Sunday, March 27, 2011

Warisan Islam dan Soal Bahasa di Kano, Nigeria

Sudah dua minggu meninggalkan Kano, Afrika, tapi ingatan saya masih melekat. Daripada lupa lalu hilang, akan saya ceritakan dalam blog ini. Hari kedua setelah workshop saya mengikuti International Conference on Contribution of the Islamic World to Education, 16-17 Maret 2011, di sebuah kompleks pertemuan Aminu Kano Centre for Democratic Research and Training, Mambayya House, Kano. Acara ini pun di support oleh British Council, Kano yang bekerjasama dengan Bayero University.

Syaykh Qaribullahi di sebelah kanan saya dan Fazlun Khalid dan Hayatu Ibrahim, Managing Director Madinah Farm Ltd

Acara ini dihadiri oleh ratusan intelektual muslim Afrika, terutama di bagian Barat Afrika. Tidak ada yang diluar kecuali saya dari Indonesia dan Fazlun Khalid (yang menjadi pembicara) dari UK. Mayoritas participant adalah akademisi dan semua makalah disampaikan dalam bahasa Inggris dan Arab. Mereka konon berasal dari berbagai pelosok terutama yang berasal dari beberapa negara bagian di Utara Nigeria, seperti: Sokoto, Abuja, Kano, Lagos, Dala, Waje dst.

Selama dua hari ini, diskusi di konferensi kelihatannya berupaya menemukan akar atas krisis pendidikan Islam dan gap yang terjadi dalam menghadapi tanggungjawab sebagai negara ditengah arus modern dengan tetap berupaya berpijak pada akarnya. Nigeria bagian utara adalah mayoritas Muslim dengan tradisi Islam yang ketat, seperti halnya di Indonesia, banyak warga nahdliyyin dan pengikut tariqah Qadariyyah yang taat sangat menghormati guru.

Dilema antara warisan khalifah Islam Sokoto dan kemudian bekas koloni Inggris, membuat bangsa ini agak limbung menemukan jati diri. Bahasa sehari-hari pemerintahan adalah Inggris, sementara penduduk banyak yang masih belum bisa bahasa Inggris, dan mereka memakai bahasa Ibu Hausa. Sesaat koloni Perancis datang, mereka ingin bahasa Perancis dipelajari di sekolah, tetapi tidak diserap dan hanya dipelajari sebagai teori. Semantara itu madrasah yang masih memegang tinggi disiplin pendidikan Islam menggunakan bahasa Arab. Dan karena konferensi ini dihadiri oleh banyak ulama lokal, mereka mengharapkan bahasa Arab dapat diakui secara resmi, tinimbang mengajarkan bahasa Perancis, karena Arab akan dipakai sehari-hari dan menjadi bahasa International di Afrika lainnnya (Mesir, Libia, Sudan dll).

Sulitnya, Nigeria terdiri dari 200 lebih etnis, dan masing-masing mempunyai bahasa. Tidak ada bahasa yang mampu mempersatukan seperti halnya kita bahasa Melayu. Gap terjadi setelah merdeka tahun 60an, ketika resmi Inggris menjadi bahasa nasional, tetapi tidak diserap seluruhnya oleh warga di pelosok negeri. Bedanya kita di Indonesia, dimana orang semua, di pelosok mana pun-- bisa bahasa Indonesia, minimal untuk yang mereka mengecap bangku sekolah.

Hausa hanya diterima di bagian utara dengan mayoritas Muslim, sementara di selatan mereka menggunakan dialek yang berbeda. Bahasa, menjadi perbincangan panjang dalam konferensi, saya kira ini memang penting.

Menemukan jati diri, pembukaan konferensi dijembatani dengan pemutaran film 1001 invention yang selama ini beredar untuk menyadarkan masyarakat dunia tentang kontribusi muslim dalam bidang pengetahuan. Menceritakan penemuan ilmuwan muslim abad pertengahan, jauh sebelum renaesanse dan jasa mereka yang telah 10 abad bertahan menjembatani ilmuwan Eropa dengan pengetahuan Yunani.

Malam terakhir dari konferensi, saya berkesempatan bertemu dengan Syaykh Qaribullah Syaikh Nasir Kabara, pemimpin spiritual Sufi Qadariyya yang sangat berpengaruh di Afrika Barat. Mengenal beliau saya ingat Syaikh Tuan Guru Zaini Ghani, yang selalu dielu-elukan ditunggu pembacaan salawatnya dan pengajiannya diikuti oleh ratusan ribu orang.

Jadi tidak di Banjarmasin maupun Afrika, pemimpin spiritual menjadi magnet untuk masyarakat yang merindukan ketulusan kepemimpinan dan keselamatan dunia dan akhirat.

tabik!

