ialah, bagaima para dosen bisa ikut arena ini lebih dahulu, bukan buat mahasiswa,” katanya. Saya pun manggut-manggut, tapi ibu ini memahami pentingnya menyertakan mahasiswa S1 atau S2 dalam arena seperti ini supaya keahlian mereka menjadi terasah dan focus mereka tentang laut Indonesia menjadi lebih baik.
Tabik!

Thursday, May 07, 2009

Menghidupkan Kembali Perawatan Bantaran Sungai


Kamis (07 Mei 2009) ada sekitar 20 orang hadir dalam workshop Sistem Konservasi Islam: Hima dan Harim di Pondok Modern Daarul Ulum, Lido. Ini upaya mengingatkan kembali pada tradisi dan perawatan alam menurut syariat Islam. Daruul Ulum Lido sangat antusias dan mendirikan proyek percontohan Harim Zone untuk melindungi kawasan sekitar Sungai Cilengsir dibelakang pesantrennya. Sungai ini selain mengalir di belakang pondok, juga dipakai untuk kegiatan kepramukaan dan kegiatan alam lainnya.
Adapun tanah yang disisihkan oleh pesantrn tidak luas, hanya 1,8 ha di bantaran sungai yang ditumbuhi berbagai tanaman produktif, jati, tanaman buah-buahan dan sebagai tempat praktek para santri. "Kalau pelajaran biologi, santri ingin tahu tentang akar tunggang dan akar serabut, bisa digunakan kasawan ini," Ustazd H Ahmad Yani, Direktur PM Daarul Uulum menuturkan.

Terima kasih pada pesantren-pesantren yang ikut berpartisipasi dalam sarasehan ini: Daruul Ulum Lido, Al Amin, GNKL NU, Al Furqan, Al Huda, Al Kahfi. Hanya enam pesantren yang berkumpul di tempat ini, sebagai sebuah stimulasi atau permulaan dan pengenalan menerapkan kembali tradisi Islam untuk konservasi alam.

LOKASI:

View Larger Map


Berita terkait:

Pesantren Terapkan Harim Zone di Bantaran Sungai

Khazanah Alam: Menggali Tradisi Islam untuk Konservasi

Sunday, April 19, 2009

"Haul" in Pesantren Buntet, Cirebon



Friday to Saturday, April, 2nd -4th , I went to Pesantren Buntet, Cirebon, on the occasion of their ceremony called ‘Haul 2009’ a yearly gathering between the pesantren and the alumni as well as the surrounding villages around the Pesantren. In this a yearly event, that they usually invited some national figure such as ministry or president to come over the see the crowd of people respected their predecessor and sending a praying once a year. And last Friday, RI VP Jusuf Kalla, visited the pesantren and praying Jum’ah together.

Pesantren Buntet is an old and fame pesantren in Cirebon, establish in 1700s, have a strong cultural heritage and they have a ‘unique’ teaching system in educating their students. It established by Mbah Muqoyyim (1689-1750M). It has about only 5000 students and 41 clerics (Kiyai) whom independently thought at their boarding (sometimes their house) and has been released thousand alumni. This pesantren basically a nahdlatul ulama’s (NU) pesantren and has quite massif with their tradition to recite the classic texts that generate in the 14-13 century (the salafushalih era). But they are open to the contemporary issues and will response the social issues, sufism, economy and politics, such as debating the contemporary issues in the open forum (called bahsul masail) and arguing their opinions based on their reference of the salafi’s text. The bahsul masail is an open and interesting forum of debate, sometimes could taking hours only to discuss one question.
Quite astonish to me why the pesantren is not growing as a modern institutions such as a seminary school or university in the US or Europe. It was establishes as old as Harvard!



At the pesantren I have an opportunity to interact and look at the surrounding and looking for a potential project we could adopt sometimes to help the community. One focus I found interesting is about the water issue.

I found polluted and dry cricks just as the back of the pesantren. This is a quite crucial issues in the future if we do not taking care of, as the pesantren so dependable with water, they found the river was starting polluted and since the last 20years. I started a little discussion with some teachers of what could be do with their river and water resources. As Muslim has a strong link with water the pesantren interested in involving the ‘behavioral change toward water services’ and wish to have a program with their river. This is a potential sign to us to work with them since Cirebon also linked with Kuningan area and above all there is The Ciremai National Park that services those two cities.






I meet KH Nahduddin Abbas the director and respected kiyai’s at the Pesantren to discuss about his interest with environments. He have deep concern about environment and explained why he invited Ministry of Forestry MS Kaban to visit and discuss forest issue at the pesantren. Unfortunately because of technical issue the ministry was failed to come. When return back from Buntet, I have a chance to see my collague KH Hussein Muhammad of Pesantren Daruttauhid in Arjawinangun. He is hoping the activities that I am doing with the Pesantren will continue to move as there are not many activist interesting to pay attention with the environmental issues in the pesantren and developing Islamic environmentalism in a better understanding and practice. Wa akhirudda’wahum, Alhamdulillahirabil ‘alamin.

Thursday, March 26, 2009

Jangan Berhenti Hanya Earth Hour

Inga..inga.. tanggal 28 Maret 2009 jam setengah Sembilan malam, matikan lampu. Hehe.. imbauan WWF untuk seluruh dunia ini memang fenomenal, tapi mungkin banyak disenangi generasi muda yang masa pacaran. Hehe, bisa jadi malam mingguan tambah seru…selama satu jam,, wha..WWF tanggung lho!. Orang tua yang punya remaja apel dirumah siap2 beli batre yang ada lampunya, karena takut anaknya mematikan lampu dengan alas an dianjurkan oleh WWF J. Ada satu miliar orang yang dihimbau organisasi konservasi yang semula menyayangi binatang ini, tapi kemudian berniat menyayangi semua orang… tentunya masuk kita-kita.

Menurut Wikipedia, Earth Hour adalah sebuah acara internasional tahunan yang diadakan oleh WWF (World Wide Fund for Nature/World Wildlife Fund), diselenggarakan setiap Sabtu terakhir bulan Maret, yang meminta rumah dan perkantoran untuk memadamkan lampu yang tidak diperlukan dan peralatan listrik selama satu jam untuk memunculkan kesadaran atas butuhnya tindakan menghadapi perubahan iklim. Dirintis oleh WWF Australia dan Sydney Morning Herald tahun 2007,dan memperoleh partisipasi dunia tahun 2008.

