Thursday, October 08, 2009

Forum Agama Agama dan Perubahan Iklim

Kemarin menghadiri 'Forum Agama Agama dan Perubahan Iklim' di Aula Lt IV Kampus Universitas Sanatha Dharma, Jogjakarta. Beberapa orang yang hadir antara lain Dr Sony Keraf, mantan anggota DPR dan menteri Lingkungan Hidup RI, Pendeta Robert Borrong, Romo Andang, Uskup Agung Semarang, Rektor UIN Sunan Kalijaga, St Sularto Kompas dan beberapa tokoh penting di Jogjakarta dll.

Ini adalah diskusi kalangan terbatas tentang apa yang bisa dilakukan oleh Agama Agama untuk perubahan iklim sekaligus diharapkan bisa dibuahkan sebuah aksi baik dalam tingkatan teologis maupun praksis dalam memberikan response terhadap perubahan iklim.

Selain berbagi pengalaman best praktis tentang banyak hal yang telah dilakukan untuk lingkungan atas landasan iman baik di kalangan kristiani maupun muslim, pertemuan ini menjadi sebuah langkah awal dialog agama-agama dalam membawa pada pencerahan pengikutnya tentang kenyataan bahwa iklim global yang berubah juga merupakan tantangan bersama manusia, tidak terkecuali semua agama.


Dari kiri kekanan, Fachruddin Mangunjaya, St Sularto, Romo Gardjito dan Romo Andang.


Tidak dari Nol
Sepakat tidak mulai dari nol, menggabungkan yang sudah pernah dilakukan, berbagi pengalaman dan aksi yang bisa saling dipelajari antar agama. Romo Andang, misalnya berfokus pada pengelolaan sampah Jakarta yang sangat akut. Langkah kontrit baik kecil maupun besar terus dilakukan, di kalangan gereja maupun di sekolah sekolah Katolik, suatu yang patut dicontoh oleh agama lain untuk menggunakan jaringan keimanan ini.



Saya kira tidak kalah penting adalah eco- pesantren pun demikian. Perlu di sharing dalam forum seperti ini. Banyak kegiatan dan hal yang unik dilakukan untuk perubahan iklim yang dilandasi oleh iman belum didata dengan baik sehingga kelak ini bisa menjadi suatu sinergi bahwa kita telah berbuat. Namun....perbuatan itu adalah masih kurang, terbukti kerusakan lingkungan bertambah parah!

Wallahu a'lam.

LINK TERKAIT AGAMA DAN PERUBAHAN IKLIM:

Saturday, October 03, 2009

The Climate Project Latin America di Mexico

Mucos Gracias! Terima Kasih, saya bisa ada di Mexico, baca mehiko. Sebuah negara kota dengan sisa peradaban tua: Bangsa Maya—Olmecs, Teoticuacan dan Aztecs--yang pernah saya kutip dalam sebuah essay tentang bangsa yang Collapse –mengutip Jared Diamond, karena dilanda krisis lingkungan.

Selama empat malam dan lima hari saya berada di bawah nenaungan gedung gedung menjulang tinggi gaya Spayol di tengah Centro Historico, downtownnya Mexico City yang dipadati oleh 25 juta penduduk. Saya disini untuk pertemuan The Climate Project (TCP). Alhamdulillah, terima kasih atas undangan dan kepercayaan para senior –terutama untuk Dr Amanda Katili-- dari Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) yang baik hati untuk kesempatan dilatih sebagai relawan presenter tentang perubahan iklim langsung oleh Honorabel Al Gore, bekas Wapres Amerika Serikat, pemenang nobel perdamaian.

Grup kuning TCP Amerika Latin berfoto bersama
TCP dibuat untuk menyakinkan komunitas masing masing tentang perubahan iklim. Ini merupakan pertemuan kesekian kalinya di seluruh dunia. Pertemuan kali ini diadalah untuk Amerika Latin dan sekitarnya. Sudah ada 3000 presenter yang dilatih ‘First Hand’ oleh Al Gore atas komitmennya untuk meyakinkan public tentang perlunya perubahan dalam menyikapi terhadap perubahan iklim.


Dari Indonesia, sebenarnya sudah ada 50 kader yang telah mengikuti pelatihan serupa ini. Mereka telah mengikuti pelatihan di Australia bulan Juli lalu dalam Asia Pasific Summit TCP. Adapun saya, adalah susulan yang disisipkan dalam acara TCP untuk Amerika latin. Untuk menjadi presenter ini juga diseleksi sangat ketat. Mereka adalah hasil penjaringan dari ribuan pendaftar. Kegiatan ini adalah voluntary dalam upaya fighting the climate change. Oleh sebab itu, maaf, materi presentasi tidak bisa disebarluaskan begitu saja, karena merupakan copyright, dan eklusif para presenter harus dilatih langsung oleh Al Gore dan mendapat sertifikat beliau. Pelatihan di Amerika Latin diikuti oleh perwakilan dari 20 negara, dari Indonesia hadir dua orang saya dan Dr Amanda Katili Niode (Mentor TCP). Disamping Al Gore, untuk memahami konteks regional, presentari dilakukan oleh para ilmuwan kelas dunia seperti Dr. Exequiel Ezcurra Real de Azua on “Climate Change Affectations on Biodiversity in Mexico and the Region , Dr. Carlos Mena, Executive Director of Mario Molina Center, Scientific Advances on the “Fight against Climate Change in Mexico and the Region“ . Mario Molina adalah a Mexican born American chemist, one of the most prominent precursors to the discovering of the Antartic Ozone Hole that earned him a Nobel Prize. Molina adalah seorang yang dipilih oleh U.S. President Barack Obama untuk membentuk transisi dalam mengatasi persoalan lingkungan di AS. Setelah itu barulah kita mendengarkan Presentasi Al Gore yang sangat memukau, tidak ada satu pesertapun bergerak. Gedung Banamex penuh dan tepuk tangan ‘standing opation’ lama…

Deklarasi dan foto bersama dengan panitia dari Pro-Natura Mexico


Kawan. Maka saya sekarang bisa menawarkan diri (voluntary) kalau ingin melihat presentasi Al Gore bisa mengundang gratis (tidak dipungut bayaran), hanya kalau jauh tolong ganti ongkos bensin (hehe), atau naik pesawat tolong ganti tiket saya. Program ini pada dasarnya adalah awareness, diminta pada fellow presenter untuk melakukan presentasi sebanyak2nya. Sepuluh kali sebelum Copenhagen (kalau bisa). Kewajiban saya adalah terutama menjelaskan—mempresentasikan tentang perubahan iklim-- pada komunitas Muslim, pesantren, madrasah, masjid, lembaga pengajian bahkan bisa juga majlis ta’lim ibu ibu yang ingin mengundang.

FOTO FOTO MEXICO
  • Hubungi saya melalui e-mail: fmangunjaya@yahoo.com . Insya Allah saya atau fellow yang lain bisa mengatur waktu presentasi.

Salam Hangat!

Thursday, September 17, 2009

Safari Ramadhan Kaimana, Ditantang Ombak Besar


KAIMANA, PAPUA--Kegiatan safari ramadhan dilakukan berkat kerjasama antara Majelis Muslim Papua (MMP) dan Conservation International International (10-14 September 2009), tujuannya adalah untuk mendekatkan diri pada masyarakat, terutama di perkampungan Muslim di Kaimana. “Safari’ diambil dari istilah safar, yaitu perjalanan, kata ini ada dalam bahasa al Qur’an (arab), aw alaa safarin…dan kalau kamu dalam perjalanan.

Ini sebenarnya merupakan cara lain dari menyambung silaturahim sesama muslim. Karena bulan ramadhan diajurkan berbuat kebaikan termasuk melakukan silaturahim.

Beberapa distrik yang kami kunjungi merupakan distrik berpengaruh di Kaimana. Misalnya pada hari pertama kami mengunjungi Kampung Kambala, Distrik Buruwai bersama Mohammad Lakotani, SH Ketua Umum MMP Kaimana yang juga Camat Buruwai dan Dian Wasaraka staff CI Kaimana Program.

Kami tinggal di tempat pak camat orang Papua memanggilnya Kepala Distrik, beliau adalah camat ke lima di Buruai dan putra asli daerah tersebut. Naik speed boat dari Kaimana ke Distrik Kambala memakan waktu sekitar tiga jam, menyebrang teluk dengan ombak yang lumayan besar dan ganas. Desa Kambala merupakan salah satu dari tiga desa di Distrik Buruai mempuynai sekitar 900 kk merupakan distrik baru. Kampung muslim yang harmonis. Semua orang kenal dan saling sapa menyapa satu dengan yang lain.

Pantai desa ini sangat panjang pasirnya, sehingga ketika kami berlabuh, sedangkan air surut, kami harus berjalan kaki sekitar dua ratus meter menuju muara.
Ceramah dihadiri oleh camat dan kapolsek sambil menyerakan jam kegan kenangna dari CI Indonesia.


Bersama anak anak Kaimana di Kampung Seram

Naik speed boot dengan kakuatan 230 tenaga kuda, kampung Kabala yang ditempuh 7 jam hanya dapar dicapai dua jam dari Kaimana. Rupanya gelombang cukup besar sehingga membuat nyali menjadi ciut ketika dihempas ombak. Ayunan ombak menghempas-hempas speed boat warna merah yang melaju di tengah laut yang tak bertepi.


Selamatkan Kapolsek
Hari kedua Jum’at, Kaimana Arguni atas (Arguni Tua), Ibukota Kec Arguni, bertemu masyarakat. Sebuah kampung yang luar biasa jauh dari keramaian, Bufwer namanya, hampir saja kami tidak batal ketempat ini karena siang sebagaimana rencana akan berangkat setelah Jumat, tetapi speed boat ternyata digunakan dulu untuk mencari ‘Kapolsek’ yang hilang memancing…Angin dan gelombang sangat besar kemarin, membuat speedboat warna merah dengan mesin ganda itu terkadang terhuyung huyun dihempas gelombang.

Pak distrik mendadak mendapat telpon memohon pertolongan untuk mencari pen roda speed boat kapolsek yang patah. Kami di drop duluan ke Kaimana, dan aku sempat shalat Jumat disebuah masjid jami tidak jauh dari pantai. Setelah mandi dan bersiap kami kembali menuju pelabuhan untuk berangkat ke Arguni Atas. Ternyata keberangkatan ditunda sampai jam empat, setelah pencarian kapolsek yang untungnya ketemu setelah beberapa jam hanyut.