Link terkait:

Ulama Nigeria


Sekumpul Banjarmasin: Ziarah ke Tanah Leluhur

Tuesday, March 15, 2011

Ulama Nigeria Bergerak untuk Lingkungan dan Perubahan Iklim

Bersama Shehu Muhammad Auwalu Barau

Saya tidak bermimpi sampai ke Afrika. Namun, tahun 2009, saya membaca buku--dan tidak selesai membacanya atas hadiah seorang teman di UK, tentang Khalifah Afrika yang menceritakan Perjuangan Syeikh Usman Dan Fodio yang menjadi pembaharu Islam di Sokoto, Nigeria. Beliau adalah ulama dan –teman di Kano manyebutnya "wali"-- dan berkontribusi membawa ajaran Islam di negeri ini.

Rupanya apa yang tidak menarik saya untuk membaca buku tersebut, kemudian mengajak saya kembali membaca buku tersebut.

Kano, merupakan salah satu Negara bagian di Nigeria dengan pemeluk Islam 89%, perjalanan panjang yang menjadikan bagian ini merupakan bagian dan dipimpin oleh Amir Kano, sekarang masih berfungsi sebagai pemimpin, layaknya seperti Sultan di Jogja.

Tergambar, Afrika yang gersang dan mempunyai vegetasi yang jauh berbeda dingan kawasan tropis Indonesia. Perbedaan tipical bangunan rumah, sangat mencolok jika dibandingkan dengan Asia atau Indonesia. Rumah-rumah kelihatannya dibangun agak massif, arsitektur kawasan Aridland yang khas. Tidak terlalu terbuka dan tidak banyak jendela. di Kano sepintas saya lihat semua rumah – bertembok tinggi. Temboknya lebih parah dari Jakarta. bisa samapi dua meter. Termasuk hotel yang saya tinggal, sangat eksklusif. Dijalan banyak peminta-minta. Tidak ada penjaja makanan, seperti di Jakarta. Tapi ada buah-buahan mirip korma, berwana kuning.

Banyak pria berbaju panjang dan menggunakan peci, anak-anak putri menggunakan kerudung. Di ujung permpatan jalan, ada tulisan subhanallah, mengatkan saya pada Aceh atau Cianjur.

Infra struktus disini masih seadanya, walaupun di tengah kota. Lampu lalu lintas masih dapat dihitung dengan jari. Pembangunan sangat lambat berjalan, mungkin selain sumber daya alam yang tidak banyak, juga masalah korupsi yang meraja lela. Teman saya Yahya Ahmed, mengatakan korupsi di Nigeria terjadi di semua lini, dari atas sampai bawah. Dan parahnya lagi, perekonomian Nigeria ternyata tidak menciptakan kelas menengah yang cukup banyak.

Kesenjangan terjadi, dan begitu terasa, kaya sekali dan miskin betul. Aku lihat dibalik tembok dibangun rumah-rumah super mewah sementara infra stuktur seperti jalan dan fasilitas pasar tidak memadai. Rakyat banyak meminta-minta di jalan. Mereka kurus dan kumal. Indeks transparansi internatonal menempatkan negeri ini pada angka 2,5 sementara Indoensia adalah 2,8, hanya beda dua digit dibelakang koma.

Peserta Workshop:Climate and FaithProject Islam and Conservation Workshop for Imams and Scholars, Kano

Indonesia dan Nigeria pada batas Merah (35% Negara dunia) terkorup.

Letak geografis Nigeri yang umumnya arid land dan sebagain habitatnya adalah savanna, khas Afrika. Perubahan iklim juga mengancam negeri ini, penggurunan bertambah luas dan menggerus laha-lahan produktif dimana penduduk tinggal. Masalah yang terjadi selain kemiskinan juga juga terbatasnya sumber alam. Hanya di bagian selatan Nigeria yang hidup makmur karena ada sumber ladang minyak di kawasan tersebut. 80 % GDP Nigeria adalah dari minyak, dan Negara ini masih merupakan member aktif OPEC karena produksi minyaknya yang stabil.

Markus, sopir yang menjemput saya di bandara Aminu Kano, di Kano bercerita sudah empat bulan tidak hujan. saya menyaksikan kekeringan dan debu beterbangan.

Konferensi Islamic Education
Kedatangan saya ke Kano karena diundang untuk berbicara dalam INTERNATIONAL CONFERENCE ON THE CONTRIBUTIONS OF THE ISLAMIC WORLD TO EDUCATION yang diadakan oleh Bayero University of Kano (BUK), saya datang atas nama dua organisasi sekaligus Dosen Universitas Nasional dan Staff Conservation International, diundang sebagai aktifis yang juga membagi pengalaman bagaimana mengembangkan Islamic Environmental Education in Indonesia. Selain itu Sidi Fazlun Khalid menyisipkan workshop yang difasilitasi oleh the British Council untuk Melatih Ulama di Kano tentang Etika Lingkungan dalam Islam.