Umpama saja WWF Indonesia yang mempelopori, saya anjurkan mengadopsi Hari Bumi Nyepi atau Earth Silent Day seperti hari ini (26 March 2009), satu Pulau Bali sekarang menyepi tidak ada aktifitas, merenung dirumah, tidak bekerja, tidak boleh keluar rumah, tidak boleh mendengar musik (kan musik pakai listrik ya?). Penghematan karbon di Bali cukup tinggi ketika tidak ada aktifitas dan pernah dibuktikan saat UNFCCC tahun 2007.

EARTH HOURS in YOU tube



Setelah satu jam, tentunya bukan hanya habis disitu. Aktifis lingkungan berharap kita lebih sering mematikan lampu. Ini yang disebelin oleh istri saya kalau saya cetak-cetek dirumah mematikan lampu, sambil ngomel bilang sayang listrik kalau tidak dipakai. Seluruh kota-kota besar mematikan lampu, New York, Paris, London, kecuali Masjid al Haram, Makkah…salah satu tempat paling terang di bumi bila dilihat dari angkasa luar. Sebabnya mungkin belum berhasil ditembus WWF karena disana kalau jam 9 malam masih padat dengan tawaf dan ritual lain, kalau pun dimatikan, akan banyak korban yang terinjak injak dan ini pasti menambah mudarat.

Semestinya harus diingat bahwa imbuan ini adalah bukan hanya satu jam, tapi berterusan hingga akhir hayat. Kalau tidak perlu lampu, matikan saja. Masalahnya dirumah saya kalau mati terus anak-anak pada marah, katanya takut… hehe (mungkin gara-gara nonton filemnya soal setan terus). hehe.

Wednesday, March 11, 2009

Jepang, tidak ada Sorga dan Neraka

Konferensi ke 7 tentang Dialog Peradaban tentang Jepang and Muslim World, dibuka hari ini di Shearton Al Kuwait (11/3). Presentasi dilakukan dalam bahasa Arab maupun Inggris, dibuka oleh Menteri Wakaf dan Urusan Islam Kuwait, juga dihadiri oleh Syaikha Amsal al Sabah, adik Amir al Sabah Sultan Kuwait.


Suasana Pembukaan Konferensi

Pembukaan ini dihadiri oleh sekitar 200 orang dan acara yang cukup meriah juga, dikiri kanan ada pameran yang diadakan oleh berbagai departemen, termasu dari ministry of awqaf sendiri, juga dari Jepang.

Rupanya forum ini merupakan tukar pendapat para peneliti, dan kebanyakan akademisi yang sifatnya akademis dan sekadar sharing informasi untuk saling belajar tentang kultur masing-masing antara dunia Muslim khususnya Arab dan agama serta kultur Jepang.

Yang menarik saya adalah pemaparan Prof Soko Muchida, tentang perkembangan agama di Jepang. "Tidak ada sorga dan neraka di Jepang, itulah yang membedakannya perkembangan bangsa ini dengan agama semit yang lain seperti agama Yahudi dan Kristiani plus Islam. Kalaupun mereka memeluak suatu agama, tetap hanya secara kultural dan mereka pergi ke candi hanya karena tradisi. Namun orang Jepang punya keyakinan yang kuat bahwa mereka merupakan bagian dari alam, oleh karenanya menjadi wajar bila mereka bisa menyatu dengan alam atau bahkan menguasai alam. Kalau diyakini ini merupakan suatu agama inilah namanya dalam Islam disebut wahdatul wujud (penyatuan manusia dalam alam).

Bersama Mumammad Imam Masjid Rusia

Sebagian diskusi hingga sore memaparkan tentang perkembangan lingkungan di timur tengah dan tantangan untuk kembali pada ajaran praktis Islam tentang lingkungan.

Saya bertemu dengan Dr Aslam Parpaiz yang mengatakan nilai-nilai islam tentang lingkungan harus masuk terinternalisasi dalam kehidupan praktis sehari-hari dan masuk dalam ajaran Islam yang praktis. Sama halnya dengan kewajiban sosial kita yang diajurkan dalam ajaran Islam. Internalisasi inilah yang sedang dikembangkan oleh Aslam di India, walaupun bukan negara muslim namun mereka mempunyai keinginan kuat untuk berkontribusi untuk perawatan bumi dan dunia.

Tuesday, March 10, 2009

Dialog Lingkungan Jepang dan Dunia Muslim



Ministry of Awqaf and Islamic Affair Goverment of Kuwait, mengundang saya bersama beberapa teman dari Indonesia untuk menghadiri dialog peradaban, Jepang dan Dunia Muslim dengan tema: Environment Challages and Vision yang diadakan di Hotel Sheraton Kuwait, sebuah hotel cukup mewah ditengah kota Madinah al Kuwait.


Yang jelas ini baru pertama kali ke Kuwait, setelah di undang Oktober lalu, saya gagal ketempat ini karena soal teknis. Berangkat pakai pesawat Kuwait Air yang tidak banyak penumpang. Hanya beberapa gelintir plus rombongan 'cristour', para umat kritiani sejumlah 36 orang ingin menuju Kuwait dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Jurussalem, Mesir dan Yordania. Mereka ini semacam pilgrimage (atau omroh (dikalangang Muslim) atau jiarah spriritual saja untuk membuktikan tempat-tampat bersejarah tersebut. Dua pasangan dari rombongan itu datang dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Beberapa mereka adalah dari Barito (pedalaman Kalimantan Tengah).


Kuwait sebenarnya kota yang unik. Kehidupan juga sangat dinamis walaupun ada pengaruhnya ketika Saddam Husein (Irak) mencoba mencaplok atau menyerang negara kota ini tahun 1991. Hotel Sheraton yang saya tinggali ini penah hancur dihantam rudal dan terbakar. Kini Kuwait memang bangkit dan kembali menjadi negara makmur yang kaya raya dengan pendapatan perkapita 16.000 USD/tahun, dan penduduk hanya 2.3 juta jiwa serta luas daratan 17.820km2, sekitar empat kali pulau Bali. Mata uangnya Dinar Kuwait, senilai sekarang sama dengan 0.29 DK per 1 USD. Kemarin saya tukarkan 100 USD hanya mendapat 29 Dinar Kuwait, harga sebuah sorban disini saya beli antara 4-6 DK= 130-180 ribu rupiah, cukup lumayan mahal dibanding pasar tanah abang!