“Angin timur ini memang cukup besar dan kadang gelombang tidak pasti,” kata Om Ibrahim yang mencoba meramal tentang kondisi cuaca. Kami bercengkrama bersama masyarakat sambil menunggu kedarangan speed boat, termasuk aku berkenalan dengan Thaha al Hamid salah satu tokoh yang disegani di Papua.

Rombongan ke Arguni menjelang sore, tanpa Pak Kepala Distrik Buruwai tapi katanya di Bafwer, desa yang kami akan singgahi sudah ada Pak Jaffar Worfete, sekretaris Majelis Muslim Papua (MMP), KUA, Wakadis Buruai Arsyad Lakotani ? Kami mulus berangkat. Menikmati pemandangan, menyebrang teluk dan menikmati kesegaran udara laut yang tidak ada duanya. Masuk ke Teluk Arguni, saya diceritakan tentang Gunung Genova, yang penuh misteri tempat para raja memperoleh kesaktian. Mereka –konon—memperoleh keris dan kesaktian dari tempat ini adalah: Soekarno Presiden RI pertama, Raja Ternate, Raja Namatota, Raja Buton, dan Raja Maluku. Ada juga legenda Gunung Nabi yang sangat misterius, konon, puing bekas pahatan kapal Nabi Nuh ada di atas gunung ini. Mendaki atau mengunjungi kawasan ini bisa menyebabkan kematian.

Bufwer merupakan adalah salah satu desa kecil dari tiga desa dengan jumlah hanya ratusan kepala keluarga. Disini komunitas muslim tumbuh harmonis dengan toleransi yang tinggi dengan agama Kristiani. Mereka saling tolong menolong bahkan untuk berburu, mereka meminjam anjing dari umat nasrani tetangganya. Pak Abdullah bercerita kepada saya, setiap ada acara di kampung Bufwer, mereka menjamu dan menghormati tamu dan seringkali untuk menyiapkan perjamuan mereka harus mencari daging rusa atau kasowari. (catatan: Kasowari adalah binatang yang dilindungi. Masyarakat tidak banyak tahu tentang ini rupanya!)

FOTO-FOTO Perjalanan di KAIMANA

Kalau yang pinjam anjing mereka adalah untuk menjamu seorang muslim, maka anjing-anjing ini tidak mau menggigit mangsanya. “Saya juga heran, setiap orang muslim yang pinjam anjing orang nasrani, lalu anjing itu berburu. Mereka cukup hanya mengepung mangsa tersebut, menyalak dan menunggu kita,” tutur Abdullah. Seolah anjing tahu bahwa Muslim diharamkan untuk memakan buruan yang digigit anjing dan kemudian mati. Berlainan kalau tuannya yang melepas untuk keperluannya. Mereka akan langsung menggigit mangsa tersebut.

Di kampung Bufwer, kami disambut dengan rebana dan gendering terbang oleh anak anak dan pemuda desa. Saya tidak menyangka mereka menghormati sedemikian ramah. Mereka mengalu-alukan kami, menggiring kami ditengah hujan gerimis ke sebuah tenda yang tampaknya dipersiapkan dengan janur dan umbul umbul.

Gagal ke Namatota
Sayang sekali rencana kunjungan ke Namatota gagal total, karena kami terhambat dengan kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Nakhoda speed boat tampaknya tidak mau mengambil resiko setelah melihat angin rebut dan gelombang besar minggu siang. Saya pun tinggal di mess dan memanfaatkan waktu dengan sebaiknya membuat laporan ini. Tabik!

Wednesday, September 02, 2009

Green Lifestyle Kelestarian Lingkungan Bagian dari Iman

Ditengah Pulau Sipora nan jauh, di tengah mulai Bulan Puasa, saya mendapat SMS untuk menjadi narasumber di Metro TV dalam acara Green Lifestyle yang difasilitasi KLH, bertema "Kelestarian Lingkungan Bagian dari Iman" bersama Dr Henry Bastaman, Deputy Menteri Lingkungan Hidup.

Ini adalah talkshow pertama kali di sebuah TV swasta yang saya anggap merupakan kehormatan yang diberikan karena konsentrasi aktifitas saya pada Islam dan Lingkungan yang saya tekuni akhir akhir ini. Sejak awal saya berkeyakinan, topik agama dan lingkungan akan menjadi avant garde dalam pembicaraan solusi lingkungan hidup kedepan. Persoalan lingkungan kita adalah persoalan bagaimana bisa mengubah perilaku yang business as usual menjagi yang lebih ektrim dan pro lingkungan. Agama adalah faktor yang bisa mendorong ke arah itu tanpa banyak menghabiskan energi karena ruh internal yang dimilikinya.



88% persen penduduk dunia ini percaya akan agama. Artinya lebih dari tiga perempat penduduk bumi ini bisa diyakinkan atas ajakan kebaikan memelihara bumi, dampaknya luar biasa. Muslim di bumi jumlahnya 1.6 milyar, mengajak umat Islam untuk sadar lingkungan dengan menggali kembali khazanah kearifan yang kita miliki, ini menjadi satu satunya mobilisasi luar biasa dalam menyikapi persoalan lingkungan.

Sebab itulah keyakinan agama menjadi penting. Pembukaan dialog saya buka dengan: "Siapa kampainer pertama dalam bertanggungjawab melestarikan kehidupan di bumi," jawabnya 'Agama agama dunia' tidak terkecuali agama manapun.

Agama mempunyai modal 5 R, a. Re reference, yaitu modal berupa rujukan akan keyakinan yang diperoleh dari kitab-kitab suci—text-- yang dimiliki oleh pemeluk agama-agama; kedua,
b. respect, atau saling menghormati yang menjadi dasar untuk menghargai semua makhluk hidup; ketiga,
c. restrain, yaitu kemampuan untuk mengontrol sesuatu supaya penggunaan sesuatu agar tidak mubazir; dan keempat,
d. redistribution, kemampuan untuk membagikan kebahagiaan atau harta dalam bentuk amal, misalnya di dalam Islam dikenal dengan infak dan shadaqah; dan
e. kelima responsibility, sikap bertanggungjawab dalam merawat kondisi lingkungan dan alam.


Muslim mempunyai pegangan sakral dengan teks Al Qur'an yang rahmatan lil alamin, juga muslim mempunyai alat yang sangat banyak dalam mengajarkan manusia untuk bertindak rakus dan terlalu digdaya di bumi.

Jauh sebelum al Gore mengkampanyekan perubahan iklim dan perubahan gaya hidup 14 abad silam Rasullullah saw menyuruh kita supaya mensyukuri karunia Allah, tidak membuang sumberdaya dengan sia sia (mubazir), bahkan ketika berwudhu pun kita disuruh berhemat air. Dalam sebuah hadis diriwayatkan sahabat Nabi Saad, telah ditegur karena wudhunya telalu banyak menghabiskan air.
”Ya inikan untuk wudhu,” ya Rasullullah”
”Tidak boleh memboroskan air. Bahkan jika kamu berada di air mengalir sekalipun.”
Jadi kita disuruh untuk berhemat.

Persoalan manusia modern sekarang adalah tidak berhemat! Boros sumberdaya. Tidak bisa merubah perilaku yang kemudian berdampak pada ketidak seimbangan di bumi padahal Allah mengatakan innallaha la yuhibbul musrifinnn...allah tidak suka orang yang boros dan membuang-buang sumber daya.

wallahu a'lam

Mencari Paman Joja, Ketemu ‘Teletong’

Sehari sebelum ribut (26 Agustus 2009) tentang penjualan pulau dan cottage di Kepulauan Mentawai, saya pergi ke Pulau Sipora (salah satu pulau besar di Mentawai). Saya sebenarnya berada ditempat ini selama empat hari untuk menyaksikan dari dekat pulau yang sangat unik ini. Saya mengadakan perjalanan jurnalistik, untuk mewawancara Bupati Edison Selalubaja, yang agak sulit ditemui karena sibuknya dan agak orangnya sedikit eksklusif.

Kegembiraan anak Bermanua di depan sekolah mereka yang bersahaja

Semula hampir saja saya batal menuju pulau ini. Karena melihat kondisi gempa yang bertubi tubi di Padang dan Kepulauan Mentawai antara tanggal 21-24. Tapi karena penasaran dan sudah menjadi ‘azam’ saya berangkan juga. Dr Ardinis Arbain, dosen Universitas Andalas memberikan doanya pada saya. “Faija azamta fatawakkal Allaah,” ujarnya. Menuju Pulau Sipora, anda harus ikut pesawat kecil dengan penumpan 14 orang dan mendarat di Pulau Rokot. Sebuah pesawat agak tua dan masih layak terbang dengan pilot dan co-pilot langsung bisa disaksikan ‘menyetir pesawat’ tanpa pembatas. Saya lihat beberapa bule membawa peralatan selancar menghabiskan dua tempat duduk untuk menggotong barang berupa papan sepanjang lebih kurang dua meter itu. Satu satunya penerbangan adalah pesawat ini. Tidak ada alternative, namanya SMAC Sabang Merauke Air …, teman saya Bonie berseloroh bukan itu singkatannya: “Siap Mati Atau Cacat”. Hehe.

Hati saya tadinya ciut, tapi setelah tiba di Bandara Rokot, dengan aman. Barulah saya lega. Deri Rokot kita, belum selesai tujuan. Harus naik Boat sekitar setengah jam menuju Tua Pejat (artinya tempat persinggahan) yang menjadi ibukota Kepulauan Mentawai. Ada empat pulau besar di Mentawai: Siberut, Sipora Pagai Selatan dan Utara. Empat pulau ini merupakan pulau terluar di demarkasi Republik Indonesia dengan gelombang dan galur sebersar bukit dan gunung menerpa pantainya. Sebab itulah tempat ini menjadi tujuan surfer terbaik di dunia.

Bersama penduduk sedang membuat perahu dari pohon meranti.