Kano memang unik, orangnya ramah dan sejauh yang saya kenal juga cepat akrab seperti kita di Indonesia. Latar belakang Muslim di Kano yang ketat itulah membawa saya bersentuhan dengan ulama di Kano. Mereka ingin mendapatkan fasilitasi workhshop sebagaimana yang pernah dilakukan di Aceh tentang Islam dan Lingkungan. Bahasa pengantarnya adalah bahasa Hausa dan Inggris. Beberapa mereka bisa berbahasa Arab dengan fasih, sehingga saya bisa menjajal bahasa Arab untuk berkomunikasi dengan ulama dan ustads tersebut , salah satunya adalah Shehu Muhammad Auwalu Barau, Imam masjid Jami Kano.

Sagat bersahabat dan interaktif, mereka pun cerdas-dan bersahaja seperti halnya ulama di Indonesia. Workshop dilakukan selama dua hari, diakhiri dengan pemutaran film success story implementasi Islamic Ethic for Environment di Misali, Pemba Kenya, yang menjadi icon keberhasilan penerapan pendekatan ajaran Islam terhadap lingkungan. Lihat berita BBC Misali Eco Islam.

Tabik!

Link Terkait:

Foto-foto di Afrika

Banda Aceh Hingga Medan

Jadwa Shalat di Nigeria

Emir Kano


Saturday, February 19, 2011

Ikan Gabus, Terancam Perubahan Iklim?

Siapa yang hobi memancing? Sewaktu saya kecil tahun 1970an, hidup di pinggiran belantara Kalimantan Tengah. Kerap di masa libur SD dan SMP adalah diisi dengan memancing. Libur puasa, adalah hari yang membosankan untuk terlalu lama menunggu beduk maghrib tanpa melakukan apa-apa. Setelah mengaji, perkerjaan lain adalah memancing, pergi ke danau atau di sela-sela pohon karet dan hutan rawa gambut yang biasanya dihuni oleh banyak sekali jenis-jenis ikan air tawar liar: tempela, gabus atau haruan, seluang, kipar, lele,dll.

Tradisi aneh anak anak bila memancing, adalah mencari umpan cacing,mencari alat pancing berupa 'tantaran' panjang dari pohon kayu atau bambu yang lurus, dan berburu belalang kecil di padang rumput, untuk mencari umpan pancingan. Harus dicatat juga, memancing ini tidak perlu bekal uang, 'Zero money permainan ini, lain sekali dengan anak saya yang sekarang lebih aneh, memancing ikan plastik di MALL dengan membayar 3 ribu sepuasnya!



Sayangnya, tidak semua jenis ikan air tawar mau makan kalau dipancing, ikan yang menyebalkan --tidak mau dikasih umpan dan tidak tertarik mematuk pancing-- itu adalah ikan jonjong, sejenis gabus berkepala panjang dan sepat. Jonjong kesulitan karena moncongnya seperti buaya kecil terletak diatas belalainya. Sedangkan sepat, mulutnya kecil, badanya pipih dan 'cuek' melihat makanan di pancing.

Sedangkan yang agressif adalah seluang, jenis kecil-kecil. Mulut kecilnya menkredit umpan kami secara keroyokan. Karena mata pancingnya besar, ikan ini tentu tidak bisa nyangkut, tapi sebal menghabiskan umpan.

Nah yang mendebarkan dan seru kalau makan umpan adalah Haruan, atau Gabus, orang Amrik bilang, ikan ini Snake Head, karena kepalanya bentuk seperti ular. Gabus, sangat aggressif apalagi musim hujan, ketika air melimpah, saat itulah dia manyak sekali mempunyai anak. Membawa kesana-kemari anaknya yang jumlahnya beribu-ribu, sehingga menimbulkan buih dimana-mana.

Pasti ada induknya!, disitulah kami menunggu berjam-jam dengan sabar. Meletakkan mata pancing. dan Menunggu Induknya 'mengugut' umpah kami.

"Dubb...", dag-dug, dagdug, dada akan berdebar kalau ikan ini memakan umpan.

Eit, biarkan dulu, beberapa detik baru di sentak. Ikan pun terkapar.

Terancam perubahan Iklim

Dua minggu lalu, nostalgia ini terulang kembali, ketika menghadiri seminar di IPB, ketika seorang mahasiswa S2 Perikanan, Karmon Kenanga Putra, yang meneliti Pertumbuhan Reproduksi Ikan Gabus (Channa strata), berkaitan dengan Hidrodinamika Rawa Banjir DAS Musi, Sumatera Selatan.