Perjalanan Jakarta Kuwait harus melalui Kualalumpur, kelihatannya ganti crew karena tiba di KL jam 3 pagi dan diteruskan ke Kuwait menempuh perjalanan sekitar 9 jam, tiba di Kuwait pukul tujuh pagi. Agaknya tidak terlalu repot karena saya mendapatkan 'calling visa' dari pemerintah yang dikirim melalui e-mail dan kemudian harus ditukarkan dengan visa asli di loket bagian file imigrasi bandara, lalu pergi ke bagian entri untuk memasuki Kuwait.



Tiba hari Selasa (10/3), jalan jalan cukup lengang, ada kemacetan yang tidak berarti, karena fasilitas publik tertata dengan baik. Jalan sangat lebar, dan menjadi ciri khas adalah mobilnya yang besar-besar berkualitas diatas rata-rata 2000 cc. "Orang Kuwait senang mengunakan mobil besar karena harga minyak tidak masalah disini," kata Anura, sopir kami yang berkebangsaan Srilangka, sambil memacu limusinnya menuju hotel. Bensin murah disini, 1 Dinar Kuwait (DK) bisa dapat 15 liter, harganya sekitar Rp2500,- sama lebih murah dari harga air di Jakarta dan tempat lainnya di Indonesia.





Kabarnya (tolong dicek lagi) penduduk asli negara ini hanya sekitar 1 juta orang












Sunday, February 22, 2009

Ayo Bersepeda


Seperti ubur-ubur, yang suka timbul tenggelam ke permukaan air. Begitu juga komunitas bersepeda di Indonesia. Tahun 90an pernah marak penggunaan sepeda tetapi banyak sepeda dipakai hanya untuk lomba, jadi belum pada tingkat kesadaran orang memakai sepeda semata untuk kembali karena sebuah kesadaran menggunakan kendaraan ini adalah hemat disamping menyehatkan.

Tetapi akhir-akhir ini sepeda telah kembali ramai dipakai. Bahkan ada komunitas bersepeda ke kantor ‘bike to work’. Komunitas ini tumbuh dengan kesadaran bahwa bersepeda merupakan salah satu solusi untuk berkontribusi menjaga kesehatan lingkungan. Tidak itu saja, kemacetan Jakarta akan terkurangi bebannya jika banyak pengguna jalan di Jakarta –ketika pulang pergi—ke kantor menggunakan sepeda.

Bike to work kini mempunyai kegiatan solid mengkampanyekan bersepeda untuk lingkungan. Kini jumlah anggotanya ada 10 ribu orang seluruh Indonesia dan sekarang ada 5000 orang yang pergi ke kantor dengan sepeda. Jumlah ini memang masih sedikit dibandingkan dengan jumlah sepeda motor yang totalnya kini ada ratusan ribu berseliweran ke kantor di Jakarta.
Satu hal yang menarik dari kegiatan bersepeda adalah, kendaraan ini sesungguhnya menyehatkan. Saya pernah menemui seorang ibu yang menuturkan suaminya mempunyai penyakit menahun pernapasan namun setelah rutin bersepeda ke kantor penyakitnya hilang. Jelas sekali sepeda merupakan sarana olahraga, melancarkan seluruh peredaran darah mengeluarkan keringat dan menyegarkan…

Dr. Ahmad Yanuar teman saya yang lulusan Universitas Cambrigde, complain, mengapa di Indonesia –khususnya di Jakarta--ada komunitas bersepeda dan harus diadakan sepeda ramai-ramai? Kalau ke kantor harus dipaneng dengan logo “Bike to Work” menunjukkan orang itu pekerja kantoran tapi bersepeda? “Padahal kan sepeda biasa saja, pakai saja kalau mau ke kantor atau mau ke kampus, seperti di Inggris, tidak usah ada merek.

Lha disana orang semua pakai sepeda kalau enggak jalan kaki. Naik mobil sama sekali tidak efisien, sebab disamping mahal, anda dikenakan ongkos parkir selangit dan parkir mobil anda pun jauh dari lokasi kerja, jadi mesti jalan kaki juga. Disamping harga bensin yang mahal, kalau lagi naik, juga ongkos perawatan mobil akan menguras kantong anda. Jadi lebih baik naik taksi, kereta api atau bus kota kalau bepergian karena fasilitas ini juga menyenangkan dan bus atau kereta tidak berjejal-jejal, tepat waktu, bersih dan sejuk (tidak kalah dengan mobil pribadi).

Selain sepeda ‘Bike To Work’ juga ada sepeda sebagai hobi. Jangan kategorikan orang-orang ini pergi ke kantor setiap hari, karena sepeda yang dimilikinya merupakan sepeda antik ‘tempo doeloe’ yang biasa hanya dipakai seminggu sekali atau kalau ada acara tujuh belasan; karnaval, atau sepeda minggu untuk mengisi Jalan Sudirman hingga Thamrin yang dikosongkan sebagai ‘car free day’ setiap sabtu-minggu.

Komunitas ini sungguh serius dengan romantisme tempo dulu itu. Selain sepeda ontelnya yang antic, cara berpakaian juga disesuaikan dengan suasana tempo dulu. Tidak seragam, tetapi ‘jadul banget’ (kata anak saya): ada yang bersepeda dengan topi kompeni belanda, seragam warna khaki, sepato kulit booth, bawa priwitan dan pakai sensaja pula. Ada juga yang berseragam priyayi Jawa, pakai belangkon, batik garis kacamata frame bulat. Ada lagi yang menggunakan pakaian ala intelectual pergerakan tempo dulu: peci hitam pakai simbul garuda pancasila, kacamata bundar ala Ki Hajar Dewantoro, baju putih dan sepatu hitam. Penggemarnya sepeda ontel ini memang sangat luas dari tukang bakso, seniman, mahasiswa, manager hingga komisaris perusahaan. Mereka solid dan saling menyapa kalau berpapasan, jadi jangan lupa, kalau anda pakai sepeda ontel, bagian kanan harap dikosongkan jangan menggantung barang, sebab ada kalau berpapasan, anda pun harus mengangkat tangan kanan. Paling repot kan kalau sebelahnya ada bawaan, nah harus angkat dua2nya bisa nubruk dong!

Saya memulai bike to work awal februari, baru berani seminggu 2 kali. Sudah lama saya cita-cita tapi enggak kesampean beli sepedanya. Kumpul2 dulu baru dapat sepeda baru, sebab sepeda saya dulu saya tinggalkan di Pondok Pesantren ketika saya bekerja disana. Saya sangat rindu sepeda sejak dulu.