Pulau Sipora merupakan salah satu pulau dengan keunikan satwa endemic yang terancam punah. Pulau kecil ini tidak lebih luas dari DKI Jakarta. Masih syarat dengan tumbuhan alami dan belum berkembang. Kini menjadi ibukota dengan kesibukan pokok pembangunan jalan dan infrastruktur. Karena di pulau dengan tanah pasir yang labil, jalan dibuat beton, tapi menurut penduduk belum kunjung selesai dan pembangunannya sangat lama. Jelas saja, kendala utamanya semua alat dan barang didatangkan dari Kota Padang, dari mulai batu, pasir hingga semen.

Siteut

Di pulau ini ada satwa sangat khusus pulau kecil ini, tidak ada di pulau manapun di dunia, termasuk di sebelah pulau yang lainnya di Kepulauan Mentawai dia adalah: bilao atau siamang kerdil dan tupai sipora. Karena itu pulau ini masuk arsir merah sebagai yang ditandai oleh AZE (alliance of zero extinction) sebagai bentuk ‘warning’ kepada dunia untuk keperdulian khusus kawasan ini memiliki satwa paling kritis dan terancam keberadaannya.

Saya ingin membuktikan sendiri ketempat ini. Saya pergi ke Desa Berkat (Pecahan Desa Bermanua), sekitar 40 menit dengan perahu tempel dari Tua Pejat. Sebuah desa yang baru dibangun. Penduduknya merupakan eksodus dari Desa Bermanua (artinya tidak berlangit, bahasa Mentawai), sebab dilanda bencana gempa dan tsunami tahun 2007.

Tidak ada listrik disini, ada milik penduduk berupa genset. Tapi ketika saya disana tidak dinyalakan karena penduduk tidak bisa membeli solar. Masyarakatnya masih miskin. Sehari saya datang kesini, saya ikut dijamu dirumah masyarakat, kami makan talas, dan sedikit nasi, dan hanya sekali itu makan. Sehari semalam saya makan cemilan dan indomie yang saya bawa.

Ada sekitar 40 kepala keluarga yang tinggal dikampung ini. Mereka memulai hidup dari nol karena hanya papan rumah sebagian dan nyawa mereka yang bisa diselamatkan dari tsunami yang kejam. “Tidak ada yang tersisa, baju pun hanya yang kami pakai saja,” karena kami semua lari ke bukit, kata Eliakim Sawabalad (45 tahun) getir mengingat. Ditempat beliau inilah saya tinggal. Rumahnya berukuran empat kali enam meter. Terlalu sempit untuk menampung tamu.

Ketemu Teletong Paman Joja
Menjelang sore, kami ke hutan di belakang kebun petani di bagian belakang kompleks perkampungan Berkat. Niatnya mencar Joja, Siteut dan Simakobu atau monyet kerdil Mentawai yang hampir punah itu. Tapi kami berjalan hampir empat jam di belantara. Hanya bertemu suara mereka, dan kotorannya. Kebetulan hujan gerimis, jadi agak sulit mendengarkan suara satwa karena gemercik hujan yang mendera daun. “Musim panas kemarin, mereka banyak mendekat kebun kami. Karena air di hutan tidak ada, juga makanan tidak banyak.” Kata seorang penduduk, menceritakan monyet monyet itu cenderung ke kampung dan minum di sungai dekat perkampungan yang airnya masih tersedia banyak.
“Paman Joja, dimanakah kamu,” kata ku bergumam sambil menenteng kamera. Kami pulang dengan tangan kosong kecuali potret ‘teletong’ atau kotoran alias peces. Hehe lumayan! Ini menunjukkan mereka masih benar benar ada!

Monday, August 17, 2009

Dirgahayu Indonesia Raya!

Kawan! Selamat hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 64. Ditengah arus mabuknya hedonisme dan keluhan para veteran yang kecewa tentang kondiri kita sekarang--seperti yang kudengar di radio-- tentang Indonesia kita ini: kita harus tetap bersyukur. Namun sebagai orang yang bergelut di gelimpangan dan kancah persoalan lingkungan hidup Indonesia, keadaan negeri kita tidak menggembirakan. Sumber daya alam terkuras habis. Daerah-daerah dimekarkan oleh para politisi untuk mengakomodasi --bukannya kepentingan rakyat--tetapi adalah percepatan pengurasan sumber daya alam yang semakin massif.

Ketika pagi aku buka sms tentang ucapan selamat ulang tahun kemerdekaan Indonesia, saya tersenyum kecut mendapatkan sms dari seorang teman dengan pesan yang arif: 'Saatnya bersikap Eigati (ngeman, hati hati, memelihara) terhadap alam Indonesia. Setelah 64 tahun merdeka, karna telah nyata kerusakan (dengan skala dan besaran yang semakin menghawatirkan) pad sumber daya tanah air, laut, hutan dan lahan di Indonesia. Dirgahayu Indonesiaku (Wiratno dan keluarga).

"Terima kasih. Mari bersyukur yang artinya tidak membuat kerusakan." itu jawabku ringkas.

Saat blog ini ditulis saya juga mendapatkan ucapan: "Merdeka! bagaimana kabar Bapak? Di hari peringatan kemerdekaan ini, mari kita isi dengan perencanaan dan kegiatan agar Indonesia benar-benar merdeke. (dari Sevul, Ikatan Mahasiswa Biologi Indonesia, UGM).

Memang sebaiknya kita merenung tentang kemerdekaan ini. Sambil mencari bendera lusuh di dapur yang hanya dipancangkan setahun sekali di depan rumah. itupun hampir tidak ketemu, karena terselip entah dimana. Saya berfikir, bagaimana kalau Lagu Indonesia Raya dilantunkan secara lengkap dalam upacara upacara kenegaraan. Bukan hanya bait pertama saja reff yang dinyanyikan, tetapi semuanya.

Coba Anda dengar reff Indonesia raya yang sangat mulia dan menyentuh (bisa di klick di bloq sebelah ini):

Reff2. Indonesia, tanah yang mulya, tanah kita yang kaya
disanalah aku berdiri untuk selama lamanya..
Hiduplah tanahnya, bangsanya raknyatnya semuanya..
Indonesia tanah pusaka tanah kita semuanya
Marilah kita mendoa

Sadarlah hatinya...hatinya budinya untuk Indonesia raya...

Indonesia tanah berseri tanah yang aku sayangi...
marilah kita berjanji Indonesia abadi..

Slamatlah pulaunya, lautnya.... semuanya..



Renungkanlah!
Apa yang diperoleh setelah 64 tahun? karena Indonesia Raya tidak dinyanyikan lengkap? pulau kita hilang. Pasir kita dijual ke negara tetangga. Tambang kita dikeruk untuk keuntungan asing..., hutan kita ditebang habis dan dibuldoser dan itu tentu tanpa melihat bahwa ini adalah pusaka rakyat Indonesia yang dipertahankan.

Mulai sekarang bernyanyilah dengan lengkap Indonesia Raya. Jangan lagi ada kesalahan...dan penjualan atas apa pun yang ada di negeri ini!

Apalagi mencoba untuk melupakan bernyanyi lagu Indonesia Raya dalam acara kenegaraan.. harus ada sangksi keras dari seluruh rakyat Indonesia.

tabik kawan!

Berdiri dan Merdekalah..Indonesia Raya!

Thursday, August 06, 2009

OPINI: Rencana Aksi Muslim untuk Perubahan Iklim

Fenomena perubahan iklim memang menjadi keperdulian semua pihak tidak terkecuali para pemimpin agama. Kita semua telah tahu, keburukan yang terjadi sehingga bumi menjadi tidak seimbang dan perubahan yang ada di alam dapat mengakibatkan bencana, adalah akibat perilaku manusia.

Jadi untuk mengelola bumi yang sehat dan lebih baik kedepan diperlukan perubahan perilaku manusia dalam mengelola, mengayomi dan melindungi bumi dari kerusakan.

Tanggal 6-7 Juli lalu, di Istanbul, Turki, telah diadakan Konferensi Islam dan Lingkungan dan dilengkapi response negara negara muslim dengan deklarasi rencana aksi Muslim untuk Perubahan Iklim Global selama tujuh tahun (Muslim Seven Year Action Plan (M7YAP) to Deal with Global Climate Change). Selanjutnya >>>>

Album Islam & Environment Conference Istanbul, Turkey

Thursday, July 16, 2009

Dua Peradaban yang Berlanjut

Dua tempat wisata yang jaraknya dapat ditempuh berjalan kaki—karena berdekatan—dan sangat bersejarah selain Masjid Biru di Istanbul, yaitu: Museum Ayasofia dan Istana Topkapi (Topkapi Sarayi). Saya memasuki Ayasofia pada hari kedua, menggunakan kesempatan karena pertemuan konferensi diadakan hanya sampai jam 4 sore. Karena musim panas, jadi matahari terbenam –maghrib—jam 8.30. Jadi empat jam saya gunakan waktu sebaiknya untuk menjiarahi tempat-tempat bersejarah.

Ayasofia. Musium berwarna krem dan megah ini, menjadi tujuan yang menarik karena didalamnya kini adalah museum. Dengan masuk membayar 20 lira (sekitar 150 ribu) kita bisa bebas melihat sepuasnya melihat bangunan yang tadinya adalah merupakan gereja tetapi mirip masjid ini.

CERITA TENTANG SEJARAH HAGIA SOPHIA ada di sini

Hagia Sophia (Ayasofia), yang tadinya merupakan gereja basilica yang dibangun oleh Imperium Bizantium, Romawi Timur merupakan bangunan yang menakjubkan dengan materi-materi kuno berusia 1500 tahun berdiri sangat mengah. Konon, bangunan ini didirikan selama lima tahun melibatkan 1000 ahli dan 10.000 pekerja. Dalam sejarah, Justinian, raja yang mendirikan katedral ini, meresmikan gereja yang megah dan luar biasa ini dan memasukinya sambil bergandengan tangan dengan umatnya. Saking senangnya, Justianus, berujar:”Sulaiman, aku telah mengunggulimu.”Setelah masuk ke ruang, saya bersujud syukur, bisa mengunjugi tempat ini. Betapa tidak saya mempelajari sejarah Islam sejak di sekolah dasar dan membaca perjuangan heroik penaklukan gereja ini dengan semangat jihad yang luar biasa. Padahal penaklukan dilakukan 800 tahun setelah Rasulullah saw wafat.