Kesimpulannya, siklus gabus yang memijah pada musim hujan dan mengalami penaikan pemijahan pada musim hujan. Dan pada danau yang produktif dan tidak tercemar, ikan lebih baik pertumbuhannya dan lebih besar. Sedangkan pada danau yang miskin, tidak demikian.

Ikan gabus pernah menjadi spesies ekspansip yang menghebohkan di AS karena sifatnya yang predator, sehingga menghebohkan lkalangan Amerika.

Ikan ini mempunyai sebaran luas, dari India, Burma, Thailand, Jawa,Sumatra, Kalimantan (terutaman Indonesia bagian barat)

Karena ketergantungan pada kondisi iklim dan banjir hujan inilah, Dr Mohammad Mukhlis Kamal, khawatir bahwa perubahan iklim turut dapat mengganggu siklus ikan gabus, yang kemudian akan mengakibatkan kepunahan. Ikan gabus, tidak bisa mengakomodasi tenggang reproduksi karena hujan yang cenderung sedikit, yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Pemijahan anak gabus menggunakan waktu beberapa bulan, sedangkan masa untuk hidup lebih lama dipengahuri oleh hujan yang lama.

Jadi ikan ini sangat tergantung dengan vegetasi hutan dan keadaan alam yang baik dan kualitas lingkungan yang baik, sehingga terjadi kestabilan reproduksi dan pemijahan. Bila siklusnya terganggu? siap-siap pemancing seperti Anda harus menggantung dulu.

Wallahu'alam,


Friday, February 18, 2011

Perubahan Iklim di Daarul Ulum Lido



Saya tidak sekali ke pesantren ini, tapi telah beberapa kali, dan PP Daarul Ulum, karena sudah tercatat menjadi mitra organisasi kami Conservation International, dalam upaya menyadarkan lingkungan melalui agama (Islam) sejak tahun 2003. Perlahan, Saya melihat perubahan penataan kampus dan visi pimpinannya yang demikian maju tentang lingkungan, setelah mereka bergaul dengan banyak partner yang terkait lingkungan. Di kawasan pesantren ini, sekarang telah ada Harim Zone, yang merupakan contoh integrasi perawatan bantaran sungai dan upaya melestarikan keanekaragaman hayati.

BACA: Muslim Schools Lead Islamic Green Movement in Java

Jumat malam (17/1), setelah santri Yasinan (membaca yasin), kini mereka berkesempatan melihat layar tancap tentang perubahan iklim. Saya kaget bukan kepalang, ternyata pesantren ini memiliki layar lebar ukuran 5x4, seukuran layar yang digunakan al Gore untuk Presentasi. Sound Sistemnya pun bagus. Walaupun 450 santri semua tidak menggunakan korsi, melainkan duduk berbaris tenang di dalam Aula seukuran setengah kali lapangan bola.

Tepat jam 8 malam, saya pun mempresentasikan Slide the Climate Project di depan 450 santriwan dan santriwati PP Modern Daarul Ulum Lido. Saya didampingi oleh Ustadz Ahmad Yani, Ustadz Kakan Sukandi dan Ustd Heri. Santri Daarul Ulum berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Selain yang dominan dari Jabodetabek, juga ada santri yang berasal dari Riau, Jambi, dan di Bagian Timur Indonesia, berasal dari NTB.

Mereka yang hadir dalam acara ini adalah santri kelas 1 dan 2 Aliyah saja. Tadinya memang karena dibatasi hanya 300 orang, apabila diminta, maka sebetulnya 1000 santri bisa hadir semuanya. Tapi saya minta bertahap karena jika terlalu banyak akan tidak efektif bila sound sistem dan ruangan tidak memadai.

Tentu saja, slide The Climate Project (TCP) yang hidup dan interaktif sangat jelas memberikan gambaran pada mereka tentang perubahan iklim. Mereka--terutama putri--histeris melihat kebakaran hutan dan kerusakan hutan yang terjadi yang kemudian menimbulkan kerusakan lain akibat perubahan. Tetapi mereka tentu saja adalah generasi yang seharusnya optimis. Dan tepuk tangan riuh ketika saya tampilkan orang menanam pohon, saya katakan Daarul Ulum telah memulai program penanaman pohon, dan itu merupakan sumbangan yang baik untuk langkah mitigasi atas perubahan iklim.

Tahun 2005 Daruul Ulum merupakan salah satu pesantren yang mendaptkan grant untuk menanam pohon, dan kini pohon tersebut telah tinggi dan berbuah.

