Monday, August 01, 2011

Guru, Kepala Sekolah dan Perubahan Iklim


Maarif Institute, menurut pengamatan saya mengambil gagasan yang tepat dalam memberdayakan sekolah-sekolah Muhammadiyah untuk ikut melestarikan Alam dan merespons terhadap perubahan iklim. Untuk itulah mereka membuatkan modul "Islam Peduli Lingkungan" yang kemudian diluncurkan untuk pertama kali sekaligus dibagikan untuk peserta.
Modul seperti ini untuk pertama kalinya dibuat merangkum pemikiran yang agak komprehensip dan praktis tentang Islamic Ethic for the Environtment and Nature Conservation, atau juga disebut dengan Islamic Environmentalism.


Selain pengayaan pada segi Islamic Ethic, buku ini juga meramu tentang kearifan lokal dalam pelestarian alam unsur kekinian terkait lingkungan misalnya tentang pelestarian keanekaragaman hayati dan perubahan iklim.

Kegiatan pelatihan diadakan dengan tajuk: "Training Penguatan Kapasitas Kepala Sekolah dan Tenaga Pendidik Mata Pelajaran Agama dalam Merespon Pemanasan Global dan Perubahan Iklim" diadakan di dua Tempat yaitu di Bandung dan Cirebon--tanggal 22 -24 dan 29-31 Agustus 2011--yang melibatkan guru dan kepala sekolah SMA maupun sekolah Menengah Kejuruan Muhammadiyah yang ada di Jawa Barat: Garut, Cianjur, Sukabumi, Bandung, Cirebon, Indramayu, Tasikmalaya, Kuningan dll. Peserta pelatihan, menurut pihak Maarif adalah mereka yang lulus seleksi setelah mengirimkan jawaban atas pertanyaan yang dikirimkan dalam undangan pada sirkulasi pengumuman pertama kegiatan.


Adapun buku ini tertulis secara bersama: Saya, Ustadz Asep Hilman dan Ustadz Agus dengan Editor Muhammad Abdullah Darraz. Buku ini bermaksud menjadi pelengkap dari kekurangan dan dengan jelas (pada sampulnya) hanya merupakan suplemen tambahan bagi pelajaran tentang lingkungan yang telah ada dan berkembang di Jawa Barat. Paling penting lagi bahwa pelatihan ini ternyata mampu menunjukkan dan menyadarkan kembali bahwa Islam memang memberikan penekakan yang jelas akan keharusan melestarikan lingkungan dan keharusan untuk kita segera bertindak dalam upaya menanggulangi perubahan iklim dan pemanasan global.

tabik!



Berita Terkait:

Foto-foto dapat dilihat di website Maarif Institute: www.maarifinstitute.org

TOR tentang Pelatihan Islam Peduli Lingkungan

Lihat Wawancara BBC London Tentang Daai dan Pemberantasan Illegal Logging dan Gerakan Penanaman Pohon

Sunday, June 05, 2011

UIN Membuka Pasca Kajian Agama dan Lingkungan

Akhirnya UIN membuka kajian dan kesempatan mahasiswa Pasca Sarjana untuk mengambil bidang studi khusus Agama dan Lingkungan, dalam pengumuman resminya 20 April 2011, lalu di Hotel Ambhara, Jakarta. Sebagaimana disadari bahwa keterkaitan pemikiran dan persepsi manusia tentang alam dan lingkungan dipengaruhi oleh agama, dan kajian ini membuka peluang untuk mempertanyakan kembali apa sesungguhnya peran yang dapat dikontribusikan oleh agama terhadap lingkungan.

Sebagai seorang aktifis, saya menyambut gembira gagasan ini. Lingkungan memerlukan keterlibatan semua pihak dan sangat krusial adalah, bahwa lingkungan dan planet bumi adalah sebuah amanah yang disebutkan dalam Agama agar tidak dirusak.

Islam terutama menekankan hal tersebut: Al quran berpesan agar manusia tidak merusak setelah Allah swt memperbaikinya. Justru, seharusnya perbaikanlah yang harus diutamakan.
Sebagaimana Professor Azra menekankan pentingnya tawazzun, atau keseimbangan dalam menjaga kelestarian fungsi dan pemanfaatan untuk kesejahteraan manusia. Agama menjadi harapan terdepan.

Acara ini dihadiri oleh Emil Salim dan Dr Rohmad Hadiwijoyo, CEO Resources Technic Management Indonesia, yang sekaligus mendukung peluncuran pasca sarjana ini. Selamat buat UIN dan selamat untuk mereka yang memasuki jenjang pendidikan tinggi ini, semoga dapat berkontribusi pada lingkungan hidup.