Karena bangunan ini menjadi museum, jadi beberapa objek memang dilestarikan. Anda bisa melihat mosaic lukisan gereja seperti: gambar Yesus, Bunda Maria dan Raja Konstantin, yang tadinya diplaster setelah gereja ini dijadikan masjid, kini dimunculkan kembali. Bangunan ini masih berdiri sangat kokoh dengan lengkung (arcade) dengan pilar penyangga yang terbuat dari campuran proconessos putih, tesselian hijau, batu emas Libia, pigian berwana pink dan marmer gading cappadosian.Saya mencoba memeluk salah satu pilar ini. Sejuk terasa di kulit, tangan saya hanya bisa menggapai setengah lingkaran tiang itu. Di dalam masjid ini juga dijumpai dua kendi raksasa tinggi sekitar 2 meter dan diameter 1.5 meter yang diboyong dari Pergamon semasa pemerintahan Sultan Murad III (1574-1595). Bangunan ini dirawat dengan sebaik-baiknya secara turun temurun di zaman Dinasti Usmani, menambahkannya dengan berbagai ornamen Islam, seperti tulisan Allah, Muhammad dan empat khalifah (Abubakar, Umar, Utsman dan Ali).

Mihrab merupakan tambahan dengan mengganti altar yang menghadap ke Timur. Mihrab dan Mimbar (tempat khutbah) dibangun belakangan terbuat dari marmer. Di bagian lain terdapat perpustakaan masjid yang dibangun pada jaman Mahmut I. Ruang perpustakaan ini unik berdekorasi dengan lantai Iznik mampu menampun 30.000 judul buku.

Di bagian belakang masjid terdapat lorong dan masih ditemui sebuah cawan besar tempat pembabtisan. Kini tempat ini dijadikan tempat galleri untuk memajang foto-foto bersajarah tentang Ayasofia termasuk kunjungan para petinggi negara yang pernah datang ke tempat ini.



Bagi saya yang mengesankan ketika keluar pintu sebelah utara. Saya memperhatikan daun pintunya raksasa yang sangat kuat dan terbuat seluruhnya dari perunggu. Menarik lagi disebelah pinti itu, ternyata ada sebuah tulisan beraksara arab dan tidak diterjemahkan. Hanya sebagian orang yang berkunjung kesitu, mungkin mengerti maknanya. Saya jadi ingat pelajaran sejarah Islam dan sebuah hadist yang pernah diajarkan oleh Ayah saya dulu. Hadist ini ternyata tertera di Ayasofia. Terjemahnya kira kira demikian: “Konstantinopel akan takluk (difutuhkan). Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”

Sungguh mengesankan. Konstantinopel takluk oleh Sultan Muhammad II Al Fatih, dan sejarah ini tercatat setelah hampir 800 tahun setelah Nabi pernah bersabda di tengah para sahabatnya itu. Subhanallah!

Istana Topkapi
Masuk Istana Topkapi jika musim libur Juni ini, anda harus sanggup mengantri dan berjejal-jejal. Membayar 20 Tl. Setiap hari ada puluhan ribu pengunjung melihat tempat ini. Yang menarik di Topkapi adalah istana dengan peninggalan sejarah kejayaan Islam mengagumkan.

Istana ini dibuka untuk umum dan ruang-ruangnya dipamerkan-- di masing-masing kamar istana,--peninggalan-peninggalan bersejarah dari mulai pakaian prajurit hingga baju kebesaran para Sultan Dinasti Usmani. Karena Dinasti Usmani adalah penguasai kekhalifahan Islam terakhir, maka banyak warisan koleksi suci umat Islam, berada disini misalnya: kunci ka’bah, kasing batu hajar aswad, dan pancuran (talang air) ka’bah yang terbuat dari emas hingga tongkat nabi musa.
Disudut lain juga ada koleksi perhiasan para sultan, pedang yang pernah dipakai para khalifah dan pedang Nabi Muhammad saw.

Istana ini sangat luas sehingga untuk berkeliling dan melihat secara lengkap diperlukan waktu setengah hari atau tiga hingga empat jam. Pengunjung yang ingin mendapatkan penjelasan secara elektronik bisa menyewa alat penjelasan di bagian pelayanan pengunjung dan bisa memutar frekwensi alat sesuai dengan nomor objek yang dikunjungi.



Tempat menarik juga adalah ruang rapat para menteri dan penasehat raja. Ruang ini sangat asri dengan ukiran dan ornament klasik bertatah warna warna keemasan. Tempat favorit lain di kompleks istana yang banyak diminati adalah mengunjungi kamar harem. Kompleks ini terdiri dari 250 kamar, tempat pemandian dan lain lain. Karena tempat yang banyak diminati, anda harus merogoh kocek lagi untuk membayar 15Tl (Rp100 ribu) untuk melihat tempat ini. ***

Sunday, July 12, 2009

Istanbul Aku Datang!

Tiba di Istanbul, tarikh 5 Juli dan mengikuti konferensi Islam and Environment 6-7 Juli 2009. Istanbul, yang dulunya Konstantinopel, adalah sebuah kota peradaban yang sangat tua. Di kota inilah dinasti terakhir Khilafah Islamiah Dinasiti Usmani (Ottoman Empire) berakhir dan meninggalkan peradaban yang masih mengesankan hingga kini.

Saya dan teman teman dari NU, Muhammadiyah, Departemen Kehutanan dan Kementerian Lingkungan hidup diundang untuk menghadiri Konferensi Islam and Environment sekaligus deklarasi Muslim 7 Year Action Plan for Climate Change (M7YAP). Ini merupakan kegiatan lanjutan sejak setelah drafnya dibuat di Kuwait bulan Oktober 2008, dan sekarang adalah deklarasi. Ada sekitar 80 scholar, praktisi, perwakilan pemerintah dan akademisi serta para mufti dari berbagai negara Islam yang hadir ditempat ini. Seperti: India, Emirat, Qatar, Maroko, Kuwai, Saudi Arabia, Senegal, Palestina, Turki, Malaysia, Indonesia, Mesir dll.

Tiba di Istanbul jam tiga sore kami menginap di Hotel Kalyon yang sudah disiapkan oleh panitia. Rasanya tidak sabar untuk melihat Ayasofia dan Blue Mosque yang terkenal itu. Ternyata hotel ini tidak terlalu jauh tempat tempat bersejarah itu. Kalyon terletak di pinggir pantai dan jalan besar dengan dua jalur umum serta berdekatan dengan garis pantai selat Basforus yang menyambung sampai ke Laut Hitam.

Lautan didepan hotel dipenuh dengan kapal kapal dagang dan perahu hilir mudik. Kontur kota Istanbul yang berbukit dan masih asri dengan pemandangan yang terpelihara sangat menyenangkan untuk dilihat. Angin sepoi-sepoi terasa menerpa kulit. Saya keluar kamar dan menggunakan sisa waktu dan berkenalan dengan teman Prof Najib Abdul Wahab Alfili, seorang Guru Besar Syariah dari Uni Emirat Arab yang rupanya satu pesawat dengan saya.

Keluar dari Kalyon Hotel, yang langsung berhadapan dengan Laut Marmara, saya berjalan hingga menuju tikungan dan berada di ujung jalan dan belok kekiri. Tidak berapa lama berjalan, saya diterperangah dengan bangunan agung berwarna krem kemerahan dangan kubah dan dua menara tepat berada didepan saya. Inilah rupanya Ayasofia yang terkenal itu! Tidak jauh ketika saya menoleh kekiri jalan, saya juga terpana oleh bangunan megah yang lain, dengan kubah berwarna biru. Inilah rupaya masjid besar Blue Mosque yang dibangun oleh Sultan Ahmed.

Ayasofia (Hagia Sophia) yang artinya kearifan yang suci yang semula merupakan Gereja Basilika yang didirikan oleh Konstantinus-- Putra Konstantin yang Agung--- kemudian direbut oleh oleh tentara islam, dan kemudian dijadikan masjid dengan tidak merubah arsitekturnya dan hanya mengganti dan menambah kelengkapan di masjid, misalnya termpat berwudlu, mihrab yang menhadap ke timur dan mimbar untuk khatib berkhutbah.

Menurut sejarah, sejak tahun 1453, sultan menjadikan gereja ini masjid dengan mengganti ornament yang ada tersebut tanpa merusaknya. Syahdan dalam sejarah tercatat, bahwa Sultan Mehmed II, pada suatu hari perebutan dan Konstantinopel jatuh ditangan kaum muslim, beliau turun dari atas kudanya lalu dan sujud syukur.

Peradaban berganti ganti di Istanbul yang nama sebelumnya Konstantinopel, lalu diganti namanya menjadi Istanbul. Istanbul kemudian menjadi pusat perkembangan Kekhalifahan terakhir Islam dengan Dinasti Ottoman yang menjadi negara super power saat itu.

Karena hari Minggu, ternyata Ayasofia pun tutup, saya melangkahkan kaki menuju Masjid Biru yang dibangun berseberangan dengan Ayasofia. Karena sendiri saya mencoba berkenalan dengan para wisatawan yang ada di kiri kanan saya untuk memberikan kamera dan sesekali mengabadikan diri. “Indonesia…” saya tahu anda pasti dari Indonesia, kata Ahmet yang mengajark keluarganya untuk menyaksikan masjid bersejarah itu. “check..check...” “foto..foto”, lalu berikan kamera pada mereka. Ahmet bersama keluarganya terlihat surprise ketika saya kenalkan bahwa saya seorang muslim. “Ah..muslim, good. Ini Mustafa..” katanya memperkenalkan pada saudara disebelahnya sambil mengoceh dalam bahasa Turki yang tidak saya mengerti.






Rupanya bulan Juli ini, adalah musim panas di Turki, sehingga hari menjadi panjang. Saya menyaksikan orang sangat menikmati hari panjang ini dengan duduk-duduk di taman Masjid Biru dan bercengkrama dengan sanak keluarga. Di depan Masjid Biru selain terdapat taman yang luas dan indah, juga disediakan tempat duduk berjajar jajar. Seperti halnya di taman-taman publik di Indonesia, disini juga ada pedagang kaki lima. Ada yang berjualan buah segar yang langsung dikupas digerobaknya. Ada yang berjual jagung bakar dan kue kue khas Turki, minuman turkusu –merah seperti sirop dan terlihat manis—tapi rasanya asam seperti acar!

Anak anak riang bermain ditaman. Apalagi ini hari minggu dan libur. Beberapa wisatawan tentunya banyak yang berasal dari Eropa Timur, termasuk dari Yunani, Spanyol hingga Rusia.