Lihat Dokumen:

Pesantren and Environment

Berita Terkait:

Pemanfaatan Sumber Daya Alam Berkelanjutan

Wednesday, February 02, 2011

Gong Xi Fa Cai, Pelajaran Toleransi dari Kampung

Entah mulai tahun berapa,dan bulan berapa. Masyarakat Kumai, dimana saya dilahirkan, dulu mempunyai tradisi yang unik dalam hal memberikan selamat dan ucapan toleransi kepada warga Tionhoa di kampung itu.

Sehari sebelum Imlek seperti hari ini, ketika saya masih berumur remaja dan puluhan tahun, sibuk mengantar kue tart buatan Uma (Ibu) dan bibi serta paman. Bersama dengan teman-teman lain, pakai sepeda ontel, Saya mengantar kue tart butan tangan untuk keluarga Ahui, Aleng, Aliang, Tau jie, A Joe,Tan Mue Sia (di Pangkalan Bun) dan beberapa keluarga lagi yang saya tidak ingat.



Adalah biasa di kampung kami Kumai, jika musim lebaran, kami mendapatkan hadiah dan ucapan selamat lebaran dari sahabat dan relasi kami yang beretnis Tionghoa. Mereka mengirim biskut, kue tart, daging yang disembelih secara halal. Soal daging ini, seorang taoke yang biasa menanyakan dahulu, kepada relasinya orang orang melayu (Muslim) dan menanyakan apakah dia memesan daging. Sang Tauke biasanya menyembelih seekor lembu lalu membagikan pada warga muslim, jadi hari lebaran kami bisa menikmati daging yang dihadiahkan dari warga Tionhoa, dan mereka pada Hari Raya Imlek seperti ini, bisa menikmate Kue enak (tart) hand made yang bentuknya indah- dan menarik.

Sayang sekali, kemudian tradisi itu kini hilang, mungkin 15 tahun terakhir, ketika warga disini semakin kompleks dan generasi telah berubah. Tradisi saling memberi hadiah dan ucapan selamat itu telah berhenti. Alasannya--ketika saya telpon adik saya-- banyak generasi yang telah tua kemudian meninggal, anak cucu (mereka yang Tionghoa) ada yang pindah ke Banjarmasin, Surabaya bahkan keluar negeri. Tradisi yang positif ini hilang!

Makna toleransi tentu saja tidak bisa diterjemahkan dalam bentuk sempit hanya memberikan ucapan dan hadiah pada saat hari raya masing masing pemeluknya. Tetapi prakti seperti ini memberikan bekas yang mendalam, bahwa perdamaian dan toleransi dapat dimulai dari hal kecil, dan di Kampung Saya: Kumai, hal itu diletakkan oleh Kampung Tengah, Kumai dimana ada Tuan Guru Haji Abdul Kadir Zailani al Mentawa, seorang kadi dan mempunyai pemahaman yang luas tentang agama Islam.

Monday, January 10, 2011

Gerakan Besar Menghadapi Perubahan Iklim

Bismillahirrahmanirrahim

Selama tiga hari, Sabtu hingga Senin (8-10 Januari) di Balai Sidang Jakarta, berkumpul 350 Climate Project Presenter presenter baru dan lama dari seluruh Asia Pacific, Korea, Cina, Indonesia, Fiji, Timor Leste, Australia dst.

Mereka adalah kader yang menjadi motivator memahami perubahan iklim di tingkat akar rumput menggunakan slide Al Gore secara original mendapat hak untuk menyampaikan slide seperti yang disampaikan Al Gore kepada masyarakat kepada publik, komunitas ataupun teman-teman ataupun famili, sekitarnya. Presenter diminta presentasi secara sukarela tidak dipungut bayaran, menyampaikan tentang bagaimana kita harus berubah dalam menghadapi perubahan iklim.
Bersama Dr Henry Pollack, penulis buku "A World Without Ice", penasehat sains Al Gore

Satu satunya konvensi PBB yang menjadi perhatian karena urgensi dan kenyataannya yang mendesak hanyalah tentang perubahan iklim dalam forum UNFCCC. Sehingga upaya negosiasi global paling intensif sekarang ini hampir dilakukan setiap tahun bahkan enam bulan sudah ada pertemuan lagi.

Kali ini adalah pertemuan 'Grass Root' yang benar nyata mendapat action di lapangan. Dengan the climate project, semua kesadaran sekarang bergerak. Al Gore sendiri mengakui bahwa dia tidak menduga sama sekali atas antusiasme yang menjadi sambutan luar biasa. Gerakan lingkungan, tampak menjadi gerakan global yang tidak beraliansi pada kepentingan manapun kecuali masa depan dan peradaban manusia. Hampir 3500 presenter di seluruh dunia yang di training Al Gore dan setiap 2 menit sekali di bumi ada yang melakukan presentasi slide yang diberikannya, di tingkat akar rumput.