Link Terkait:

Yale Forum Religion and Ecology

Blog Agama dan Lingkungan

Qolloquium Fiqh Lingkungan UIN

Pangeran Charles, Islam dan Lingkungan Hidup

Berita Terkait:

Pemahaman Agama Tentukan Lingkungan Hidup

Emil Salim: UIN Diminta Kembangkan Pendidikan Rahmatan Lil Alamin

Saturday, May 14, 2011

Sikapi Perubahan Iklim, Pejabat Kota Bogor Diminta Lebih Peduli

Selasa (10/5), saya memberikan presentasi tentang Pemanasan Global dan Perubahan iklim, presentasi yang saya sampaikan adalah slide The Climate Project yang diberikan oleh Al Gore kepada kami. Saya salah satu the Climate Project Fellow di dunia dari 5000 presenter yang dilatih Al Gore.

Sungguh baik presentasi itu, sehingga menarik banyak minat termasuk para Decision Maker ini.

Link berita lain bisa dilihat disini:


---
Selasa, 10 Mei 2011
ImageMenyikapi semakin besarnya dampak perubahan iklim dan pemanasan global, Pemerintah Kota Bogor diajak untuk lebih merapatkan barisan membuat perubahan. Program dan kebijakan yang lebih ramah lingkungan, diharapkan dapat menjadi terobosan yang signifikan demi bumi yang lebih ramah dan hijau.
Ajakan tersebut diungkapkan oleh Publications Coordinator & Conservation Religion Initiative Fachruddin Mangunjaya, PhD dari Conservation International Indonesia, Selasa (10/5/2011). Fachruddin memaparkan dalam Briefing Staff dengan para Pejabat Pemerintah Kota Bogor di Ruang Rapat III Balaikota Bogor, Jalan Juanda 10, Bogor.

Data Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menunjukkan bahwa selama 1990-2005 telah terjadi peningkatan suhu merata di seluruh bagian bumi antara 0,15-0,3 derajat Celcius. Jika peningkatan suhu berlanjut diperkirakan pada 2040 lapisan es di kutub akan habis meleleh dan jika bumi masih terus memanas maka pada 2050 akan terjadi kekurangan air tawar sehingga kelaparan akan meluas di seluruh dunia.

Fachruddin mengatakan bahwa akibat pemanasan global berdampak pada mencairnya es di kutub, meningkatnya suhu lautan, kekeringan yang berkepanjangan, penyebaran wabah penyakit berbahaya, banjir besar-besaran, coral bleaching dan gelombang badai besar. “Bahkan jumlah badai yang terjadi pada abad ini hampir 2x lipat dan masuk dalam kategori 4 atau 5, badai yang membunuh. Seperti badai katrina di USA tahun 2005,” papar Fachruddin.

Ke depan, negara yang terletak di pesisir pantai, kepulauan, akan tenggelam. “Bila hal ini terus berlanjut, maka Pulau Madura akan tenggelam pada tahun 2050,” jelas Fachruddin.

Fachruddin menjelaskan bahwa secara manusia di bumi harus melakukan perubahan mendasar dalam menghadapi perubahan iklim. Dengan kesadaran itu, maka manusia di bumi akan bergerak bersama-sama. Gerakan lingkungan, kini menjadi gerakan global yang tidak beraliansi pada kepentingan manapun kecuali masa depan dan peradaban manusia.

Image

“Mudah-mudahan paparan ini menginspirasi bagaimana melakukan perubahan dalam hidup. Kita harus optimistis. Walau kita tidak merasakan sekarang (dampaknya). Tetapi anak dan cucu kita akan berterima kasih kepada kita,” ujarnya.

Ditambahkan oleh Climate Leadership Programme CCROM Southest Asia and Pacific Siti Amanah, diperlukan komitmen yang tegas dari Pemerintah Kota Bogor bersama dengan DPRD untuk memberikan komitmen politik serta kebijakan yang bisa merespon tantangan dari perubahan iklim.

Sementara itu, Hermawan Wijayanto, Development & Partnership Director Conservation International Indonesia menambahkan, bahwa banyak cara yang bisa dilakukan dari hal-hal yang kecil. Seperti mengurangi penggunaan kendaraan berbahan karbon, seperti mobil maupun motor. “Walikota Bogor bisa memberikan contoh menggunakan kendaraan alternatif yang lebih ramah lingkungan seperti sepeda atau motor listrik. Atau lebih baik lagi bila berjalan kaki,” usul Iwan.

Iwan bahkan mengusulkan agar Kota Bogor mengadopsi kebijakan yang dilakukan pemerintah Kota Muenchen, Jerman. Pemerintah setempat melarang para pengguna kendaraan bermotor agar menggunakan kendaraan di pusat kota.