Turki memang unik. Dua benua bertemu disini dan hanya dibelah oleh Selat Balforus. Jadi sebagian wilayan mertropolitan Turki berada di Asia dan Sebagian lagi di benua Eropa. Istanbul menjadi salah satu kota terpadat di Eropa dengan penduduk 15 juta jiwa, lebih padat dari Jakarta, tetapi secara sepintas saya menyaksikan kawasan kota tua ini memang tertata dengan baik sehingga kegiatan wisata maupun kegiatan public yang lain menyebar di beberapa tempat.

Kota Istanbul kini menjadi tujuan wisata yang sangat diminati. Pada musim liburan seperti ini, ada jutaan pengunjung kawasan ini. Saya menyaksikan mobil mobil tour penuh mengantri.



Saya terus melangkah melihat sekeliling Masjid Biru, sebuah masjid dengan dua kubah bertingkat lima—menggambarkan rukun Islam serta jumlah waktu shalat, dan enam menara yang menggambarkan rukun iman dangan jumlah tingkat menara yang berjumlah 16 menggambarkan masjid ini dibangun oleh Sultan ke enam belas dari Dinasti Usmani. Rupanya masjid ini memang dibuka untuk umum dan masih berfungsi dengan baik.

Karena perjalanan sudah sore, saya berminat untuk langsung saja shalat maghrib di masjid ini sebagai awal pengalaman. Saya mencoba bertanya pada salah seorang pengunjung taman, jam berapa biasanya shalat magrib? Dia tersenyum saja. Dan menoleh kepada istrinya, rupanya walaupun muslim, pemuda paruh baya ini juga jarang shalat. “Tanya pada istri saya, jujur saja saya juga jarang shalat,” katanya sambil tertawa mesam. Rupanya shalat maghrib jam 8.30 karena memang matahari sangat panjang bersinar.

Memasuki masjid, saya sangat kagum dengan arsitektur yang begitu agung dan kuat. Pintu pintu masjid ini terbuat dari perunggu, sedangkan hampir seluruh bangunan terbuat dari granit dan batu pualam yang terkadang hampir seluruhnya terlihat utuh tanpa sambungan. Empat tiang penyangga yang menjadi sokoguru masjid ini luar biasa besarnya, sehingga disebut kaki gajah (elephant foot) garis tengahnya kurang lebih tiga meter, murni batu pualam, membuat orang awam seperti saya bingung membayangkan bagaimana cara mendirikan dan membawa batu yang bulat penuh ini ke tempat yang agung ini.
_____
ALBUM:
Menuru Wikipedia, masjid ini dibangun antara tahun 1609dan 1616 atas perintah Sultan Ahmed I, yang kemudian menjadi nama masjid tersebut. Ia dimakamkan di halaman masjid. Masjid ini dikenal dengan nama Masjid Biru karena warna karena dome atau kubahnya yang berwarna biru. Akan tetapi cat biru tersebut bukan merupakan bagian dari dekor asli masjid, maka cat tersebut dihilangkan. Sekarang, interior masjid ini tidak terlihat berwarna biru.

Arsitek Masjid Sultan Ahmed, Sedefhar Mehmet Aga, diberi mandat untuk tidak perlu berhemat biaya dalam penciptaan tempat ibadah umat Islam yang besar dan indah ini. Struktur dasar bangunan ini hampir berbentuk kubus, berukuran 53 kali 51 meter.
Sambil menunggu shalat magrib, saya berkenalah dengan Maksum (53 tahun) yang mengaku pernah menjadi imam di Masjid Venicia, Italia dan kini pensiun dan menjadi pemandu wisata khususnya masjid biru ini.

Dari lelaki berpenampilan parlente ini, saya mendapatkan keterangan cukup banyak tentang masjid biru. Dia mengajak saya berkeliling. Dari beranda depan, bagian utara Masjid dimana pintu masjid berhadapan dengan taman, air mancur dan pintu gerbang masijid. Dari tempat ini masih bisa dilihat kubah Ayasofia yang tidak jauh letaknya.
Maksum menjelaskan bahwa masjid ini, didirikan sebagai pusat kegiatan umat, selain masjid sebagai tempat beribadah, juga ada madrasah, rumah sakit, pasar tidak jauh dari masjid dan disediakan juga dapur tempat memberikan makan bagi mereka yang kelaparan (fakir miskin) sebagai jaminan sosial pemerintah Islam.

Sultan apabila tiba untuk shalat berjamaah, datang dari pintu utara, dimana ada rantai dibentangkan yang menjadi perlambang, siapa saja yang masuk masjid, mereka adalah sama, dan harus tunduk. Tidak ada yang membusungkan dada. “Sultan, rakyat adalah sama dihadapan Allah swt,” kata Maksum menjelaskan. “rantai ini usianya 600 tahun dan masih ada disini.

Dia menunjukkan saya pada balkon disamping taman masjid yang letaknya di lantai dua. “Itu tempat sultan melambaikan tangannya pada umat,” katanya. Sayang sekali, Sultanahmet, sang pendiri masjid terkenal dengan bangunan 21 ribu keramik biru ini, meninggal dalam usia sangat muda. Ketika mendirikan masjid ini berusia 20 tahun, membina pembangunan masjid selama 7 tahun, dan meninggal dunia pada usia ke 27.

Usai shalat magrib, saya masih bisa menikmati malam dengan bulan purnama tersembunyi dibalik kubah masjid biru. Menikmati keindahan dan keagungan kejayaan peradaban Islam yang sangat mengesankan. Turki Usmani dengan khalifah Islam memerintah kawasan ini dengan kekuasaannya yang luas hingga mencapai Iran dan Rusia selama 777 tahun. Sebuah masjid yang mengagumkan!***

Berita Terkait

Monday, June 01, 2009

Eco Pesantren Menggembirakan

Tiga puluh pesantren yang ada di sekitar Lampung datang hadir dalam acara sosialisasi Ecopesantren cluster Lampung (Jum’at,29/5). Eco Pesantren mengalami perkembangan yang menggembirakan. Sebagai salah satu juri saya diundang oleh Deputi VI Kementerian Lingkungan Hidupn (KLH) untuk memberikan materi tentang kemitraan dan membangun jejaring di Lampung, Sumatera Selatan. Satu hal yang penting adalah peran pesantren yang sangat strategis dalam pendidikan ummat sehingga diharapkan dengan program ecopesantren tumbuh inisiatif dan inovasi dari kalangan pesantren untuk mengembangkan diri menjadi pesantren yang ramah lingkungan.



Ada 15.000 pondok pesantren di Indonesia dengan jumlah murid sekitar 2 (versi EMIS 2001) dan 4 juta menurut Dirjen Depag terakhir 2008. Pesantren tetap menjadi daya dorong kuat pembangunan akhlak masyarakat dari bawah. Namun banyak pesantren yang dikelola secara sangat tertutup jauh dari management modern, pemiliknya individu bahkan ketika diminta rekening pesantren masih milik kiyai pengasuhnya.



Ecopesantren, menurut LH menghendaki pesantren dapat menjadi pendorong masyarakat agar ramah lingkungan. Agama menganjurkan hal itu, tapi memang harus dimulai dari pesantren. Telah ada pesantren pelopor yang patut dicontoh, misalnya Al Ittifaqiah Ciwidey yang mengelola pesantren dengan support pertanian organic, mengolah sampah untuk kompos kebunnya dan membuat biogas untuk santri memasak.

Menurut cerita, Wartim Sumana, kepala bidang Permukiman Masyarakat KLH, kemajuan pesantren ini dikarenakan kiyainya KH…membuka pintu pesantren untuk bekerjasama. Beliau berteman dengan seorang ahli dari sebuah universitas di Bandung, untuk memajukan dan belajar teknik pertanian dan peternakan yang baik, walaupun temannya itu adalah seorang yang beragama Nasrani. Sejauh yang tidak berkait dengan akidah hanya masalah duniawi (muamalah) hal ini tentu diperbolehkan.

Saya sendiri berharap, pesantren dapat berkembang sesuai dengan independensinya dan mempunyai inovasi yang luas di bidang lingkungan. Untuk itulah kemitraan dan saling relajar sangat penting dilakukan. Bukankah Rasulullah saw dalam mendapatkan pengetahuan bisa belajar dari mana saja. Nabi memerintahkan sahabat belajar dengan tawanan perang (yang beragama Nasrani) untuk mempelajari tulis menulis sebagai tebusan. Beliau juga mengirim sahabat-sahabatnya untuk belajar ilmu ketabiban (kedokteran) di negeri-negeri lain yang kala itu beragama Nasrani.

Wallahu ‘alam.

Tuesday, May 26, 2009

Ziarah ke Tanah Leluhur

Cuti selama empat hari ditambah libur dan week end, Mei-17 sd 24, bersama keluarga terbang ke Kalimantan. Karena Ibunda (Uma) mengajak ziarah ke Martapura untuk melihat paman dan acil serta keluarga dari sebelah Ayah. Walaupun perjalanan cukup melelahkan dari Kalimantan Tengah ke Selatan, hampir satu hari satu malam, saya ikut menyetir mobil kijang yang kami sewa. Senang sajalah, soalnya ini adalah pengalaman pertama membawa mobil menelusuri hutan Kalimantan (Eh memang ada hutan?) Jujur, sudah tidak ada hutan lagi, yang ada adalah semak dan kebun sawit. Jalan sudah lumayan bagus. Jembatan panjang-panjang untuk mengatasi aliran rawa-rawa Kalimantan yang luas.



Di Martapura Kalimantan Selatan, disinilah ayah saya dilahirkan. Dari keluarga santri ortodoks golongan salafi yang menghormati Tuan Guru dan para ulama. Dua puluh tahun yang lalu saya ke daerah ini, masih teringat saya suara Tuan Guru Zaini Ghani yang merdu mengelus telinga membaca burdah dan shalawat. Kini beliau telah tiada dan saya bersama keluarga hanya mengunjugi nisannya didalam Kubah Kampung Sekumpul Martapura sambil memanjatkan doa. Kubur beliau berada di sebelah Mushalla Al Raudhah yang dibangunnya bersama ummat yang mengagungkan shalawat kepada Nabi Sallalahu alaihi wassalam.