Enak juga, daripada harus beli treads mills hanya untuk cari keringat dan berharga mahal. Mending bersepeda ke kantor!

Biasanya orang pasti mau tahu kehidupan pribadi seseorang apalagi sebagai penulis yang memasang sampul bukunya sebuah sepeda sebagai simbol hidup sederhana dan spartan.

tabik!

Friday, December 26, 2008

Ekologi dan Kerugian Ekonomi

21 Desember 2008, Bogor. Saya menghadiri acara Index, kegiatan yang dilakukan oleh Badan eksekutif mahasiswa Institute Pertanian Bogor. Acara ini diadakan di Bogor Botanical Square. Saya baru tahu kalau diatas kompleks mall yang cukup megah ini terdapat lantai bagian atas yang cukup luas sebagai tempat pameran dan ruang konvensi yang cukup besar berstandar international. Saya kagum juga dengan mahasiswa yang sanggup menyelenggarakan acara sebesar event ini, dimulai kompetisi fotografi tentang ekologi, pameran yang melibatkan banyak sekali mitra dan stakeholders CSR Perusahaan, instansi pemerintah, LSM dan kalangan professional pengusaha ekowisata.

Menurut panitia, mereka mengeluarkan lebih dari 2000 tiket peserta yang akan mengikuti acara ini. Walaupun tiket tidak dipungut biaya, tetapi mereka hanya memperbolehkan masuk mereka yang telah mempunyai tiket. Menurut Dekan Fak Ekologi Manusia, Profesor Hardiansyah, ini adalah kegiatan pertama kali yang dilakukan oleh Fakultas Ekologi Manusia setelah berdirinya fakultas itu empat tahun silam. Peminat fakultas ini sekarang sudah masuk dalam rangking 10 besar di IPB yang diukur dari minat mahasiswa yang masuk di fakultas ini.
Saya kira ini adalah wajar mengingat fakultas ekologi mengajarkan hal-hal yang multidimensi dalam memfasilitasi keperluan masyarakat untuk dapat mengelalo lingkunganya lebih baik. Dan ternyata banyak sekali hal yang belum dipahami oleh khalayak ramai tentang ekologi dan bagaimana sikap hidup manusia yang dapat menjadi ramah lingkungan dan ekologis.

Saya diminta untuk menjadi moderator untuk sebelumnya memandu Angelina Sondakh (yang kemudian digantikan oleh Ridwan Effendy dari OREI) dan Galih Aji Prasongko dari Green Peace (26th).

Bersamaan dengan topik itu saya membacakan headline Media Indonesia (21/12) yang mengutip laporan bank dunia tentang kerugian yang diderita masyarakat Indonesia akibat buruknya sanitasi yang mencapai 56 triliun rupiah. Kerugian ekonomi ini antara lain dipicu oleh 89 juta kasus diare pertahun dan 23 ribu orang mati akibat diare tersebut. Saya ilustrasikan: bisa dibayangkan jika IPB mempunyai mahasiswa 20ribu orang semuanya mati, akibat diare? Ini akibat sanitasi dan higienitas lingkungan yang buruk. Laporan WSP-EAP tersebut menyimpulkan dampak kerugian lingkungan yang buruk mengakibatkan kerugian material berupa biaya kesahatan Rp29.512 miliar, biaya air 13.348 miliar, lingkungan 847 miliar, pariwisata 1.465 miliar dan kesejahteraan lain 10.770 miliar yang totalnya sejumlah 55.952 miliar.

Kalau sebuah laporan dibuat oleh Bank Dunia, anda boleh menebak, ujung-ujungnya bisa saran untuk memperbaiki sanitasi infrastruktur yang mendorong pada ‘loan’ yang harus ditanggung utangnya hingga anak dan cucu, karena Bank pasti ingin pemerintah pinjam lagi untuk memperbaiki sanitasi dan infrastruktur yang lebih baik. Maka sebaiknya peliharalah lingkungan kita sendiri. Dirikan wc sendiri, jangan cemari lingkungan yang mengakibatkan bau busuk karena anda membuang sampah sembarang tempat, sebab jika yang demikian kita lakukan, sama saja pada akhirnya ongkos lingkungan harus lebih mahal kita bayar. Air minum saja sekarang kita harus beli dan terkadang lebih mahal dari satu liter bensin harganya! Anda pilih mana? Kehausan atau tidak minum air bersih?

Masalah lingkunga semakin kompleks saja dan memerlukan perhatian semua orang untuk bersikap. Maka penyadaran melalui pekan ekologi yang diadakan oleh IPB ini sungguh positif dan penting diadakan.
Tabik!

Monday, December 15, 2008

Burung Garuda yang Hampir Punah


Species garuda pancasila alias elang jawa (Spizaetus bartelsi), merupakan burung elang atau burung garuda yang paling indah. Disamping corak bulunya yang coklat terang, matanya yang tajam dan bulat. Paruhnya yang menukik runcing kebawah berwarna hitam dah berdasar khaki. Keunikan lain burung ini adalah mempunyai makhota bulu atau jambul diatas kepalanya. Jambul garuda ini sangat terlihat jelas ketika dia duduk atau berhenti.

Burung ini sesungguhnya mitos yang riel yang dilukiskan sebagai burung garuda pancasila lambang negara Republik Indonesia. Dia sekarang juga menjadi lambang partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), dan selalu mengingatkan pada setiap ujung tongkat komando TNI yang mengambil simbol kepala burung berjambul ini sebagai simbol kekuatan.

Sayang sekali, spesies ini kini terancam kepunahan karena bertelur hanya satu atau paling banyak dua biji dalam beberapa tahun. Penyebab utama lagi spesies ini adalah memang perburuan dan penyusutan habitat.

Elang berjambul ini kemarin saya saksikan (14/12) di ujung catwalk Bodogol bersama rombongan US Ambassador. Syukurlah masih ada tempat terbaik seperti Taman Nasional Gunung Gede sebagai tempat terakhir mereka. Salam untuk burung garudaku!
(foto elang diambil dari website Gunung Halimun)

Monday, December 08, 2008

Mentari: Menjelaskan Satwa untuk Anak TeKa



Apa beda harimau dan singa? kadang-kadang masyarakat awam yang sudah dewasa pun tidak dapat membedakan karena tidak pernah mengenal dan tidak tahu bedanya. Di teks bacaan anak-anak SD, saya menemukan buku teks yang salah, singa dan polar bear hidup di Indonesia. Padahal mereka bukanlah spesies Indonesia.