Selama bertahun-tahun, tidak terhitung banyaknya karbondioksida yang dilepaskan ke atmosfir. Manusia kerap menggunakan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti batubara, gas bumi dan minyak bumi. Hal ini telah menyebabkan meningkatnya selimut alami dunia, yang menuju kearah meningkatnya suhu iklim dunia, dan perubahan iklim yang tidak dapat diprediksi juga mematikan.

Langkah pengurangan emisi gas rumah kaca yang sistematis dan radikal dapat mencegah perubahan iklim yang dapat mengakibatkan kerusakan yang lebih parah kepada ekosistem dunia dan penduduk yang tinggal didalamnya. (dian/gus)

Berita ini diambil dari situs Pemerintah Kota Bogor (10/5/2011)

Friday, April 29, 2011

Titian Harapan, Menjaga Nafas Bumi

Sebulan sebelum Hari Bumi, 22 April, saya diwawancara oleh Daai TV seputar kegiatan lingkungan dan buku-buku yang saya tulis. Walaupun saya merasa surprise juga, bahwa ternyata buku-buku yang saya tulis untuk memperluas pemahaman tentang lingkungan di Indonesia akhirnya mendapatkan sambutan. Bukan selama ini berarti tidak ada. Namun, animo beli dan perhatian masyarakat tentang lingkungan masih belum antusias sehingga sebuah buku lingkungan bisa ditempatkan pada rak buku 'best seller'.



Syukur juga. Gerakan dan keperdulian terhadap lingkungan sekarang ini bertambah tinggi dan dengan wawancara ini, kuharap banyak yang bisa tercerahkan tentang persoalan dan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk memelihara bumi kita.

Dalam Wawancara ini diangkat juga sebuah proyek kecil saya yang di sponsori oleh Rufford Small Grant RSG bekerjasama dengan Pondok Pesantren Daarul Ulum di Lido, Bogor yang menjadi salah satu contoh praktis bagaimana sesungguhnya Islam dapat membumikan kelestarian lingkungan yang diajarkan pada para santri.

Baca lebih jauh: Introducing the Islamic Hima and Harim System as a New Approach to Nature Conservation in Indonesia


Wawancara dilakukan di tiga tempat: Kebun Teh di Cianjur, Rumah Pribadi saya dan kantor tempat saya bekerja. Selamat menyaksikan, ditayangkan 6 kali 30 menit Mulai Kamis, 28 April 20.30, Jum'at, 8.30;Sabtu 11.30 dan 22.00, Senin 07.30, Selasa 11.30. bila sulit menyaksikan koneksi TV dirumah, anda bisa menggunakan
www.mivo.tv

tabik!


Link terkait:

Tayangan pendek dari FACE BOOK

Buku-Buku Tulisan Fachruddin Mangunjaya

Siaran Ulang Rekaman Telah Saya Posting di YOU TUBE bisa dilihat di:

Menjaga Nafas Bumi

Friday, April 01, 2011

Dua Buku Ispirasi Pelukis



Saya mendapat surat dari saudara A Faisol, Sarjana Seni Indonesia, Yogjakarta. Konon katanya beliau membuat tugas akhir lukisan yang terinspirasi dari dua buku saya:

Hidup Harmonis Dengan Alam (2006) dan

Menanam Sebelum Kiamat (2007)

Berikut ini kutipan suratnya:

“Bersama surat ini, saya bermaksud memperkenalkan diri kepada Bapak bahwa saya mahasiswa Institut Seni Indonesia Yogyakarta, jurusan Seni Murni, minat utama Seni Lukis, sekarang sudah semester akhir dan mengambil Tugas Akhir dalam penciptaan karya seni yaitu Lukisan.

Dalam Tugas Akhir saya, saya menggunakan beberapa buku sebagai sumber referensi, dan buku bapak seperti ”Menanam Sebelum Kiamat”, dan “Hidup Harmonis Dengan Alam” termasuk diantaranya, dan saya mohon ijin kepada bapak untuk mengutip beberapa kalimat dari kedua buku tersebut.

Bersama ini, saya lampirkan pula biodata saya dan beberapa karya saya yang kesemuanya bertemakan tentang Keharmonisan Alam dan Problematikanya, mohon kritikan dan sarannya dari Bapak Fachruddin. Harapan saya yang paling besar adalah bisa ikut menyumbang dan turut andil dalam melestarikan alam yang kian hari semakin tak terkendali laju kerusakannya melalui karya-karya saya, amin.”