Perubahan terjadi sangat drastis, seperti tempat lainnya di Kalimantan. Sekumpul yang tadinya hutan belantara menjadi kompleks yang hidup dan membawa dampak bagi masyarakat sekitar. Ekonomi masyarakat hidup, karena tempat ini menjadi daya tarik wisata religious di Kalimantan. Hampir setiap rumah di Kalimantan (utamannya di kalangan muslim) Banjarmasin, memajang foto Tuan Guru Syaykh Zaini Ghani keturunan ke tujuh Datu Kelampaian atau Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

Sebelum ke Sekumpul kami mengunjungi kompleks Mangunjaya, tempat pemakaman keluarga dan disana disemayamkan Patih Mangunjaya. Ziarah kuburan Nenek dan Kakek kami, juga paman yang dulu ku kenal sangat baik dan pemurah, telah mendahului kami.


Di Alkah ini juga, dimakamkan al Mukharram Abdul Ghani, ayahanda Tuan Guru Zaini Ghani dan saudarinya Zaleha (bibik sepupu saya). Sungguh khusuk kami mendoakan kedua orang tua ini.

Sehabis dari situ barulah kami melanjutkan perjalanan ke Kelampaian yang jaraknya 35 km dari Martapura. Saya masih ingat, dulu rasanya jauh sekali ke tempat ini. Tapi sekarang terasa dekat, apakah karena faktor transportasi yang mudah atau jalan yang bagus, atau memang pesaraan saja. Seperti cerita ayah, tahun 60an ke tempat ini orang bisa berhari-hari lamanya bahkan memasak di perahu karena harus melalui sungai.

Thursday, May 14, 2009

Konferensi Kelautan Dunia

MANADO 12-14 Mei saya mengikuti Konferensi Kelautan Dunia (World Ocean Conference) di Manado, Sulawesi Utara. Kota Manado, menjadi ramai dengan pengunjung para peserta konferensi dari hampir 80 negara. Beberapa tempat penginapan dan hotel fully box dan banyak peserta tidak kebagian tempat tingal sehingga rumah masyarakat di sekitar tempat diadakan konferensi dijadikan tempat yang bisa disewa oleh para peserta. Meskipun menurut saya Kota Manado merupakan salah satu kota yang cukup pesat pembangunannya dengan beberapa hotel berbintang, tapi ternyata ketika menyelenggarakan event berkelas dunia, semuanya jadi serba sempit.

Jalan di Manado seperti daerah-daerah lain di Indonesia –diluar jalan protokol—adalah bukan jalan yang ditata menjadi dua jalur, hanya dapat dilalui oleh dua atau tiga mobil. Lalu pemerintah kota Manado menghimbau masyarakat yang mempunyai mobil pribadi dan angkot untuk keluar jalan raya sesuai dengan tanggal: ganjil atau genap dengan mencocokkan nomor seri belakang mobil. Bila seri belakang ganjil, boleh keluar pada tanggal ganjil, lalu kalau genap bisa keluar pada tanggal genap.

Simposium
Sebagaimana konferensi International yang lain, kegiatan ini tentunya yang paling menarik diisi dengan simposium atau pertemuan para ahli kelautan dalam mempresentasikan hasil penelitian baik sains, teknologi, maupun kebijakan di bidang kelautan. Ada ratusan topik diskusi yang digelar dan tentu tidak dapat diikuti semua. Aku mengikuti dua sesi pertama tentang coral triangle (segitiga terumbu karang) yang membahas tentang jalur hubungan genetik ikan dari kawasan Laut Indonesia timur hinggá ke barat.

Kedua tentang pentingnya Kawasan Konservasi Laut yang dipresentasikan oleh Dr Alan White, seorang marine biologist kawakan dunia. Menarik apa yang dikatakan Alan, bahwa adanya kawasan konservasi laut ternyata menambah peningkatan produktivitas ikan, karena ternyata kawasan-kawasan yang dilindungi ini terlepas apakah dikelola dengan baik atau tidak mempunyai sisi positif bagi pelestarian terumbu karang. Di kawasan coral triangle telah terbentuk lebih dari 1500 MPA network yang menjadi basis konservasi kelautan di kawasan ini. Ikan di kawasan yang dilindungi meningkat hampir 900 persen dibandingkan dengan ikan tangkap yang berada di luar kawasan konservasi yang hanya meningkat 300 persen.


Bersama Menteri Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Timor Leste,
Mariano Assanami Sabino (37 tahun), mantan aktifis Unibrawijaya zaman reformasi.


Ini merupakan hasil survey di enam kawasan konservasi laut (MPA): Berau, Tubbataha, Wakatobi, Kimbe Bay, Karimunjawa dan Cebu. Pengamatan saya atas usaha utama pemerintah untuk melindungi kawasan laut memang begitu serius. Sangat disayangkan bila Indonesia hanya menjadi daya tarik luar biasa para peneliti asing dan banyak peneliti berdatangan kesini. Arena WOC ternyata tidak banyak ditangkap manfaatnya oleh bangsa di negeri sendiri.

Satu hal kecil saya perhatikan, di ruangan tempat saya duduk –dari ratusan orang--tidak ada satu pun wajah mahasiswa Indonesia mengikuti simposium penting itu, minimal untuk ikut relajar. Secara sepihak kulihat wajah-wajah graduate student asing berumur sekitar 20an dengan tekun bisa mengikuti acara ini. Kemana mereka?

Prof Hasym Jalal, ahli hukum tata laut Nusantara

Apakah tidak ada mahasiswa di Indonesia yang bisa ikut dengan biaya subsidi untuk belajar ‘Marine Life’ di negara yang 2/3 kawasan teritorialnya merupakan lautan raya? Ketika duduk bersama dengan seorang ibu dosen perikanan dari Universitas Samratulangi, mereka bilang hal ini memang terlepas dari pikiran mereka: “Yang ada ialah, bagaima para dosen bisa ikut arena ini lebih dahulu, bukan buat mahasiswa,” katanya. Saya pun manggut-manggut, tapi ibu ini memahami pentingnya menyertakan mahasiswa S1 atau S2 dalam arena seperti ini supaya keahlian mereka menjadi terasah dan focus mereka tentang laut Indonesia menjadi lebih baik.
Tabik!

Thursday, May 07, 2009

Menghidupkan Kembali Perawatan Bantaran Sungai


Kamis (07 Mei 2009) ada sekitar 20 orang hadir dalam workshop Sistem Konservasi Islam: Hima dan Harim di Pondok Modern Daarul Ulum, Lido. Ini upaya mengingatkan kembali pada tradisi dan perawatan alam menurut syariat Islam. Daruul Ulum Lido sangat antusias dan mendirikan proyek percontohan Harim Zone untuk melindungi kawasan sekitar Sungai Cilengsir dibelakang pesantrennya. Sungai ini selain mengalir di belakang pondok, juga dipakai untuk kegiatan kepramukaan dan kegiatan alam lainnya.
Adapun tanah yang disisihkan oleh pesantrn tidak luas, hanya 1,8 ha di bantaran sungai yang ditumbuhi berbagai tanaman produktif, jati, tanaman buah-buahan dan sebagai tempat praktek para santri. "Kalau pelajaran biologi, santri ingin tahu tentang akar tunggang dan akar serabut, bisa digunakan kasawan ini," Ustazd H Ahmad Yani, Direktur PM Daarul Uulum menuturkan.

Terima kasih pada pesantren-pesantren yang ikut berpartisipasi dalam sarasehan ini: Daruul Ulum Lido, Al Amin, GNKL NU, Al Furqan, Al Huda, Al Kahfi. Hanya enam pesantren yang berkumpul di tempat ini, sebagai sebuah stimulasi atau permulaan dan pengenalan menerapkan kembali tradisi Islam untuk konservasi alam.

LOKASI:

View Larger Map


Berita terkait:

Pesantren Terapkan Harim Zone di Bantaran Sungai

Khazanah Alam: Menggali Tradisi Islam untuk Konservasi

Sunday, April 19, 2009

"Haul" in Pesantren Buntet, Cirebon



Friday to Saturday, April, 2nd -4th , I went to Pesantren Buntet, Cirebon, on the occasion of their ceremony called ‘Haul 2009’ a yearly gathering between the pesantren and the alumni as well as the surrounding villages around the Pesantren. In this a yearly event, that they usually invited some national figure such as ministry or president to come over the see the crowd of people respected their predecessor and sending a praying once a year. And last Friday, RI VP Jusuf Kalla, visited the pesantren and praying Jum’ah together.

Pesantren Buntet is an old and fame pesantren in Cirebon, establish in 1700s, have a strong cultural heritage and they have a ‘unique’ teaching system in educating their students. It established by Mbah Muqoyyim (1689-1750M). It has about only 5000 students and 41 clerics (Kiyai) whom independently thought at their boarding (sometimes their house) and has been released thousand alumni. This pesantren basically a nahdlatul ulama’s (NU) pesantren and has quite massif with their tradition to recite the classic texts that generate in the 14-13 century (the salafushalih era). But they are open to the contemporary issues and will response the social issues, sufism, economy and politics, such as debating the contemporary issues in the open forum (called bahsul masail) and arguing their opinions based on their reference of the salafi’s text. The bahsul masail is an open and interesting forum of debate, sometimes could taking hours only to discuss one question.
Quite astonish to me why the pesantren is not growing as a modern institutions such as a seminary school or university in the US or Europe. It was establishes as old as Harvard!



At the pesantren I have an opportunity to interact and look at the surrounding and looking for a potential project we could adopt sometimes to help the community. One focus I found interesting is about the water issue.

I found polluted and dry cricks just as the back of the pesantren. This is a quite crucial issues in the future if we do not taking care of, as the pesantren so dependable with water, they found the river was starting polluted and since the last 20years. I started a little discussion with some teachers of what could be do with their river and water resources. As Muslim has a strong link with water the pesantren interested in involving the ‘behavioral change toward water services’ and wish to have a program with their river. This is a potential sign to us to work with them since Cirebon also linked with Kuningan area and above all there is The Ciremai National Park that services those two cities.