Sewaktu kecil kita suka bingung bro... membedakan. Saya pernah mendapatkan laporan bahwa di Jawa masih ada harimau, eh tahunya itu macan tutul. Harimau jawa sudah lama tidak hadir dan punah...ada lagi saya mati-matian diyakinkan mereka bertemu anak macan tutul, tapi ternyata itu anak musang 'civet' yang bulunya memang berbelang-belang waktu kecil.



Beberapa hari yang lalu saya mendapat laporan dari Mentari Paramitha, Miss Indonesia (Water) tentang upayanya memberi pemahaman perbedaan satwa-satwa itu, sambil membawa majalah TROPIKA. Tropika adalah majalah alam dan konservasi tempat saya bekerja sebagai Pemimpin Redaksi. Syukurlah kalau majalah itu bermanfaat, ternyata masih banyak anak-anak yang belum tahu perbedaannya satwa, lihat tulisan Mentari ini:

"Dear Pak Rudi,

Sewaktu kunjungan ke TK sepupu saya, yaitu TK Al Azhar Pusat, Jakarta, saya membawa majalah2 Tropika. Di sana saya bercerita tentang satwa-satwa yang terancam punah dan gambar2 menarik yang terdapat di sampul majalah Tropika sangat membantu saya menerangkan seperti apa rupa hewan2 tersebut. Dengan bahasa yang sangat simpel mereka pun jadi mengerti, bedanya harimau dengan singa, orang utan, badak (banyak yang belum paham semua itu)...mungkin hanya dengar tapi masih asing untuk mereka. Mereka jg tak sabar untuk membolak-balik halaman yang ada, untuk melihat gambar2 interaktif di dalamnya."

Terima kasih mentari, memang majalah TROPIKA terlalu berat untuk anak tk, tapi tidak apa-apa disana ada foto-foto yang colourfull yang membantu.



Anak-anak kita perlu bantuan sejak dini untuk mengenal warisan alam mereka yang kaya.

Thursday, December 04, 2008

Lagu Favoritku Alleycat

Mau tahu lagu favorit saya sewaktu kecil dan menjadi "Laskar Pelangi" di Borneo? coba dengar ini:



Aneh juga, saya waktu itu tidak pernah mendengar radio RRI melaikan Malaysia Kucing yang ditayangkan dari Sabah dan Sarawak, juga dari Brunai Darussalam.

tabik
fm

Imam Masjid Al Jazair Belajar Lingkungan

Bismilahirrahmanirrahim,
Ayyuhal ihwah..., al mukharram al asatizd wa imam li masajid min Al Jazair..,ahlan wa sahlan bi kudumikum... Assalamualaikum warahmatullahi wabarkatuh.

Hari ini saya memberikan presentasi dan berbagi pengalaman dengan para Imam Masjid Al Jazair bertempat di Hotel Niko, Jakarta. Mereka berjumlah 12 orang, beberapa diantaranya adalah imam masjid senior di Al Jazair yang difasilitasi oleh GTZ. Saya diminta untuk membagikan pengalaman tentang kerjasama dengan para ulama Indonesia dalam soal lingkungan. Sebagian dari peserta diskusi adalah para imam muda dan ada juga yang setingkat syaykh (kiyai). Mereka baru saja difasilitasi untuk studi banding ke Aceh dalam hal penerapan Islam dan Lingkungan.

Berbagi pengalaman merupakan suatu yang sangat penting, dan mereka berterima kasih atas diskusi ini. Bersama para imam yang amat bermohmat ini saya titipkan laporan Fiqh al Biah yang diproduksi oleh INFORM dan Conservation International.

Salah satu yang saya sampaikan adalah bahwa masalah lingkungan adalah persoalan hari ini, dan ulama tentunya dapat memberikan kontribusi tentang pentingnya perawatan terhadap alam dan lingkungan melalui ajaran Islam yang dipandang mempunyai jawaban lengkap atas persoalan manusia, dulu, kini dan akan datang.

Presentasi dilakukan dalam bahasa Arab, sayang bahasa Arab saya masih tidak lancar alias Suaya..syuaiya.., jadi saya perlu penterjemah. Penterjemahnya adalah Muhammad Al Talal dari Aceh dengan bahasa Arab yang fasih.

Terima kasih atas kesempatan berharga diberikan pada saya untuk berjumpa imam masjid dari Al Jazair. Jazakallahu bil al-khair, Ila liqo.'

Wassalamualaikum warachmatullahi wabaraqatuh.

Pembukaan pertemuan dengan lantunan Ayat Suci Al Qur'an

Bagian Penggalan Presentasi untuk Imam Masjid Al Jazair, terima kasih pada Pak Tengku Azuar Rizal dari GTZ.

Saturday, November 22, 2008

Senja di Kaimana

Sebagai anak negeri saya merasa sangat beruntung dengan profesi sebagai aktifis konservasi. Sudah lama saya berfikir, ini adalah sebuah pekerjaan yang mulia dan baik, karena bisa menyumbangkan tenaga dan upaya untuk melestarikan alam Indonesia. Disamping itu, tentu saja bisa melihat pelosok negara dengan diongkosi oleh tempat bekerja, tentunya untuk sesuatu yang produktif. Malam tadi (22/11) saya berangkat ke Kaimana, sebuah kabupaten baru berdiri tahun 2002. Segalanya masih baru disini, jalan-jalan baru dibangun, kantor kabupaten yang baru dibangun, serta infrastruktur yang belum sempurna. Sepanjang perjalanan transit singgah di Ambon jam enam pagi setelah terbang jam satu tengah malam. Perbedaan waktu dua jam dengan Indonesia Barat.


Hutan Lindung Sasrawa Sasanau, Kaimana


Bekerja di konservasi, kata Tom Friedman Penulis buku Hot Flat and Crowded, ibarat menjadi 'Nabi Nuh' tapi dari bentuk aktifitasnya karena ingin menyelamatkan makhluk Tuhan, bukan saja manusia tetapi alam dan spesies yang ada didalamnya. Sedangkan Taman Nasional atau Kawasan Konservasi, adalah ibarat sebuah "Kapal Nuh" yang memuat satwa flora dan fauna yang harus diselamatkan ditengah gelombang badai nafsu konsumerisme manusia sehingga dikhawatirkan spesies tersebut menjadi terancam punah tanpa tersisa lagi untuk diwariskan kepada anak cuku dan generasi yang akan datang.