Saudara Ahmad Faisol lahir di Sidoarjo, Januari 1981, telah mengikuti beberapa kali pameran lukisan antara lain di Linda Gallery (2009), Jakarta 2008: -Pameran Lukisan kelompok GOTRI “Ba’al” di Sangkring Art Space dan kegiatan lukisan lainnya di berbagai tempat di Jogjakarta. pada 2008, dia meraih Juara I Lomba Lukis dengan tema "Dekat Dengan Alam", Perusahaan Pembiayaan Astra/FIF, Jakarta. dan Juara II lomba poster Data Print dengan tema "Refill Cartridge Kosong Untuk Menyelamatkan Bumi", (2011).

Saya mengucapkan terima kasih pada Ahmad Faisol karena lukisan dan fokusnya pada tema-tema lingkungan, semoga lukisan itu bermanfaat untuk menggugah kesadaran masyarakat tentang perawatan lingkungan hidup dan perawatan masa depan planet bumi kita yang lebih baik.


Judul: ”Alam Impianku”

Ukuran: 120cm x 160cm

Media: oil on canvas

Tahun: 2008

Judul : “Alamku Hanya Tinggal Impian”

Ukuran : 145 x 120 cm

Media : cat minyak pada kanvas

Tahun: 2009

Judul : ”Alamku teremas-remas”

Ukuran : 120 x 90 cm

Media : cat minyak pada kanvas

Tahun: 2009

Judul: “PUZZLE FOREST”

Ukuran: 145 x 120 cm

Media: cat minyak pada kanvas

Tahun: 2009


Sunday, March 27, 2011

Warisan Islam dan Soal Bahasa di Kano, Nigeria

Sudah dua minggu meninggalkan Kano, Afrika, tapi ingatan saya masih melekat. Daripada lupa lalu hilang, akan saya ceritakan dalam blog ini. Hari kedua setelah workshop saya mengikuti International Conference on Contribution of the Islamic World to Education, 16-17 Maret 2011, di sebuah kompleks pertemuan Aminu Kano Centre for Democratic Research and Training, Mambayya House, Kano. Acara ini pun di support oleh British Council, Kano yang bekerjasama dengan Bayero University.

Syaykh Qaribullahi di sebelah kanan saya dan Fazlun Khalid dan Hayatu Ibrahim, Managing Director Madinah Farm Ltd

Acara ini dihadiri oleh ratusan intelektual muslim Afrika, terutama di bagian Barat Afrika. Tidak ada yang diluar kecuali saya dari Indonesia dan Fazlun Khalid (yang menjadi pembicara) dari UK. Mayoritas participant adalah akademisi dan semua makalah disampaikan dalam bahasa Inggris dan Arab. Mereka konon berasal dari berbagai pelosok terutama yang berasal dari beberapa negara bagian di Utara Nigeria, seperti: Sokoto, Abuja, Kano, Lagos, Dala, Waje dst.

Selama dua hari ini, diskusi di konferensi kelihatannya berupaya menemukan akar atas krisis pendidikan Islam dan gap yang terjadi dalam menghadapi tanggungjawab sebagai negara ditengah arus modern dengan tetap berupaya berpijak pada akarnya. Nigeria bagian utara adalah mayoritas Muslim dengan tradisi Islam yang ketat, seperti halnya di Indonesia, banyak warga nahdliyyin dan pengikut tariqah Qadariyyah yang taat sangat menghormati guru.

Dilema antara warisan khalifah Islam Sokoto dan kemudian bekas koloni Inggris, membuat bangsa ini agak limbung menemukan jati diri. Bahasa sehari-hari pemerintahan adalah Inggris, sementara penduduk banyak yang masih belum bisa bahasa Inggris, dan mereka memakai bahasa Ibu Hausa. Sesaat koloni Perancis datang, mereka ingin bahasa Perancis dipelajari di sekolah, tetapi tidak diserap dan hanya dipelajari sebagai teori. Semantara itu madrasah yang masih memegang tinggi disiplin pendidikan Islam menggunakan bahasa Arab. Dan karena konferensi ini dihadiri oleh banyak ulama lokal, mereka mengharapkan bahasa Arab dapat diakui secara resmi, tinimbang mengajarkan bahasa Perancis, karena Arab akan dipakai sehari-hari dan menjadi bahasa International di Afrika lainnnya (Mesir, Libia, Sudan dll).

Sulitnya, Nigeria terdiri dari 200 lebih etnis, dan masing-masing mempunyai bahasa. Tidak ada bahasa yang mampu mempersatukan seperti halnya kita bahasa Melayu. Gap terjadi setelah merdeka tahun 60an, ketika resmi Inggris menjadi bahasa nasional, tetapi tidak diserap seluruhnya oleh warga di pelosok negeri. Bedanya kita di Indonesia, dimana orang semua, di pelosok mana pun-- bisa bahasa Indonesia, minimal untuk yang mereka mengecap bangku sekolah.