I meet KH Nahduddin Abbas the director and respected kiyai’s at the Pesantren to discuss about his interest with environments. He have deep concern about environment and explained why he invited Ministry of Forestry MS Kaban to visit and discuss forest issue at the pesantren. Unfortunately because of technical issue the ministry was failed to come. When return back from Buntet, I have a chance to see my collague KH Hussein Muhammad of Pesantren Daruttauhid in Arjawinangun. He is hoping the activities that I am doing with the Pesantren will continue to move as there are not many activist interesting to pay attention with the environmental issues in the pesantren and developing Islamic environmentalism in a better understanding and practice. Wa akhirudda’wahum, Alhamdulillahirabil ‘alamin.

Thursday, March 26, 2009

Jangan Berhenti Hanya Earth Hour

Inga..inga.. tanggal 28 Maret 2009 jam setengah Sembilan malam, matikan lampu. Hehe.. imbauan WWF untuk seluruh dunia ini memang fenomenal, tapi mungkin banyak disenangi generasi muda yang masa pacaran. Hehe, bisa jadi malam mingguan tambah seru…selama satu jam,, wha..WWF tanggung lho!. Orang tua yang punya remaja apel dirumah siap2 beli batre yang ada lampunya, karena takut anaknya mematikan lampu dengan alas an dianjurkan oleh WWF J. Ada satu miliar orang yang dihimbau organisasi konservasi yang semula menyayangi binatang ini, tapi kemudian berniat menyayangi semua orang… tentunya masuk kita-kita.

Menurut Wikipedia, Earth Hour adalah sebuah acara internasional tahunan yang diadakan oleh WWF (World Wide Fund for Nature/World Wildlife Fund), diselenggarakan setiap Sabtu terakhir bulan Maret, yang meminta rumah dan perkantoran untuk memadamkan lampu yang tidak diperlukan dan peralatan listrik selama satu jam untuk memunculkan kesadaran atas butuhnya tindakan menghadapi perubahan iklim. Dirintis oleh WWF Australia dan Sydney Morning Herald tahun 2007,dan memperoleh partisipasi dunia tahun 2008.

Umpama saja WWF Indonesia yang mempelopori, saya anjurkan mengadopsi Hari Bumi Nyepi atau Earth Silent Day seperti hari ini (26 March 2009), satu Pulau Bali sekarang menyepi tidak ada aktifitas, merenung dirumah, tidak bekerja, tidak boleh keluar rumah, tidak boleh mendengar musik (kan musik pakai listrik ya?). Penghematan karbon di Bali cukup tinggi ketika tidak ada aktifitas dan pernah dibuktikan saat UNFCCC tahun 2007.

EARTH HOURS in YOU tube



Setelah satu jam, tentunya bukan hanya habis disitu. Aktifis lingkungan berharap kita lebih sering mematikan lampu. Ini yang disebelin oleh istri saya kalau saya cetak-cetek dirumah mematikan lampu, sambil ngomel bilang sayang listrik kalau tidak dipakai. Seluruh kota-kota besar mematikan lampu, New York, Paris, London, kecuali Masjid al Haram, Makkah…salah satu tempat paling terang di bumi bila dilihat dari angkasa luar. Sebabnya mungkin belum berhasil ditembus WWF karena disana kalau jam 9 malam masih padat dengan tawaf dan ritual lain, kalau pun dimatikan, akan banyak korban yang terinjak injak dan ini pasti menambah mudarat.

Semestinya harus diingat bahwa imbuan ini adalah bukan hanya satu jam, tapi berterusan hingga akhir hayat. Kalau tidak perlu lampu, matikan saja. Masalahnya dirumah saya kalau mati terus anak-anak pada marah, katanya takut… hehe (mungkin gara-gara nonton filemnya soal setan terus). hehe.

Wednesday, March 11, 2009

Jepang, tidak ada Sorga dan Neraka

Konferensi ke 7 tentang Dialog Peradaban tentang Jepang and Muslim World, dibuka hari ini di Shearton Al Kuwait (11/3). Presentasi dilakukan dalam bahasa Arab maupun Inggris, dibuka oleh Menteri Wakaf dan Urusan Islam Kuwait, juga dihadiri oleh Syaikha Amsal al Sabah, adik Amir al Sabah Sultan Kuwait.


Suasana Pembukaan Konferensi

Pembukaan ini dihadiri oleh sekitar 200 orang dan acara yang cukup meriah juga, dikiri kanan ada pameran yang diadakan oleh berbagai departemen, termasu dari ministry of awqaf sendiri, juga dari Jepang.

Rupanya forum ini merupakan tukar pendapat para peneliti, dan kebanyakan akademisi yang sifatnya akademis dan sekadar sharing informasi untuk saling belajar tentang kultur masing-masing antara dunia Muslim khususnya Arab dan agama serta kultur Jepang.

Yang menarik saya adalah pemaparan Prof Soko Muchida, tentang perkembangan agama di Jepang. "Tidak ada sorga dan neraka di Jepang, itulah yang membedakannya perkembangan bangsa ini dengan agama semit yang lain seperti agama Yahudi dan Kristiani plus Islam. Kalaupun mereka memeluak suatu agama, tetap hanya secara kultural dan mereka pergi ke candi hanya karena tradisi. Namun orang Jepang punya keyakinan yang kuat bahwa mereka merupakan bagian dari alam, oleh karenanya menjadi wajar bila mereka bisa menyatu dengan alam atau bahkan menguasai alam. Kalau diyakini ini merupakan suatu agama inilah namanya dalam Islam disebut wahdatul wujud (penyatuan manusia dalam alam).

Bersama Mumammad Imam Masjid Rusia

Sebagian diskusi hingga sore memaparkan tentang perkembangan lingkungan di timur tengah dan tantangan untuk kembali pada ajaran praktis Islam tentang lingkungan.

Saya bertemu dengan Dr Aslam Parpaiz yang mengatakan nilai-nilai islam tentang lingkungan harus masuk terinternalisasi dalam kehidupan praktis sehari-hari dan masuk dalam ajaran Islam yang praktis. Sama halnya dengan kewajiban sosial kita yang diajurkan dalam ajaran Islam. Internalisasi inilah yang sedang dikembangkan oleh Aslam di India, walaupun bukan negara muslim namun mereka mempunyai keinginan kuat untuk berkontribusi untuk perawatan bumi dan dunia.

Tuesday, March 10, 2009

Dialog Lingkungan Jepang dan Dunia Muslim



Ministry of Awqaf and Islamic Affair Goverment of Kuwait, mengundang saya bersama beberapa teman dari Indonesia untuk menghadiri dialog peradaban, Jepang dan Dunia Muslim dengan tema: Environment Challages and Vision yang diadakan di Hotel Sheraton Kuwait, sebuah hotel cukup mewah ditengah kota Madinah al Kuwait.


Yang jelas ini baru pertama kali ke Kuwait, setelah di undang Oktober lalu, saya gagal ketempat ini karena soal teknis. Berangkat pakai pesawat Kuwait Air yang tidak banyak penumpang. Hanya beberapa gelintir plus rombongan 'cristour', para umat kritiani sejumlah 36 orang ingin menuju Kuwait dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Jurussalem, Mesir dan Yordania. Mereka ini semacam pilgrimage (atau omroh (dikalangang Muslim) atau jiarah spriritual saja untuk membuktikan tempat-tampat bersejarah tersebut. Dua pasangan dari rombongan itu datang dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Beberapa mereka adalah dari Barito (pedalaman Kalimantan Tengah).


Kuwait sebenarnya kota yang unik. Kehidupan juga sangat dinamis walaupun ada pengaruhnya ketika Saddam Husein (Irak) mencoba mencaplok atau menyerang negara kota ini tahun 1991. Hotel Sheraton yang saya tinggali ini penah hancur dihantam rudal dan terbakar. Kini Kuwait memang bangkit dan kembali menjadi negara makmur yang kaya raya dengan pendapatan perkapita 16.000 USD/tahun, dan penduduk hanya 2.3 juta jiwa serta luas daratan 17.820km2, sekitar empat kali pulau Bali. Mata uangnya Dinar Kuwait, senilai sekarang sama dengan 0.29 DK per 1 USD. Kemarin saya tukarkan 100 USD hanya mendapat 29 Dinar Kuwait, harga sebuah sorban disini saya beli antara 4-6 DK= 130-180 ribu rupiah, cukup lumayan mahal dibanding pasar tanah abang!


Perjalanan Jakarta Kuwait harus melalui Kualalumpur, kelihatannya ganti crew karena tiba di KL jam 3 pagi dan diteruskan ke Kuwait menempuh perjalanan sekitar 9 jam, tiba di Kuwait pukul tujuh pagi. Agaknya tidak terlalu repot karena saya mendapatkan 'calling visa' dari pemerintah yang dikirim melalui e-mail dan kemudian harus ditukarkan dengan visa asli di loket bagian file imigrasi bandara, lalu pergi ke bagian entri untuk memasuki Kuwait.



Tiba hari Selasa (10/3), jalan jalan cukup lengang, ada kemacetan yang tidak berarti, karena fasilitas publik tertata dengan baik. Jalan sangat lebar, dan menjadi ciri khas adalah mobilnya yang besar-besar berkualitas diatas rata-rata 2000 cc. "Orang Kuwait senang mengunakan mobil besar karena harga minyak tidak masalah disini," kata Anura, sopir kami yang berkebangsaan Srilangka, sambil memacu limusinnya menuju hotel. Bensin murah disini, 1 Dinar Kuwait (DK) bisa dapat 15 liter, harganya sekitar Rp2500,- sama lebih murah dari harga air di Jakarta dan tempat lainnya di Indonesia.





Kabarnya (tolong dicek lagi) penduduk asli negara ini hanya sekitar 1 juta orang












Sunday, February 22, 2009

Ayo Bersepeda


Seperti ubur-ubur, yang suka timbul tenggelam ke permukaan air. Begitu juga komunitas bersepeda di Indonesia. Tahun 90an pernah marak penggunaan sepeda tetapi banyak sepeda dipakai hanya untuk lomba, jadi belum pada tingkat kesadaran orang memakai sepeda semata untuk kembali karena sebuah kesadaran menggunakan kendaraan ini adalah hemat disamping menyehatkan.

Tetapi akhir-akhir ini sepeda telah kembali ramai dipakai. Bahkan ada komunitas bersepeda ke kantor ‘bike to work’. Komunitas ini tumbuh dengan kesadaran bahwa bersepeda merupakan salah satu solusi untuk berkontribusi menjaga kesehatan lingkungan. Tidak itu saja, kemacetan Jakarta akan terkurangi bebannya jika banyak pengguna jalan di Jakarta –ketika pulang pergi—ke kantor menggunakan sepeda.