Profesi konservasionis di lembaga-lembaga konservasi memang tugasnya memberikan informasi, data data ilmiah, strategi dan pembelaan terhadap alam dan warisan alam agar tidak rusak dan punah. Tentunya tidak semua tempat menjadi sangat penting untuk dilindungi, karena hanya beberapa tempat tertentu saja di muka bumi ini ternyata yang mempunyai titik penting.

Hutan tropis memang penting, tetapi mustahil semuanya diproteksi karena harus berhadapan dengan kepentingan manusia. Jadi ibarat mencari sebuah mata air kehidupan di hutan belantara, atau melindungi jantung yang penting untuk memompa darah keseluruh tubuh, kawasan konservasi, dilindungi bersama komponen pentingnya alam lainnya. Namun, upaya mulia ini bukannya tanpa kendala. Dapat anda bayangkan, tempat mana yang sekarang ini belum diketahui dan terjamah oleh manusia? Dari pelosok barat dan timur, pulau kecil dan besar, hampir semuanya telah berpenghuni. Batas-batas penguasanyapun jelas, klik saja Google Earth. Setiap jengkal bumi telah terpetakan, dan semuanya terkapling menjadi negara-negara kecil dan besar, dan penguasaan itu terus mengerucup hingga pada tingkat bangsa, propinsi, kabupaten, kecamatan, desa, kampung, dan famili.

Dalam hal Pembagian kawasan tanah dan lahan di Papua, dengan otonomi daerah yang kuat, pemerintah pusat bahkan pemerintah daerah tidak dapat berjalan sedirian tanpa persetujuan masyarakat adat. Celakanya batas hak kepemilikan adat hanya diwariskan secara cultural dan tradisi oral untuk mengkapling kawasan sehingga banyak kawasan adat yang satu dengan yang lain bisa menjadi tumpang tindih. Oleh karena itu jika tidak berhati hati, dan menggunakan ‘hati’ bekerja di Papua dapat memicu konflik.

Oleh karena itulah peranan masyarakat di Papua perlu didengar dan sangat penting. Menteri sekalipun harus diterima secara adat dan pemerintah daerah harus resmi mendapatkan mandat adat untuk mengadakan pembangunan termasuk sebuah kawasan konservasi. Kelebihan mandat seperti ini adalah, adanya dukungan kuat dari masyarakat apabila kita mampu meyakinkan program ini bermakna dan investasi konservasi tidak perlu ‘menggurui’ melainkan hanya memfasilitasi dan memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber dayanya sendir.

Mentri Fredy Numberi, yang kelahiran Papua mengingatkan pentingnya memelihara kawasan laut dan merencanakan kawasan ini –termasuk pembangunan daerah—untuk dengan visi jauh, 100 tahun kedepan. Kata dia, KKLD tidak harus dilihat hasilnya dalam 10-20 tahun, melainkan 50 tahun dan 100 tahun.

Negeri ini begitu beragam dengan etnik, agama dan adat istiadat. Menapikan unsur adat di Papua sama dengan ibarat memercik air di dulang, terkena muka sendiri. Adat tampaknya menjadi suatu yang sangat dipegang teguh. Disinilah pentingnya istilah, dimana bumi dipijang disitu langit dijunjung, masyarakat yang secara cultural memang masih mempunyai keterkaitan erat satu sama lain, populasi penduduknya yang masih sedikit, khasanah social modern tidak berlaku untuk masyarakat majememuk sepeti itu.

Senja di Kaimana
Selain lautnya yang ternyata mempunyai khasanah yang luar biasa dengan terumbu karang sangat tinggi dibuktikan dengan lebih dari 350 spesies ikan karang sekali menyelam. Laut Kaimana menyimpan keunikan yang luar biasa dan harus dilestarikan.

Senja di Kaimana, Coutesy Dian Yasmin

Potensi laut sudah tidak perlu diragukan, tetapi sehari setelah saya tiba di Kaimana, saya dibawah ke tempat yang unik 14 kilometer dari kota Kaimana menuju Hutan Lindung Sawrawa Sasanau sebuah kawasan hutan dengan luas 10 ribu hektar lebih memiliki aliran anak sungai dan air bersih dengan warna biru hijau tembaga. Kata Albert Nebore teman saya warna itu kemungkinan diakibatkan pengaruh warna nikel yang terkandung di bumi Papua ini. Kejernihan air mengingatkan saya pada Santa Fe River , Florida yang menjadi obyek wisata berperahu dengan bayaran 40 USD per orang untuk menyewa sampan alumuniun dan berdaung menghilir selama satu jam.

Saya berpikir, 100 tahun kedepan, mengikuti petujuk Pak Fredy Numberi, jika Kaimana mampu mempertahankan hutan dan sungai yang mengalir ini, kelak, 50 tahun mendatang orang akan banyak berkunjung dan terkesan menikmati pemandangan alam yang unik ini. Saya yakin, tidak banyak tempat seprti ini di Indonesia dan kemajemukan alam Kaimana tentu bis memberikan alternatif lebih guna menhindarkan kerusakan alam yang parah di kawasan ini. Semoga!

Wednesday, November 19, 2008

Peluncuran Buku Bertahan di Bumi, Gaya Hidup 'Sepeda Ontel'.



Buku Bertahan di Bumi akhirnya resmi diluncurkan. Ini adalah buku ke 9, dari buku-buku yang pernah saya tulis sebelumnya. Peluncuran ini dibarengi dengan diskusi serius tentang Politik Lingkungan dan Perubahan Iklim, menghadirkan pembicara Dr. Firdaus Syam (Dosen FIP Unas), Dr. Marissa Haque (Artis dan Politisi), Fitrian Ardiansyah (WWF), dan Acara yang dimoderatori Oleh Dr. TB Massa.



Acara ini terselanggara kerjasama Fakultas Biologi UNAS, Pasca Sarjana Ilmu Politik Unas, CI, WWF dan Yayasan Obor Indonesia.

Even ini cukup meriah dan banyak yang datang, mungkin antara 250-300 orang yang membanjiri aula blok I Lt 4, Universitas Nasional, surprise juga; biasanya acara seperti ini sepi peminat. Tapi mungkin juga karena ada 'icon' Marissa Haque yang datang dan membawa rombongan infotainment.


Selama diskusi dan talkshow berjalan, saya melihat tidak banyak juga yang pulang. Acara dimulai dari bangku yang setengah terisi jam dua siang, lalu masih penuh terisi hingg jam lima sore. Mungkin karena dijanjikan para peserta mendapat kesempatan memenangkan undian 30 buku untuk 30 peserta yang beruntung karena diundi. Jitu juga cara itu rupaya.