Bersama rombongan Korea

Indonesia kini mempunyai lebih dari 200 presenter dari sekitar 53 orang yang di training di Australia, Meksiko, Cina dan Nashville dan terakhir pertemuan di Jakarta ini yang sangat produktif karena ditambah dengan Narative Training ala Camp Obama yang menggerakkan dan memotivasi banyak orang untuk berubah dan melakukan pilihan.

Al Gore, menulis Our Choice yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Banyak slide kali ini, seperti sewaktu beliau di Nashville, mengulas tentang tantangan dan jalan keluar yang bisa disikapi untuk mencari 'hidup baru' menghadapi perubahan iklim.

Saya sangat terkesan dengan penutupan terakhir penting yang disampaikan oleh Agus Purnomo, Staff Khusus Presiden dalam perubahan iklim. Bahwa perubahan iklim tidak bergantung dengan keputusan politik yang leadernya hanya beberapa tahun menjabat. Tetapi tergantung dengan kesaradan kolektif di berbagai negara yang melakukan pilihan dan secara sadar akan melakukan perubahan. Inilah peran penting presenter menyampaikan perubahan dalam penyadaran tentang perubahan iklim. Selamat bekerja dan berjuang untuk presenter baru!

Alhamdulilahirabbil alamin.

Thursday, December 30, 2010

Bioprospecting: Kebun Organik Mikroba 'Google' Asal Kalimantan Tengah

Bismillahirrahmanirrahim

Inilah adalah bukti inovasi masa depan dari bioprospecting yang dikelola oleh bangsa sendiri. Banyak yang terlewatkan dalam kesilauan kita yang selalu mengacu pada teknologi luar negeri tanpa menilai kepakaran anak bangsa sendiri yang sudah ada. Saya menikmati dan belajar banyak dari Ali Zum Mashar (35tahun), Putra Purwokerto, tumbuh inovatif ketika bekerja di Kalimantan Tengah.

Lihat: Pekerjakan Mikroba ke Arab Saudi

Week end ini (25/12), mengunjungi kebun Organik Mikroba PT Alam Lestari Maju Indonesia milik Ali Zum Mashar, teman sejawat saya di di Pasca Sarjana PSL IPB. Beberapa kali memang saya penuh cita-cita ingin mengunjungi tempat ini, tapi baru kali ini terwujud.

Lihat tulisan saya tentang Bioprospeksi: Bioteknologi Berbasis Keanekaragaman Hayati

Penemuan mikroba yang diambilnya dari sebuah lahan gambut di Kalimantan membuahkan hasil inovasi pupuk mikroba yang dapat mencari dan memperkaya nutrisi untuk tanaman. Ali memang seorang "pemberontak" yang cerdas, mempunyai mimpi besar dan kepekaan campuran, instink inovasi melihat ada anomali (kelainan) di lahan gambut Kalimantan dan menganalisis kelainan itu yang menjadikan penemuan ini lalu menjadi inovasi besar.

Ali Zum, paling kiri, menjelaskan inovasi yang ditemukannya pada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar

Saya kutipkan wawancara dengan Media Indonesia tentang penemuan yang diciptakannya:

"Pada 1996, Ali ke Palangkaraya. "Saya melihat sendiri, di sana tidak ada satu pun petani yang mengusahakan lahannya untuk bertani. Jadi mereka tefgantung pangan dari Jawa," katanya.

Lahan di Palangkaraya tergolong ganas bagi pertanian konvensional. Lapisan atasnya ditutupi gambut, sedangkan di lapisan bawah terdapat pasir kuarsa. "Ada yang kemudian membakar gambut untuk bertani. Kalau terus-terusan, Palangkaraya bisa jadi gurun pasir."

Saat itu, Ali membawa strain mikroba temuannya saat kuliah. Dia mencobakan mikroba itu ke dalam pot berisi tanah gambut untuk menanam tomat. Berhasil. Meski belum yakin betul, Ali mulai punya bayangan bahwa gambut tidak seburuk sangkaan orang.

Lulus tahun 1997, sarjana baru itu bergabung dengan program transmigrasi andalan Soeharto Proyek Pengembangan Lahan Gambut Sejuta Hektare. Pada 1998, Ali ditempatkan di daerah Kapuas. Faktor kesulitannya tinggi. "Di atas gambut, di bawah racun. Banyak kandungan pirit (FeS2), aluminium, besi dan mangan (Mn)."