Hausa hanya diterima di bagian utara dengan mayoritas Muslim, sementara di selatan mereka menggunakan dialek yang berbeda. Bahasa, menjadi perbincangan panjang dalam konferensi, saya kira ini memang penting.

Menemukan jati diri, pembukaan konferensi dijembatani dengan pemutaran film 1001 invention yang selama ini beredar untuk menyadarkan masyarakat dunia tentang kontribusi muslim dalam bidang pengetahuan. Menceritakan penemuan ilmuwan muslim abad pertengahan, jauh sebelum renaesanse dan jasa mereka yang telah 10 abad bertahan menjembatani ilmuwan Eropa dengan pengetahuan Yunani.

Malam terakhir dari konferensi, saya berkesempatan bertemu dengan Syaykh Qaribullah Syaikh Nasir Kabara, pemimpin spiritual Sufi Qadariyya yang sangat berpengaruh di Afrika Barat. Mengenal beliau saya ingat Syaikh Tuan Guru Zaini Ghani, yang selalu dielu-elukan ditunggu pembacaan salawatnya dan pengajiannya diikuti oleh ratusan ribu orang.

Jadi tidak di Banjarmasin maupun Afrika, pemimpin spiritual menjadi magnet untuk masyarakat yang merindukan ketulusan kepemimpinan dan keselamatan dunia dan akhirat.

tabik!

Link terkait:

Ulama Nigeria


Sekumpul Banjarmasin: Ziarah ke Tanah Leluhur

Tuesday, March 15, 2011

Ulama Nigeria Bergerak untuk Lingkungan dan Perubahan Iklim

Bersama Shehu Muhammad Auwalu Barau

Saya tidak bermimpi sampai ke Afrika. Namun, tahun 2009, saya membaca buku--dan tidak selesai membacanya atas hadiah seorang teman di UK, tentang Khalifah Afrika yang menceritakan Perjuangan Syeikh Usman Dan Fodio yang menjadi pembaharu Islam di Sokoto, Nigeria. Beliau adalah ulama dan –teman di Kano manyebutnya "wali"-- dan berkontribusi membawa ajaran Islam di negeri ini.

Rupanya apa yang tidak menarik saya untuk membaca buku tersebut, kemudian mengajak saya kembali membaca buku tersebut.

Kano, merupakan salah satu Negara bagian di Nigeria dengan pemeluk Islam 89%, perjalanan panjang yang menjadikan bagian ini merupakan bagian dan dipimpin oleh Amir Kano, sekarang masih berfungsi sebagai pemimpin, layaknya seperti Sultan di Jogja.

Tergambar, Afrika yang gersang dan mempunyai vegetasi yang jauh berbeda dingan kawasan tropis Indonesia. Perbedaan tipical bangunan rumah, sangat mencolok jika dibandingkan dengan Asia atau Indonesia. Rumah-rumah kelihatannya dibangun agak massif, arsitektur kawasan Aridland yang khas. Tidak terlalu terbuka dan tidak banyak jendela. di Kano sepintas saya lihat semua rumah – bertembok tinggi. Temboknya lebih parah dari Jakarta. bisa samapi dua meter. Termasuk hotel yang saya tinggal, sangat eksklusif. Dijalan banyak peminta-minta. Tidak ada penjaja makanan, seperti di Jakarta. Tapi ada buah-buahan mirip korma, berwana kuning.

Banyak pria berbaju panjang dan menggunakan peci, anak-anak putri menggunakan kerudung. Di ujung permpatan jalan, ada tulisan subhanallah, mengatkan saya pada Aceh atau Cianjur.

Infra struktus disini masih seadanya, walaupun di tengah kota. Lampu lalu lintas masih dapat dihitung dengan jari. Pembangunan sangat lambat berjalan, mungkin selain sumber daya alam yang tidak banyak, juga masalah korupsi yang meraja lela. Teman saya Yahya Ahmed, mengatakan korupsi di Nigeria terjadi di semua lini, dari atas sampai bawah. Dan parahnya lagi, perekonomian Nigeria ternyata tidak menciptakan kelas menengah yang cukup banyak.

Kesenjangan terjadi, dan begitu terasa, kaya sekali dan miskin betul. Aku lihat dibalik tembok dibangun rumah-rumah super mewah sementara infra stuktur seperti jalan dan fasilitas pasar tidak memadai. Rakyat banyak meminta-minta di jalan. Mereka kurus dan kumal. Indeks transparansi internatonal menempatkan negeri ini pada angka 2,5 sementara Indoensia adalah 2,8, hanya beda dua digit dibelakang koma.