Penting lagi diingat, buku ini mendapatkan sambutan positif dari pembahas. Dr Firdaus Syam secara akurat dan kritis mencatat kelebihan dan kelamahan buku sekaligus. Kata Firdaus,"


Penulis berani melawan arus, terhadap apa yang kini
sendang berkembang di pasar buku di Indonesia yakni pasar buku yang
lebih banyak menyoroti tema-tema politik kontemporer, atau novel sastrawi
...

Appresiasi kepada penulis adalah, pilihan ide, gagasan dan
pesan orientasi masa depan umat masia..Buku ini membincangkan mengenai
masalah masa depan kemanusiaan dan lingkungan kehidupan di planet
bumi...adalah kajian langka, sekaligus sikap penulis yang
memposisikan diri keberpihakan kepada persoalan mendasar yang jauh kedepan
mengenai apa yang disebut dengan biofilia."



Tentu saya merasa tersanjung, juga agak merasa banyak kurang sempurnanya buku ini bila dipikirkan ulang. Tapi, inilah manusia ada lebih dan ada kurang. Saya persembahkan buku 'sepeda ontel' ini untuk negeri dan bangsaku tercinta. Betapa cintanya aku pada negeri ini, negeri yang hijau kaya dengan flora dan fauna, pemilik biodiversitas terbesar di planet bumi, tapi bangsanya masih kurang bersyukur. Bukan tidak bersyukur, tapi syukurnya masih kurang, terbukti dengan bangsa ini masih belum perduli dengan kekayaan yang dimiliki ini, belum berupaya mengolahnya secara efisien dan menghargai dengan makna yang tinggi.

Terima kasih untuk datang dalam peluncuran buku yang ingin menambahkan khasanah pengetahuan lingkungan di negeri ini. Terima kasih pada para alumni dan anggota milis fabiona yang datang Bang Bahang, yang kini mengisi kegiatan pensiunnya (fabional angkatan 70an), Mas Prasetyo yang selalu memberikan support dan mau terus belajar, teman-teman muda yang lain. Bang Noer Kertapati, Bang Massa dan Firdaus Syam, adalah tiga teman saya sewaktu aktif sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Islam. Jalinan saya dengan mereka di Fisip membuat saya tidak perlu membedakan apakah saya orang biologi atau politik, saya diterima hangat di kedua tempat dengan persahabatan. Last but Not Least, Pak Dekan Fakultas Biologi Unas Tatang Mitra Setia, orang yang selalu sabar, tidak pernah marah dan gembira. Maka lihat saja beliau awet muda!

Tak kalah penting, buku ini dihadiri tamu manca negara, Dr. Crist Margueles, Vice President CI, Angela Kirkman, Director of Communication CI Indo-Pasific, lihat komentarnya, saya cut and paste:



"Congratulations Rudy on a successful event! I enjoyed it even
though I did't understand too much. I agree that even though many of the media
seemed more interested in Marissa Haque hopefully this will help get your
message out to a bigger audience."


juga Kristin Berganz dari US:




We're so proud of you! Thank you for everything you do to support CI and increase awareness of these important issues in Indonesia.


Terima kasih pada Dr. Jatna Supriatna, yang menjadi guru saya sekaligus Boss tempat bekerja. Kebebasan berkreasi dan kalemnya Pak Jatna membuat saya bisa mencurahkan kreatifitas dan memberikan sesuatu yang optimal, bukan saja untuk profesi saya, juga untuk pembangunan lingkungan dan konservasi di negeri ini. Saya jadi ingat pada sebuah catatan persembahan yang ditulis Jatna tahun 80an disebuah bukunya dengan mengutip Khalil Gibran:


"A man can free without doing great, but a great man cannot doing great
without free"


Berita Tentang Peluncuran Buku


Friday, November 14, 2008

Dua Putri Indonesia di UK

Ini catatan tertinggal selama kunjungan saya ke UK. Selama saya disana saya bertemu dengan dua mahasiswi pengejar gelar PhD. Satu Shinta Puspitasari di Oxford, dan Rondang Siregar di Cambridge, saya tentu saja bangga, kedua putri ini kini tengah 'struggle' mengejar PhDnya tanpa bantuan beasiswa dari negara, karena mereka mempunyai latar belakang bukan sebagai seorang dosen atau peneliti (yang satu-satunya diprioritaskan untuk mendapat beasiswa dikti), dan untuk mengejar itu, mereka harus bekerja sambilan.


Rondang Siregar

Tidak banyak mahasiswa Indonesia yang mempunyai kesempatan juga berkeinginan kuat untuk mengejar PhD, salah satunya termasuk Rondang Siregar. Beliau alumni UNAS satu tahun diatas saya, tengah menyelesaikan disertasinya tentang orangutan. Karena kadung janji sudah di negeri orang, October 24, 2008 saya terbang dari Edinburgh menuju Gatwick Airport, pakai pesawat Easy Fly, beli tiket pakai online, print langsung bawa tikenya sendiri ke airport. Mudah sekali hidup di jaman ini.

Rupaya Ka Rondang, begitu saya memanggilnya, tengah sibuk di labnya ketika saya tiba di alun-alun kota Cambrigde, sudah agak sore telp tidak nyambung membuat saya agak khawatir tidak dijemput. Padahal--besok paginya baru saya sadar--kota ini memang sesungguhnya kecil tetapi massif dengan bangunan yang banyak diantaranya kuno, termasuk bangunan Katedral Cristian Chruch (kalau tidak salah) yang berada di pinggir kali Cambrigde University. Tiba pakai bus. Rondang menjempus saya pakai sepeda, saking dinginnya saya masuk kompleks kolam renang dipinggiran alun-alun duduk di meeting point, setelah janjian sama Rondang.

Shinta Puspitasari

Akhirnya datang juga!
Karena datang sekitar pukul tujuh malam, kita jalan kaki ke asrama kampus yang disewanya. Dengan senang hati saya dipersilahkan tidur dikamar mahasiswa yang hanya cukup untuk satu orang, nah, Kak Rondang menjadi 'korban' tidur dengan sleeping bag di lab University of Cambridge. Penghormatan tamu yang luar biasa! Tapi kedatangan saya tampaknya mengobati rindunya dengan tanah air terlebih lagi saya membakannya bumbu rendang dan bumbu nasi goreng yang dia pesan dari tanah air.