Lantaran itu lahan Kapuas seolah membal. Jika dipaksakan, tanaman tahunan keburu mari sebelum dipanen. Tanaman musiman seperti palawija juga tidak akan bertahan karena unsur haranya sangat minim. Saat itu, solusi instan datang dari pemerintah. Berton-ton kapur dikapalkan ke Kalimantan untuk menetralisasi keasaman gambut. Satu ten kapur ditebar di atas 1 hektare lahan. Saat Sungai Kapuas meluap, tanah itu kembali asam karena kapurnya tercuci. Sistem drainase juga bukan solusi karena pirit justru masuk ke perairan dan membunuh ikan-ikan di Kapuas. Ali makin yakin, substansi masalah terletak pada gambut itu sendiri, yaitu bagaimana mengondisikan kesuburannya.

Pertanyaan itu menggayuti Ali berhari-hari. Ia belum yakin, temuannya yang sukses di Palangkaraya-membenamkan mikroba pada pasir--bisa berhasil di Kapuas. Saat berjalan-jalan mengunjungi temannya yang bertugas di kawasan dekat Barito Selatan, Ali menemui anomali. "Di sana, gambutnya lebih dalam. Tapi ada tanaman sejenis kacang-kacangan, juga ada yang berdaun lebar. Tumbuhan itu bukan vegetasi asli gambut, tapi bisa hidup normal."

Cepat Ali mengambil sampel dan membawanya ke tempat ia bekerja. Ia melakukan isolasi di laboratorium sederhana. Pengalaman saat skripsi menyelamatkan Ali. "Kuncinya api. Kita bekerja pada tabung reaksi diatas api. Yang penting steril," ujarnya, tersenyum.

Strain mikroba yang ia biakkan itu kemudian dicobakan ke petani binaannya. Beberapa kali, kedelai, jagung, dan cabai terbukti berhasil ditanam di lahan gambut yang sudah diberi mikroba. Saat ber-tanam padi, Ali seperti berjudi. Dalam sejarah, belum ada yang mampu menanam padi di lahan gambut. Toh Ali berhasil, panen padi menjadi 6 ton per hektare.

Keberhasilan itu tersiar cepat. Ahli tanah dari IPB, Profesor Goes-wono Soepardi, termasuk yang angkat topi. Ali mematahkan pendapat buruknya Kalimantan untuk pertanian karena tanah tidak subur -mengandung pasir kuarsa, sulfat masam, pirit, dan gambut.

"Tapi orang salah. Iklim di sana luar biasa untuk pertanian. Kalau tanah bisa dikondisikan, kita bisa jadikan Kalimantan sebagai sentra tebu dan singkong. Juga kedelai. Pangan kita bisa mandiri segera. Negara ini akan merdeka lepas dari tekanan-tekanan negara lain," tegasnya.


"Ketika, saya menjumpai pencilan, di salah satu sudut lahan gambut, melihat ada tanaman yang mampu tumbuh di lahan gersang dan penuh pirit yang beracun, saya curiga, pasti ada sesuatu dengan kawasan ini. Ternyata benar, ada mikroba yang bisa memperkaya nutrisi dan mengambil simbiosis dan mencari nurtrisi dari sekitarnya," ujar Ali bercerita pada saya.

"Jadi seperti google yang mencari nutrisi khusus, mikroba ini adalah mikroba google yang membantu tanaman mengidentifikasi dan sekaligus menggunakannya."

Subhanallah. Saya sarankan Ali untuk menyederhanakan penemuannya itu dengan menyebut Mikroba "Google" dalam tanda petik, sambil mendompleng nama populer mesin pencari internet di dunia maya karena pasti orang pusing dengan angka dan gelar pupuk yang dibuatnya--setidaknya saya: BioP2000Z. Jangan lupa membubuhkan tanda petik untuk kata:'Mikroba Google" karena ini bukan nama resmi, salah-salah nanti digugat paten namanya.

Bayangkan, Ali hanya menanam dengan media yang sederhana, berupa air dan sekam, menghasilkan tanaman bersih: bayam, tomat, kacang, cabe, brokoli dan sayur mayur serta anggrek yang siap jual di pasar. Tumbuhannya pun bersih, karena selain ditempatkan di dalam 'green house' yang besar dan modern juga penanganan sangat serius. Popuk P2000Z yang diproduknya kini banyak digunakan untuk meningkatkan produktifitas dan bukti-bukti produktifitas itu ditunjukkan pada kami melalui laboratoriumnya di Cianjur ini.

Foto-foto: Kunjungan ke Lab Ali Zum Organic Farming, Cianjur West Java

Ini contoh konkrit bioprospecting seperti yang pernah saya singgung dalam satu bab dalam buku: Bertahan di Bumi, Gaya Hidup Menghadapi Perubahan Iklim. Inovasi seperti inilah yang bisa menyelamatkan peradaban dan dapat dijadikan kebanggaan, bahwa Indonesia tidak sekedar kaya biodiversitasnya, tetapi juga kaya dengan intelektual dan praktisi seperti Ali Zum Mashar ini.