Peserta Workshop:Climate and FaithProject Islam and Conservation Workshop for Imams and Scholars, Kano

Indonesia dan Nigeria pada batas Merah (35% Negara dunia) terkorup.

Letak geografis Nigeri yang umumnya arid land dan sebagain habitatnya adalah savanna, khas Afrika. Perubahan iklim juga mengancam negeri ini, penggurunan bertambah luas dan menggerus laha-lahan produktif dimana penduduk tinggal. Masalah yang terjadi selain kemiskinan juga juga terbatasnya sumber alam. Hanya di bagian selatan Nigeria yang hidup makmur karena ada sumber ladang minyak di kawasan tersebut. 80 % GDP Nigeria adalah dari minyak, dan Negara ini masih merupakan member aktif OPEC karena produksi minyaknya yang stabil.

Markus, sopir yang menjemput saya di bandara Aminu Kano, di Kano bercerita sudah empat bulan tidak hujan. saya menyaksikan kekeringan dan debu beterbangan.

Konferensi Islamic Education
Kedatangan saya ke Kano karena diundang untuk berbicara dalam INTERNATIONAL CONFERENCE ON THE CONTRIBUTIONS OF THE ISLAMIC WORLD TO EDUCATION yang diadakan oleh Bayero University of Kano (BUK), saya datang atas nama dua organisasi sekaligus Dosen Universitas Nasional dan Staff Conservation International, diundang sebagai aktifis yang juga membagi pengalaman bagaimana mengembangkan Islamic Environmental Education in Indonesia. Selain itu Sidi Fazlun Khalid menyisipkan workshop yang difasilitasi oleh the British Council untuk Melatih Ulama di Kano tentang Etika Lingkungan dalam Islam.

Kano memang unik, orangnya ramah dan sejauh yang saya kenal juga cepat akrab seperti kita di Indonesia. Latar belakang Muslim di Kano yang ketat itulah membawa saya bersentuhan dengan ulama di Kano. Mereka ingin mendapatkan fasilitasi workhshop sebagaimana yang pernah dilakukan di Aceh tentang Islam dan Lingkungan. Bahasa pengantarnya adalah bahasa Hausa dan Inggris. Beberapa mereka bisa berbahasa Arab dengan fasih, sehingga saya bisa menjajal bahasa Arab untuk berkomunikasi dengan ulama dan ustads tersebut , salah satunya adalah Shehu Muhammad Auwalu Barau, Imam masjid Jami Kano.

Sagat bersahabat dan interaktif, mereka pun cerdas-dan bersahaja seperti halnya ulama di Indonesia. Workshop dilakukan selama dua hari, diakhiri dengan pemutaran film success story implementasi Islamic Ethic for Environment di Misali, Pemba Kenya, yang menjadi icon keberhasilan penerapan pendekatan ajaran Islam terhadap lingkungan. Lihat berita BBC Misali Eco Islam.

Tabik!

Link Terkait:

Foto-foto di Afrika

Banda Aceh Hingga Medan

Jadwa Shalat di Nigeria

Emir Kano


Saturday, February 19, 2011

Ikan Gabus, Terancam Perubahan Iklim?

Siapa yang hobi memancing? Sewaktu saya kecil tahun 1970an, hidup di pinggiran belantara Kalimantan Tengah. Kerap di masa libur SD dan SMP adalah diisi dengan memancing. Libur puasa, adalah hari yang membosankan untuk terlalu lama menunggu beduk maghrib tanpa melakukan apa-apa. Setelah mengaji, perkerjaan lain adalah memancing, pergi ke danau atau di sela-sela pohon karet dan hutan rawa gambut yang biasanya dihuni oleh banyak sekali jenis-jenis ikan air tawar liar: tempela, gabus atau haruan, seluang, kipar, lele,dll.

Tradisi aneh anak anak bila memancing, adalah mencari umpan cacing,mencari alat pancing berupa 'tantaran' panjang dari pohon kayu atau bambu yang lurus, dan berburu belalang kecil di padang rumput, untuk mencari umpan pancingan. Harus dicatat juga, memancing ini tidak perlu bekal uang, 'Zero money permainan ini, lain sekali dengan anak saya yang sekarang lebih aneh, memancing ikan plastik di MALL dengan membayar 3 ribu sepuasnya!