Sebenarnya Rondang sebentar lagi selesai, tetapi karena dia juga harus bekerja untuk bertahan hidup, menyelesaikan disertasi tanpa beasiswa, menyebabkan dia lama untuk selesai. Begitulah seninya, sambil tidak banyak berhadap pada negeri sendiri yang sedang banyak uang, tapi dikorupsi oleh para pejabat yang seenaknya membagi-bagikan uang negara! Jangan heran kalau ada anggota parlemen cepat kaya mendadak karena konspirasi politik seperti ini. Tidak adakah bujet dari parlemen untuk membantu mahasiswa seperti mereka?

Saya yakin, kita perlu orang yang berwawasan dan mempunyai kepintaran untuk menjadi wakil rakyat di negeri ini, bukan kemudian mereka yang tidak pintar duduk di DPR lalu kesana kemari mengadakan studi banding dengan biaya negara, karena merasa mereka memang tidak mempunyai khasanah dan pengalaman dalam mengelola negara dan tidak pintar harus belajar lagi setelah di parlemen? Came on!

Saya tidak habis pikir, kedua putri kita ini ibaratnya tengah 'pontang-panting' untuk menyelesaikan disertasinya dengan sambil bekerja, tentu saja kita bisa berharap mereka segera selesai dan berkarya di tanah air. Mereka ini bukan hanya Raden Ajeng Kartini, tapi orang yang harus didorong untuk segera menyumbangkan kontribusinya untuk negara, jangan lagi orang yang baru ingin belajar memberanikan diri memimpin negara. Berapa orang mempunyai pengalaman dan bergelar S2 dan S3 di parlemen? Bahkan yang memalukan, ada yang mencoba masuk parlemen dengan ijasah palsu! Habislah negara ini!

Shinta Puspitasari menuturkan Dia berlinang air mata ketika memutar lagu Indonesia Raya, di blog kanan saya ini. Ini edisi lengkap Indonesia Raya yang memang menimbulkan semangat warisan perjuangan. Baitnya reffnya dinyanyikan lengkap dan tidak dibaca separo. Ini yang saya usulkan ketika pelantikan para pejabat, atau anggota DPR RI lagu ini harus dinyanyikan secara lengkap, karena ini pedoman umum mengelola negara selain UUD. Indonesia Raya Edisi Lengkap penuh dengan cita cita dan semangat membela tanah air dan pengorbanan. Please simak lagu ini., tidak banyak orang Indonesia yang tahu!

"Sadarlah hatija, sadarlah boedija untuk Indonesia Raja"

"Indonesia tanah jang akoe sajangi,..."

Kembali ke Cambridge
Universitas ini merupakan salah satu University terbaik di UK, Pangeran Charles adalah alumni Trinity college Cambrigde. Masih ingat Watson dan Crick? penemu double helix DNA, ini adalah bekarja di Lab Cambrigde. Pagi-pagi ketika berkeliling dengan kak Rondang, saya ditunjukkan tempat konko-konkonya Watson Crick sebuah restoran yang kemudian menjadi sejarah penemuan tersebut. Jadi tentu sekolah di Cambrigde bukan sembarang orang.

Di pusat kampus Cambridge kita bisa menyaksikan orang berkeliling kampus dengan menggunakan perahu dan membayar 4 pond sterling, yang mendayung adalah mahasiswa yang kemudian menjelaskan tentang kanal yang dibuat itu.

Tentu bisa menjadi sumber pendapatan untuk kampus. Saya juga ke masuk ke Gereja Anglikan yang menurut Rondang koor Gerejanya luar biasa bagus, sehingga ditayangkan ke seluruh dunia pada saat hari natal oleh BBC London dan channel penting lainnya. Saya menyaksikan piano yang besarnya sama dengan metro mini. Pengunjung dengan tertib mengelilingi gereja yang cukup sakral ini.

Nah, terakhir, saya berkunjung ke lab Ka Rondang. Disitu tertulis siapa saja yang sudah mendapatkan gelar PhD, ini khusus yang dibimbing oleh Dr David Chievers promotornya Rondang. Ada belasan, orang, termasuk diantaranya Dr. Yanuar (alumni UNAS) yang baru saja tamat sebagai ahli primata juga.

Saya sangat beruntung, dan mensupport semua mimpi kedua putri kita ini, walaupun nanti kalau ke UK lagi saya hanya bisa bawa kacang atom (yang tak ada di UK), sambel rendang dan bumbu nasi goreng. Selamat mengerjar mimpi anda!

Thursday, November 06, 2008

Indonesia First Interfaith Conference in Climate Change


It seems that the movement of religion and environment is not at the stage of beginning, but the start was begun in 1986 since Prince Phillip the Duke of Edinburgh and WWF held an initiative to facilitate all the religious leaders from all over the world congregated at Assisi Italia. As an outcome of this conference:


The Assisi Declaration Proclaimed.

Other action was also conducted in Ohito, Japan, and created other expression of concern of the planet such as:
• The health of the planet is being undermined by systemic breakdowns on several levels. Faith communities are not taking effective action to affirm the bond between humankind and nature, and lack accountability in this regard.
– Human systems continue to deteriorate, as evidenced by militarism, warfare, terrorism, refugee movement, violations of human rights, poverty, debt and continued domination by vested financial, economic and political interests.
– Biological systems and resources are being eroded, as evidenced by the ongoing depletion, fragmentation and pollution of the natural systems.
Recognising the important parallels between cultural and biological diversity, we feel a special urgency with regard to the ongoing erosion of cultures and faith communities and their environmental traditions, including the knowledge of people living close to the land.
• As people of faith, we are called to respond to these concerns. We recognise that humanity as a whole must face these concerns together. Therefore we recommend these principles as a basis for appropriate environmental policy, legislation and programmes, understanding that they may be expressed differently in each faith community. (quoted from Harfiah Haleem Presentation, 2008)



I am surprised to participate at the first conference Indonesia’s Interfaith and Climate Change held by NU and the British Embassy, as about 100 interfaith leaders as well as some grass root activism shared their ‘best practiced’ to response to the global warming actions: such as planting millions trees, changes the electric to micro-hydro power which can avoid the used 300.000 liters gasoline/year, recycling garbage and financing 50% of operational cost to run the an environmental television program. I believe this emerging attention to the faith group for climate action could become much more significant in the future.

I attended the meetin in order to facilite Mrs Harfiah Haleem as she replaced Fazlun Khalid –bacause of the health problem—that cannot attend the conference. Its firs time to acquaintance Harfiyah as I understand she is an important environmentalist to represent IFEES from UK//