Bike to work kini mempunyai kegiatan solid mengkampanyekan bersepeda untuk lingkungan. Kini jumlah anggotanya ada 10 ribu orang seluruh Indonesia dan sekarang ada 5000 orang yang pergi ke kantor dengan sepeda. Jumlah ini memang masih sedikit dibandingkan dengan jumlah sepeda motor yang totalnya kini ada ratusan ribu berseliweran ke kantor di Jakarta.
Satu hal yang menarik dari kegiatan bersepeda adalah, kendaraan ini sesungguhnya menyehatkan. Saya pernah menemui seorang ibu yang menuturkan suaminya mempunyai penyakit menahun pernapasan namun setelah rutin bersepeda ke kantor penyakitnya hilang. Jelas sekali sepeda merupakan sarana olahraga, melancarkan seluruh peredaran darah mengeluarkan keringat dan menyegarkan…

Dr. Ahmad Yanuar teman saya yang lulusan Universitas Cambrigde, complain, mengapa di Indonesia –khususnya di Jakarta--ada komunitas bersepeda dan harus diadakan sepeda ramai-ramai? Kalau ke kantor harus dipaneng dengan logo “Bike to Work” menunjukkan orang itu pekerja kantoran tapi bersepeda? “Padahal kan sepeda biasa saja, pakai saja kalau mau ke kantor atau mau ke kampus, seperti di Inggris, tidak usah ada merek.

Lha disana orang semua pakai sepeda kalau enggak jalan kaki. Naik mobil sama sekali tidak efisien, sebab disamping mahal, anda dikenakan ongkos parkir selangit dan parkir mobil anda pun jauh dari lokasi kerja, jadi mesti jalan kaki juga. Disamping harga bensin yang mahal, kalau lagi naik, juga ongkos perawatan mobil akan menguras kantong anda. Jadi lebih baik naik taksi, kereta api atau bus kota kalau bepergian karena fasilitas ini juga menyenangkan dan bus atau kereta tidak berjejal-jejal, tepat waktu, bersih dan sejuk (tidak kalah dengan mobil pribadi).

Selain sepeda ‘Bike To Work’ juga ada sepeda sebagai hobi. Jangan kategorikan orang-orang ini pergi ke kantor setiap hari, karena sepeda yang dimilikinya merupakan sepeda antik ‘tempo doeloe’ yang biasa hanya dipakai seminggu sekali atau kalau ada acara tujuh belasan; karnaval, atau sepeda minggu untuk mengisi Jalan Sudirman hingga Thamrin yang dikosongkan sebagai ‘car free day’ setiap sabtu-minggu.

Komunitas ini sungguh serius dengan romantisme tempo dulu itu. Selain sepeda ontelnya yang antic, cara berpakaian juga disesuaikan dengan suasana tempo dulu. Tidak seragam, tetapi ‘jadul banget’ (kata anak saya): ada yang bersepeda dengan topi kompeni belanda, seragam warna khaki, sepato kulit booth, bawa priwitan dan pakai sensaja pula. Ada juga yang berseragam priyayi Jawa, pakai belangkon, batik garis kacamata frame bulat. Ada lagi yang menggunakan pakaian ala intelectual pergerakan tempo dulu: peci hitam pakai simbul garuda pancasila, kacamata bundar ala Ki Hajar Dewantoro, baju putih dan sepatu hitam. Penggemarnya sepeda ontel ini memang sangat luas dari tukang bakso, seniman, mahasiswa, manager hingga komisaris perusahaan. Mereka solid dan saling menyapa kalau berpapasan, jadi jangan lupa, kalau anda pakai sepeda ontel, bagian kanan harap dikosongkan jangan menggantung barang, sebab ada kalau berpapasan, anda pun harus mengangkat tangan kanan. Paling repot kan kalau sebelahnya ada bawaan, nah harus angkat dua2nya bisa nubruk dong!

Saya memulai bike to work awal februari, baru berani seminggu 2 kali. Sudah lama saya cita-cita tapi enggak kesampean beli sepedanya. Kumpul2 dulu baru dapat sepeda baru, sebab sepeda saya dulu saya tinggalkan di Pondok Pesantren ketika saya bekerja disana. Saya sangat rindu sepeda sejak dulu.

Enak juga, daripada harus beli treads mills hanya untuk cari keringat dan berharga mahal. Mending bersepeda ke kantor!

Biasanya orang pasti mau tahu kehidupan pribadi seseorang apalagi sebagai penulis yang memasang sampul bukunya sebuah sepeda sebagai simbol hidup sederhana dan spartan.

tabik!

Friday, December 26, 2008

Ekologi dan Kerugian Ekonomi

21 Desember 2008, Bogor. Saya menghadiri acara Index, kegiatan yang dilakukan oleh Badan eksekutif mahasiswa Institute Pertanian Bogor. Acara ini diadakan di Bogor Botanical Square. Saya baru tahu kalau diatas kompleks mall yang cukup megah ini terdapat lantai bagian atas yang cukup luas sebagai tempat pameran dan ruang konvensi yang cukup besar berstandar international. Saya kagum juga dengan mahasiswa yang sanggup menyelenggarakan acara sebesar event ini, dimulai kompetisi fotografi tentang ekologi, pameran yang melibatkan banyak sekali mitra dan stakeholders CSR Perusahaan, instansi pemerintah, LSM dan kalangan professional pengusaha ekowisata.

Menurut panitia, mereka mengeluarkan lebih dari 2000 tiket peserta yang akan mengikuti acara ini. Walaupun tiket tidak dipungut biaya, tetapi mereka hanya memperbolehkan masuk mereka yang telah mempunyai tiket. Menurut Dekan Fak Ekologi Manusia, Profesor Hardiansyah, ini adalah kegiatan pertama kali yang dilakukan oleh Fakultas Ekologi Manusia setelah berdirinya fakultas itu empat tahun silam. Peminat fakultas ini sekarang sudah masuk dalam rangking 10 besar di IPB yang diukur dari minat mahasiswa yang masuk di fakultas ini.
Saya kira ini adalah wajar mengingat fakultas ekologi mengajarkan hal-hal yang multidimensi dalam memfasilitasi keperluan masyarakat untuk dapat mengelalo lingkunganya lebih baik. Dan ternyata banyak sekali hal yang belum dipahami oleh khalayak ramai tentang ekologi dan bagaimana sikap hidup manusia yang dapat menjadi ramah lingkungan dan ekologis.

Saya diminta untuk menjadi moderator untuk sebelumnya memandu Angelina Sondakh (yang kemudian digantikan oleh Ridwan Effendy dari OREI) dan Galih Aji Prasongko dari Green Peace (26th).

Bersamaan dengan topik itu saya membacakan headline Media Indonesia (21/12) yang mengutip laporan bank dunia tentang kerugian yang diderita masyarakat Indonesia akibat buruknya sanitasi yang mencapai 56 triliun rupiah. Kerugian ekonomi ini antara lain dipicu oleh 89 juta kasus diare pertahun dan 23 ribu orang mati akibat diare tersebut. Saya ilustrasikan: bisa dibayangkan jika IPB mempunyai mahasiswa 20ribu orang semuanya mati, akibat diare? Ini akibat sanitasi dan higienitas lingkungan yang buruk. Laporan WSP-EAP tersebut menyimpulkan dampak kerugian lingkungan yang buruk mengakibatkan kerugian material berupa biaya kesahatan Rp29.512 miliar, biaya air 13.348 miliar, lingkungan 847 miliar, pariwisata 1.465 miliar dan kesejahteraan lain 10.770 miliar yang totalnya sejumlah 55.952 miliar.

Kalau sebuah laporan dibuat oleh Bank Dunia, anda boleh menebak, ujung-ujungnya bisa saran untuk memperbaiki sanitasi infrastruktur yang mendorong pada ‘loan’ yang harus ditanggung utangnya hingga anak dan cucu, karena Bank pasti ingin pemerintah pinjam lagi untuk memperbaiki sanitasi dan infrastruktur yang lebih baik. Maka sebaiknya peliharalah lingkungan kita sendiri. Dirikan wc sendiri, jangan cemari lingkungan yang mengakibatkan bau busuk karena anda membuang sampah sembarang tempat, sebab jika yang demikian kita lakukan, sama saja pada akhirnya ongkos lingkungan harus lebih mahal kita bayar. Air minum saja sekarang kita harus beli dan terkadang lebih mahal dari satu liter bensin harganya! Anda pilih mana? Kehausan atau tidak minum air bersih?

Masalah lingkunga semakin kompleks saja dan memerlukan perhatian semua orang untuk bersikap. Maka penyadaran melalui pekan ekologi yang diadakan oleh IPB ini sungguh positif dan penting diadakan.
Tabik!

Monday, December 15, 2008

Burung Garuda yang Hampir Punah


Species garuda pancasila alias elang jawa (Spizaetus bartelsi), merupakan burung elang atau burung garuda yang paling indah. Disamping corak bulunya yang coklat terang, matanya yang tajam dan bulat. Paruhnya yang menukik runcing kebawah berwarna hitam dah berdasar khaki. Keunikan lain burung ini adalah mempunyai makhota bulu atau jambul diatas kepalanya. Jambul garuda ini sangat terlihat jelas ketika dia duduk atau berhenti.

Burung ini sesungguhnya mitos yang riel yang dilukiskan sebagai burung garuda pancasila lambang negara Republik Indonesia. Dia sekarang juga menjadi lambang partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), dan selalu mengingatkan pada setiap ujung tongkat komando TNI yang mengambil simbol kepala burung berjambul ini sebagai simbol kekuatan.

Sayang sekali, spesies ini kini terancam kepunahan karena bertelur hanya satu atau paling banyak dua biji dalam beberapa tahun. Penyebab utama lagi spesies ini adalah memang perburuan dan penyusutan habitat.

Elang berjambul ini kemarin saya saksikan (14/12) di ujung catwalk Bodogol bersama rombongan US Ambassador. Syukurlah masih ada tempat terbaik seperti Taman Nasional Gunung Gede sebagai tempat terakhir mereka. Salam untuk burung garudaku!
(foto elang diambil dari website Gunung Halimun)