Sayangnya, tidak semua jenis ikan air tawar mau makan kalau dipancing, ikan yang menyebalkan --tidak mau dikasih umpan dan tidak tertarik mematuk pancing-- itu adalah ikan jonjong, sejenis gabus berkepala panjang dan sepat. Jonjong kesulitan karena moncongnya seperti buaya kecil terletak diatas belalainya. Sedangkan sepat, mulutnya kecil, badanya pipih dan 'cuek' melihat makanan di pancing.

Sedangkan yang agressif adalah seluang, jenis kecil-kecil. Mulut kecilnya menkredit umpan kami secara keroyokan. Karena mata pancingnya besar, ikan ini tentu tidak bisa nyangkut, tapi sebal menghabiskan umpan.

Nah yang mendebarkan dan seru kalau makan umpan adalah Haruan, atau Gabus, orang Amrik bilang, ikan ini Snake Head, karena kepalanya bentuk seperti ular. Gabus, sangat aggressif apalagi musim hujan, ketika air melimpah, saat itulah dia manyak sekali mempunyai anak. Membawa kesana-kemari anaknya yang jumlahnya beribu-ribu, sehingga menimbulkan buih dimana-mana.

Pasti ada induknya!, disitulah kami menunggu berjam-jam dengan sabar. Meletakkan mata pancing. dan Menunggu Induknya 'mengugut' umpah kami.

"Dubb...", dag-dug, dagdug, dada akan berdebar kalau ikan ini memakan umpan.

Eit, biarkan dulu, beberapa detik baru di sentak. Ikan pun terkapar.

Terancam perubahan Iklim

Dua minggu lalu, nostalgia ini terulang kembali, ketika menghadiri seminar di IPB, ketika seorang mahasiswa S2 Perikanan, Karmon Kenanga Putra, yang meneliti Pertumbuhan Reproduksi Ikan Gabus (Channa strata), berkaitan dengan Hidrodinamika Rawa Banjir DAS Musi, Sumatera Selatan.

Kesimpulannya, siklus gabus yang memijah pada musim hujan dan mengalami penaikan pemijahan pada musim hujan. Dan pada danau yang produktif dan tidak tercemar, ikan lebih baik pertumbuhannya dan lebih besar. Sedangkan pada danau yang miskin, tidak demikian.

Ikan gabus pernah menjadi spesies ekspansip yang menghebohkan di AS karena sifatnya yang predator, sehingga menghebohkan lkalangan Amerika.

Ikan ini mempunyai sebaran luas, dari India, Burma, Thailand, Jawa,Sumatra, Kalimantan (terutaman Indonesia bagian barat)

Karena ketergantungan pada kondisi iklim dan banjir hujan inilah, Dr Mohammad Mukhlis Kamal, khawatir bahwa perubahan iklim turut dapat mengganggu siklus ikan gabus, yang kemudian akan mengakibatkan kepunahan. Ikan gabus, tidak bisa mengakomodasi tenggang reproduksi karena hujan yang cenderung sedikit, yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Pemijahan anak gabus menggunakan waktu beberapa bulan, sedangkan masa untuk hidup lebih lama dipengahuri oleh hujan yang lama.

Jadi ikan ini sangat tergantung dengan vegetasi hutan dan keadaan alam yang baik dan kualitas lingkungan yang baik, sehingga terjadi kestabilan reproduksi dan pemijahan. Bila siklusnya terganggu? siap-siap pemancing seperti Anda harus menggantung dulu.

Wallahu'alam,


Friday, February 18, 2011

Perubahan Iklim di Daarul Ulum Lido



Saya tidak sekali ke pesantren ini, tapi telah beberapa kali, dan PP Daarul Ulum, karena sudah tercatat menjadi mitra organisasi kami Conservation International, dalam upaya menyadarkan lingkungan melalui agama (Islam) sejak tahun 2003. Perlahan, Saya melihat perubahan penataan kampus dan visi pimpinannya yang demikian maju tentang lingkungan, setelah mereka bergaul dengan banyak partner yang terkait lingkungan. Di kawasan pesantren ini, sekarang telah ada Harim Zone, yang merupakan contoh integrasi perawatan bantaran sungai dan upaya melestarikan keanekaragaman hayati.

BACA: Muslim Schools Lead Islamic Green Movement in Java

Jumat malam (17/1), setelah santri Yasinan (membaca yasin), kini mereka berkesempatan melihat layar tancap tentang perubahan iklim. Saya kaget bukan kepalang, ternyata pesantren ini memiliki layar lebar ukuran 5x4, seukuran layar yang digunakan al Gore untuk Presentasi. Sound Sistemnya pun bagus. Walaupun 450 santri semua tidak menggunakan korsi, melainkan duduk berbaris tenang di dalam Aula seukuran setengah kali lapangan bola.