Ali, terus maju, dunia akan mendukung anda!
Alhamdulillahi rabbil 'alamin


Thursday, December 23, 2010

Amanah 1 Hektar Adopsi Pohon


Saya merasa terharu di dalam hati, ketika hari ini, setelah berupaya bertahun lamanya untuk memulai program kecil bersama IFEES kemudian terwujud. Betapa kecilnya upaya yang dilakukan, tetapi berapa besarnya effort yang dikorbankan untuk menanam sebatang pohon. Dari Jakarta, London, Birmingham, Jakarta, Sukabumi. wah! jarak perjalanan di Jakarta -Sukabumi pun ditempuh tiga jam.

Syukurlah, Hari ini terwujud jualah sudah penanaman pohon yang semula kami gagas: saya dan Fazlun Khalid, dalam sebuah perbincangan kecil di sebuah lobi hotel di kawasan Kemang pertengahan tahun 2008. Waktu itu saya melemparkan gagasan, bagaimana kalau Madrasah di Inggris (bersama murid-muridnya) mengadopsi pohon untuk menanam di Indonesia.

Tepat November 6, 2009. Gayung bersambut, ternyata madrasah Inggris belum tergarap, tetapi komunitas Muslim UK yang banyak itu dikumpulkan untuk diadakan fund raising dengan tambahan Greening Indonesian Charity Dinner (Makan malamnya benar-benar masakan Indonesia). Terselenggaralah pertemuan itu di Toynbee Hall London.

lihat: Charity dinner yang meriah.

Tantangannya bukan kumpul saja, tapi uangnya tidak kumpul untuk satu hektar, sehingga kita tunggu cukup lama untuk mengumpulkan dana peny demi peni, sen demi sen dan pon demi pon, terkumpul jualah satu hektar penanaman.

lihat: JUST GIVING ifees.

Alhamdulillah, sesuai dengan cita-cita dan mimpi, hari ini penanaman itu terwujud bersama santri di Pondok Pesantren Husnayain 2, Kabandungan Sukabumi. Ratusan santri hadir dan ujian yang seyogyanya terus ada hari ini, diliburkan oleh Pak Kiyai Cholil Ridhwan, demi penanaman ini.

Saya membacakan sambutan Mr Fazlun Khalid yang dikirimya dengan penuh rasa syukur dengan narasi yang singkat didepan ratusan santri dan ustadz, kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan rekan-rekan dari Gedepahala dan Conservation International. Berikut ini pidato Fazlun Khalid:

Sambutan Mr Fazlun Khalid, IFEES

When Allah says in Surah Ar Rahman "Wn najmu wassajaru yasjudan" he tells us that the plants and the trees do sujud to him in the totality of their existence. Just by doing this the trees play a part in giving us the oxygen we breathe lock the carbon dioxide in themselves, lock the soil and prevent erosion and mud slides, provide us with fruits we could eat, provide shelter for birds and other wild life and much, much more.

Husnayain is now playing a leading role in trying to save the forests of Indonesia and setting a wonderful example that should be repeated not only in this country but all over the world. I ask Allah to give this initiative every success and make it possible for us to increase the support we are already giving it.

Fazlun Khalid

Founder IFEES

Ketika Allah berfirman dalam Surah Ar Rahman "Wan najmu wasajaru yasjudaan" IA mengatakan kepada kita bahwa tanaman dan pohon-pohon melakukan sujud kepadan Nya dalam totalitas keberadaan mereka. Hanya dengan melakukan hal ini pohon-pohon berperan dalam memberikan kita oksigen yang kita hirup mengunci karbon dioksida dalam diri mereka, kunci tanah dan mencegah slide erosi dan lumpur, memberikan kita dengan buah-buahan kita bisa makan, memberikan tempat tinggal untuk burung dan kehidupan liar lainnya dan banyak, banyak lagi.

Husnayain sekarang memainkan peran utama dalam berusaha menyelamatkan hutan Indonesia dan menetapkan contoh yang indah yang harus di
tiru tidak hanya di negeri ini namun di seluruh dunia. Saya berdoa semoga Allah untuk memberikan inisiatif ini menjadi keberhasilan dan memungkinkan bagi kita untuk meningkatkan dukungan pada apa yang sudah kami berikan.
Fazlun Khalid
Pendiri IFEES

Sekali lagi rasya syukur saya pada kegiatan mulia ini semoga menjadi amal ibadah yang berguna!
tabik...