Tepat jam 8 malam, saya pun mempresentasikan Slide the Climate Project di depan 450 santriwan dan santriwati PP Modern Daarul Ulum Lido. Saya didampingi oleh Ustadz Ahmad Yani, Ustadz Kakan Sukandi dan Ustd Heri. Santri Daarul Ulum berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Selain yang dominan dari Jabodetabek, juga ada santri yang berasal dari Riau, Jambi, dan di Bagian Timur Indonesia, berasal dari NTB.

Mereka yang hadir dalam acara ini adalah santri kelas 1 dan 2 Aliyah saja. Tadinya memang karena dibatasi hanya 300 orang, apabila diminta, maka sebetulnya 1000 santri bisa hadir semuanya. Tapi saya minta bertahap karena jika terlalu banyak akan tidak efektif bila sound sistem dan ruangan tidak memadai.

Tentu saja, slide The Climate Project (TCP) yang hidup dan interaktif sangat jelas memberikan gambaran pada mereka tentang perubahan iklim. Mereka--terutama putri--histeris melihat kebakaran hutan dan kerusakan hutan yang terjadi yang kemudian menimbulkan kerusakan lain akibat perubahan. Tetapi mereka tentu saja adalah generasi yang seharusnya optimis. Dan tepuk tangan riuh ketika saya tampilkan orang menanam pohon, saya katakan Daarul Ulum telah memulai program penanaman pohon, dan itu merupakan sumbangan yang baik untuk langkah mitigasi atas perubahan iklim.

Tahun 2005 Daruul Ulum merupakan salah satu pesantren yang mendaptkan grant untuk menanam pohon, dan kini pohon tersebut telah tinggi dan berbuah.

Lihat Dokumen:

Pesantren and Environment

Berita Terkait:

Pemanfaatan Sumber Daya Alam Berkelanjutan

Wednesday, February 02, 2011

Gong Xi Fa Cai, Pelajaran Toleransi dari Kampung

Entah mulai tahun berapa,dan bulan berapa. Masyarakat Kumai, dimana saya dilahirkan, dulu mempunyai tradisi yang unik dalam hal memberikan selamat dan ucapan toleransi kepada warga Tionhoa di kampung itu.

Sehari sebelum Imlek seperti hari ini, ketika saya masih berumur remaja dan puluhan tahun, sibuk mengantar kue tart buatan Uma (Ibu) dan bibi serta paman. Bersama dengan teman-teman lain, pakai sepeda ontel, Saya mengantar kue tart butan tangan untuk keluarga Ahui, Aleng, Aliang, Tau jie, A Joe,Tan Mue Sia (di Pangkalan Bun) dan beberapa keluarga lagi yang saya tidak ingat.



Adalah biasa di kampung kami Kumai, jika musim lebaran, kami mendapatkan hadiah dan ucapan selamat lebaran dari sahabat dan relasi kami yang beretnis Tionghoa. Mereka mengirim biskut, kue tart, daging yang disembelih secara halal. Soal daging ini, seorang taoke yang biasa menanyakan dahulu, kepada relasinya orang orang melayu (Muslim) dan menanyakan apakah dia memesan daging. Sang Tauke biasanya menyembelih seekor lembu lalu membagikan pada warga muslim, jadi hari lebaran kami bisa menikmati daging yang dihadiahkan dari warga Tionhoa, dan mereka pada Hari Raya Imlek seperti ini, bisa menikmate Kue enak (tart) hand made yang bentuknya indah- dan menarik.

Sayang sekali, kemudian tradisi itu kini hilang, mungkin 15 tahun terakhir, ketika warga disini semakin kompleks dan generasi telah berubah. Tradisi saling memberi hadiah dan ucapan selamat itu telah berhenti. Alasannya--ketika saya telpon adik saya-- banyak generasi yang telah tua kemudian meninggal, anak cucu (mereka yang Tionghoa) ada yang pindah ke Banjarmasin, Surabaya bahkan keluar negeri. Tradisi yang positif ini hilang!

Makna toleransi tentu saja tidak bisa diterjemahkan dalam bentuk sempit hanya memberikan ucapan dan hadiah pada saat hari raya masing masing pemeluknya. Tetapi prakti seperti ini memberikan bekas yang mendalam, bahwa perdamaian dan toleransi dapat dimulai dari hal kecil, dan di Kampung Saya: Kumai, hal itu diletakkan oleh Kampung Tengah, Kumai dimana ada Tuan Guru Haji Abdul Kadir Zailani al Mentawa, seorang kadi dan mempunyai pemahaman yang luas tentang agama Islam.